Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Memoar Rapunzell Meniti Cinta (Fiksi) [Embun Cinta]~Baiq Cynthia

Embun Cinta

Aku pernah patah hati, luka itu lama untuk memudar. Tak ingin rasanya menanam benih lagi, jika pada akhirnya harus mengering kemudian hancur lebih awal. Dalam pikiran hanya duri-duri yang terus menancap menghunus mulai dari tepian hati hingga serambi hati. ~Rapunzell


dokumen pribadi

Sudah terlalu sering mengejar cinta, tetapi cinta hanya membuatku semakin terluka. Definisi cinta saat itu memiliki, ketika aku sadar aku bisa memiliki hati seseorang, tapi tidak memiliki fisiknya. Apakah itu cinta?

Perlahan aku mengerti, cinta itu tidak harus memiliki. Lantas aku bisa kembali bahagia meski cinta tak memiliki. Semakin lama-waktu terus mengejar diriku-- untuk mencoba mencintai orang yang jauh dalam pandangan. Aku belajar mencintai dalam diam, mencintai dalam kebisuan.

Bukan maksud untuk membohongi diri, tetapi aku sadar ... aku hanya seperti punguk merindukan bulan. Ternyata cinta dalam diam pun juga menyimpan luka. Tanpa sadar aku menangis dalam bisu, tertawa dalam sunyi, dan berusaha bahagia di hadapannya.

Diam-diam aku berdoa untuknya, entah itu cinta atau hanya kagum. Tapi, aku selalu bahagia di dekatnya. Ada banyak gejolak jika harus menatap matanya. Aku tidak sanggup, karena ada wanita lain dalam pijar matanya.

Cinta dalam diam ... aku mulai meninggalkan. Karena Tuhan telah menciptakan bibir untuk bicara, lisanku pun terlatih mengungkapkan. Aku mencintainya, aku berbicara dengan suara. Sering kukatakan dalam bisikan bahwa aku rindu!

Tapi, sosok yang didengungkan cinta justru tak mendengar. Ia lebih mendengarkan tawa dan canda temannya. Aku pun kembali patah hati.

Suatu ketika aku sadar, jika bibir tak mampu mengatakan cinta, maka tulisan yang akan membuatnya mengerti akan arti cinta. Aku pun sering merangkai ribuan kata, setiap detik selalu mengirimkan untaian kata. Tidak ada merpati lagi yang akan menyampaikan suratku, maka kubiarkan surat itu terbang secara terbuka. Jutaan orang pun tahu, aku sedang dimabuk cinta. Atau sendu galau dalam kelamnya cinta.

Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam pun menjadi hari, hingga berminggu-minggu, tak ada kabar. Aku pun lebih sabar menanti cinta itu dalam torehan tinta. Purnama berganti purnama hingga aku pun rindu sosoknya. Kuberanikan diri berjalan menembus sepi, melewati lelah, peluh dan hujan. Kulihat sosoknya yang sudah banyak berubah, aku hanya bisa mengatakan lewat pesan. Ia hanya tersenyum.

Senyumannya, terkadang merenggut mimpi-mimpiku. Aku pun luluh pada hal yang baru, iya! Seseorang Rapunzell rela menjatuhkan diri dari tebing menara untuk menemui pangerannya.

Atas izin Tuhan, kami bisa berjalan di antara rinai, menikmati malam dan lampu-lampu temaram.

Lidahku keluh, kata-kata yang telah kurancang tak kunjung keluar dalam lisan. Kami dekat, tapi ada ribuan jarak dalam hati kami. Jika kau melihat, kami tak ubah teman lama yang lama berpisah dan reuni. Cinta? Aku tidak tahu artinya, yang aku pahami cinta itu bahagia. Aku bahagia malam itu, kusebut namanya dalam doa. Jika dia yang terbaik untukku maka satukanlah dalam ikatan suci.

Aku pun harus kembali pada istana, memanjat tebing yang dijaga oleh naga. Lelahku menjadi rasa yang lebih indah dari kepakan kupu-kupu dalam dada. Getaran-getaran cinta? Ya!

Aku mencintainya seperti hujan pada tanah, cinta yang tak berharap kehadirannya, cinta yang tak harus memiliki, cinta yang hanya tentang saling berbagi canda. Cinta itu kamu?
Kurenungkan dalam-dalam, tentang pertemuan waktu lalu.

Aku merasa cinta harus bicara, cinta butuh kejelasan dan ketegasan. Maka kukirimkan sepucuk surat bukan melalui telepati, tetapi melalui penjaga istananya yang memberikan langsung apa yang kuinginkan.

Bagiku, tidak mungkin seorang Pangeran mau meninggalkan singgahsana demi sosok Rapunzell? Aku sangat yakin dia mencintaiku. Sungguh!
Bahagianya tak bisa dilukiskan dalam tinta indah, raut wajahnya membuatku terbias. Dia membalas suratku dalam amplop merah bertuliskan namaku sebagai tujuan. Kau tahu? Apa yang terjadi?

Aku menahan bulir bening yang hendak jatuh merayap di antara dua pipi tirusku. Perlahan-lahan kubaca, huruf demi huruf diraba. Ia mengatakan sesuatu yang tak pernah terbetik dalam anganku.

Pangeran berparas menawan yang menemuiku di taman lampion, mengatakan “Aku minta maaf, hatiku berkata demikian. Aku tidak bisa mencintaimu seperti cintamu padaku.”

Anganku hancur, semua menjadi tidak berguna, hatiku seperti pecahan kaca yang terurai air mata. Sia-sia rasanya menjaga diri dan hati selama ini. Menutup rapat hati dari mereka yang mencoba memasuki gerbang hatiku. Tapi, aku bisa tersenyum di sela-sela isak dan tangis.

Tuhan membuatku sadar, pertemuan malam itu sebagai perpisahan terindah yang selama ini hanya membelenggu rindu, mengatup tawa, dan memoar tentangnya.

Aku katakan pada diriku untuk berhenti mencintai, berhenti memperjuangkan dan berhenti bertanya definisi cinta. Bagiku cinta adalah ikhlas. Kucoba melepaskan namanya yang pernah terkurung dalam hati.

Membiarkan cintanya bertemu dengan belahan hatinya, dan kembali membiarkan hatiku untuk tetap kosong saja. Tapi, aku tidak akan menutup diri.

Aku pergi dari menara, mencari bunga-bunga yang baru saja mekar. Menari bersama kupu-kupu, memanjat pohon untuk melihat rindangnya tumbuhan yang selama ini tak terlihat.

Aku bernyanyi bersama kenari, menikmati semilir angin yang menyapa. Bercanda dengan daun-daun yang jatuh dibawa arus sungai yang hangat.

baiq cynthia quotes

Indahnya dunia, aku lupakan lagi soal cinta. Saat hatiku bahagia itu cinta, dan untuk bahagia saat ini hanya perlu menikmati sekitar. Aku bisa melihat pelangi selepas hujan, memandang lama-lama istananya tanpa harus membenci.

Kukatakan pada cinta, lebih baik kau datang saat aku siap. Entah tak menunggu berapa lama. Aku menerima sepucuk surat tanpa kutahu siapa pengirimnya, kutanyakan pada langit, tak ada jawaban. Inikah yang disebut cinta dari Tuhan?

Alam bersorak ketika ranum di pipi muncul, bersama dengan pangeran berkuda yang pertama baru kukenal. Ia berasal dari istana yang tak jauh dari tempatku bermain. Apakah ia yang selama ini mengirimkan surat untukku?

Seperti embun dalam bunga, ia menyejukkan tanpa harus merusak kelopak. Bunga mungil ini bersemi lagi, seperti cintaku yang perlahan mencoba untuk mencintainya. Cinta begitu sederhana!

Situbondo, 13/4/2018
​November Hero


Setiap bulan pasti memiliki nama sebutan tersendiri (khusus) buku catatan harianku. Sudah hari ke-5, aku awali dengan tawa dan duka.Tak perlu tahu duka apa, biarkan saja mengendap di sana. Hampir delapan bulan tak menemuinya lagi.Terlalu pengecut bagiku untuk mengatakan sebuah kenyataan getir. Ah! Puitis. Aku terlalu banyak memikirkan hal yang lewat.

Okay! Sudah lupa, namun kemarin sebuah pesan dari seseorang yang pernah membantu menghadap tuan yang sangat bijaksana. Sosok itu kini sudah memegang peranan penting. Tiga kata pertanyaan yang mengusik pikiran yang telah diendapkan di bawah alam sadar. Kini terbangun (lagi). 
sumber: pixel


"Gimana kabar kuliahmu?"
Aku ingin mengatakan baik kak, tapi aku sedang  off sementara. Tapi, naluriku menampik. Kronologi demi kronologi dipaparkan. Mirip cerpen-klise memang tapi aku lebih suka jujur meski menyakitkan.

Semalam aku membaca biografi Cak Nun. Penyair, pendakwah yang ingin menyatukan dua organisasi besar itu. Beliau juga berhenti di semester 1. Aku tak tahu alasannya. Namun, karyanya melejit seperti taburan bintang di langit.

Aku terinspirasi olehnya, aku harus banyak belajar dan meminta perlindungan-Nya. Meskipun sepotong hati masih memar. Aku ingat ucapan guru Biologi di Madrasah Aliyah. Saat aku gagal tembus di salah satu ajang tahunan yang pernah diselenggarakan di Surabaya. 

"Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan," senyumannya mengembang. 
Pelajaran yang diperoleh banyak. Aku mengenal sakit dan aku tersenyum. Bertemu dengan banyak saudara baru dan mereka baik--Aku tak pernah lupa. Aku mendapatkan kesempatan (waktu) bersama Nenek lebih lama. Aku tahu rasanya mencari rupiah itu susah. Aku tahu rasanya sendiri di kota orang. Aku tahu rasanya kehilangan. Aku tahu artinya kebersamaan. Aku tahu artinya betapa berharganya hidup. 

Memang tiket itu sudah lenyap, terbang ke awan. List yang sudah ditata berkesinambungan akhirnya aku coret merah. Bahkan aku sendiri tak mampu membacanya lagi. 

Satu-satunya jalan aku harus bisa bersabar, diam sejenak di dalam kesunyian. Berbicara kepada angin dan hujan hingga tiap bulir bening  jatuh. Aku masih bertahan. Izinkan aku bisu tuk sementara, menyapa ilalang yang terkulai lemas. Aku tak sendiri, aku masih memiliki keluarga (meski di seberang pulau), orang-orang tersayang, teman-teman, sahabat, kawan-kawan virtual yang tak pernah bertemu di alam nyata.

Motivasi kembali ke sana masih ada, karena pendidikan penting untuk mendukung masa depan yang lebih keras oleh orang yang pandai berdialektika. Juga membuka peluang untuk bisa menjelajahi Nusantara dan Dunia.

Hai, Baiq! Itu pikiran yang normatif. Tak segalanya harus seperti itu. Membantu nenek menyeberang jalan kamu sudah berguna, apalagi kamu mampu membuat kesejahteraan kaum tertindas. Banyak buruh yang belum mendapatkan haknya! Gunakan ilmu untuk membumi hanguskan kaum kapitalis, liberalis yang pandai menyusun taktik.

Kecamuk, kontroversi, melebur menjadi satu. Kakiku dipasung oleh rantai beton berduri. Aku hanya menatap nanar dari menara tanpa pintu. Jika aku boleh berandai, "Andaikan aku menjadi lelaki, Aku pasti bisa bebas dari belenggu." 
Belenggu perempuan yang tak boleh keluar rumah. 

*Situbondo, 5 Shafar 1438 H