Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.
Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Thursday, December 6, 2018

Berdamai dengan Takdir

Berdamai dengan Takdir, Tidak Dapat Tiket H dapat Tiket Nonton


Kita tidak bisa memilih akan terlahir menjadi apa, namun kita bisa menentukan kesuksesan kita dengan pilihan yang menurut kita sudah layak untuk diperjuangkan. Terkadang ada banyak takdir yang menghampiri berlawanan dengan keadaan kita. Saat kita berharap ingin mendapatkan sesuatu yang disebut prestasi namun malah gagal di tengah jalan, tidak perlu kecewa atau merasa putus asa. Sejatinya setiap kesulitan akan muncul bersama kemudahan.






Monday, August 13, 2018

Mengapa Naskah Tidak Kunjung Selesai?

Mengapa naskah tidak kunjung selesai?




Menulis bukan perkara yang sangat sulit, ‘setengah’ sulit bisa dibilang begitu. Kita harus melatihnya setiap hari itu sudah harga mati. Semakin sering menulis dan terbiasa disiplin menulis setiap hari akan memperbaik kualitas tulisan. Apa jadinya jika menulis tidak kunjung selesai.




Kalau kita terus-menerus membiarkan diri larut dengan rutinitas selain menulis, kita hanya sibuk memikirkan tulisan namun tidak kunjung menuliskannya ini sudah keadaan yang sangat membahayakan. Memang apa yang membahayakan, kamu pasti akan bertanya-tanya ya?




Itu sebuah gejala yang sering terjadi kepada penulis pemula, seperti saya. Kita hanya berangan naskah selesai tanpa mengerjakannya, apakah bisa? Tentu saja tidak akan bisa. Jika ingin memasak telur, maka terlebih dahulu kita harus punya telur dan minyak goreng, itu minimal. Selanjutnya jika ingin telur itu masak tentu saja kita harus memasaknya. Sama halnya dengan menulis, jika kita hanya menginginkan tanpa ada inisiatif untuk memulai, maka bersiaplah naskah tidak akan kunjung selesai.




Point berikutnya, jangan terlalu banyak mengatakan, ‘Saya Sibuk’. Semua orang memiliki 24 jam itu sama dengan apa yang kita punya. Bedanya, apakah kita benar-benar mengoptimalkan waktu kita, atau hanya membuang-buang waktu? Sisihkan satu atau dua jam setiap hari untuk menulis, apa saja tanpa ada yang menghalangi lagi. Semakin sering menunda kegiatan menulis, maka tentu saja naskah tidak akan selesai.


Masih asyik dengan media sosial.



Era digitalisasi membuat semua orang berlomba-lomba paling eksis dan narsis untuk menunjukkan profil yang terbaik. Begitupun dengan aktivitas medsos yang kadang memakan waktu untuk menulis, berbanding terbalik, waktu menjadi sia-sia dan semakin tidak tersisa.
Bagaimana tips menyelesaikan naskah tepat waktu?




Pertama, gunakan mind map.


Tentu saja dalam membuat sebuah karya, kita butuh alur cerita yang jelas. Agar tidak bertele-tele dan tulisan kita menjadi teratur. Dengan peta pikiran, ide-ide yang sudah dikonsep sejak awal akan berakhir sesuai dengan prediksi. Tentu saja menggunakan peta pikiran memangkas waktu.


Jangan nanti-nanti. Tapi SEKARANG!





Sama seperti nasi yang panas ingin kau makan, semakin lama menunggu. ‘Nanti, nanti’, maka nasi akan berubah menjadi dingin. Tulisanmu bukan semakin cepat beres, akan tetapi akan semakin lama untuk selesai.
Menulislah apa yang dikuasai, jangan menunggu hasil tulisan menjadi baik. Kita tidak akan pernah puas, tapi menulislah terlebih dahulu sampai sukses di akhir. Baru setelah itu bisa disunting hal-hal yang perlu diperbaiki.


Tidak terpengaruh dengan suasana.




Kita harus konsisten untuk menyelesaikan sampai finish. Jangan tergiur untuk makan-makan enak, atau sekadar jalan-jalan maupun menonton film bagus. Kecuali memang bertujuan untuk riset.


Pasang Deadline!


Buat target sendiri misalnya satu jam sekian kata, dan kita upayakan yang terbaik hingga selesai. Tidak ada yang sulit dalam membuat sebuah karya tulis sampai selesai lalu terbit. Hal yang membuat sulit ialah rasa malas dan tidak ingin sukses.



Ala bisa karena terbiasa, biasakan nulis setiap hari minimal satu lembar, tetapi saat kita sudah terbiasa menulis 1000 kata setiap hari selama 3 bulan. Tentu kita bisa akan menjadi penulis yang handal dan mengerjakan deadline sesuai dengan harapan.


Baiq Cynthia

Friday, June 29, 2018

Belum Saatnya Usai Masa Penantianmu


Tidak mengapa menunggu lebih lama lagi, asalkan engkau tetap memelihara hati dalam kebaikan. Karena yang baik datang tidak tergesa-gesa, ia datang dengan persiapan yang sangat matang. Teruslah memperbaiki diri, memantaskan diri untuk pilihan yang terbaik, versi-Nya. Jangan menodai dengan setitik ketidaksabaran.




Friday, May 18, 2018

Friday, April 13, 2018

Memoar Rapunzell Meniti Cinta (Prosa) [Embun Cinta]~Baiq Cynthia

Memoar Rapunzell Meniti Cinta (Fiksi) [Embun Cinta]~Baiq Cynthia

Embun Cinta

Aku pernah patah hati, luka itu lama untuk memudar. Tak ingin rasanya menanam benih lagi, jika pada akhirnya harus mengering kemudian hancur lebih awal. Dalam pikiran hanya duri-duri yang terus menancap menghunus mulai dari tepian hati hingga serambi hati. ~Rapunzell


dokumen pribadi

Sudah terlalu sering mengejar cinta, tetapi cinta hanya membuatku semakin terluka. Definisi cinta saat itu memiliki, ketika aku sadar aku bisa memiliki hati seseorang, tapi tidak memiliki fisiknya. Apakah itu cinta?

Perlahan aku mengerti, cinta itu tidak harus memiliki. Lantas aku bisa kembali bahagia meski cinta tak memiliki. Semakin lama-waktu terus mengejar diriku-- untuk mencoba mencintai orang yang jauh dalam pandangan. Aku belajar mencintai dalam diam, mencintai dalam kebisuan.

Bukan maksud untuk membohongi diri, tetapi aku sadar ... aku hanya seperti punguk merindukan bulan. Ternyata cinta dalam diam pun juga menyimpan luka. Tanpa sadar aku menangis dalam bisu, tertawa dalam sunyi, dan berusaha bahagia di hadapannya.

Diam-diam aku berdoa untuknya, entah itu cinta atau hanya kagum. Tapi, aku selalu bahagia di dekatnya. Ada banyak gejolak jika harus menatap matanya. Aku tidak sanggup, karena ada wanita lain dalam pijar matanya.

Cinta dalam diam ... aku mulai meninggalkan. Karena Tuhan telah menciptakan bibir untuk bicara, lisanku pun terlatih mengungkapkan. Aku mencintainya, aku berbicara dengan suara. Sering kukatakan dalam bisikan bahwa aku rindu!

Tapi, sosok yang didengungkan cinta justru tak mendengar. Ia lebih mendengarkan tawa dan canda temannya. Aku pun kembali patah hati.

Suatu ketika aku sadar, jika bibir tak mampu mengatakan cinta, maka tulisan yang akan membuatnya mengerti akan arti cinta. Aku pun sering merangkai ribuan kata, setiap detik selalu mengirimkan untaian kata. Tidak ada merpati lagi yang akan menyampaikan suratku, maka kubiarkan surat itu terbang secara terbuka. Jutaan orang pun tahu, aku sedang dimabuk cinta. Atau sendu galau dalam kelamnya cinta.

Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam pun menjadi hari, hingga berminggu-minggu, tak ada kabar. Aku pun lebih sabar menanti cinta itu dalam torehan tinta. Purnama berganti purnama hingga aku pun rindu sosoknya. Kuberanikan diri berjalan menembus sepi, melewati lelah, peluh dan hujan. Kulihat sosoknya yang sudah banyak berubah, aku hanya bisa mengatakan lewat pesan. Ia hanya tersenyum.

Senyumannya, terkadang merenggut mimpi-mimpiku. Aku pun luluh pada hal yang baru, iya! Seseorang Rapunzell rela menjatuhkan diri dari tebing menara untuk menemui pangerannya.

Atas izin Tuhan, kami bisa berjalan di antara rinai, menikmati malam dan lampu-lampu temaram.

Lidahku keluh, kata-kata yang telah kurancang tak kunjung keluar dalam lisan. Kami dekat, tapi ada ribuan jarak dalam hati kami. Jika kau melihat, kami tak ubah teman lama yang lama berpisah dan reuni. Cinta? Aku tidak tahu artinya, yang aku pahami cinta itu bahagia. Aku bahagia malam itu, kusebut namanya dalam doa. Jika dia yang terbaik untukku maka satukanlah dalam ikatan suci.

Aku pun harus kembali pada istana, memanjat tebing yang dijaga oleh naga. Lelahku menjadi rasa yang lebih indah dari kepakan kupu-kupu dalam dada. Getaran-getaran cinta? Ya!

Aku mencintainya seperti hujan pada tanah, cinta yang tak berharap kehadirannya, cinta yang tak harus memiliki, cinta yang hanya tentang saling berbagi canda. Cinta itu kamu?
Kurenungkan dalam-dalam, tentang pertemuan waktu lalu.

Aku merasa cinta harus bicara, cinta butuh kejelasan dan ketegasan. Maka kukirimkan sepucuk surat bukan melalui telepati, tetapi melalui penjaga istananya yang memberikan langsung apa yang kuinginkan.

Bagiku, tidak mungkin seorang Pangeran mau meninggalkan singgahsana demi sosok Rapunzell? Aku sangat yakin dia mencintaiku. Sungguh!
Bahagianya tak bisa dilukiskan dalam tinta indah, raut wajahnya membuatku terbias. Dia membalas suratku dalam amplop merah bertuliskan namaku sebagai tujuan. Kau tahu? Apa yang terjadi?

Aku menahan bulir bening yang hendak jatuh merayap di antara dua pipi tirusku. Perlahan-lahan kubaca, huruf demi huruf diraba. Ia mengatakan sesuatu yang tak pernah terbetik dalam anganku.

Pangeran berparas menawan yang menemuiku di taman lampion, mengatakan “Aku minta maaf, hatiku berkata demikian. Aku tidak bisa mencintaimu seperti cintamu padaku.”

Anganku hancur, semua menjadi tidak berguna, hatiku seperti pecahan kaca yang terurai air mata. Sia-sia rasanya menjaga diri dan hati selama ini. Menutup rapat hati dari mereka yang mencoba memasuki gerbang hatiku. Tapi, aku bisa tersenyum di sela-sela isak dan tangis.

Tuhan membuatku sadar, pertemuan malam itu sebagai perpisahan terindah yang selama ini hanya membelenggu rindu, mengatup tawa, dan memoar tentangnya.

Aku katakan pada diriku untuk berhenti mencintai, berhenti memperjuangkan dan berhenti bertanya definisi cinta. Bagiku cinta adalah ikhlas. Kucoba melepaskan namanya yang pernah terkurung dalam hati.

Membiarkan cintanya bertemu dengan belahan hatinya, dan kembali membiarkan hatiku untuk tetap kosong saja. Tapi, aku tidak akan menutup diri.

Aku pergi dari menara, mencari bunga-bunga yang baru saja mekar. Menari bersama kupu-kupu, memanjat pohon untuk melihat rindangnya tumbuhan yang selama ini tak terlihat.

Aku bernyanyi bersama kenari, menikmati semilir angin yang menyapa. Bercanda dengan daun-daun yang jatuh dibawa arus sungai yang hangat.

baiq cynthia quotes

Indahnya dunia, aku lupakan lagi soal cinta. Saat hatiku bahagia itu cinta, dan untuk bahagia saat ini hanya perlu menikmati sekitar. Aku bisa melihat pelangi selepas hujan, memandang lama-lama istananya tanpa harus membenci.

Kukatakan pada cinta, lebih baik kau datang saat aku siap. Entah tak menunggu berapa lama. Aku menerima sepucuk surat tanpa kutahu siapa pengirimnya, kutanyakan pada langit, tak ada jawaban. Inikah yang disebut cinta dari Tuhan?

Alam bersorak ketika ranum di pipi muncul, bersama dengan pangeran berkuda yang pertama baru kukenal. Ia berasal dari istana yang tak jauh dari tempatku bermain. Apakah ia yang selama ini mengirimkan surat untukku?

Seperti embun dalam bunga, ia menyejukkan tanpa harus merusak kelopak. Bunga mungil ini bersemi lagi, seperti cintaku yang perlahan mencoba untuk mencintainya. Cinta begitu sederhana!

Situbondo, 13/4/2018

Wednesday, April 11, 2018

Tantangan Menulis Akan Membuatmu Strong (Tips Menulis)

Habis TAT S4 Terbitlah TAT DUEL






Menulis itu memang tidak semudah membuat kalimat, “Saya Bisa Menulis atau Aku Penulis.”




Saya tidak akan mengatakan menulis itu susah, karena setiap permasalahan paling rumit di muka bumi ini, pasti ada jalan keluarnya. Tentu saja menulis pun ada caranya agar lebih mudah, seperti makan Biskuit yang diputar, dijilat dan dicelupin.


Menulis juga ada caranya, membaca, membaca, membaca dan menulis, menulis, menulis.
Saya jabarkan lagi arti 3 Membaca dan 3 Menulis.




Membaca yang pertama; tujuannya kita mendapatkan ide. Menulis yang pertama; menuliskan ide apa saja yang sudah tertangkap.
Menulis kedua; membaca tulisan yang sudah kita tulis. Menulis yang kedua; mengedit apa yang kita tulis.




Kemudian tulisan diendapkan untuk waktu yang cukup entah 3 hari atau seminggu. Selama diedapkan lupakan tulisan yang sudah ditulis, bawa refreshing anggap tidak ada pikiran. Tidak terlalu lama juga mengendapkan, lalu baca yang terakhir.




Membaca yang ke-3; posisikan kita sebagai pembaca awam, jadi harus netral jika merasa ada ketidakcocokan dalam aturan kepenulisan, maupun berkenaan dengan kisah yang disuguhkan.
Menulis yang terakhir; ialah benar-benar menulis semacam perbaikan total juga revisi. Jadi, sebagai penulis juga harus cakap menjadi editor sendiri sebelum mengirim naskahnya.




Hei itu salah satu tips mudah yang tentunya hanya dengan mencoba bisa mengetahui sejauh mana kemampuan menulisnya.
Beranjak dari hal yang sedemikian sederhana, kita uji nyali menantang diri. Gimana perasaanmu saat menulis dikasih sedikit tantangan?




Misalnya tenggat waktu, atau deadline. Ini sudah hal yang wajar ya, tapi bagaimana jika tenggat waktunya sangat kepepet. Menulis novel dalam waktu kurang dari 23 hari? Sudah pernah?
Mendapatkan genre yang paling dibenci?




Teror berupa denda, hingga status-status pertanyaan kapan selesai? Seperti jomlo ditanya kapan nikah? Untung gak sampai pilih jalan pintas semacam bunuh diri, “Ih serem!” Lebih serem lagi kalau pergi ke kondangan mantan.


NEXT ...




Tantangan berikutnya ialah membuat versi remake dari novel penulis yang mengadakan tantangan ini. Semacam meng-cover lagu, agar lebih menarik atau memiliki hal yang baru tanpa mengurangi nilai dan isi dari cerita yang versi lawas.




Keseluruhan itu masuk dalam ajang TAT S4. Ada sedikit tips nih, dari saya yang kebetulan dinobatkan menjadi The Winner sama Ibu Kos. Cie, tidak sia-sia begadang, dan duduk dan tidur bareng Lappy (baca: Laptop), sampai ia harus masuk ruang servis. Mungkin karena sudah tidak mampu menahan beban hidup dan kenyataan yang pahit.




Tips pertama yang saya lakukan saat menghadapi tantangan TAT S4.
Menerima kenyataan, bahwa hidup memang harus dinikmati, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil selama tetap konsisten dalam belajar.




Selanjutnya, mulai cintai proses dan apa yang akan ditulis. Semua yang berasal dari hati, tentu akan menjadi lebih spesial. Dengan cinta, kita akan merasa lupa dan tidak peduli pada kegagalan yang akan dihadapi. Cinta menumbuhkan optimis, dan cinta selalu menemukan jalan keluar dalam sebuah permasalahan.




Saya awalnya merasa kesulitan menulis naskah Teenlit yang menjadi tantangan, karena bacaan terakhir saya sudah mulai masuk pada tipe bacaan yang ‘berat’. Seperti Rafiluss karya Budi Darma.




Maka hal pertama yang saya lakukan adalah membaca, mulai mengamati keadaan zaman putih abu-abu yang dulu itu. Sedikit sulit untuk bisa mengembalikan memori saya yang sudah tereset pada hari ini. Banyak hal-hal buruk yang saya alami semasa di SMA. Itu mengapa saya tidak menyimpan kenangan remaja.




Tak cukup dengan ‘memanggil’ kenangan yang lama saya mulai dengan hal yang lebih mudah yaitu berperan sebagai tokoh dalam cerita, seolah-olah itu saya yang mengalami.




Gimana caranya bisa menyelesaikan 120 lembar dalam waktu 3 mingguan?
Kita atur misalnya satu hari 10 lembar maka dalam 10 hari sudah selesai, bulan? Tapi pada kenyataannya, seringkali realita tidak sama dengan ekspektasi. Sehari saya hanya mampu satu-dua lembar. Itu sungguh menyedihkan.






Menulis tidak bisa mengandalkan mood, kalau menunggu mood bagus, sama saja menunggu hujan di tengah kemarau. Saya mulai berjuang saat itu, meski nyaris tidak tidur dan tulang ekor terasa akan copot saja. Saya abaikan segala hal yang mengganggu, sebisa mungkin saya tidak mengerjakan multitasking. Karena efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan otak.







Ini sudah nyaris pukul 1.00 saya belum bisa tertidur, padahal rutinitas hari ini bisa dibilang sangat padat. Tapi penulis tidak akan mudah menyerah, ia rela berdarah-darah demi bisa menulis walaupun mata suah terkantuk-kantuk.




The power of kepepet selalu menjadi paling ampuh, saya mengerjakan non stop itu saat waktu sudah tersisa hitungan hari.




Maka tantangan TAT DUEL kali ini yang akan saya hadapi, setelah mendapatkan tantangan menulis yang jauh dari genre, kini premis pun ditentunkan dari penerbit.




Bisa dikatakan jauh dari pengalaman menulis saya, ini bukan soal menulis perjalanan hidup. Tapi, menulis memiliki tujuan, manfaat dan dampak. Itu yang harus dipegang teguh oleh penulis.




Saya pun dibuat bingung dengan inti premis, hingga membuyarkan pikiran saya berkenaan dengan pengertian premis itu sendiri. Bersyukur, teman-teman TAT DUEL meski dalam hal berkompetisi kami saling mensupport satu sama lain, melalui semangat dan motivasi.




Meski ada beberapa peserta yang mendapatkan DL lebih cepat, kami pun terus berusaha untuk menyelesaikan naskah dengan baik.




Premis saya ternyata teka-teki yang harus dipecahkan oleh saya sendiri. Ini mah buka premis!
Selamat istirahat, punggung rasanya butuh sandaran—kasur.
Situbondo, 11/4/2018

Friday, March 9, 2018


Saturday, January 27, 2018


Monday, November 13, 2017

Kisah 'Pahlawan' & Kucing

Tolong menolong dalam kebaikan, begitu ungkapan yang sering saya simpan dalam benak. Meski hanya beberapa persen bisa mewujudkannya. 



Sumber gambar : google

Karena setiap bantuan yang kita berikan akan kita terima dalam bentuk yang lain. Janji Tuhan itu pasti, sedikit pertolongan yang diberikan akan dibalas berlipat-lipat tak terhitung. 

Terkadang, kesadaran akan membantu sesama pun pudar. Entah karena faktor rutinitas kesibukan yang luar biasa padat. Kurangnya empati terhadap sesama. Menjadi pahlawan, tak perlu menjadi tentara untuk membela tanah air. Membantu orang-orang lansia, anak-anak atau yang membutuhkan 'perhatian' khusus saat menyebrang jalan sudah meringankan beban mereka. 
    Hal-hal sederhana yang diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama;
  1. Seperti memberi tahu orang yang tersesat. Itu hal kecil. Tapi, sangat dibutuhkan bagi yang yang membutuhkan. 

  2. Mengembalikan barang yang jatuh atau tertinggal. Hal ringan, tapi bagi yang kehilangan sangat berarti.

  3. Mungkin punya banyak baju bekas. Pun bisa sangat berarti bagi orang yang kekurangan, korban bencana dan lainnya. 

  4. Meminjamkan uang, saat kondisi darurat. Pun merupakan pertolongan yang luar biasa bagi yang butuh.

  5. Hal sederhana lainnya, meluangkan waktu bercengkrama dengan keluarga. 


Hal-hal kecil di atas jika diupayakan secara maksimal. Kita bukan hanya sebagai pahlawan. Kita akan disegani, pun saat kita butuh akan diberi kemudahan. 

Mereka yang butuh pertolongan hanya sebagai perantara bagi kita untuk mendapatkan kesempatan berbagi, menolong sesama juga ujian. Apakah kita benar-benar bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri? 

Mustahil kita bisa melakukan sendiri. Kita hidup dan tumbuh besar karena orang lain (orangtua), kita belajar sesuatu pun melalui orang lain (pendidik), menikmati hal-hal yang bisa dikonsumsi dari orang lain (produsen), terakhir kita mati pun juga akan butuh orang lain (keranda tak akan jalan sendiri ke makam).

Sedikit senyum membahagiakan yang ikhlas untuk orang lain juga merupakan sedekah. Wujud berbagi kebahagiaan yang paling kecil. Sebuah senyum. 
Lantas, ada tumbuh begitu angkuh setelah dia mendapatkan target yang dia capai. Padahal, mustahil bisa diwujudkan sendiri. Coba, lihatlah betapa tangguhnya semut kecil mengangkat remah roti. Mustahil dia bisa mengangkat sendiri. Hadirnya teman, rekan, kerabat, semua orang di hidup kita wujud adanya peduli Tuhan. 
Sebelum, benar-benar ditutup. Izinkan saya berbagi kisah keluarga kecil kucing. Panggilannya luzi, kucing anggora yang usai melahirkan. Anaknya diadopsi oranglain. Dia kesepian, kehilangan. Sementara hasil indukan luzi dengan kucing lokal menghasilkan kucing blasteran yang lebih mirip kucing lokal. Ia pun memiliki tiga anak kucing. Berbulu mirip induknya.



Berhari-hari luzi merasa sedih, dia ikut merawat ketiga anak kucing. Melihat tuan rumahnya juga hidup susah. Memberi makan hanya sekali sehari. Luzi khawatir anak kucingnya kelaparan. Dia pun tak segan berbagi kelenjar mamae. Meski luzi sibuk menyusui. Sang induk pun berusaha mencari makanan. Mulai dari ikan di tong sampah, memburu tikus hingga mencuri ikan. 

Sebagai kucing yang tidak punya akal. Mencuri adalah jalan menyelamatkan nasibnya. Dia tidak tahu cara berkomunikasi, cara membuat pepes ikan, cara memancing atau cara menjual saham. Dalam pikirannya hanya anaknya dan cara menangkap tikus, kecoa, belalang, cicak yang bisa dilakukan. 
Maka, jika masih ada yang kurang peduli terhadap sesama. Bahkan melukai, berarti masih kalah dengan nurani binatang. Akalnya sudah tewas karena sifat kebinatangan lebih digunakan. 
Dari sana, kami menulis kisah-kisah manusia yang tidak peduli, mengeluarkan sisi binatang, rakus, tamak juga hilangnya hati nurani dalam sebuah kumpulan cerpen DARAH. >>Baca Selengkapnya 

Kemudian tak kalah penting, kembali lagi kepada sang Pencipta. Allah sudah membagikan rezeki sesuai kadar yang kita butuhkan. Bahkan masalah Rezeki, Jodoh, Kehidupan dan Kematian sudah diatur jauh sebelumnya. Sebelum penciptaan bumi. Subhanallah. Maha Suci Allah atas segala sesuatu. Menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. 












Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran : 190-191)






Manusia yang baik tentu akan menyukuri kehidupannya. Sebagai bentuk pedulinya bisa meluangkan waktu maupun materi untuk mereka yang membutuhkan. Jadilah pahlawan demi membantu sesama, peduli lingkungan dan binatang. 
Jika ada pakaian bekas yang masih layak pakai bisa donasikan kepada kami. LASNAS LMI SITUBONDOWOSO.

Kiranya itu saja yang bisa saya share di sini. Tidak menutup kemungkinan saya membutuhkan komentar anda. Barangkali ada yang tidak sepedapat. Bisa kita diskusikan bersama di FB : Baiq Cynthia

#SalamLiterasi 

Saturday, November 11, 2017

Kepadamu, yang Terbang Bersama Dandelion

Pada akhirnya aku tahu, siapa yang bersungguh-sungguh siapa yang ingin mencicipi manisnya cinta. 

Aku tak sedang bercanda pada dunia. Meski banyak orang abai akan sebuah impian. 



Sumber Google
Sudah setengah dekade, kau pun tak kunjung datang. Penantianku terasa terhenti. 

Denyut nadi bergerak tak pasti. Inikah perasaan yang dulu menggebu. Menghasut semua yang pernah menetap.

Kapan terakhir, engkau memetik dandelion? Jangan kau sebut kata itu. Jika mencabut satu saja tak mampu.

Lelaki yang kutunggu saat ini? Jangan tanya soal itu. Aku tidak pernah memimpikan lagi. Bahkan aku sendiri tak pernah ingin menatapnya lagi. 

Aku tak ingin bermimpi, pun tak ingin dimimpikan. 
Aku bukan pujangga waktu, yang pandai bercanda setiap detik. 
Kau boleh pergi sesuka hatimu. Kau boleh datang mengetuk hatiku bila kau siap. Aku pun tak akan pernah meminta kau hadir. Pun tak melarang kau pergi.
Bukan tentang sebuah janji. Tapi, ucapan janji yang kau-torehkan? Ah, sudahlah. Kuanggap kau daun kering, perlahan menyusup dalam tanah. 
Pergilah sesuka hatimu.
Jumat, 10 November 2017

21 Shafar 1439 H

Friday, January 20, 2017

5 Hal yang Ingin dicapai pada 2017

Memasuki hari ke-3.

#KampusFiksi10DaysWritingChallenge

#10DaysKF



Sudah memasuki hari ke tiga sepertinya akan semakin seru lagi. Karena kemarin peserta sudah tembus 100 lebih. Hihi. Banyak saingan. Tapi, gak papa. Itu bagus artinya hastag #10DaysKF akan selalu booming hingga tanggal 27 Januari 2017. Wah! Iya. Kini sudah lembar tahun baru. Semakin dinanti semakin tak sabar.
Aku menanti apa memangnya? Pencitraan saja. Hihi. Langsung saja ke pertanyaan no.3

Sebutkan 5 Hal yang Ingin dicapai tahun ini!
Mirip resolusi gitu ya. Tapi tak papa, semakin didengungkan akan semakin menetap di dalam sanubari. Semakin semangat jadinya.

Hal paling sederhana
yang ingin dicapai bisa konsisten menulis dan memperkaya bacaan. Saya mengingat kata-kata Presma--Presiden Mahasiswa UMM. Beliau mengatakan bahwa saya harus lebih banyak lagi dalam hal bahan bacaan. Membaca itu seperti memberi cahaya di setiap langkah yang ditempuh.
Sedikit minder kadang, karena saya tidak kuliah lagi di sana. Tapi, impian menulis itu ingin ditingkatkan menjadi penulis produktif. Semoga bisa tercapai. 

Hal kedua
masih tidak jauh dari yang pertama. Saya ingin segera mempunyai laptop. Saya merasa kasian sama gadget. Dia selalu digunakan hampir setiap saat. Untuk selling, Fotografi, menulis, membaca, chatting atau komunikasi.




Seperti ini akan mengurangi daya kekuatan Gadget. Mengingat saya tidak berasal dari keluarga mampu. Bekerja sebagai marketer memang tidak mudah. Untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Sulit dijabarkan di sini. 
Laptop yang ingin dimiliki minimal punya spesifikasi bagus untuk mengedit juga. Selain itu hobi saya mengedit video atau gambar. 


Harapan selanjutnya
saya ingin menerbitkan sebuah cerpen di media atau sebuah novel. Sudah banyak tawaran seperti itu. Namun, tak pernah benar-benar dieksekusi. Bahkan tadi pagi ada sahabat Facebook yang share tentang syarat mengirim naskah ke Majalah. Saya lupa siapa yang mengshare. Tapi sudah saya copy tulisannya kurang lebih seperti ini. 
Alhamdulillah :-)

Pengantin Gosong di Rubrik Gado Gado Majalah Femina 04, Terbit Hari ini. Selamat Membaca :-)

Mungkin teman-teman berminat mengirim artikel seperti ini, ini dia syarat-syaratnya. Semoga manfaat.

* Tulisan boleh pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain yang terpenting 'fresh'.

* Arial 12 Spasi 2

* 700-800 kata atau 3 halaman folio

* Sudut pandang orang ke-1 

* Tambahkan catcher ( kalimat yang paling menarik)

* Kirim ke ; kontak@femina.co.id

* Masa tunggu sampai 6 bulan

* Jika ditolak ada pemberitahuan lewat email

* Jika dimuat ada pemberitahuan lewat sms/telp & email 

* Honor Rp 500.000 (lancar :-) )

Selamat Mencoba....




Malu rasanya jika sudah pernah masuk di lini universitas walau hanya beberapa semester namun tidak bisa tembus media. Apalagi jurusan yang ditempuh berhubungan dengan media. Semangat!

Hal selanjutnya
yang ingin dicapai ingin merancang bisnis sendiri. Hennah, yang sangat menjamur akhir-akhir ini. Sangat dibutuhkan keterampilan menggambar. Bisa ala biasa jadi hanya perlu lebih rajin belajar menulis. Saya juga ingin menjadi marketer yang handal. Susah-susah mudah. Itu pun sebenarnya bisa dipelajari secara otodidak. Punya usaha sendiri asyik rasanya. Juga ingin bekerja freelance editor, misalnya jika ditawari. Akan sangat bahagia. 


Terakhir
, saya ingin menikah. Alasanya sudah pernah saya posting di post sebelumnya. (Bisa baca di sini Resolusi Baiq). Jadi saya ingin segera bisa membangun rumah tangga bersama lelaki impian yang selama ini 'menggelayuti' isi kepala. Ingin setiap akhir pekan ada yang mengajak liburan atau belanja bersama. Insyaallah semoga diberi titipan buah hati. Semakin lengkap dan komplit rasanya.
Kita bisa berencana, berandai-andai untuk menggapai impian. Tetapi jawaban akan muncul dari Karunia Allah. Tetap yakin dan berusaha. Sejatinya usaha tidak akan menghianati hasil. 

Keep list and do it! 

Salam dari saya. Have a nice day. :) 


Monday, November 7, 2016

[REVIEW LENGKAP]-Corat-Coret di Toilet (EKA KURNIAWAN)

Melihat postingan Gramedia Pustaka Utama sedang mengadakan sebuah event menarik bagi pecinta buku maupun literasi. Namun, yang menarik kita tak harus dianjurkan membeli buku terlebih dahulu. Membacanya lebih modern melalui aplikasi membaca buku digital. Perpustakaan yang bisa diakses dari mana saja. Membaca melalui gadget maupun PC. Oh ya, nama aplikasinya iJakarta.

Aplikasi yang berwarna jingga mampu menyediakan berbagai perpustakaan di Jakarta maupun masyarakat umum yang ingin membantu donasi. Saya langsung berbinar melihat banyak buku yang bagus di sana. Meski beberapa harus mengantre. Tak menyurutkan untuk terus membaca di sana. Suka sekali! Hampir tiap hari sejak pertama kali download pada tanggal 28 Oktober 2016. Meski kadang sering ngadat. Semoga ada perbaikan.

Ngomongin tantangan membaca yang diadakan GPU. Saya langsung mencari perpustakaan--epustaka Gramedia Pustaka Utama. Namun, yang ditemukan hanya Reading Challenge Gramedia. Mungkin ini sudah ada cover berwarna putih dengan gambar animasi laki-laki yang memegang corong, berteriak membara.



Ya! Benar sudah itu yang harus dibaca, kepala langsung berpikir Eka Kurniawan. Siapa gerangan. Kenapa saya belum pernah mendengar di timeline media sosial. Sempat terpikir lelaki yang cerdas, bisa membuat judul yang ekstrem seperti itu. Pernah terbayangkan buku ini mengandung humor dan aku sangat suka.
Baru buka halaman pertama buku ini cetakan GPU pada tahun 2014 bulan April. Semakin memburu rasa penasaran ini. Aku kembali mengamati judul bukunya.



Wah! Ini kumpulan cerpen?

1. Peter Pan (2000)
2. Dongeng Sebelum Bercinta (2000)
3. Corat-coret di Toilet (1999)
4. Teman Kencan (1999)
5. Rayuan Dusta untuk Marietje (2000)
6. Hikayat Si Orang Gila (1999)
7. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam (2000)
8. Siapa Kirim Aku Bunga? (2000)
9. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti (2000)
10. Kisah dari Seorang Kawan (1999)
11. Dewi Amor (2000)
12. Kandang Babi (2000)

Sedikit menelan ludah, aku meyakinkan. Kenapa judulnya tak terlihat ada segment yang lucu. Ah! Sudahlah aku harus membaca. Ini tantangan walapun genrenya tak begitu saya sukai.
Di bab awal saya bingung dengan cerita Peter Pan. Alhasil tiga kali mengulang baca di bab itu, baru bisa nyambung. Tidak klise namun mancep, tentang seorang aktivis yang mencuri banyak buku dari perpustakaan-perpustakaan seluruh pelosok kota. Suatu saat dijual dan untuk modal mencetak selebaran-selebaran untuk kegiatan subversif.

  • Tentang Peter Pan yang mengorbankan pendidikannya hanya untuk kegiatan itu. Bertahun-tahun ia tak lulus kuliah. Hingga suatu masa dicari oleh diktaktur. Peter menghilang bahkan mayat tak tercium. Aku sedih diendingnya.

  • Bab selanjutnya tentang “Dongeng Sebelum Bercinta”, mungkin dari judulnya terkesan vulgar. Namun, dibalik cerita itu hanya menceritakan sosok Alamanda yang mendongeng tentang Alice's Adventure in Wonderland kepada suaminya. Namun, dongeng itu belum selesai, karena trauma kejadian sebelum menikah dengan si Gembel. Amanat cerita ini, lebih menjaga diri sebelum menikah. Ritual perjodohan dengan sepupunya walaupun tak ada cinta.

  • Saya lebih suka bagian ketiga, “Corat-coret di Toilet. Cerita tentang pengguna toilet yang melakukan hajatnya namun, membuat dinding penuh dengan tulisan tentang revolusi yang gagal, kaum Hedonis, karikatur PKI: Penggemar Komik Indonesia. Cerita ini kocak, lugas dan berbobot. Sama sekali semuanya yang tabu dijelaskan dengan bahasa yang tepat. Dibalik cerita ini ada pesan yang kuat tentang keadaan tahun 1999 silam.

  • “Teman Kencang”, cerita yang ini sedikit menggelitik. Pemuda yang mencari teman kencang untuk malam minggu, namun tak satu pun menemukan gadis yang dimaksud. Hingga terlintas dalam benaknya menghubungi mantannya. Akhirnya menuju tempat mantannya, yang terjadi twist. Perempuan yang pernah menjadi belahan jiwanya, bukan tambah gemuk. Tapi, hamil sudah bersuami! Gagal acara malam minggunya. Hehe.

  • Ada juga tentang “Rayuan Dusta untuk Marietje”. Cerita yang terjadi pada 1869 silam tentang prajurit Belanda yang merindukan kekasihnya. Namun, belum bisa bertemu hingga terusan Suez dibuka. Lelaki yang mengundang Marietje datang ke tanah Hindia Belanda dengan alasan tempat yang menabjubkan. Setelah tiba di negeri Bar-bar. Marietje menagih janji pacarnya itu, untuk menaklukkan negeri Bar-bar. Disitulah munculnya pemuda-pemuda Belanda mengangkat senjata.

  • Cerita selanjutnya membuat hati terenyuh, “Hikayat Si Orang Gila”. Orang gila yang kelaparan menceritakan kekejaman Belanda yang membumi hanguskan Ibu Pertiwi. Merampas seluruh hak penduduk hingga tak tersisa. Sedih dan ending memilukan-mengenaskan. “Tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak bernyawa. 1999.”

  • “Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam,” cerita seorang gadis berusia 17 th tak bisa kemana-mana. Meski melakukan pemberontakan tetapi ayahnya tak mengizinkan. Sosok orangtua yang ketat, khawatir putri satu-satunya dirampok, diperkosa hingga gila dan tak bisa pulang, salah pergaulan. Suatu ketika si Cantik jatuh cinta dengan pemain teater. Namun, karena tak boleh keluar malam. Si Cantik diam-diam menemui ke pentas walaupun gelap. Sayang, si pangeran lebih memilih lawan mainnya, yang berperan sebagai juliet. Hancur hati si Cantik hingga tak ingin pulang, masa depannya raib. Dirinya menjadi kekasih malam. Ending cerita ini, si Cantik yang dibully oleh temannya semasa sekolah tak kembali pulang. Salah pergaulan hingga hantunya penasaran.

  • “Siapa Kirim Aku Bunga?”Kontrolir Henri yang terjadi di Hindia Belanda akhir abad 20-an. Bunga misterius yang datang menghantui, setiap hari dengan kertas catatan “untuk Henri”, bahkan saat tak di tempat kerja. Bunga itu masih terus datang. Cerita ini menyajikan tentang bunga misterius yang membuat Henri menderita skizofrenia.

  • Cerita yang sempat membuat mata berair itu ini, “Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti”. Anak kecil tanpa orangtua sejak kecil yang membuat masalah. Hingga polisi kelimpungan, namun ucapan polisi mampu membuatnya keluar dari tempat sembunyi—hutan kecil pinggir kota. Nasib malang, si bandit harus diborgol hanya karena roti.

  • Kisah dari Seorang Kawan, cerita yang satu ini tentang saudagar kapitalis yang menjual beras. Dimulai dari membeli 8 kios, menimbun beras. Saudagar itu menjual harga lebih murah dari harga normal. Namun, menjual kepada pedagang lebih tinggi dari harga standar. Miris dan ironi yang pernah terjadi pada zaman orde baru.

  • Dewi Amor berkisahkan tentang pemuda yang jatuh cinta kepada Laura, namun ternyata cintanya ditolak. Laura memilih lelaki yang lain daripada pemuda yang tulus. Lelaki pilihan Laura harus lebam di tangan seseorang yang dilukai hatinya.

  • Terakhir, cerita tentang “Kandang Babi” kisah Mahasiswa yang malas, suka minum arak, dan tak memiliki pondokan. Harus tidur di gudang penyimpanan yang disebut kandang babi. Tentang permasalahan sosial, butuh banyak uang namun tak bisa. Hingga temannya yang sudah menjadi dosen meminjamkan uang. Ternyata habis untuk membayar hutang, berpesta dan membuka pintu gudang yang pernah ditutup birokrasi. Ya, kembali ke asal mula. Meski pernah tidur di pos satpam. Ah, hatiku lagi-lagi teiris. Gak bisa dibayangkan awal tahun 2000 masih banyak yang demikian.


Secara keseluruhan, aku suka dengan ceritanya. Semuanya twist! Ada yang kocak, menggantung, sedih dan tragis. Banyak penggunaan kata lugas dan satir.
All the best with this story!



Judul buku : Corat-coret di Toilet
Penulis. : Eka Kurniawan
Penerbit. : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : April, 2014

Diterbitkan pertama kali di tahun 2000 dengan judul yang sama kemudian diterbitkan kembali di tahun 2014 ini.

Itu sekelumit review tentang Corat-coret di Toilet juga asyiknya menggunakan aplikasi iJakarta.