Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Habis TAT S4 Terbitlah TAT DUEL






Menulis itu memang tidak semudah membuat kalimat, “Saya Bisa Menulis atau Aku Penulis.”




Saya tidak akan mengatakan menulis itu susah, karena setiap permasalahan paling rumit di muka bumi ini, pasti ada jalan keluarnya. Tentu saja menulis pun ada caranya agar lebih mudah, seperti makan Biskuit yang diputar, dijilat dan dicelupin.


Menulis juga ada caranya, membaca, membaca, membaca dan menulis, menulis, menulis.
Saya jabarkan lagi arti 3 Membaca dan 3 Menulis.




Membaca yang pertama; tujuannya kita mendapatkan ide. Menulis yang pertama; menuliskan ide apa saja yang sudah tertangkap.
Menulis kedua; membaca tulisan yang sudah kita tulis. Menulis yang kedua; mengedit apa yang kita tulis.




Kemudian tulisan diendapkan untuk waktu yang cukup entah 3 hari atau seminggu. Selama diedapkan lupakan tulisan yang sudah ditulis, bawa refreshing anggap tidak ada pikiran. Tidak terlalu lama juga mengendapkan, lalu baca yang terakhir.




Membaca yang ke-3; posisikan kita sebagai pembaca awam, jadi harus netral jika merasa ada ketidakcocokan dalam aturan kepenulisan, maupun berkenaan dengan kisah yang disuguhkan.
Menulis yang terakhir; ialah benar-benar menulis semacam perbaikan total juga revisi. Jadi, sebagai penulis juga harus cakap menjadi editor sendiri sebelum mengirim naskahnya.




Hei itu salah satu tips mudah yang tentunya hanya dengan mencoba bisa mengetahui sejauh mana kemampuan menulisnya.
Beranjak dari hal yang sedemikian sederhana, kita uji nyali menantang diri. Gimana perasaanmu saat menulis dikasih sedikit tantangan?




Misalnya tenggat waktu, atau deadline. Ini sudah hal yang wajar ya, tapi bagaimana jika tenggat waktunya sangat kepepet. Menulis novel dalam waktu kurang dari 23 hari? Sudah pernah?
Mendapatkan genre yang paling dibenci?




Teror berupa denda, hingga status-status pertanyaan kapan selesai? Seperti jomlo ditanya kapan nikah? Untung gak sampai pilih jalan pintas semacam bunuh diri, “Ih serem!” Lebih serem lagi kalau pergi ke kondangan mantan.


NEXT ...




Tantangan berikutnya ialah membuat versi remake dari novel penulis yang mengadakan tantangan ini. Semacam meng-cover lagu, agar lebih menarik atau memiliki hal yang baru tanpa mengurangi nilai dan isi dari cerita yang versi lawas.




Keseluruhan itu masuk dalam ajang TAT S4. Ada sedikit tips nih, dari saya yang kebetulan dinobatkan menjadi The Winner sama Ibu Kos. Cie, tidak sia-sia begadang, dan duduk dan tidur bareng Lappy (baca: Laptop), sampai ia harus masuk ruang servis. Mungkin karena sudah tidak mampu menahan beban hidup dan kenyataan yang pahit.




Tips pertama yang saya lakukan saat menghadapi tantangan TAT S4.
Menerima kenyataan, bahwa hidup memang harus dinikmati, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil selama tetap konsisten dalam belajar.




Selanjutnya, mulai cintai proses dan apa yang akan ditulis. Semua yang berasal dari hati, tentu akan menjadi lebih spesial. Dengan cinta, kita akan merasa lupa dan tidak peduli pada kegagalan yang akan dihadapi. Cinta menumbuhkan optimis, dan cinta selalu menemukan jalan keluar dalam sebuah permasalahan.




Saya awalnya merasa kesulitan menulis naskah Teenlit yang menjadi tantangan, karena bacaan terakhir saya sudah mulai masuk pada tipe bacaan yang ‘berat’. Seperti Rafiluss karya Budi Darma.




Maka hal pertama yang saya lakukan adalah membaca, mulai mengamati keadaan zaman putih abu-abu yang dulu itu. Sedikit sulit untuk bisa mengembalikan memori saya yang sudah tereset pada hari ini. Banyak hal-hal buruk yang saya alami semasa di SMA. Itu mengapa saya tidak menyimpan kenangan remaja.




Tak cukup dengan ‘memanggil’ kenangan yang lama saya mulai dengan hal yang lebih mudah yaitu berperan sebagai tokoh dalam cerita, seolah-olah itu saya yang mengalami.




Gimana caranya bisa menyelesaikan 120 lembar dalam waktu 3 mingguan?
Kita atur misalnya satu hari 10 lembar maka dalam 10 hari sudah selesai, bulan? Tapi pada kenyataannya, seringkali realita tidak sama dengan ekspektasi. Sehari saya hanya mampu satu-dua lembar. Itu sungguh menyedihkan.






Menulis tidak bisa mengandalkan mood, kalau menunggu mood bagus, sama saja menunggu hujan di tengah kemarau. Saya mulai berjuang saat itu, meski nyaris tidak tidur dan tulang ekor terasa akan copot saja. Saya abaikan segala hal yang mengganggu, sebisa mungkin saya tidak mengerjakan multitasking. Karena efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan otak.







Ini sudah nyaris pukul 1.00 saya belum bisa tertidur, padahal rutinitas hari ini bisa dibilang sangat padat. Tapi penulis tidak akan mudah menyerah, ia rela berdarah-darah demi bisa menulis walaupun mata suah terkantuk-kantuk.




The power of kepepet selalu menjadi paling ampuh, saya mengerjakan non stop itu saat waktu sudah tersisa hitungan hari.




Maka tantangan TAT DUEL kali ini yang akan saya hadapi, setelah mendapatkan tantangan menulis yang jauh dari genre, kini premis pun ditentunkan dari penerbit.




Bisa dikatakan jauh dari pengalaman menulis saya, ini bukan soal menulis perjalanan hidup. Tapi, menulis memiliki tujuan, manfaat dan dampak. Itu yang harus dipegang teguh oleh penulis.




Saya pun dibuat bingung dengan inti premis, hingga membuyarkan pikiran saya berkenaan dengan pengertian premis itu sendiri. Bersyukur, teman-teman TAT DUEL meski dalam hal berkompetisi kami saling mensupport satu sama lain, melalui semangat dan motivasi.




Meski ada beberapa peserta yang mendapatkan DL lebih cepat, kami pun terus berusaha untuk menyelesaikan naskah dengan baik.




Premis saya ternyata teka-teki yang harus dipecahkan oleh saya sendiri. Ini mah buka premis!
Selamat istirahat, punggung rasanya butuh sandaran—kasur.
Situbondo, 11/4/2018
Coba deh baca sambil senyum, Menulis Membuatmu Gendut. Loh kok bisa? Entahlah dari mana saya bisa menyimpulkan begini. Sejak dulu impian saya bisa menaikkan berat badan, nyatanya berat badan selalu stabil malah merosot. Empat bulan yang lalu tepat pada acara bazar buku KPMS dan GSM juga beberapa komunitas lainnya diminta berpartisipasi dalam acara pameran agenda rutin tahunan, saya dan teman-teman bisa bertemu, yang biasanya hanya interaksi lewat media sosial.

Jika 'pasand' itu beda dengan 'pyar' sama dengan kulit mangga beda dengan kulit manggis. 



Meski sama-sama penutup. Meski manggis selalu sering diidentikkan dengan manis. Tapi, mangga selalu diidentikkan dengan kecut. 



Mereka sama-sama manis jika matang. *ini gak nyambung* 


Okay, ganti analogi. :v Sedikit rada bingung apa yang mau dijadikan analogi saat pikiran berkecamuk. 


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒

Satu menit kemudian. 


Satu menit satu detik ....

Tarik napas. 

Ya mungkin saya akan share tentang sebuah kisah yang barangkali ada yang sama. Atau pernah mendengar. 

Kisah apa?
Cinta. Akan banyak yang merasa alergi sama kata itu. Namun, selalu sukses beredar di mana-mana. 

Cinta bagi anak labil diidentikkan dengan pacaran. Kisah kasih di sekolah. Cinta monyet. Ah, bahasa alay-nya begitu. 
Tapi, seperti yang saya bahas. Cinta itu datang tak diundang. Hilang tak diinginkan. Ya memang begitulah cinta.

Ada banyak hikayat cinta, Cinderella, Romeo-Juliet, Mumtaz-Shajahan, Laila Majnun, AADC. 
πŸ˜‚

Mungkin saya tidak terlalu familiar sama yang terakhir, entah kenapa muncul saja di pikiran. 

Singkatnya cinta itu tidak melulu identik dengan suka. You know what? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Zaman dulu dijodohkan, mereka gak siap, tapi karena kasih sayang dan hormat kepada kedua orangtua. Atau salah satunya, atau lain sebabnya. Mereka menikah. Lucu, ya? 

Mereka akur. Mereka saling memahami. Aku kok tahu? Ya, aku melihat dari mereka yang mengalami dan menceritakan kepadaku. 'Mereka'. Jadi, bukan satu orang saja. 😊

Hubungan mereka awet, meski cinta datang terlambat. Cinta hadir karena sering bertemu. 

Lah, kalau gak ketemu namanya apa? *jawab sendiri* 😊

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata, aku bukan orang yang membidani tentang cinta. Namun, aku hanya pendengar, penyimak tentang cinta yang hadir tiap waktu. Aku pernah merasakan? 

Saya yakin semua pasti pernah. Entah cinta sama buku, sama film, musik dsg. Cinta sama ibu. 😊

"Saat dia berkata tidak, aku akan melakukan hal itu," kata seseorang yang hobinya makan masakan ibu. 

Setelah muter-muter gak jelas. Saya ingin menshare lebih tepatnya. :) Pengalaman mereka. Ya mereka yang pernah bertemu dengan saya.

Bagi mereka cinta itu indah, sekali mengenalnya maka tak akan bisa tidur maupun makan kecuali berharap pada yang namanya cinta. 

~*~

Seolah cinta disudutkan. Menjadi sebab semua masalah. Cinta pada anak misalnya. Anaknya jika diganggu (diusik) oleh orang lain. Bisa-bisa malapetaka yang muncul dari isi kepalanya. 

Bagiku cinta sederhana. Cinta itu tak bisa diucapkan tapi dimengerti. Mulut bisa saja bilang tidak atau iya. Tapi, sorot matamu tak akan bohong.

Ach! Sekarang .... 

Aku paham siapa yang benar-benar dicintai atau hanya disukai.
Itu ada dalam hati. Jadi, serumit apa pun kisah cintamu. Cobalah belajar mencintai dirimu lebih dulu. 

Waktu bisa membuatnya 'sadar' saat cinta sudah hilang.

"Kenapa kamu menyukai orang yang tak menyukaimu?" 

Itulah cinta. Pyar. 
Cukup .... "Dikatakan atau tidak itu tetap cinta", kata Tere Liye.

✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
Samjha. πŸ’­
~~~

Tulisan ini ditulis tepat setahun lalu. 14 Desember 2016. Hanya belum diposting.
~Baiq Cynthia~
πŸ‘© "Iq, di rumah kamu ada anak kecil?"

(Kaget, ditanya macam itu. Masih stay Single.)

πŸ‘± "Adanya cuma anak tetangga? Emang kenapa?"

πŸ‘© "Iya, itu maksudku!"

~*~

Kalau ingat sama anak tetangga, aku jadi ingat beberapa tahun lalu jadi guru les buat mereka. Pulang kerja masih sisakan waktu buat memenuhi permintaan satu anak tetangga. Dia mau ujian kelulusan kelas 6. 
Tak disangka, semakin hari makin bertambah yang main ke rumah. 😍 Seru! Bisa sharing. Tanya cita-cita mereka dan ngadepin beberapa karakter. 



Hanya saja, mereka yang sama-sama teman main. Lupa, ada tugas penting setiap malam. Belajar. 
Kadang harus teriak-teriak. Untuk mendominasi suara minorku. Emang dari dasarnya beda. Beda anak, beda karakter. 
Yang satu usil, menganggu temannya yang belajar. Ada yang gantikan posisi aku. Karena yang satu dari SD A sudah mendapatkan materi lebih dulu. Tapi, yang SD B ... merasa terganggu dengan penjelasan si anak dari sekolah A. 
Ricuh. πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ Aku tak terbiasa seperti guruku yang memukul meja untuk menenangkan. Jadi, aku diamkan beberapa saat.
Tantangan paling sulit lagi. Mereka rata-rata tidak pernah belajar di siang hari. Ditambah daya ingat terbatas. 
Bersyukur dari 7 yang diajari ada 2 yang tanggap. Langsung paham saat diajari. Sisanya ... mudah bosan. Menyerah, dsg. 
πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»

Unjuk rasa sering terjadi saat proses belajar. Kadang masalah pinjam alat tulis yang tak dikembalikan menjadi ribut. Memang yang meminjamkan punya sifat yang kurang murah hati. 
Ayahku tak suka dengan belajar yang 'ricuh'. Terlalu sering, ada yang menangis dalam proses belajar. Sehingga, dia tak izinkan aku memberi bimbingan belajar kepadanya. 
Dalihnya, Aku pulang kerja menjelang magrib. Belum sempat istirahat sejenak. Pukul 18.00 mereka sudah mengetok pintu. 😸
Dilema jadinya. Sampai orangtua si Murid merajuk, akan memberikan Fee untukku. Karena menurutnya. Hasil belajarnya lebih baik. Aku tak sedang mencari penghasilan lebih. Kecuali aku menerima uang buat jajan dari bos ku. Anaknya juga les di rumahku.
Tapi, Aku sudah membulatkan tekad. Tidak mencari ribut sama Babe. πŸ˜‚ Les pun ditutup. Meski banyak yang kecewa. Aku pun kecewa. Belum bisa berbagi kepada mereka. 
Kasian banget. Di satu sisi, mereka kurang kepedulian orangtua. Orangtua di lingkunganku sibuk bekerja. 
Aku bersyukur, punya Umi. Beliau yang buat aku sebesar ini. Meski Beliau tak bisa baca tulis. Setiap pulang sekolah selalu mengingatkan tentang PR. 
Maka, masa kecilku hanya berkutat dengan buku, buku gambar, dan radio. Kecuali saat ada sepupu datang dan saudara. Hari-hari lebih menyenangkan.
Apalah arti dari memori masa kecil tak akan kembali lagi. Satu lagi, yang membuatku suka dengan dunia membaca dan menulis. Aku ingin menceritakan kisah-kisah sejarah lebih banyak lagi kepada Beliau. 

πŸ‘©"Iq, kamu belum membalas pesanku!"

πŸ‘± "Oh, iya. Akan aku bantu kabarkan pada semuanya." 
#TorehanAiq
Punya lappy (nama laptop), baru empat bulan. Itu pun sering aku tinggal di rumah. Lebih sering ada acara ke luar kota dan luar Jawa. Total jalan-jalan hampir separuh waktu dari usia laptop. 



Pagi ini, aku sengaja membuka buku note tebal yang khusus menulis ide, bahkan selipan curahan hati. 

Tertanggal ... Juni'16, ada bukti pengiriman pos pertama. Beserta penjelasannya. Aku mengirim naskah lomba. Aku sedikit tak percaya. Karena saat itu ponsel pintar sudah raib, pun saat diberi ponsel lagi dengan seseorang. Sebut saja BB yang fiturnya terbatas pada medsos
Jadi, menulis naskah saat itu di buku. Di buku. Saat yang sama aku bekerja di salah satu CV proyek. Bukan main rasa lelahnya. Mengingat tugasnya, berhubungan dengan bangunan. Salah input data, sedikit. Fatal. 
Bulan Juni bertepatan dengan Ramadhan. Usai Subuh meski mata benar-benar kantuk. Mencari warnet dengan Babe. Hampir beberapa warnet yang didatangi tutup. 

Akhirnya, kami temukan yang buka. Pagi itu kota Santri dingin. Menjelang musim giling tebu. Tiba di warnet, aku langsung keluarkan catatan. Berhubung pagi, ada banyak komputer yang 'nganggur'. 
Sungguh, menulis saat itu benar-benar perjuangan. Melawan kantuk, waktu sewa warnet, waktu persiapan nanti nge-print dan kirim ke pos. Waktu kerja. Bulan Ramadhan masuk pukul 9.00 teng. 
Aku kembali membaca, antara yakin dan enggak. Menyalin satu cerpen delapan lembar tidak cukup 1 jam. Pukul setengah tujuh. Sudah ketar-ketir. Mengingat belum koreksi ejaan. Pun rasanya ingin menangis. 
Finish tepat pukul 7. Tapi, harus balik ke rumah. Persiapan kerja. Juga menyatukan dengan file lainnya yang perlu dibawa. 

You know? Kebetulan printer di warnet pun rusak. Jadi, sebelum kerja aku dan Babe mampir di tempat fotokopi. Penuh, karena lokasi tepat depan sekolah. Sudah hampir pukul setengah sembilan. Aku mempercepat memasukan dua map. Meski dalam kondisi acak-acak Babe tetap sabar menunggu. 
Berangkat langsung ke tempat kerja. Hampir telat. Tapi, bosku naik. :) Dia sangat pengertian. Bahkan, sering membiarkan waktu istirahat setelah makan. Meminjamkan fasilitas kantor untuk menulis. 
Tapi, aku sadar diri usai istirahat kembali pada tugas. Otakku pun meninggalkan dunia 'fantasy'.

Maka, kini ... jika aku tak sanggup menulis. Sungguh, memalukan. 😿😭




Menulis bukan tentang batas waktu, menulis bukan mengejar target. Menulis merupakan jalanku. Pelarianku dari dunia yang telah menghukum impian-impian yang tak terwujud. 








#SalamLiterasi

#Aiq
Menulis menjadi pengikat ilmu. Sejarah pun bisa dibuka lagi oleh tulisan. Jejak-jejak perjalanan, peristiwa maupun informasi. Melalui tulisan.

Kali ini saya ingin berbagi info mengenai kursus penulisan. Berkenaan dengan cerita pendek dan content writer. Mengutip kata-kata Tere liye, "menulis adalah berbagi." Bisa berbagi ilmu, pengalaman dan motivasi berkat penulis. Jika gajah mati meninggalkan gading. Maka penulis akan tetap diingat akan karyanya.



Tetapi, apakah menulis hanya sekedar menulis? Tentunya tidak. Penulis yang bijak akan selalu menggali ilmu baru. Entah melalui pengamatan, seminar, workshop, dll.
Penulis novel Tilawah Cinta. EL Salman Ayashi. Rz. Beliau adalah novelis juga content writer. Ingin mengajak para generasi muda untuk bisa menulis produktif. Tak hanya sekedar kursus kilat. Namun, peserta nantinya akan dikarantina selama 33 hari.

Total buku yang sudah diterbitkan sekitar 27 judul. Ada yang memakai nama Pena El Salman Ayashi. Rz, ada Non Fiksi dengan nama Pena Abu Salman. Dan beberapa buku yang ditulis dengan nama samaran. Antara Dua Arah Cinta, Sebuah Mahar Cinta dan Sebuah Jalan Cinta; salah satu buku yang pernah diterbitkan oleh penerbit Quanta, imprint dari Elexmedia komputindo.

Sudah kenal ya, dengan tentornya. Sekarang kita lihat dulu. Program yang akan disuguhkan. Intip di banner dulu, deh!



Apa sih, fasilitas yang didapat dalam kursus ini? Yuk, kita simak bersama.
Fasilitas:

1. Grup Kursus Rahasia. Diberi nama Endonesia. Grup dijadikan tempat bimbingan atau istilahnya ruang kelas. Online.
Pelajaran akan dilakukan seminggu 2 - 3 kali setiap hari Jum'at, Sabtu, dan Minggu.

Jadwal Kursus:

Jum'at: Jam 20.00 WIB -21.00 WIB

Sabtu: Jam 16.00 WIB - 17.35WIB

Minggu: Jam 13.00 WIB: 14.45 WIB

2. Dibuatkan Website

Gratis juga website premium, artinya hosting atau tempat menyimpan file adalah layanan berbayar. Tapi kami berikan gratis selama 1 tahun. Bagi yang ingin memperpanjang cukup membayar 100 ribu saja.

Untuk domain, saya berikan gratis selamanya. Karena memakai subdomain dari website utama, yaitu: endonesia.id

3. Modul. Modul akan diberikan secara bertahap setiap minggunya. Sebagai panduan praktis belajar.

4. Grup Alumni. Agar terus terhubung dan saling share info serta ilmu. Memudahkan menjalin informasi setelah kursus pun sharing seputar literasi.

Apakah belajar hanya setiap Jumat, Sabtu, Minggu?
Jawabannya tidak. Selama 33 hari kita akan dikarantina. Setiap hari akan diberi tugas sebagai bentuk bimbingan. Menulis bukan sekedar butuh. Tetapi butuh menulis setiap waktu. Untuk menghasilkan karya yang baik.
Tertarik? Program ini baru dirintis tahun ini. Maka kesempatan mendapatkan diskon semakin besar. Harga kursus selama 33 hari berkisar Rp 850.000,-

Eits, kenapa di banner hanya tertulis lima ratus lima puluh ribu rupiah? Ya! Sudah mendapatkan potongan harga. Hemat uang 300K.

Untuk pendaftaran bisa bayar 250K, sisa tanggungan bisa dicicil saat program berlangsung.

Wow! Sudah dapat ilmu, belajar 33 hari. Gratis website, juga bisa mengembangkan skill menulis di grup alumni. Termasuk ketika akan menerbitkan buku, akan diberi tips-tips hanya di grup alumni Endonesia.

Kuota terbatas. Kami ingin memberikan perhatian besar kepada peserta kursus. Maksimal 10 kursi. Agar lebih intensif proses karantina.

Kapan program dimulai? Pertengahan September. Tepatnya 10-15 September 2017.

"Tak ada kata mahal dalam mencari ilmu," kata Ariny NH. CEO Arsha Teen dan novelis.

Untuk info pendaftaran.

Hubungi Arya Wibisana

WA: 0852-2650-2521

SMS : 0856-4763-3224

Phone : 0286-325244