Showing posts with label baca. Show all posts
Showing posts with label baca. Show all posts

Friday, May 18, 2018

Friday, December 29, 2017

Tahun Baru Ala Ambivert (Coret-coret Akhir Tahun)

0

Merayakan Tahun Baru Ala Ambivert.
Dari dulu sama sekali belum tahu rupa dari tahun yang baru. Perayaan tahun baru itu apa? Menyambut tahun yang baru? Nungguin detik-detik jam 00.00? Ngapain? Lihat kembang api? Abis itu dingin-dingin pulang ke rumah? Macet? OMG!

Kalau dihitung beberapa tahun silam kurang lebih yang bekesan tentang malam tahun baru adalah ... bunyi petasan yang menggelegar. Dentumannya mengusik alam bawah sadar, ya begitulah. Ingar-bingar di jalanan, tak jarang ada pesta miras. Kalimat barusan itu sudah sering kita dengar. Begitu yang disodorkan oleh acara televisi di beberapa stasiun. Selalu ada masalah. Tapi, ambivert punya cerita unik tentang Pengalaman Tahun baru di beberapa kota.

Tahun pergantian 2014 menuju 2015 (Denpasar, Bali). 

Rekan kerja sudah menyiapkan jadwal untuk party di Kuta yang notabene kota yang tidak pernah tidur. Tapi, tempat kerja saya yang ownernya Muslim meminta kami menghadiri salah satu agenda rutin tahunan. Rukyah dan muhasabah diri. Bertempat di kediaman Big Boss. Acara dimulai seusai sholat Isya’.

Semua peserta rukyah harus duduk tenang dengan mata terpejam. Mengikuti apa yang dikatakan oleh pembimbing rukyah. Doa-doa khusus digemakan dalam ruangan tersebut. Kami pun mulai khidmat. Baru berjalan beberapa menit, dari ujung sudah terdengar teriakan. Ya! Ada peserta yang kesurupan.

Lantas semua formasi berubah menepi, menjauh dari sosok yang kemasukan jin. Sedikit ngeri, karena yang kami lihat mata nyalang ingin menerkam. Suara yang lebih nyaring dan saya tidak bisa menceritakan kejadian itu.

Intinya setelah rukyah, kami mendapatkan pelajaran. Bahwa jiwa kami pun butuh untuk selalu diberi tameg untuk terhindar dari lubang-lubang masuknya setan. Pukul 10.30 pm WITA kami disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing. 
Berhubung jalan yang saya tempuh rawan macet, juga posisi banyaknya pengguna miras. Saya tidak ikut pulang ke rumah, saya memilih pulang dengan mbak V. Dia baik banget, ternyata kami pulang berenam. Saya, mbak V, Mbak I, dan satu lagi teman kami dari beda Showroom, ikut mengantar.

Jalan mulai sepi di area rumah Big Boss, mengingat jauh dari kompleks dan pertokoan. Tapi, kami berusaha untuk tidak gentar. Udara sudah dingin malam itu Rabu malam Kamis. Untung bukan malam Jumat. Lantas Aku, Mbak V dan Mbak I bertamu di rumah mbak I, kebetulan rumah mbak V tidak jauh dari mbak I. Sembari menunggu malam pergantian tahun. Mata sudah mengantuk sejak tadi. Tapi ditahan.

Tibalah saatnya malam itu berakhir, kami segera naik ke lantai dua rumah mbak I, untuk melihat taburan langit yang penuh dengan kembang api. Beragam yang timbul di langit, seketika aku merindukan rumah. Hanya selang beberapa menit, malam itu sudah berakhir.

Jadi, malam tahun baru hanya begitu saja?
Akhirnya kami ngobrol di ruang tengah kediaman mbak I, karena penghuni rumah sudah terlelap semua. Makanya mirip maling bisik-bisik. Mata kami sudah lima watt, ditambah keesokan hari, kami tetap masuk kerja. Akhirnya disudahi acara kami, aku dan mbak V pulang ke rumah mbak V. Kami pun melanjutkan acara menonton TV. Hihihi, bisa dibilang master begadang. Tapi, tak sampai pukul 2 dini hari sudah usai acara kita. Esoknya malah tepar.

Jadi kesimpulannya? Malam tahun baru membuat mata makin hitam. Efek begadang. Tubuh kurang fit karena dipaksa untuk terjaga.
Beda lagi pergantian tahun 2015 menuju 2016 (Malang, Jawa Timur).

Cepat sekali waktu bergulir, yang sebelumnya masih berstatus karyawan sekarang sudah berstatus mahasiswa. Malam tahun baru, bisa dibilang tugas yang menumpuk. Karena masih sore kami masih mengerjakan tugas di ITC. 
Bayangkan saja, itu hal yang menyebalkan. Walhasil aku pulang ke kontrakan. Bunda angkatku mengizinkan aku tahun baru bersama temanku. Tapi, aku gak suka. Karena kota Malang yang padat akan membuat jalanan macet.

Sedangkan temanku memaksa mengajak. Akhirnya aku ikutin saja, tapi sebelum itu kami mencari makan. Mencari makan. Jam 22.00 WIB mencari makan? Ada? Setelah keliling hampir sampai ke perbatasan Batu. Kami menemukan di salah satu warung. Membeli sate ayam. Bisa dibilang Mahasiswa itu kere, makan saja pas-pasan. Muka udah belepotan.

Usai mengisi perut, kami pun pergi melihat pertandingan basket di kampus, semacam latihan. Tapi, aku sudah merengek kepada temanku untuk pulang lebih awal. Entahlah aku merasa kalut, takut dan macam-macam. Tidak ada malam tahun baru selain ditraktir makan gratis. Tidur nyenyak sampai pagi.

Malam Tahun Baru 2016 menuju 2017 (Situbondo)

Kalau sudah di kota sendiri maka menjadi Rapunzell, di rumah. Eh tapi kebetulan kemarin itu masih sempat sibuk. Ngapain? Akhir tahun menyelesaikan bacaan. Buku Tentang Kamu-Tere liye dalam sehari semalam. Kebetulan bukunya dikasih oleh seseorang yang dermawan. Hihi, kemudian aku menulis resensinya.

Bisa baca resensinya di sini.

Punya waktu sendiri, membaca buku tuntas membaca sampai jam 20.00 WIB lantas langsung ngebut menulis. WAHHHH! Gak menyangka buku setebal 500 halaman bisa selesai dalam sehari. Xixixi. Itu karena selain bukunya memikat, juga isi ceritanya bagus. Bahkan tak jarang malah menangis sendiri. Terharu dengan perjuangannya yang super sabar , menghadapi segala cobaan.

Tetangga sudah ramai dengan acara bakar-bakar jagung dan ikan, aku hanya bisa diam mencium aromanya. Tak sampai pukul sepuluh, sudah memilih tepar. Tidur! Tiada masalah walaupun tak ikut melihat kembang api.

Tahun 2017 menuju 2018

Perkiraan ambivert sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang kemarin. Kalau enggak membaca buku, ya menulis atau mengedit saja. Toh, tidak ada manfaatnya melihat kembang api di tengah malam, berdesak-desakan dan menyebalkan saja kalau momentumnya hanya untuk melihat kembang api.

Sedih juga sih, akhir bulan kan sama aja dengan akhir tahun. Sama-sama tinggal dikit uangnya. Mending di rumah atau tidur, daripada begadang hingga kesehatan terganggu. Apalagi sekarang udah musim sakit, batuk dan macam-macam.

Saran Ambivert buat yang jomlo gak punya teman. Tahun baru tetap happy asal kita kreatif saja menjadikan momen yang baru. Misalnya nih, yang suka banget nonton film. Bisa tuh nonton film bareng keluarga, atau sahabat.

Buat yang suka baca kayak saya, nah- tantang dirinya untuk terus membaca. Selama masih diberikan kesempatan untuk membaca. Pilih buku-buku yang ringan dan pembahasan yang tidak begitu memeras otak, misalnya buku fiksi atau komik.

Bagi yang hobinya melukis atau menggambar, bisa banget memanfaatkan waktu untuk kreatifitas seninya.
Intinya, apa pun profesinya tetap untuk terus berproduktivitas. Demi masa depan lebih cerah. Tahun baru hanya sebuah bergantinya hari. Tidak otomatis dirimu berganti juga. Memanfaatkan resolusi tahun lalu yang belum direalisasikan agar segera tercapai.

Tahun baru ala ambivert itu berposes. ☺😊
Kalau ada yang bingung kenapa sampul postingan gak ada gambar kembang api(?) Kok malah hanya tiga koin dan stiker bekas kegiatan literasi. Karena akhir tahun baru hanya itu yang tersisa. 😂 

Realisasinya masih jauh dari resolusi. 

Terima kasih sudah mampir. :)

Selamat liburan! 😄🙏

Saturday, February 4, 2017

101 Hari Menulis dan Menerbitkan Novel Manual bagi (calon) Novelis~ R. Masri Sareb Putra [Mini Review]

9

101 Hari Menulis dan Menerbitkan Novel Manual bagi (calon) Novelis

Salah satu buku pedoman yang wajib dimiliki sesorang penulis pemula. Mengapa saya katakan wajib. Di sini tidak seperti buku cara menulis yang pernah saya baca. Buku ini mengulas sangat detail selama 101 Hari. Sesuai dengan judulnya. 
Tulisannya sangat singkat padat dan jelas. Setiap kata seperti amunisi. Mendobrak rasa yang selama ini opini. Menjadi kenyataan. Menulis tidak sesulit yang dibayangkan.

Menurut penulis setidaknya setiap hari rutin menulis 4 lembar dengan spasi ganda. Hakikat penulis ya menulis. Jika memang ingin bermimpi menjadi penulis, maka menulislah.

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not a an act, but a habit. (Halaman 40)




Buku yang terdiri dari banyak sub-bab namun hanya 2 Bab besar; Bagian 1 (Menyiapkan Novel Perdana) dan Bagian 2 (101 Hari saja)

Sudah banyak kutipan dari penulis tersohor dari abad awal hingga zaman digital yang disematkan dalam buku ini. 

Bahkan saya sempat merasa tersinggung, merasa sadar. Saat Penulis Senior buku ini, mengatakan penulis hanya butuh Ide dan Alat. 

Saya salah satunya yang kesulitan di alat. Baginya selama masih ada kertas dan pena, tidak ada alasan untuk tidak menulis. 

A writer who wait for ideal conditions under which to work will die without putting a word to paper. (Hal 53)

Meski buku hanya setebal 218 halaman, banyak manfaat yang bisa diambil selama proses menulis novel. Menulis novel tidak selesai langsung kirim, ada banyak prosesnya. Dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami dalam novel ini. 

Saya mengutip salah satu ungkapan yang sering didengungkan. Terdapat pada salah satu bab, “The Greatest Novels are Never Finished.”
Sinopsis

Inilah "how to book" yang memandu, siapa saja, untuk berani mulai menulis novel. Hanya butuh 101 hari saja. Ditanggung di hari ke-101, naskah novel Anda siap ditawarkan ke penerbit. Dengan catatan, Anda mengikuti dengan saksama petunjuk dalam buku ini, langkah demi langkah. Jika ada novel yang ingin Anda baca belum ditulis, Anda sendiri yang harus menulis novel itu! Setiap orang, pada galibnya, mempunyai satu kisahan novel yang belum ditulis, yakni kisah hidupnya. Sungguhkah Anda mau menjadi novelis?
Penulis : R. Masri Sareb Putra

Penerbit : Grasindo

Ukuran : 14 x 21 cm

Cover : Soft Cover

ISBN      : 978-602-375-145-7