Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Ketika lelah yang engkau butuhkan hanya istirahat bukan berhenti. 

Pernahkah terbetik dalam hati untuk menyerah saat engkau menemukan jalan menanjak dan melelahkan? Semua orang pasti pernah mengalami hal semacam ini. Terlebih hati yang terbagi menjadi berkeping-keping. Rapuh oleh suara-suara mereka yang membisikkan kata untuk berhenti. Ia menjelma ngengat kecil yang berdenging nyaring. Membekap sisa-sisa penyesalan dan kegagalan. 

Bukan soal cinta yang kandas, apalagi hubungan yang jauh. Sulit untuk didekap. Ini soal ruas-ruas tulang belakang yang mulai penyot. Menanti melodi rindu yang tak berkabar. Oh tidak, rindu sudah tertunaikan. Hanya saja relung jiwa merasa lelah.
Letih dengan keadaan yang tidak pernah berpihak kepada diri. Saat bertanya kepada rembulan ... ia hanya mematung lalu menarik awan. Menutupi dirinya dalam balutan kapas-kapas raksasa. Pernahkan memintal harapan setiap malam? 

Baiq-Cynthia-Blogger-Motivasi-Kata-Kata-Bijak
Baiq Cynthia's Motivation

Harapan yang masih tidak tahu arah jalan pulang. Ia mendekam dalam ruang hampa. Menanti masa tunggu usai, menunggu kesempatan datang. Tetapi kapan peluang kemenangan datang? Tidak ada jawaban dalam dimensi yang kosong.

Andai sebatang ranting tahu, kapan waktunya patah. Mungkin dedaunan siap menggugurkan daunnya. Andai aku tahu kapan kegagalan itu datang, mungkin lebih awal aku meluncur mencari tempat baru. Untuk apa menyesali apa yang sudah terjadi, percuma ... sia-sia selain rasa perih.

Untukmu yang merasa lelah dengan keadaan, belum berjumpa dengan berlian yang tertanam di dalam. Terus gali dan cari yang berharga. Mungkin dalam bayanganmu dekat tetapi sebenarnya berlian yang berharga tidak akan mudah didapatkan. 

Ketika engkau belum juga mendapatkan berlian yang dimaksud cobalah untuk terus menggali. Saat engkau telah lelah namun belum kunjung terlihat keberadaan berlian. Berhentilah sejenak untuk istirahat. Berhenti bukan berarti engkau menyerah. Namun mulai menyiapkan semangat baru dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. 

Penulis : Baiq Cynthia

Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.



Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.




Merayakan Tahun Baru Ala Ambivert.
Dari dulu sama sekali belum tahu rupa dari tahun yang baru. Perayaan tahun baru itu apa? Menyambut tahun yang baru? Nungguin detik-detik jam 00.00? Ngapain? Lihat kembang api? Abis itu dingin-dingin pulang ke rumah? Macet? OMG!

Kalau dihitung beberapa tahun silam kurang lebih yang bekesan tentang malam tahun baru adalah ... bunyi petasan yang menggelegar. Dentumannya mengusik alam bawah sadar, ya begitulah. Ingar-bingar di jalanan, tak jarang ada pesta miras. Kalimat barusan itu sudah sering kita dengar. Begitu yang disodorkan oleh acara televisi di beberapa stasiun. Selalu ada masalah. Tapi, ambivert punya cerita unik tentang Pengalaman Tahun baru di beberapa kota.

Tahun pergantian 2014 menuju 2015 (Denpasar, Bali). 

Rekan kerja sudah menyiapkan jadwal untuk party di Kuta yang notabene kota yang tidak pernah tidur. Tapi, tempat kerja saya yang ownernya Muslim meminta kami menghadiri salah satu agenda rutin tahunan. Rukyah dan muhasabah diri. Bertempat di kediaman Big Boss. Acara dimulai seusai sholat Isya’.

Semua peserta rukyah harus duduk tenang dengan mata terpejam. Mengikuti apa yang dikatakan oleh pembimbing rukyah. Doa-doa khusus digemakan dalam ruangan tersebut. Kami pun mulai khidmat. Baru berjalan beberapa menit, dari ujung sudah terdengar teriakan. Ya! Ada peserta yang kesurupan.

Lantas semua formasi berubah menepi, menjauh dari sosok yang kemasukan jin. Sedikit ngeri, karena yang kami lihat mata nyalang ingin menerkam. Suara yang lebih nyaring dan saya tidak bisa menceritakan kejadian itu.

Intinya setelah rukyah, kami mendapatkan pelajaran. Bahwa jiwa kami pun butuh untuk selalu diberi tameg untuk terhindar dari lubang-lubang masuknya setan. Pukul 10.30 pm WITA kami disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing. 
Berhubung jalan yang saya tempuh rawan macet, juga posisi banyaknya pengguna miras. Saya tidak ikut pulang ke rumah, saya memilih pulang dengan mbak V. Dia baik banget, ternyata kami pulang berenam. Saya, mbak V, Mbak I, dan satu lagi teman kami dari beda Showroom, ikut mengantar.

Jalan mulai sepi di area rumah Big Boss, mengingat jauh dari kompleks dan pertokoan. Tapi, kami berusaha untuk tidak gentar. Udara sudah dingin malam itu Rabu malam Kamis. Untung bukan malam Jumat. Lantas Aku, Mbak V dan Mbak I bertamu di rumah mbak I, kebetulan rumah mbak V tidak jauh dari mbak I. Sembari menunggu malam pergantian tahun. Mata sudah mengantuk sejak tadi. Tapi ditahan.

Tibalah saatnya malam itu berakhir, kami segera naik ke lantai dua rumah mbak I, untuk melihat taburan langit yang penuh dengan kembang api. Beragam yang timbul di langit, seketika aku merindukan rumah. Hanya selang beberapa menit, malam itu sudah berakhir.

Jadi, malam tahun baru hanya begitu saja?
Akhirnya kami ngobrol di ruang tengah kediaman mbak I, karena penghuni rumah sudah terlelap semua. Makanya mirip maling bisik-bisik. Mata kami sudah lima watt, ditambah keesokan hari, kami tetap masuk kerja. Akhirnya disudahi acara kami, aku dan mbak V pulang ke rumah mbak V. Kami pun melanjutkan acara menonton TV. Hihihi, bisa dibilang master begadang. Tapi, tak sampai pukul 2 dini hari sudah usai acara kita. Esoknya malah tepar.

Jadi kesimpulannya? Malam tahun baru membuat mata makin hitam. Efek begadang. Tubuh kurang fit karena dipaksa untuk terjaga.
Beda lagi pergantian tahun 2015 menuju 2016 (Malang, Jawa Timur).

Cepat sekali waktu bergulir, yang sebelumnya masih berstatus karyawan sekarang sudah berstatus mahasiswa. Malam tahun baru, bisa dibilang tugas yang menumpuk. Karena masih sore kami masih mengerjakan tugas di ITC. 
Bayangkan saja, itu hal yang menyebalkan. Walhasil aku pulang ke kontrakan. Bunda angkatku mengizinkan aku tahun baru bersama temanku. Tapi, aku gak suka. Karena kota Malang yang padat akan membuat jalanan macet.

Sedangkan temanku memaksa mengajak. Akhirnya aku ikutin saja, tapi sebelum itu kami mencari makan. Mencari makan. Jam 22.00 WIB mencari makan? Ada? Setelah keliling hampir sampai ke perbatasan Batu. Kami menemukan di salah satu warung. Membeli sate ayam. Bisa dibilang Mahasiswa itu kere, makan saja pas-pasan. Muka udah belepotan.

Usai mengisi perut, kami pun pergi melihat pertandingan basket di kampus, semacam latihan. Tapi, aku sudah merengek kepada temanku untuk pulang lebih awal. Entahlah aku merasa kalut, takut dan macam-macam. Tidak ada malam tahun baru selain ditraktir makan gratis. Tidur nyenyak sampai pagi.

Malam Tahun Baru 2016 menuju 2017 (Situbondo)

Kalau sudah di kota sendiri maka menjadi Rapunzell, di rumah. Eh tapi kebetulan kemarin itu masih sempat sibuk. Ngapain? Akhir tahun menyelesaikan bacaan. Buku Tentang Kamu-Tere liye dalam sehari semalam. Kebetulan bukunya dikasih oleh seseorang yang dermawan. Hihi, kemudian aku menulis resensinya.

Bisa baca resensinya di sini.

Punya waktu sendiri, membaca buku tuntas membaca sampai jam 20.00 WIB lantas langsung ngebut menulis. WAHHHH! Gak menyangka buku setebal 500 halaman bisa selesai dalam sehari. Xixixi. Itu karena selain bukunya memikat, juga isi ceritanya bagus. Bahkan tak jarang malah menangis sendiri. Terharu dengan perjuangannya yang super sabar , menghadapi segala cobaan.

Tetangga sudah ramai dengan acara bakar-bakar jagung dan ikan, aku hanya bisa diam mencium aromanya. Tak sampai pukul sepuluh, sudah memilih tepar. Tidur! Tiada masalah walaupun tak ikut melihat kembang api.

Tahun 2017 menuju 2018

Perkiraan ambivert sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang kemarin. Kalau enggak membaca buku, ya menulis atau mengedit saja. Toh, tidak ada manfaatnya melihat kembang api di tengah malam, berdesak-desakan dan menyebalkan saja kalau momentumnya hanya untuk melihat kembang api.

Sedih juga sih, akhir bulan kan sama aja dengan akhir tahun. Sama-sama tinggal dikit uangnya. Mending di rumah atau tidur, daripada begadang hingga kesehatan terganggu. Apalagi sekarang udah musim sakit, batuk dan macam-macam.

Saran Ambivert buat yang jomlo gak punya teman. Tahun baru tetap happy asal kita kreatif saja menjadikan momen yang baru. Misalnya nih, yang suka banget nonton film. Bisa tuh nonton film bareng keluarga, atau sahabat.

Buat yang suka baca kayak saya, nah- tantang dirinya untuk terus membaca. Selama masih diberikan kesempatan untuk membaca. Pilih buku-buku yang ringan dan pembahasan yang tidak begitu memeras otak, misalnya buku fiksi atau komik.

Bagi yang hobinya melukis atau menggambar, bisa banget memanfaatkan waktu untuk kreatifitas seninya.
Intinya, apa pun profesinya tetap untuk terus berproduktivitas. Demi masa depan lebih cerah. Tahun baru hanya sebuah bergantinya hari. Tidak otomatis dirimu berganti juga. Memanfaatkan resolusi tahun lalu yang belum direalisasikan agar segera tercapai.

Tahun baru ala ambivert itu berposes. ☺😊
Kalau ada yang bingung kenapa sampul postingan gak ada gambar kembang api(?) Kok malah hanya tiga koin dan stiker bekas kegiatan literasi. Karena akhir tahun baru hanya itu yang tersisa. 😂 

Realisasinya masih jauh dari resolusi. 

Terima kasih sudah mampir. :)

Selamat liburan! 😄🙏
Beberapa hari ini sudah ramai perbincangan netizen mengenai sebuah video yang viral. Tentu tak perlu saya bahas masalah yang besangkut-paut dengan topik panas.

Masih sesuai dengan judul, "Andai Aku lelaki" yang saya sengaja tulis di blog pribadi ini.

Tangga Waktu
Ada kecamuk di palung hati.

Tentang sebuah rasa, tertinggal dan terlambat.

Jika rasa bisa hilang dengan Anestesi.

Tertinggal bisa melangkah lebih cepat.

Namun tidak untuk terlambat.

Terlambat tak bisa menarik waktu kembali.
Ada hal yang mereka inginkan dariku.

Aku tak pernah memilikinya.

Aku pun sebaliknya. 

Angan? Mimpi? 

Terlambat sudah!
Satu kata yang dibenci banyak orang.

Satu kata yang membuat jiwa melayang.

Satu kata yang memisahkan antara sekarang dan kemarin.

Tahukah rasanya terlambat?
Terlambat 'tuk percaya aku masih sendiri. 
Situbondo, 26 Oktober 2016
#Poetry

#BaiqCynthia
Setiap orang memiliki masa lalu. Indah, pilu, suka, duka, bahagia, sedih, asam, manis, pahit. :)



Sumber gambar: Google

Masa lalu bukan membuatmu lelah dan berhenti. Terus menapaki kehidupan yang kadang berangin, berawan, hujan, cerah. 😶
Ketika waktu mengubahmu lebih mendewasa. Usia menua itu mutlak dan dewasa itu pilihan. :)
Bukan lagi zaman menyakiti diri, ini zaman endorself. Brandingself--katanya tapi kenyataannya masih tipis yang lolos. 
Nikmati setiap detik saat sehat, karena akan merasa menyesal saat sakit.
Bukan masalah kejayaan yang membuatmu abadi, namun sebuah nama yang terukir di hati setiap orang yang terus abadi. Kebaikan hati, ketulusan cakap pribadi. 
Hal buruk mudah saja diingat, tapi kebaikan akan selalu bersemi tanpa dibatasi oleh waktu.
Masa lalumu biarkan tenang di sana. Cukup hari ini lebih sempurnakan. Esok lebih baik dari sekarang. Hari ini akan menjadi kemarin. Lupakan hal yang tak menyenangkan. Renungi--perbaiki. 
Bukan seberapa sering terjatuh, seberapa kuat kaubangun.
Bangun dari masa lalu yang kelam. Akan ada kemilau yang indah di masa mendatang.
Syukuri kehadiran mereka yang membuat harimu lebih bermakna. 
Mereka datang bukan tanpa alasan. Jangan menyesali masa lalu. Kini senja mulai meredup. Hari ini pun menjadi masa lalu. 
Bernostalgia sewajarnya. ❤😊😊☺
Masa lalumu itu indah. 👪👭👬

Masa lalumu, masa laluku. 👥
#Aiq

#Masalalu
"Jangan pernah merasa kecil (terkucilkan)."

Mungkin sekarang kamu bingung tentang tujuan hidupmu.



Sumber : Google

Allah maha mendengar suara hati kecilmu. Tapi, ujian ini semata-mata untuk membuatmu lebih kuat suatu saat nanti.
Ini hanya masalah waktu. Yakinlah buah kesabaran itu manis rasanya. Sabar disertai upaya dan do'a. 
Kau-tak harus dengarkan celotehan negatif orang lain. Ini hidupmu, ini jalanmu. Dengarkan saran yang membuatmu bertambah kuat.
Boleh jadi kamu kehilangan anak tangga untuk mendaki langit. Tapi, kamu bisa membuat menara sendiri. 
Kehidupan itu fana. Kau-tahu itu. Kemudian apa yang perlu dibuktikan? 
Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan-- Itu tertera di dalam musyaf. 
Perlu waktu untuk memahaminya. Hei! Kamu sudah 1/5 abad. Ayolah. Lebih realistik. 
Jangan tergiur manisnya dunia yang membutakan akhiratmu.
Walau mata mereka terbuka, mereka tak melihat. Walau bibir mereka bisa bicara, tapi tak bisa menasihati. Walau tangan mereka utuh, tapi tak ingin berbagi. Mata batinnya telah lenyap. Kuharap itu bukan kamu, dia atau kalian.
You know ... it's dangerous of life.
#Renungan

#KeepCalm

#Aiq

#13Oktober2016