Tuesday, February 19, 2019

Artikel Motivasi Hati: Kesulitan Masa Menikah Bukan Penghalang Untuk Selalu Setia


Kesulitan Masa Menikah Bukan Penghalang Untuk Selalu Setia

Menikah bahagia itu mungkin yang diimpikan semua orang. Terlebih mendapatkan suami yang mapan, tampan dan dermawan juga baik hati. Itu sudah satu paket yang enak untuk bekal masa depan. Lalu ketika engkau memilih menikah dengan orang yang biasa-biasa saja bahkan jauh dari kriteria idamanmu. Apakah kamu akan menyesal?

Garis takdir sudah ditentukan oleh Allah, mungkin kamu akan merasa minder membandingkan diri dengan orang lain bahwa kamu tidak merasa lebih beruntung. Menikah bukan digunakan sehari dua hari. Kadang terbesit dalam pilihan hatimu. Bahwa kamu menyesal dengan pilihanmu. Tidak memilih calon imam yang tajir telah melamarmu, lebih memilih yang 'sreg' di hati. Pada akhirnya yang klop di hati pun masih rawan menyakiti hatimu.

sumber: lifeofpix.com edited by me

Ingat pada sebuah pepatah yang isinya tentang siapa pun punya andil untuk menyakitimu. Termasuk orang terdekatmu. Ibaratnya seperti lidah dan gigi yang suatu saat gigi akan menggigit lidah walau tidak sengaja. Menikah di usia muda dan memilih bersanding dengan pilihan hati jelas bukan suatu kesalahan. Walaupun banyak survei mengatakan banyak yang kawin muda dan cerai lebih cepat karena tidak dibarengi ilmu parenting dan pernikahan. Memang benar adanya.

Kalau bukan ilmu yang mengendalikan jiwamu tentu lebih banyak perasaan dan emosi yang menguasai. Segala sesuatu yang mengatasnamakan keduanya rentan membawa hubunganmu pada keretakan. Menikah itu hakikatnya belajar memahami diri maupun pasangan demi mewujudkan keluarga yang harmonis. Ketika kamu berusaha mengimbangi diri untuk membuat pasangan bahagia, maka hukum alam berlaku untukmu. Begitulah sebaliknya.



Namun namanya hubungan tidak selamanya akan seimbang, seiya semata. Terkadang rasa ego, iri melihat kebahagiaan pasutri di luar membuat sebuah angan pada dirimu. Kamu pun mulai membandingkan diri hingga menuntut hal yang sama kepada pasangan. Tetapi pasanganmu masih belum mampu membuatmu menjadi seorang permaisuri yang paling bahagia di dunia. Tak segan engkau mengambil jalan pintas yang kurang baik. Tapi apakah menjamin kebahagiaan berikutnya?

Menikah tidak semudah itu ferguso. Kawin-cerai-kawin-cerai. 

Karena ketika memutuskan menikah, engkau menambah orangtua baru dan besar kemungkinan menghadirkan buah hati. Lantas ketika bercerai, kamu mungkin melukai orang yang paling kamu sayangi. Pasti. Karena tidak ada yang menginginkan sebuah rumah tangga menjadi berantakan. Kalau berani menikah berarti siap happy-happy maupun sedih-sedih. Karena hidup bukan film sinetron yang bisa kamu tiru. Hidup pasti menemukan kesulitan dan saat berada di titik melarat, menyerah bukan jalan yang bagus.

Saya pun mulai mengalami masa sulit itu, ketika seorang wanita memimpikan harapan terlalu tinggi. Harapan itu tidak sesuai dengan ekspektasi. Nikmati, jalani dan syukuri. Dulu saya berpikir yang indah-indah saja. Tetapi lupa bahwa menikah pasti merasakan sebuah kesusahan.

Tepatnya, Sabtu 16 Februari 2019. Mati lampu sejak siang pukul 14.00 sampai hari Minggu belum ada tanda-tanda kehidupan sebuah lampu seperti status PLN area Jawa Timur yang menyatakan bahwa tiang listrik tumbang karena angin puting beliung sehingga arus listrik putus dan harus dilakukan perbaikan yang butuh waktu yang cukup lama. 
sumber: PLN Distribusi Jatim

sumber: PLN distribusi Jatim

Suka-tidak-suka, harus menerima kenyataan bahwa hidup harus kembali primitif. Mati lampu bagi kami sama saja kritis air. Karena kami menggunakan sanyo dan penampung air (tandon) tidak begitu besar. Untuk pertama kali pemadaman listrik lebih dari enam jam. Ketika dini hari saya kebingungan karena tidak ada air lagi di bak mandi. Walhasil membangunkan suami, untuk menemani kencing. Menumpang pada sumur milik tentangga untuk BAK. Saat itu saya melihat sosok tangguh dari lelaki yang sudah menjadi pilihan. 
suami rela menimbah air

Ia rela menimbah air dari sumur tidak hanya untuk istrinya juga untuk ayahnya dan itu dilakukan dengan penerangan lampu ponsel saja. Entah kapan listrik akan kembali normal. Justeru dengan momen sulitnya penerangan dan air, merasakan indahnya kebersamaan dan bahu-membahu. Semakin mengerti hakikat untuk bertahan dan berjuang bersama dalam keadaan apa pun.

Menikah pasti menemui kesulitan tetapi bukan alasan untuk berpisah. Kesulitan yang kami hadapi sebagai bumbu perekat keharmonisan rumah tangga.

Penulis: Baiq Cynthia

Labels: , , , , , , , ,