Showing posts with label ambivert. Show all posts
Showing posts with label ambivert. Show all posts

Friday, May 18, 2018

Thursday, December 14, 2017

Bahasa Kalbu--C.I.N.T.A

0

Jika 'pasand' itu beda dengan 'pyar' sama dengan kulit mangga beda dengan kulit manggis. 



Meski sama-sama penutup. Meski manggis selalu sering diidentikkan dengan manis. Tapi, mangga selalu diidentikkan dengan kecut. 



Mereka sama-sama manis jika matang. *ini gak nyambung* 


Okay, ganti analogi. :v Sedikit rada bingung apa yang mau dijadikan analogi saat pikiran berkecamuk. 


✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒✒

Satu menit kemudian. 


Satu menit satu detik ....

Tarik napas. 

Ya mungkin saya akan share tentang sebuah kisah yang barangkali ada yang sama. Atau pernah mendengar. 

Kisah apa?
Cinta. Akan banyak yang merasa alergi sama kata itu. Namun, selalu sukses beredar di mana-mana. 

Cinta bagi anak labil diidentikkan dengan pacaran. Kisah kasih di sekolah. Cinta monyet. Ah, bahasa alay-nya begitu. 
Tapi, seperti yang saya bahas. Cinta itu datang tak diundang. Hilang tak diinginkan. Ya memang begitulah cinta.

Ada banyak hikayat cinta, Cinderella, Romeo-Juliet, Mumtaz-Shajahan, Laila Majnun, AADC. 
😂

Mungkin saya tidak terlalu familiar sama yang terakhir, entah kenapa muncul saja di pikiran. 

Singkatnya cinta itu tidak melulu identik dengan suka. You know what? 😂😂😂

Zaman dulu dijodohkan, mereka gak siap, tapi karena kasih sayang dan hormat kepada kedua orangtua. Atau salah satunya, atau lain sebabnya. Mereka menikah. Lucu, ya? 

Mereka akur. Mereka saling memahami. Aku kok tahu? Ya, aku melihat dari mereka yang mengalami dan menceritakan kepadaku. 'Mereka'. Jadi, bukan satu orang saja. 😊

Hubungan mereka awet, meski cinta datang terlambat. Cinta hadir karena sering bertemu. 

Lah, kalau gak ketemu namanya apa? *jawab sendiri* 😊

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata, aku bukan orang yang membidani tentang cinta. Namun, aku hanya pendengar, penyimak tentang cinta yang hadir tiap waktu. Aku pernah merasakan? 

Saya yakin semua pasti pernah. Entah cinta sama buku, sama film, musik dsg. Cinta sama ibu. 😊

"Saat dia berkata tidak, aku akan melakukan hal itu," kata seseorang yang hobinya makan masakan ibu. 

Setelah muter-muter gak jelas. Saya ingin menshare lebih tepatnya. :) Pengalaman mereka. Ya mereka yang pernah bertemu dengan saya.

Bagi mereka cinta itu indah, sekali mengenalnya maka tak akan bisa tidur maupun makan kecuali berharap pada yang namanya cinta. 

~*~

Seolah cinta disudutkan. Menjadi sebab semua masalah. Cinta pada anak misalnya. Anaknya jika diganggu (diusik) oleh orang lain. Bisa-bisa malapetaka yang muncul dari isi kepalanya. 

Bagiku cinta sederhana. Cinta itu tak bisa diucapkan tapi dimengerti. Mulut bisa saja bilang tidak atau iya. Tapi, sorot matamu tak akan bohong.

Ach! Sekarang .... 

Aku paham siapa yang benar-benar dicintai atau hanya disukai.
Itu ada dalam hati. Jadi, serumit apa pun kisah cintamu. Cobalah belajar mencintai dirimu lebih dulu. 

Waktu bisa membuatnya 'sadar' saat cinta sudah hilang.

"Kenapa kamu menyukai orang yang tak menyukaimu?" 

Itulah cinta. Pyar. 
Cukup .... "Dikatakan atau tidak itu tetap cinta", kata Tere Liye.

✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
Samjha. 💭
~~~

Tulisan ini ditulis tepat setahun lalu. 14 Desember 2016. Hanya belum diposting.
~Baiq Cynthia~

Saturday, January 21, 2017

Ada Cinta dibalik Edelweiss

0

Pertemuan pertama dengan dia. Dia ... dia ... dia. Telah mencuri hatiku.* Kok malah nyanyi. Ini tengah malam ada tetangga sakit gigi. Nanti lempar sandal. Wkwkw. 

#KampusFiksi10DaysWritingChallenge

#10DaysKF

Jadi, si momon nanyain pertanyaan nomor 4. Isinya gini,

Tanpa menyebutkan namanya, bagaimana pertemuan pertamamu dengan si dia?

Suruh cerita ya? Aku bikin fiksi atau non fiksi? 

Ya udah fiksi saja ya. Biar lebih wow gitu. Hehe. Berabeh kalau dibaca orangnya.

Sore itu baru balik dari Secret Zoo. Ceritanya sih lagi liburan bareng keluarga. Entah mengapa mobil yang melaju itu bukan ke Malang. Malah ke kota yang super duper dingin banget. Ternyata mampir di rumah tante sepupu aku. Bla bla bla. Handphone sudah lowbat. Kebanyakan foto-foto sama satwa liar. Padahal yo dia bukan artis. Apalagi selebritis. Hihihi.

Rasanya sudah gerah buanget. Akhirnya numpang mandi menjelang magrib. Airnya duh kayak es batu. Dingin banget. Entahlah suhunya berapa yang pasti dingin. Karena niatnya cuma ke Secret Zoo aku gak bawa make up. Udah. Saat itu aku pake alakadarnya. Gak punya kerajaan jadi main-main sama keponakan. Anaknya tante. Soalnya keponakan aku udah tepar semua. Seharian jalan keliling 7 kali lapangan sepak bola. Luaasss buanget. Entahlah aku gak lebay ini beneran. Gak percaya buktikan sendiri. Tapi, kakiku strong jadi gak pake sepeda sewaan yang perjamnya 100 ribu. Bayangno kalau 5 jam. Terus kami itu ada 5 orang. Kan bisa buat beli laptop. Duh.

Saat itu datang wanita, dari feeling aku sih kayaknya tetangga tante. Soalnya familiar gitu. Emang sih dulu pernah main ke rumah tante, acara arisan.  

Feeling sudah mulai main nih, soalnya disuruh cium tangan (salim). Tapi, aku mikir ini kan tradisi Jawa. Nikah aja nanti bakalan sungkem. Hehehe. Aku ini blasteran Arab-Madura jadi agak bingung dah. Mereka bahasa ibunya Jawa. Mereka ngomong ngalor-ngidul pun gak ngerti. 
Jadi, sedikit boring. Nonton TV acaranya frozen yang diputar dari DVD. Lihat hape belum full juga. Akhirnya nulis dah. Memang sengaja bawa buku buat coretan-coretan kecil. Malam sudah datang. Saat itu wanita paruh baya tiba-tiba ngomong gini.

"Ojo kemana-mana, tak kenalin sama anak tante. Namanya *sensor* umur #tittttt Pokonya enteni wis." 

Artinya kalau gak salah gini, kalau salah ya betulin. Kan aku bukan orang Jawa. 

"Jangan Kemana-mana, mau saya kenalkan dengan anak tante. Namanya bla bla. Pokoknya tunggu di sini!"

Gubrak! Rasanya kayak ada batu nyosor dari atap rumah. Bingung bukan main. Lah dadakan gitu. Emang sih sebelumnya eyang Uti pernah mau jodohkan aku sama dia. Tapi aku gak tahu dia siapa. Berbulan-bulan penasaran sampai hampir 10 bulan akhirnya bisa ketemu. Kamu tahu gak kan aku tahu cluenya. Jadi aku nyosor di sosmed. Gila! Namanya bejibun. Yang mana pula. Terus aku cuma tahu nama panggilan. Banyak sih nama kucing aja banyak. Ada anggora, persia, lokal, peaknose, *Eh. 

Intinya aku gak siap saat itu. Padahal aku udah bawa gaun. Sama make up artis. Katanya adik sepupu aku yang bakalan bantuin entar. Eh, la da la. Aku gak bawa bedak dan aku pake baju yang sama waktu ke kebun binatang. Semoga aja aroma esensialnya gak menyeruak. 

Duh, sudah tahu kota ini dingin. Ketemu orang baru rasanya mules. Keringat dingin. Duh gak fokus. Sebelumnya dengar gosip dari sepupu aku. Adik dia itu putih dan tinggi. Wah aku merasa aman. Sepertinya dia akan seperti itu. Pan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mirip-mirip gitu. 
Eksekusi langsung. Teng teng ... Ada suara salam. Wah, aku perbaiki tempat duduk. *Sok pasang wajah imut. Padahal masih manisan marmut. 
Jreng! Selamat anda menang. Saat itu perut aku langsung seperti ditonjok. Kok ini beda. 180 derajat. So aku diam saja. Padahal aku yo tegang. Dia jalan sedikit demi sedikit. Melipir di kursi yang jaraknya 2 meter di samping aku. Padahal dekat aku ada kursi kosong. Hehehe. 

Tiba-tiba seisi rumah mendadak sok sibuk. Yang satu mau ke acara ini. Tanteku sama sepupu mau cari frame kacamata. Sisanya naik ke lantai dua.
"Krik ... krik ... krik," suara jangkrik. Emang siapa bilang suara kerbau. Pintu ruang tamu terbuka lebar. Pintu samping juga terbuka lebar. Dia tadi lewat pintu samping. Wah. Aku dingin. Cuma ditemani oleh suara jangkrik. 
Senyap hampir 3 menit. Sampai akhirnya dia baru memulai acara ngobrol. Gitu. Aku hanya nunduk malu-malu kucing. Sesekali ya ngobrol. Ngelihat semut yang berbaris di dinding. Menatap kucuriga. Seakan penuh tanya. Sedang apa di sini. Taaruf, jawabku. 😂😁

Pembahasan tambah seru menjelang Isya. Tiba-tiba ponsel aku berdering. Shit! Dari mantan yang sok pede itu. Aku lihat dan silent. Abaikan. Nah, si mamas. Saat itu dia minta nomor telp aku, WA, FB dan aku minta IG. 😂😁 

Kamu tahu saat aku berusaha ngesave nomor. Si mantan tetep aja nelp. Padahal udah direject. Saat itu aku malas banget. Udah tahu aku mau nikah masih aja ganggu. *ralat masih taaruf. 
Tapi jam 19.00 lebih beberapa menit dia udah undur diri. Astaga baru aja bentar dalam hati. Kok udah pergi. Huhuhu. Padahal dalam hati lainnya. Bagus. Aku bisa kabur ke toilet. Sebelum ngompol. 
Okey pertemuan singkat itu menemukan banyak kesimpulan seperti mengetahui dia. Eh ke balik ... dia yang banyak tahu tentang aku. Dasar ambivert. Awalnya saja malu. Ujung-ujungnya. Malu-maluin. 

Dia romantis banget. Dari kacamata aku, melihat kasih sayangnya ke ibunya juga adik-adiknya. Ah, baper. 
Ternyata kisah kita sad ending. Bro. Dia memilih untuk pergi. Katanya belum siap. Rasanya aku seperti kejatuhan es batu dari langit. Udah katos dingin pula. Gagal deh nikah 2016. 

Eh sekarang sudah hampir 5 bulan masa ketemuannya. Sudah jadi sejarah. HARUS masuk Museum. Biar selalu terkenang. -_-
Enggak bukan gitu. Ambivert harus kuat. Si mantan pasti ketawa sekarang. Ngeliat aku begini. EGP. Aku lebih suka sendiri. 
Ah kenangan Eldeweiss tidak akan terlupakan. Selamat malam. Eh udah dini hari. Nice dreams si kaka ☺😊😂

*Sejauh apapun jarak akan dipertemukan lagi oleh waktu. Hanya waktu yang menentukan seseorang kembali atau tidak. Tapi, aku betah menunggu. Meski tak ada jawaban pasti. 

#Baiqcynthia