Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Aku memang pemula dalam urusan tulis-menulis, tetapi semangat itu tidak pernah padam walau satu cuil. Seperti bulan Juli yang penuh dengan deadline tulisan, mengapa saya tertarik dengan tantangan. Sebab mengasah kemampuan dan semakin membuat diri untuk terus berpacu dengan waktu.

Kesulitan saat mengikuti kompetisi, sebenarnya hanya mengatur mood. Karena pikiran yang sumpek akan mempengaruhi tulisan. Begitu juga dengan rasa malas yang membuyarkan keinginan. Sebenarnya kesulitan itu terletak pada suasana hati. Sebisa mungkin seorang penulis menjaga suasana hatinya agar tidak cenderung galau dan mengurangi tingkat produktif dalam berkarya.

[caption id="attachment_1355" align="alignnone" width="4608"]cara atasi writer's block Photo by Steve Johnson on Unsplash[/caption]

Cara-cara membangun mood agar terus menghasilkan karya;

  1. Banyak Membaca


Semakin sering membaca, semakin terbuka cara berpikir kita. Kita punya tambahan wawasan yang lebih komplit. Karena jumlah tulisan kita bergantung pada intesitas bacaan. Sadar atau tidak dengan membaca bisa memancing ide, tentunya semakin banyak membaca akan menghasilkan tulisan yang lebih padat.

2. Melakukan hobi yang disenangi

Tubuh lebih sering mendapatkan kejenuhan, jika setiap hari berutinitas dengan kebiasaan yang melahirkan budaya. Memanfaatkan hobi secara optimal akan mengasah diri semakin terampil, out putnya semakin semangat melakukan aktivitas lainnya seperti menulis yang membutuhkan daya konsentrasi yang tinggi.

3. Banyak menulis

Mengapa masih harus menulis? Tidak bisa dipungkiri setiap peristiwa yang indah sayang jika hanya dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan. Sebuah tulisan adalah salah satu cara merekam peristiwa yang tidak bisa dijelaskan melalui bahasa visual. Agar tidak kehilangan ide, maka segera tangkap ide dalam tulisan.

Nah, itu salah satu tips memunculkan semangat menulis, ketika stuck menghampiri. Jangan lupa untuk berdoa, sebelum beraktivitas apa pun. Karena ini sudah menjelang pagi, maka saya udahi dulu ya.

Waktunya istirahat kembali. Salam literasi.

Selamat Malam
Pemikiran manusia semakin bertambah, seiring dengan kemajuan teknologi dan transportasi. Akses semakin mudah, haruskah tindakan mengalami kemerosotan?

"Jangan pernah merasa kecil (terkucilkan)."

Mungkin sekarang kamu bingung tentang tujuan hidupmu.



Sumber : Google

Allah maha mendengar suara hati kecilmu. Tapi, ujian ini semata-mata untuk membuatmu lebih kuat suatu saat nanti.
Ini hanya masalah waktu. Yakinlah buah kesabaran itu manis rasanya. Sabar disertai upaya dan do'a. 
Kau-tak harus dengarkan celotehan negatif orang lain. Ini hidupmu, ini jalanmu. Dengarkan saran yang membuatmu bertambah kuat.
Boleh jadi kamu kehilangan anak tangga untuk mendaki langit. Tapi, kamu bisa membuat menara sendiri. 
Kehidupan itu fana. Kau-tahu itu. Kemudian apa yang perlu dibuktikan? 
Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan-- Itu tertera di dalam musyaf. 
Perlu waktu untuk memahaminya. Hei! Kamu sudah 1/5 abad. Ayolah. Lebih realistik. 
Jangan tergiur manisnya dunia yang membutakan akhiratmu.
Walau mata mereka terbuka, mereka tak melihat. Walau bibir mereka bisa bicara, tapi tak bisa menasihati. Walau tangan mereka utuh, tapi tak ingin berbagi. Mata batinnya telah lenyap. Kuharap itu bukan kamu, dia atau kalian.
You know ... it's dangerous of life.
#Renungan

#KeepCalm

#Aiq

#13Oktober2016
Tak usah bicara tentang keadilan di birokrasi dan jajarannya, Pemerintah dan perangkatnya. Itu urusan hukum. 

[caption width="2000" align="alignnone"]http://answersafrica.com/wp-content/uploads/2015/07/shutterstock_Symbol-of-law-and-justice-1.jpg[/caption]

Berbicara saja bisa kena pasal. Apalagi, hingga mencemarkan nama baik. 

Berbicara tentang suara nurani. Suara rakyat seolah hanya dengungan dalam ruang hampa.
Berbicara soal ketimpangan 'adil'. Saya temui dalam sebuah forum. Di mana banyak tamu penting. Saya segani semua. 
Meskipun saya tak sempat berkenalan, mereka tidak asing bagi saya. Fotonya sering terpampang pada banner, maupun baliho. Saya simak setiap tutur katanya. Hingga sesi penyambutan selesai. 
Beralih pada acara inti. Saya pikir seorang lelaki yang memegang mikrofon seorang pembicara. Namun, setelah mendengar isi pembicaraan. Ia pemegang kendali forum tersebut. (Baca : moderator).
Meski terselip pesan jenaka, yang seolah menjatuhkan satu pihak. Saya tidak mengerti siapa gerangan yang dia maksud. Mengkritik secara simile.
Pembicara di depan hanya sesekali tersenyum. 

Bola mataku fokus pada mereka. Pemateri. Meski ada beberapa bagian yang keluar dari topik. Membuat seseorang harus berdiri, menghilangkan rasa kaku. Terlalu lama duduk. 
Aku hanya terus mengikuti sumber suara. Ide-ide gagasannya. Sumbang pikiran untuk membangun bangsa yang 'berpikir'. Bukan hedonis. 

~*~
Tibalah detik-detik terakhir. Di mana pembicaraan tidak hanya satu arah. Butuh suara dari 'audience'.
Seseorang yang ingin bertanya untuk mewakili suara kami. Aku pun yang terbiasa bertanya, urungmengeluarkan suara. Aku yakin dia lebih bisa mengeluarkan suaranya. 

Tahukah kamu? 
Seseorang yang sudah mengacungkan tangan lebih dulu justru diabaikan. Seseorang yang mengikuti acara demi acara dengan takzim. Justru tak dilihat oleh pembawa acaranya. 

Kesempatan itu dialihkan kepada mereka yang masih dalam cakupan sama. Padahal undangan tak hanya terdiri dari pelajar, ada dari media, perangkat-perangkat berpangkat, hingga aktivis dan komunitas. 
Pertanyaannya pun seolah pernyataan. "Sudah dibahas saat materi, masih ditanyakan lagi. Aku tak mengerti, dia sekolah atau enggak!"  Mendengar suara si pemandu acara berkata kecil. Tanpa mic, aku tatap kerut wajahnya. Mimiknya, hanya tertawa masam. 
Aku hanya diam, mendengarkan seorang pelajar yang menjelaskan panjang lebar. Namun intinya satu. Pertanyaan tersebut hanya sebuah pernyataan tak berbobot. Mengapa aku katakan seperti itu, 4 pemateri di podium sudah menjelaskan dengan detail. 

Mungkin saja beda pikiran beda masa penyerapan informasi. Itu hanya bisa menengahi pikiranku. 
Kembali ke inti. Seseorang yang memang ingin menyuarakan suara, sebagai wakil banyak suara. Meminta kepada seorang panitia, untuk meminta mic-nya. 
Dalam waktu sekian detik, si pemandu suara. Tergopoh-gopoh dari sudut ruangan, berusaha merebut mic. Jadilah konflik kecil selang 3 detik. 
Seperti, dua anak kecil yang merebut es krim. Ini bukan sebuah es krim yang bisa dibeli lagi. Lebih dari itu.
Pembawa acara yang bertampang jenaka kini berubah merah padam. Seolah, ada butir kebencian kepada seseorang yang sempat mengusulkan pertanyaan. 

Aku sebagai penonton aktif, yang mengikuti acara dari awal sampai akhir merasa kecewa. 

Aku tatap dalam-dalam wajahnya. Tiga baris guratan. Cengar-cengir, tertawa sendiri. Tak segan-segan, dia memotong pembicara utama. Yang mungkin dalam benaknya dia tak berpangkat seperti yang ketiga. 

Aku tak pandai meramal, tapi aku hanya melihat jiwanya yang bicara. Bahwa, hanya dia yang benar-benar bisa menentukan siapa yang berhak bertanya. Siapa yang berhak berbicara. Meski sebuah pencitraan. 

Esensi forum yang penuh ilmu, ternoda oleh satu oknum tak bertanggung jawab. Membiarkan salah seorang calon penanya, harus terabaikan. 
Saat aku mendengar orang yang dia pilih, rata-rata hanya tentang 'aku'. Ke-akuan. Di mana revolusi mental yang dimaksud? 

Acara yang hanya memakan belanja negara, tak menggubris suara rakyat kecil. 

Hanya sebuah forum ketidak adilan sudah bisa terlihat. Bagaimana, dalam cakupan lebih besar? 

Indonesia ... bisakah sepesat negeri Jepang yang meski sempat mati oleh ledakan bom atom. Jepang mampu bangkit secara mandiri. Meski keterbatasan SDA maupun SDM.
Indonesia negeri yang kaya. Bahkan 1/3 dikelilingi lautan yang penuh kekayaan mineral maupun tambang. 
Ingat perkataan Ir. Soekarno selalu Pahlawan Proklamator:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno).
Justice for All. Harapannya, munculkan rasa keadilan tanpa ketimpangan. Tanpa berat sebelah. Meski kita melihat banyak ketimpangan sosial. 

Jika satu individu saja mewujudkan keadilan. Banyak individu pun ikut berpartisipasi. Tumpaskan korupsi, kolusi dan nepotisme. Akan muncul 10 keadilan. Begitu seterusnya.

Indonesia, sudahkan merdeka? Merdeka dari rezim yang bernama KKN, Hukum memiliki mata uang, krisis kepercayaan. 
Ayo pemuda bergerak! 
"Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia." (Bung Karno)

Penulis : Baiq Cynthia 
101 Hari Menulis dan Menerbitkan Novel Manual bagi (calon) Novelis

Salah satu buku pedoman yang wajib dimiliki sesorang penulis pemula. Mengapa saya katakan wajib. Di sini tidak seperti buku cara menulis yang pernah saya baca. Buku ini mengulas sangat detail selama 101 Hari. Sesuai dengan judulnya. 
Tulisannya sangat singkat padat dan jelas. Setiap kata seperti amunisi. Mendobrak rasa yang selama ini opini. Menjadi kenyataan. Menulis tidak sesulit yang dibayangkan.

Menurut penulis setidaknya setiap hari rutin menulis 4 lembar dengan spasi ganda. Hakikat penulis ya menulis. Jika memang ingin bermimpi menjadi penulis, maka menulislah.

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not a an act, but a habit. (Halaman 40)




Buku yang terdiri dari banyak sub-bab namun hanya 2 Bab besar; Bagian 1 (Menyiapkan Novel Perdana) dan Bagian 2 (101 Hari saja)

Sudah banyak kutipan dari penulis tersohor dari abad awal hingga zaman digital yang disematkan dalam buku ini. 

Bahkan saya sempat merasa tersinggung, merasa sadar. Saat Penulis Senior buku ini, mengatakan penulis hanya butuh Ide dan Alat. 

Saya salah satunya yang kesulitan di alat. Baginya selama masih ada kertas dan pena, tidak ada alasan untuk tidak menulis. 

A writer who wait for ideal conditions under which to work will die without putting a word to paper. (Hal 53)

Meski buku hanya setebal 218 halaman, banyak manfaat yang bisa diambil selama proses menulis novel. Menulis novel tidak selesai langsung kirim, ada banyak prosesnya. Dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami dalam novel ini. 

Saya mengutip salah satu ungkapan yang sering didengungkan. Terdapat pada salah satu bab, “The Greatest Novels are Never Finished.”
Sinopsis

Inilah "how to book" yang memandu, siapa saja, untuk berani mulai menulis novel. Hanya butuh 101 hari saja. Ditanggung di hari ke-101, naskah novel Anda siap ditawarkan ke penerbit. Dengan catatan, Anda mengikuti dengan saksama petunjuk dalam buku ini, langkah demi langkah. Jika ada novel yang ingin Anda baca belum ditulis, Anda sendiri yang harus menulis novel itu! Setiap orang, pada galibnya, mempunyai satu kisahan novel yang belum ditulis, yakni kisah hidupnya. Sungguhkah Anda mau menjadi novelis?
Penulis : R. Masri Sareb Putra

Penerbit : Grasindo

Ukuran : 14 x 21 cm

Cover : Soft Cover

ISBN      : 978-602-375-145-7