Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.


Tentang Siapa dan Di Mana





Terkadang saya terheran-heran dengan segalanya yang terjadi begitu alamia pada setiap detik yang berubah. Keadaan dan situasi menuntut diri untuk lebih siap. Manusia memang memiliki rencana, tetapi perancang rencana paling hebat, Allah Sang Maha Menciptakan rencana.





Mengapa naskah tidak kunjung selesai?




Menulis bukan perkara yang sangat sulit, ‘setengah’ sulit bisa dibilang begitu. Kita harus melatihnya setiap hari itu sudah harga mati. Semakin sering menulis dan terbiasa disiplin menulis setiap hari akan memperbaik kualitas tulisan. Apa jadinya jika menulis tidak kunjung selesai.




Kalau kita terus-menerus membiarkan diri larut dengan rutinitas selain menulis, kita hanya sibuk memikirkan tulisan namun tidak kunjung menuliskannya ini sudah keadaan yang sangat membahayakan. Memang apa yang membahayakan, kamu pasti akan bertanya-tanya ya?




Itu sebuah gejala yang sering terjadi kepada penulis pemula, seperti saya. Kita hanya berangan naskah selesai tanpa mengerjakannya, apakah bisa? Tentu saja tidak akan bisa. Jika ingin memasak telur, maka terlebih dahulu kita harus punya telur dan minyak goreng, itu minimal. Selanjutnya jika ingin telur itu masak tentu saja kita harus memasaknya. Sama halnya dengan menulis, jika kita hanya menginginkan tanpa ada inisiatif untuk memulai, maka bersiaplah naskah tidak akan kunjung selesai.




Point berikutnya, jangan terlalu banyak mengatakan, ‘Saya Sibuk’. Semua orang memiliki 24 jam itu sama dengan apa yang kita punya. Bedanya, apakah kita benar-benar mengoptimalkan waktu kita, atau hanya membuang-buang waktu? Sisihkan satu atau dua jam setiap hari untuk menulis, apa saja tanpa ada yang menghalangi lagi. Semakin sering menunda kegiatan menulis, maka tentu saja naskah tidak akan selesai.


Masih asyik dengan media sosial.



Era digitalisasi membuat semua orang berlomba-lomba paling eksis dan narsis untuk menunjukkan profil yang terbaik. Begitupun dengan aktivitas medsos yang kadang memakan waktu untuk menulis, berbanding terbalik, waktu menjadi sia-sia dan semakin tidak tersisa.
Bagaimana tips menyelesaikan naskah tepat waktu?




Pertama, gunakan mind map.


Tentu saja dalam membuat sebuah karya, kita butuh alur cerita yang jelas. Agar tidak bertele-tele dan tulisan kita menjadi teratur. Dengan peta pikiran, ide-ide yang sudah dikonsep sejak awal akan berakhir sesuai dengan prediksi. Tentu saja menggunakan peta pikiran memangkas waktu.


Jangan nanti-nanti. Tapi SEKARANG!





Sama seperti nasi yang panas ingin kau makan, semakin lama menunggu. ‘Nanti, nanti’, maka nasi akan berubah menjadi dingin. Tulisanmu bukan semakin cepat beres, akan tetapi akan semakin lama untuk selesai.
Menulislah apa yang dikuasai, jangan menunggu hasil tulisan menjadi baik. Kita tidak akan pernah puas, tapi menulislah terlebih dahulu sampai sukses di akhir. Baru setelah itu bisa disunting hal-hal yang perlu diperbaiki.


Tidak terpengaruh dengan suasana.




Kita harus konsisten untuk menyelesaikan sampai finish. Jangan tergiur untuk makan-makan enak, atau sekadar jalan-jalan maupun menonton film bagus. Kecuali memang bertujuan untuk riset.


Pasang Deadline!


Buat target sendiri misalnya satu jam sekian kata, dan kita upayakan yang terbaik hingga selesai. Tidak ada yang sulit dalam membuat sebuah karya tulis sampai selesai lalu terbit. Hal yang membuat sulit ialah rasa malas dan tidak ingin sukses.



Ala bisa karena terbiasa, biasakan nulis setiap hari minimal satu lembar, tetapi saat kita sudah terbiasa menulis 1000 kata setiap hari selama 3 bulan. Tentu kita bisa akan menjadi penulis yang handal dan mengerjakan deadline sesuai dengan harapan.


Baiq Cynthia

Minggu, 17 Juni 2018



The Nekad Melancong Tipis-Tipis
Edisi LEBARAN di NGALAM

Teman-teman Mohon Maaf Lahir batin ya, mungkin ada kesalahan pada perbuatan atau ucapan, baik yang disengaja maupun tidak. Mungkin saya sering membuat teman-teman merasa jengkel atau tidak nyaman di hati. Kali ini Daily's Baiq hadir lagi.

Catatan Imut, Perjalanan Gadis Gendut. 



​Akhirnya tamat juga membaca buku yang tebalnya tidak begitu tebal. Eh, maksud saya buku ini memuat banyak kisah. Saking banyaknya saya tidak hafal berapa bab saya habiskan untuk tertawa, tersenyum, terkekeh, terharu, salut. Semuanya. 

“Go Internasional.” Sebuah buku yang langsung saya dapatkan dari penulis kece yang baik hati. Sebuah kenang-kenangan pernah berjumpa. Pertemuan yang tak di sangka. 

Sebelumnya, tak pernah terbetik dalam hati menentukan hari bertemu dengan Mbak Hayyu. Mengingat saya tinggal di Situbondo. Tidak di Malang lagi. Yang udah janjian malah gak bisa hadir. Itulah hidup. Seperti kisah-kisah ciamik yang sarat makna. 

Buku berbalut cover pink yang bersimbol melankolis-feminim di terbitkan oleh Stiletto. Saya suka sekali dengan layoutnya. Simple elegan gitu. 

Kita bisa saja pergi ke Luar Negeri. Tak harus karena prestasi. Tetapi karena mimpi yang kuat. Begitu yang bisa dapat dari kisah ini. Penulis imut ini mengajak saya travelling keliling Indonesia. Malang, Yogyakarta, Bali, Bandung, Ibu kota Indonesia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. 

Gaya penulisan asyik, dijamin ngakak terus. Cerita yang tragis dirubah menjadi comedi. Hebat banget dan Penulis yang doyan banget berburu kuliner. 

Ada satu kutipan yang benar-benar terkadang membuat nadi berhenti berdetak 0,01 detik. 

Beranilah bermimpi, entah mimpi kecil atau mimpi besar. Yakinlah Tuhan akan mendengarkan mimpi-mimpi kita. Di waktu tepat yang tak terduga Dia akan mengabulkan segalanya dengan cara yang tak terduga pula dan membuatmu menjadi manusia hebat. Halaman 91.

Sebuah catatan perjalanan meraih mimpi. Meski mimpi terbesar ternyata ada di sekitar. Mimpi tak harus tentang glamor. Bagi penulis mimpi adalah bagaimana orang bisa percaya kepada kita. Kita bisa memberikan uluran kepada orang lain. 

Tak ada gading yang tak retak. Terlepas dari kesalahan tulisan. Maupun tanda baca. Saya merasa terlalu banyak brand yang dipaparkan. Namun, dibalik demikian saya yakin penulis hanya ingin give and share. 

Melepas buku ini hanya ingin memeluknya. Percayalah, kamu akan merindukan buku ini. Saat ada tugas yang lebih penting. Wajib bagi kamu yang ingin pergi meninggalkan Nusantara. Membaca catatan Go Internasional. 



*)Terima kasih saya haturkan kepada penulis yang berbaik hati memberikan pengalaman besar lewat buku ini. Ditunggu buku selanjutnya. Semoga bisa bertemu dengan impian terakhir yang belum mengajaknya ‘terbang’.

Situbondo, 19 Maret 2017

Baiq Cynthia
​Judul     : Cinta di Pelupuk Senja

Penulis : Baiq Cynthia



Sumber gambar 
"Ayo, cepat! Entar langit akan segera gelap,” dengus wanita cantik yang membolak-balik majalah. Wajahnya seperti salah satu girls band yang digandrungi banyak lelaki. Meski matanya menatap banyak mode pakaian, sesekali mencuri pandang dengan jam yang melingkar di tangannya.

"Iya sayang, ini udah beres," lelaki yang masih mencoba mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Tergopoh-gopoh menuju asal suara. Wanita yang duduk di beranda rumah, dengan wajah tertekuk masih terus mengomel.

Dengan kunci yang ditancapkan di kepala sepeda motor, Roy langsung menstater Ninja merahnya. Derung suara dari cerobong kecil di belakang. Membuat Santi segera mengambil posisi mantap, duduk di jok belakang. Tangan indahnya melingkari perut lelaki yang datar.

Udara terasa hangat karena matahari telah bergeser 30º dari ujung kepala. Perjalanan yang menempuh jarak yang tak begitu dekat. Namun, dinikmati tanpa ada suara. Santi merebahkan kepalanya di punggung lelakinya. Membiarkan matanya menatap nyalang ke arah rumah-rumah yang berjalan mundur. 

Aroma pasir dan sejuknya angin laut memancing banyak orang untuk mengunjungi pantai Pathe'. Roy segera memarkir motornya. Santi bergegas menuju ke arah laut. Deru ombak saling mengejar. Melihat anak-anak yang bermain pasir.

Roy, menuju ke warung mungil di sekitar pantai. Tujuannya tak lain mencari es degan.

"Mbak, pesan es degan satu, sedotan dua!" sambil melempar wajah sinis melihat perempuan berusia sekitar 18 tahunan yang terkesan kampungan.

"Tunggu sebentar pak!" jawabnya ketus.

"Eh, aku masih mudah kok dipanggil Bapak."

"Nah, terus aku manggil siapa?"

Wanita yang mulai terganggu, mengambil kelapa muda. Sangat terampil mengupas dengan golok.

"Panggil saja, Roy!” nadanya jelas sambil meletakkan Nokia Lumia 1020 di atas meja.

"Oh, aku Rahma," timpanya, menyelipkan dua buah sedotan.

"Berapa?"

"Lima ribu rupiah saja." 

Roy berdiri dan memberikan uangnya lantas pergi sambil membawa es degan.

"Dasar lelaki aneh datang-datang seperti monster!" 

Perempuan yang baru menerima selembar uang. Beralih komat-kamit, jengkel. Roy yang saat itu baru berjalan 3 langkah mendengar kata-kata Rahma sontak berbalik 180º dan melemparkan es degan ke arah perempuan berambut ikal itu. Serta membuat beberapa pelanggan kaku.

"Woy! saya gak mukul sampeyan, kenapa  ngelempar gak jelas!"

"Nah, 'kan elo yang cari gara-gara sama cowok ganteng sepertiku."

"Lebih ganteng monyet."

"Sialan!" Hampir saja tangan Roy mendarat di pipi Rahma yang eksotis. Sebuah tangan menahannya.

"Santi!"

"Iya, lebih baik kita cabut dari tempat kumuh seperti ini,” sorot mata yang tajam menarik lengan kekasihnya. Sementara Rahma sibuk membereskan lantai dan acuhkan mereka. Lemparan tadi meleset, namun membuat lantai becek. Alas yang hanya sebuah gundukan tanah. 

"Aku mencarimu, ternyata di situ bersama cewek kampungan.

"Maaf Say. Tadinya aku memesan es degan buat kita berdua. Eh, dia cari masalah denganku. Awas saja dia muncul lagi!" 

Roy sudah sangat jengkel, bahkan baru yang tak berdosa pun dianiaya. Di tendang. Gumpalan kesalnya membuat moodnya ingin pulang saja. Padahal moment di pantai masih sebentar. Santi pun setuju dengan rayuan Roy yang begitu dasyat. Merangkul menuju parkiran.

~*~

"Huh, capek banget! Nemani Santi, sekarang waktunya istirahat. Entar malam time for Eka," ujar Roy dalam hati sambil merebahkan badannya. Seringai kecil terselip di antara dua rahang yang keras.

Di tempat yang berbeda, Rahma masih kesal dengan perlakuan Roy. Dia memilih tempat yang sama, saat Roy duduk. Ketika akan menjatuhkan diri ke kursi. Santi melihat ponsel mewah di atas meja.

"Rahma, itu ponsel siapa?" Suara ibunya tiba-tiba mengagetkan Rahma.

"Anu, mungkin punya Roy."

"Roy? Pacar kamu?"

"Hah, Aku punya pacar seperti monster?" 

Kemudian ponselnya berdering, incoming call dari Eka. Tanpa sedikit ragu. Tangannya sudah menempelkan pada telinga.

"Halo? Ini siapa?" 

"Ini siapa!" Suaranya terdengar menggelegar ke telinga Rahma. 

"Ini Eka ya?"

"Lah, kamu kok tahu namaku? Ponsel Roy kok sama kamu?"

"Anu, ketinggalan!" Tut ... tut ... tut .... Tiba-tiba sambungan putus, ponselnya mati.

"Huh, ponsel kampungan!" seraya meletakkan kembali. 

Ibunya tercenung, melihat ekspresi Rahma. Wanita dengan bibir tipis terlihat tegang. Rahma berusaha meyakinkan ibunya, bahwa Roy akan menjemput ponselnya. 

Bagi seseorang yang memiliki waktu padat, melayani pembeli. Selalu memikirkan waktu di hemat. Membiarkan Rahma kini hanyut dalam lamunan.

Pengunjung mulai sepi, malam telah merenggut siang. Ombak seakan teriak, memanggil temannya. Rumah Rahma berdekatan dengan warung mungilnya. Seakan bisa tidur dengan melodi laut. 

Andai saja engkau masih ada. Mungkin aku masih bisa tertawa denganmu. Mencari kerang bersama. Membuat hari-hariku menjadi hangat. Juga menemani ibu. 

Hari telah berganti. Rahma pergi ke tengah laut yang surut. Kerang-kerang dimasukkan ke ember kecil. Ember berdiameter 30 cm. Mengambang di laut. Meski diberi beban.

Baru saja, mengangkat ember. Terdengar  sahutan keras, samar-samar. Rahma mendongakkan kepala. Dilihatnya lelaki berpostur tinggi. Dengan dada datar. Wajah oriental. Sedikit menjengkelkan. Diam-diam Rahma kagum. 

"Iya, kembalikan HP-ku, pencuri!" 

"Hei, jangan sembarangan ngomong! Jelas-jelas kamu yang pikun sama ponsel!"

Rahma mulai menuju asal suara. Membawa beban kerang yang tidak terasa berat.

"Hei, gara-gara kamu Aku putus dengan Eka. Semalam dia nyamperin rumah, menampar pipi mulusku ini. Lucunya, Santi juga datang mengambil majalah yang ketinggalan. Rekor muri sepanjang sejarah playboy, sudah diraih. 2 kali cap 5 jari. Puas!”

Rahma hanya memegang perutnya. Mulai tertawa mirip nenek sihir. Dilepasnya kerang yang banyak. Sebagai ucapan maaf. Rahma siap menemani sang Play Boy.

"Sini, mendekat lihatlah kepiting itu. Aku akan menangkapnya untukmu,” ada sorot binar dari wanita yang berbulu mata lentik.

"Coba saja kalau berani," Roy melipat kedua tangan di depan dada. Roy melihat tangan cekatan gadis yang menurutnya juga manis.

"Yeah, ini buat kamu!" Rahma melemparkan ke arah Roy. Tepat di bahunya sang kepiting ukuran sedang mencapit bajunya. Alhasil dia menjerit, lari pontang-panting mengejar Rahma. 

"Hei, cewek aneh ini ambil saudaramu!" Melihat Roy yang ketakutan, Rahma menghampiri. Lagi-lagi senyum lepas hadir di antara mereka.

"Oke, kita akan panggang nanti sore! Gimana kalau sekarang kita beradu mendayung ke tengah laut?" 

"Siapa takut," kata Roy sambil meletakkan barang-barang yang melekat di saku ke atas pasir.

"Itu perahuku, dan ini perahumu,” tangan Rahma menunjuk ke arah Perahu yang ditambatkan di bibir pantai. 

"Are you ready?" tantang Roy. 

"Ready," jawabnya mantap.

Mereka mendayung di lokasi sedikit jauh dari objek wisata. Sunyi yang terasa, deburan ombak menghantam karang. Semakin menantang adrenalin mereka. Matahari mulai menyengat. Seolah tak ada. Tiba-tiba perahu milik Roy oleng, dan Roy terjebur ke dalam air yang mulai pasang. 

"Tolong ... tolong ...." Rahma segera mungkin mendayung ke arah Roy dan berusaha menaikkan ke perahu. Namun, sayang Roy malah mengguncang perahu Rahma dan gadis berkulit coklat ikut terjebur juga. 

Roy tertawa kencang. Ini hanya rencana balas dendam. Saat kepiting keras mencapit. Lelaki yang memiliki alis tebal, diam-diam kagum dengan sosok sederhana Rahma. Tidak marah meski dikerjai.
"Haha, wajahmu pucat. Takut kehilanganku?"

"Jangan bercanda, ini tidak lucu. Ayo bantu aku menarik dua perahu itu,” bibirnya mengerucut, kesal. Rahma menarik perahu-perahu kayu, mengamankan kembali.

"Au, sakit."

"Kenapa?" Roy berhenti  tertawa.

"Lihat, sesuatu menancap di kakiku." 

Darah mulai mengalir dari telapak kaki Rahma, sebuah duri. Bekas babi laut, telah menancap cukup dalam, hingga tak mampu berdiri. Roy tak tega melihat temannya. Menggendong ke rumah Rahma. 
"Lukamu parah! Sini Aku obati, rumahmu tampak sepi." 

"Au, iya ibu jualan di warung, sakit tahu!"

Kaki Rahma terbalut dengan perban dan masih berjalan pincang.

 "Aku boleh, gak ngomong sesuatu?" Roy mendekati Rahma di beranda rumah.

"Apa? Katakan cepat! Janjiku masih belum lunas kepadamu." Janji Rahma untuk menemani seharian. 
"Iya, sebenarnya aku lupa kalau sekarang ada janji sama teman."
"Aku pikir ada apa," diam-diam Rahma telah berharap. Lelaki ganteng akan menyatakan cinta. Debar-debar kecil mulai menyeruak. Ada rasa ingin mendekapnya.

"Aku pulang ya, aku janji sore nanti aku kembali." 

"Oke," balas Rahmah sambil menahan sakit.

Suara Ninjanya meraung, melesat. Tak terdengar lagi. Rahma hanya menatap matahari. Perlahan membuat air laut kembali menyusut. Ia menanti kedatangan Roy. 

"Aku jatuh cinta? Entahlah." Kakinya yang diperban tidak terasa sakit lagi. Duduk di bawah pohon kelapa dan melempar batu ke arah laut. Beberapa jam kemudian menanti, namun tak ada kabar. 

~*~

Suara benturan keras yang membuat orang-orang berkumpul Rahma yang penasaran juga bergabung. Ternyata seorang lelaki sepeda Ninja. Berlumuran darah. Di tangannya ada kantong plastik bermotif bunga. 

Rahma memungutnya, sebuah kado, seperti bungkusan kecil. Ada kertas terselip di antara pita. Orang-orang sudah mengeksekusi Roy. Mata Rahma menatap nanar. Hatinya lebam. Tadi, pagi masih bersama. Kini tergeletak. Dengan darah mengucur. Tidak tahu pasti keadaanya. Rahma tak bisa mendekat. Beberapa saat, petugas sudah menutup dengan koran. 

Tangis Rahma pecah. Kini Rahma merasa seorang diri. Di tengah keramaian. Tangannya masih meremas kertas. 

"Aku telah jatuh cinta kepada sosok gadis yang menyebalkan namun membuatku rindu. Cinta itu begitu cepat, aku telah yakin dan tak akan pernah mengulangi kesalahanku yang lalu. Maafkan aku, sebenarnya aku telah jatuh cinta sejak kita masih berusia 8 tahun. Namaku Rangga Roy, aku baru sadar kalau kau adalah Diana Rahma yang aku cari. Diana, maukah kau menjadi kekasihku dan menemani hari-hariku bersama mentari? Anggukan kepalamu, jika kau setuju. Ini, aku belikan ponsel yang kau impikan. Dan itu cincin pertunanganku. Tetaplah di sini bersamaku. Karena kau matahariku dan aku bunga matahari. Cintaku seperti bunga matahari yang tak pernah berpaling dari cahayamu. Aku mencintaimu, Diana Rahma. Salam cinta, Rangga Roy." 

Seketika, Rahma meletakkan sepucuk surat itu. Dirinya berlari menuju lelaki yang tak bernyawa. Memeluk jasad Roy.

“Tidak, jangan pergi Roy!" Polisi mulai datang dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Menarik Rahma untuk tak mendekati Roy.

Meski berat, Rahma meninggalkan Roy. Menatap mentari yang perlahan hilang ditelan laut.
~TAMAT~

*Cerita ini ditulis karena ada lomba di SC. Sebagai cerpen romans perdana yang saya buat 3 tahun silam. Terlepas dari ide yang terlalu aneh. Saya tetap cinta sama cerpen ini. Semoga terhibur. :)
Salah satu buku non-fiksi yang sangat bagus. Tentang jurusan yang sangat mempengaruhi masa depan. Tepatnya di abad 21 mendatang. Beberapa kacamata negatif menyatakan jurusan pertanian maupun perikanan sangat tidak diminati. Dibuktikan dengan survey yang diadakan oleh jurusanku.com. mayoritas di sana tidak berminat di kategori tersebut.Alasan faktual seperti tidak trend. Dan alasan krusial lainnya. Justru peminat manajemen sangat membludak. 

Bagi penulis justru karier yang berhubungan dengan perhotelan, gudang, dan pengolah data akan digantikan oleh automatic mesin. Teknologi yang akan membuat penerbangan manusia semakin relatif mudah dan efisien. Seperti berusahan amazon.com. Kini sudah tidak menggunakan tenaga pekerja. Diganti oleh ratusan robot yang bekerja. 

Bayangkan tiap hari amazon menerima ratusan ribu orderan. Tidak bisa dipungkiri, jika manusia yang mengerjakan akan kesulitan mencari barang dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu robot tidak akan mudah lelah. Juga tidak akan mengeluh masalah upah (gaji). Walaupun bekerja secara terus menerus. 
Buku ini juga membahas tentang Pendidikan di Indonesia memerlukan pendidik yang berkualitas. Namun, lagi-lagi ironis. Menurut survey yang dilakukan oleh Jurusanku.com. dari 12 ribuan siswa hanya segelintir yang berminat pada jurusan pendidikan dan keguruan. 



Bagaimana dengan nasib Indonesia kedepannya? Perlahan tapi pasti beberapa perusahaan yang merasa tidak memiliki saingan justru kalah oleh program kreativitas yang dihasilkan oleh perpaduan manusia dan sistem. 

Contohnya: Perusahaan transportasi blue bird dikalahkan oleh sistem ojek online. Kemudian terjadi masalah pemukulan tukang ojek. Di sini ketidak siapan mereka. 

Lantas bagaimana dengan kuda dan kereta yang sudah diambil alih oleh perusahaan lokomotif? 

Menurut pengamatan si penulis bersama rekan tim analisis data. Ada 3 yang tidak akan merosot secara cepat. Yaitu creativity, social intelligence & perception and manipulation.

Kesimpulannya. Apapun jurusan yang dipilih usahakan yang memiliki prospek kerja dalam jangka panjang. Karena tak cukup bekerja dengan passion. 

Dibutuhkan konsisten. Juga syarat kita sudah dirasa paham dengan pekerjaan adalah 10 ribu jam atau sekitar 4 tahun. Berhenti menjadi kutu loncat yang sering gonta-ganti perusahaan. Hanya karena merasa kehilangan passion. Justru di sini letak untuk menguji mental. Dengan latihan dan selalu mencoba. 

Saya mengutip pesan singkat yang sangat bagus, "Semakin terampil, semakin aman dari automasi." (Halaman 153)

Ditulis : 25 Jan 2017
Melihat postingan Gramedia Pustaka Utama sedang mengadakan sebuah event menarik bagi pecinta buku maupun literasi. Namun, yang menarik kita tak harus dianjurkan membeli buku terlebih dahulu. Membacanya lebih modern melalui aplikasi membaca buku digital. Perpustakaan yang bisa diakses dari mana saja. Membaca melalui gadget maupun PC. Oh ya, nama aplikasinya iJakarta.

Aplikasi yang berwarna jingga mampu menyediakan berbagai perpustakaan di Jakarta maupun masyarakat umum yang ingin membantu donasi. Saya langsung berbinar melihat banyak buku yang bagus di sana. Meski beberapa harus mengantre. Tak menyurutkan untuk terus membaca di sana. Suka sekali! Hampir tiap hari sejak pertama kali download pada tanggal 28 Oktober 2016. Meski kadang sering ngadat. Semoga ada perbaikan.

Ngomongin tantangan membaca yang diadakan GPU. Saya langsung mencari perpustakaan--epustaka Gramedia Pustaka Utama. Namun, yang ditemukan hanya Reading Challenge Gramedia. Mungkin ini sudah ada cover berwarna putih dengan gambar animasi laki-laki yang memegang corong, berteriak membara.



Ya! Benar sudah itu yang harus dibaca, kepala langsung berpikir Eka Kurniawan. Siapa gerangan. Kenapa saya belum pernah mendengar di timeline media sosial. Sempat terpikir lelaki yang cerdas, bisa membuat judul yang ekstrem seperti itu. Pernah terbayangkan buku ini mengandung humor dan aku sangat suka.
Baru buka halaman pertama buku ini cetakan GPU pada tahun 2014 bulan April. Semakin memburu rasa penasaran ini. Aku kembali mengamati judul bukunya.



Wah! Ini kumpulan cerpen?

1. Peter Pan (2000)
2. Dongeng Sebelum Bercinta (2000)
3. Corat-coret di Toilet (1999)
4. Teman Kencan (1999)
5. Rayuan Dusta untuk Marietje (2000)
6. Hikayat Si Orang Gila (1999)
7. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam (2000)
8. Siapa Kirim Aku Bunga? (2000)
9. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti (2000)
10. Kisah dari Seorang Kawan (1999)
11. Dewi Amor (2000)
12. Kandang Babi (2000)

Sedikit menelan ludah, aku meyakinkan. Kenapa judulnya tak terlihat ada segment yang lucu. Ah! Sudahlah aku harus membaca. Ini tantangan walapun genrenya tak begitu saya sukai.
Di bab awal saya bingung dengan cerita Peter Pan. Alhasil tiga kali mengulang baca di bab itu, baru bisa nyambung. Tidak klise namun mancep, tentang seorang aktivis yang mencuri banyak buku dari perpustakaan-perpustakaan seluruh pelosok kota. Suatu saat dijual dan untuk modal mencetak selebaran-selebaran untuk kegiatan subversif.

  • Tentang Peter Pan yang mengorbankan pendidikannya hanya untuk kegiatan itu. Bertahun-tahun ia tak lulus kuliah. Hingga suatu masa dicari oleh diktaktur. Peter menghilang bahkan mayat tak tercium. Aku sedih diendingnya.

  • Bab selanjutnya tentang “Dongeng Sebelum Bercinta”, mungkin dari judulnya terkesan vulgar. Namun, dibalik cerita itu hanya menceritakan sosok Alamanda yang mendongeng tentang Alice's Adventure in Wonderland kepada suaminya. Namun, dongeng itu belum selesai, karena trauma kejadian sebelum menikah dengan si Gembel. Amanat cerita ini, lebih menjaga diri sebelum menikah. Ritual perjodohan dengan sepupunya walaupun tak ada cinta.

  • Saya lebih suka bagian ketiga, “Corat-coret di Toilet. Cerita tentang pengguna toilet yang melakukan hajatnya namun, membuat dinding penuh dengan tulisan tentang revolusi yang gagal, kaum Hedonis, karikatur PKI: Penggemar Komik Indonesia. Cerita ini kocak, lugas dan berbobot. Sama sekali semuanya yang tabu dijelaskan dengan bahasa yang tepat. Dibalik cerita ini ada pesan yang kuat tentang keadaan tahun 1999 silam.

  • “Teman Kencang”, cerita yang ini sedikit menggelitik. Pemuda yang mencari teman kencang untuk malam minggu, namun tak satu pun menemukan gadis yang dimaksud. Hingga terlintas dalam benaknya menghubungi mantannya. Akhirnya menuju tempat mantannya, yang terjadi twist. Perempuan yang pernah menjadi belahan jiwanya, bukan tambah gemuk. Tapi, hamil sudah bersuami! Gagal acara malam minggunya. Hehe.

  • Ada juga tentang “Rayuan Dusta untuk Marietje”. Cerita yang terjadi pada 1869 silam tentang prajurit Belanda yang merindukan kekasihnya. Namun, belum bisa bertemu hingga terusan Suez dibuka. Lelaki yang mengundang Marietje datang ke tanah Hindia Belanda dengan alasan tempat yang menabjubkan. Setelah tiba di negeri Bar-bar. Marietje menagih janji pacarnya itu, untuk menaklukkan negeri Bar-bar. Disitulah munculnya pemuda-pemuda Belanda mengangkat senjata.

  • Cerita selanjutnya membuat hati terenyuh, “Hikayat Si Orang Gila”. Orang gila yang kelaparan menceritakan kekejaman Belanda yang membumi hanguskan Ibu Pertiwi. Merampas seluruh hak penduduk hingga tak tersisa. Sedih dan ending memilukan-mengenaskan. “Tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak bernyawa. 1999.”

  • “Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam,” cerita seorang gadis berusia 17 th tak bisa kemana-mana. Meski melakukan pemberontakan tetapi ayahnya tak mengizinkan. Sosok orangtua yang ketat, khawatir putri satu-satunya dirampok, diperkosa hingga gila dan tak bisa pulang, salah pergaulan. Suatu ketika si Cantik jatuh cinta dengan pemain teater. Namun, karena tak boleh keluar malam. Si Cantik diam-diam menemui ke pentas walaupun gelap. Sayang, si pangeran lebih memilih lawan mainnya, yang berperan sebagai juliet. Hancur hati si Cantik hingga tak ingin pulang, masa depannya raib. Dirinya menjadi kekasih malam. Ending cerita ini, si Cantik yang dibully oleh temannya semasa sekolah tak kembali pulang. Salah pergaulan hingga hantunya penasaran.

  • “Siapa Kirim Aku Bunga?”Kontrolir Henri yang terjadi di Hindia Belanda akhir abad 20-an. Bunga misterius yang datang menghantui, setiap hari dengan kertas catatan “untuk Henri”, bahkan saat tak di tempat kerja. Bunga itu masih terus datang. Cerita ini menyajikan tentang bunga misterius yang membuat Henri menderita skizofrenia.

  • Cerita yang sempat membuat mata berair itu ini, “Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti”. Anak kecil tanpa orangtua sejak kecil yang membuat masalah. Hingga polisi kelimpungan, namun ucapan polisi mampu membuatnya keluar dari tempat sembunyi—hutan kecil pinggir kota. Nasib malang, si bandit harus diborgol hanya karena roti.

  • Kisah dari Seorang Kawan, cerita yang satu ini tentang saudagar kapitalis yang menjual beras. Dimulai dari membeli 8 kios, menimbun beras. Saudagar itu menjual harga lebih murah dari harga normal. Namun, menjual kepada pedagang lebih tinggi dari harga standar. Miris dan ironi yang pernah terjadi pada zaman orde baru.

  • Dewi Amor berkisahkan tentang pemuda yang jatuh cinta kepada Laura, namun ternyata cintanya ditolak. Laura memilih lelaki yang lain daripada pemuda yang tulus. Lelaki pilihan Laura harus lebam di tangan seseorang yang dilukai hatinya.

  • Terakhir, cerita tentang “Kandang Babi” kisah Mahasiswa yang malas, suka minum arak, dan tak memiliki pondokan. Harus tidur di gudang penyimpanan yang disebut kandang babi. Tentang permasalahan sosial, butuh banyak uang namun tak bisa. Hingga temannya yang sudah menjadi dosen meminjamkan uang. Ternyata habis untuk membayar hutang, berpesta dan membuka pintu gudang yang pernah ditutup birokrasi. Ya, kembali ke asal mula. Meski pernah tidur di pos satpam. Ah, hatiku lagi-lagi teiris. Gak bisa dibayangkan awal tahun 2000 masih banyak yang demikian.


Secara keseluruhan, aku suka dengan ceritanya. Semuanya twist! Ada yang kocak, menggantung, sedih dan tragis. Banyak penggunaan kata lugas dan satir.
All the best with this story!



Judul buku : Corat-coret di Toilet
Penulis. : Eka Kurniawan
Penerbit. : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : April, 2014

Diterbitkan pertama kali di tahun 2000 dengan judul yang sama kemudian diterbitkan kembali di tahun 2014 ini.

Itu sekelumit review tentang Corat-coret di Toilet juga asyiknya menggunakan aplikasi iJakarta.