Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.
Showing posts with label Situbondo. Show all posts
Showing posts with label Situbondo. Show all posts

Sunday, October 28, 2018

Tetap Genggam Tanganku, Honey.

Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.



Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.





Sunday, June 24, 2018

Sarapan Dulu Biar gak Sarap.

Semalam nonton bola apa menulis? Mungkin yang mania sama bola pasti nonton dan tahu siapa yang menang, beda dengan penulis ambivert yang mood-an kalau disuruh nulis. Kalau dia udah kadung semangat menulis gak akan berhenti sampai tertidur di atas tumpukan tugasnya, bahkan lappy bisa menjadi bantal paling nyaman versi dia. Setelah terkuras energinya, bawaannya itu baper.





Eh, Laper. Kalau di Situbondo berburu sarapan harus pagi banget karena kalau udah di atas jam 7.00 sudah ludes dan gak akan kebagian.




Yuhu, Minggu ini dapat sarapan apa coba tebak, makanan yang khas dari Situbondo. Gak ada yang di lainnya. Yuhu! Tajin Palappa, itu hanya ada di kota Santri yang kangen sama masakan ini harus dan kudu datang ke Situbondo.




Apa sih uniknya dari makanan ini? Makanan lembut yang cocok disantap banyak kalangan tanpa terkecuali. Sebuah bubur yang bumbunya, khusus bumbu rujak diberi sayuran khas kangkung dan kecambah yang sudah direbus, ditambah potongan hongkong (ote-ote) dan sesuai selera mau pedas atau biasa.



Rasanya endes! Cocok deh dibuat sarapan, apalagi yang Jomlo nih yah yang suka mager untuk ngunyah. Gak perlu capek-capek, karena bahan dasarnya bukan nasi tapi bubur. Meskipun hanya bubur, kamu akan kenyang sampai siang hari.
Selamat berburu Tajin Palappa!

Monday, May 21, 2018

Kembang Kemenangan

“Sebetulnya yang dibutuhkan untuk menulis bukan mood, tapi gagasan. Gagasan-lah yang melecut kita untuk segera menumpahkannya.”


(One Week One Paper)




Monday, November 13, 2017

Kisah 'Pahlawan' & Kucing

Tolong menolong dalam kebaikan, begitu ungkapan yang sering saya simpan dalam benak. Meski hanya beberapa persen bisa mewujudkannya. 



Sumber gambar : google

Karena setiap bantuan yang kita berikan akan kita terima dalam bentuk yang lain. Janji Tuhan itu pasti, sedikit pertolongan yang diberikan akan dibalas berlipat-lipat tak terhitung. 

Terkadang, kesadaran akan membantu sesama pun pudar. Entah karena faktor rutinitas kesibukan yang luar biasa padat. Kurangnya empati terhadap sesama. Menjadi pahlawan, tak perlu menjadi tentara untuk membela tanah air. Membantu orang-orang lansia, anak-anak atau yang membutuhkan 'perhatian' khusus saat menyebrang jalan sudah meringankan beban mereka. 
    Hal-hal sederhana yang diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama;
  1. Seperti memberi tahu orang yang tersesat. Itu hal kecil. Tapi, sangat dibutuhkan bagi yang yang membutuhkan. 

  2. Mengembalikan barang yang jatuh atau tertinggal. Hal ringan, tapi bagi yang kehilangan sangat berarti.

  3. Mungkin punya banyak baju bekas. Pun bisa sangat berarti bagi orang yang kekurangan, korban bencana dan lainnya. 

  4. Meminjamkan uang, saat kondisi darurat. Pun merupakan pertolongan yang luar biasa bagi yang butuh.

  5. Hal sederhana lainnya, meluangkan waktu bercengkrama dengan keluarga. 


Hal-hal kecil di atas jika diupayakan secara maksimal. Kita bukan hanya sebagai pahlawan. Kita akan disegani, pun saat kita butuh akan diberi kemudahan. 

Mereka yang butuh pertolongan hanya sebagai perantara bagi kita untuk mendapatkan kesempatan berbagi, menolong sesama juga ujian. Apakah kita benar-benar bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri? 

Mustahil kita bisa melakukan sendiri. Kita hidup dan tumbuh besar karena orang lain (orangtua), kita belajar sesuatu pun melalui orang lain (pendidik), menikmati hal-hal yang bisa dikonsumsi dari orang lain (produsen), terakhir kita mati pun juga akan butuh orang lain (keranda tak akan jalan sendiri ke makam).

Sedikit senyum membahagiakan yang ikhlas untuk orang lain juga merupakan sedekah. Wujud berbagi kebahagiaan yang paling kecil. Sebuah senyum. 
Lantas, ada tumbuh begitu angkuh setelah dia mendapatkan target yang dia capai. Padahal, mustahil bisa diwujudkan sendiri. Coba, lihatlah betapa tangguhnya semut kecil mengangkat remah roti. Mustahil dia bisa mengangkat sendiri. Hadirnya teman, rekan, kerabat, semua orang di hidup kita wujud adanya peduli Tuhan. 
Sebelum, benar-benar ditutup. Izinkan saya berbagi kisah keluarga kecil kucing. Panggilannya luzi, kucing anggora yang usai melahirkan. Anaknya diadopsi oranglain. Dia kesepian, kehilangan. Sementara hasil indukan luzi dengan kucing lokal menghasilkan kucing blasteran yang lebih mirip kucing lokal. Ia pun memiliki tiga anak kucing. Berbulu mirip induknya.



Berhari-hari luzi merasa sedih, dia ikut merawat ketiga anak kucing. Melihat tuan rumahnya juga hidup susah. Memberi makan hanya sekali sehari. Luzi khawatir anak kucingnya kelaparan. Dia pun tak segan berbagi kelenjar mamae. Meski luzi sibuk menyusui. Sang induk pun berusaha mencari makanan. Mulai dari ikan di tong sampah, memburu tikus hingga mencuri ikan. 

Sebagai kucing yang tidak punya akal. Mencuri adalah jalan menyelamatkan nasibnya. Dia tidak tahu cara berkomunikasi, cara membuat pepes ikan, cara memancing atau cara menjual saham. Dalam pikirannya hanya anaknya dan cara menangkap tikus, kecoa, belalang, cicak yang bisa dilakukan. 
Maka, jika masih ada yang kurang peduli terhadap sesama. Bahkan melukai, berarti masih kalah dengan nurani binatang. Akalnya sudah tewas karena sifat kebinatangan lebih digunakan. 
Dari sana, kami menulis kisah-kisah manusia yang tidak peduli, mengeluarkan sisi binatang, rakus, tamak juga hilangnya hati nurani dalam sebuah kumpulan cerpen DARAH. >>Baca Selengkapnya 

Kemudian tak kalah penting, kembali lagi kepada sang Pencipta. Allah sudah membagikan rezeki sesuai kadar yang kita butuhkan. Bahkan masalah Rezeki, Jodoh, Kehidupan dan Kematian sudah diatur jauh sebelumnya. Sebelum penciptaan bumi. Subhanallah. Maha Suci Allah atas segala sesuatu. Menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. 












Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran : 190-191)






Manusia yang baik tentu akan menyukuri kehidupannya. Sebagai bentuk pedulinya bisa meluangkan waktu maupun materi untuk mereka yang membutuhkan. Jadilah pahlawan demi membantu sesama, peduli lingkungan dan binatang. 
Jika ada pakaian bekas yang masih layak pakai bisa donasikan kepada kami. LASNAS LMI SITUBONDOWOSO.

Kiranya itu saja yang bisa saya share di sini. Tidak menutup kemungkinan saya membutuhkan komentar anda. Barangkali ada yang tidak sepedapat. Bisa kita diskusikan bersama di FB : Baiq Cynthia

#SalamLiterasi 

Friday, October 13, 2017

[Review Buku] ISTIGHFAR CINTA ~ Novel Pewaras Hati (Mulyanto)

Penulis memaparkan dalam Iftitah novel manis yang sarat pendidikan ini merupakan hasil tadaburnya pada Al Quran surat At-Taubah ayat 74: "Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi."



Buku berjudul Istighfar Cinta sebuah novel Pewaras Hati karya Mulyanto benar-benar memberikan inspirasi jiwa untuk senantiasa menggantungan diri kepada yang Maha Memiliki juga Maha Menerima Taubat.

Ria Melisa si teller bank swasta, sebagai wanita karier--hobi shopping sudah menjadi bagiannya. Menghabiskan waktu untuk hura-hura. Tak terkecuali mendekati lubang lumpur yang sangat dilarang—berpacaran berujung zina. 
Allah menitipkan janin di rahim Ria. Tetapi, saat itu hidayah juga datang. Kasih sayang Rabb yang mengucur pada hambahnya. Termasuk jodoh untuk Ria.
Bagai bunga seruni, tersenyum merekah bersenandung pada kumbang untuk mendekatinya. 

Tak ada bayangan untuk membunuh segumpal darah yang tak berdosa. Ria terus mendekatkan diri, memperbaiki hati. Hingga si cabang bayi akan memiliki seorang Ayah. Meski bukan ayah kandungnya. 
Ini bukan akhir segalanya, justeru menjadi tantangan awal untuk seseorang yang menyatakan cinta kepada Ilahi.

 




Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [Âli ‘Imrân/3: 186]



Petik hikmah dalam buku yang penuh hikmah. Sedikit berkaca manik mata saya, seusai membaca kisah penuh inspirasi. Membaca novel ini laksana menonton sebuah film fenomenal. Saya sangat setuju jika buku ini kelak difilmkan. Meski nantinya akan ada perbaikan di beberapa bagian. 

Selama membaca novel yang sederhana, sangat memikat karena ukurannya yang tidak terlalu tebal. Sekali mendaras akan tandas. Bisa menjadi teman saat perjalanan. 

Novel ini benar-benar mengedepankan nilai-nilai agama. Maka tak salah judulnya Istigfar Cinta. Setiap halaman mengajak pembaca untuk merenungi arti hidup. Hidup yang tak hanya tentang hakikat duniawi tetapi juga ukhrawi. 

Berisi juga tentang parenting, bagaimana mendidik anak secara tak langsung saya mendapatkan ilmu. Setiap bayi terlahir seperti kertas kosong. Hanya orangtua yang menentukan akhlak dan agamanya.
Sangat menyayangkan, plot yang terkesan cepat. Alternatifnya, hati ikut membaca selain pikiran yang mengolah. Saya menyukainya! Sangat rekomended bagi yang ingin berhijrah namun masih belum percaya diri. Bahwa Allah menerima hambah-Nya yang bertaubat. 
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri (QS Al-Baqarah [2] : 222)

Salam ukhwuah. 

Situbondo, 

Jumat, 13 Oktober 2017

Pereview : Baiq Cynthia

Judul : Istigfar Cinta, Novel Pewaras Hati

Penulis : Mulyanto

Penerbit : Kota Tua

Cetakan  : Pertama, Maret 2017

ISBN : 978-602-61136-6-5

Thursday, October 12, 2017

Mawar yang Mengutuk Kupu-Kupu

Pada akhirnya bunga yang kau berikan layu. Dipanggang udara. Sudah hampir dua puluh lima purnama. Engkau datang sebagai Dewa. Mencoba menjadi sayap untuk bidadari pujaanmu. 


Sumber : Pinterest.co.uk

Kedatanganmu membius setiap jengkal langkaku. Bahkan pujangga tak menandingi. Mata elang yang terus menerawang. Mencari permata yang hilang. Dengan erat engkau mencengkeram batu rubi bermata biru.

Menancapkan pada ujung kehormatanmu. Sekarang engkau tampak seperti maharaja. Kristal-kristal anggun memesona setiap bidadari yang melihat. 
Tutur katamu bagai tiupan angin. Sejuk menenangkan setiap hati yang sendu. Penuh bijaksana dengan tongkat kebesaranmu. Memasangkan sepatu kaca kepada bidadari yang kautuju.
Seperti badai yang datang tanpa aling-aling meminta waktu. Kau menunjukkan dua tanduk merah yang tersembunyi lekat mahkota. 
Dengan rakus, menggerogoti serpihan daging yang sudah lama membiru. Menandaskan urat-urat kecoklatan. Hingga perutmu lebih berbobot dari otakmu. Belatung!
Selamanya ... belatung tak akan pernah menjadi kupu-kupu. Kau biarkan tubuh bidadari belumur dosa. Dirampas kesuciannya. Dilempar dari istana langit. Kau tertawa disertai seringai. Tawamu mampu menggoncang dunia yang meranggas.
Aku pindah pada wujud mawar. Merekah pada musim semi. Gugur dengan sekali hempasan angin. Balas dendam belum tertunaikan. Sengaja cairan nektar kucampur racun. Saat kau menjelma menjadi kupu-kupu. Aku pastikan sayapmu runtuh. 

Maka kau akan menjadi belatung lagi. Kau yang terkutuk oleh ribuan bidadari. Tak akan pernah bisa terbang lagi.
Aku? Aku tetap menjadi mawar yang beracun. 

Situbondo, 12 Oktober 2017

Wednesday, August 9, 2017

Kursus Menulis Online-Cerpen & Content Writer

Menulis menjadi pengikat ilmu. Sejarah pun bisa dibuka lagi oleh tulisan. Jejak-jejak perjalanan, peristiwa maupun informasi. Melalui tulisan.

Kali ini saya ingin berbagi info mengenai kursus penulisan. Berkenaan dengan cerita pendek dan content writer. Mengutip kata-kata Tere liye, "menulis adalah berbagi." Bisa berbagi ilmu, pengalaman dan motivasi berkat penulis. Jika gajah mati meninggalkan gading. Maka penulis akan tetap diingat akan karyanya.



Tetapi, apakah menulis hanya sekedar menulis? Tentunya tidak. Penulis yang bijak akan selalu menggali ilmu baru. Entah melalui pengamatan, seminar, workshop, dll.
Penulis novel Tilawah Cinta. EL Salman Ayashi. Rz. Beliau adalah novelis juga content writer. Ingin mengajak para generasi muda untuk bisa menulis produktif. Tak hanya sekedar kursus kilat. Namun, peserta nantinya akan dikarantina selama 33 hari.

Total buku yang sudah diterbitkan sekitar 27 judul. Ada yang memakai nama Pena El Salman Ayashi. Rz, ada Non Fiksi dengan nama Pena Abu Salman. Dan beberapa buku yang ditulis dengan nama samaran. Antara Dua Arah Cinta, Sebuah Mahar Cinta dan Sebuah Jalan Cinta; salah satu buku yang pernah diterbitkan oleh penerbit Quanta, imprint dari Elexmedia komputindo.

Sudah kenal ya, dengan tentornya. Sekarang kita lihat dulu. Program yang akan disuguhkan. Intip di banner dulu, deh!



Apa sih, fasilitas yang didapat dalam kursus ini? Yuk, kita simak bersama.
Fasilitas:

1. Grup Kursus Rahasia. Diberi nama Endonesia. Grup dijadikan tempat bimbingan atau istilahnya ruang kelas. Online.
Pelajaran akan dilakukan seminggu 2 - 3 kali setiap hari Jum'at, Sabtu, dan Minggu.

Jadwal Kursus:

Jum'at: Jam 20.00 WIB -21.00 WIB

Sabtu: Jam 16.00 WIB - 17.35WIB

Minggu: Jam 13.00 WIB: 14.45 WIB

2. Dibuatkan Website

Gratis juga website premium, artinya hosting atau tempat menyimpan file adalah layanan berbayar. Tapi kami berikan gratis selama 1 tahun. Bagi yang ingin memperpanjang cukup membayar 100 ribu saja.

Untuk domain, saya berikan gratis selamanya. Karena memakai subdomain dari website utama, yaitu: endonesia.id

3. Modul. Modul akan diberikan secara bertahap setiap minggunya. Sebagai panduan praktis belajar.

4. Grup Alumni. Agar terus terhubung dan saling share info serta ilmu. Memudahkan menjalin informasi setelah kursus pun sharing seputar literasi.

Apakah belajar hanya setiap Jumat, Sabtu, Minggu?
Jawabannya tidak. Selama 33 hari kita akan dikarantina. Setiap hari akan diberi tugas sebagai bentuk bimbingan. Menulis bukan sekedar butuh. Tetapi butuh menulis setiap waktu. Untuk menghasilkan karya yang baik.
Tertarik? Program ini baru dirintis tahun ini. Maka kesempatan mendapatkan diskon semakin besar. Harga kursus selama 33 hari berkisar Rp 850.000,-

Eits, kenapa di banner hanya tertulis lima ratus lima puluh ribu rupiah? Ya! Sudah mendapatkan potongan harga. Hemat uang 300K.

Untuk pendaftaran bisa bayar 250K, sisa tanggungan bisa dicicil saat program berlangsung.

Wow! Sudah dapat ilmu, belajar 33 hari. Gratis website, juga bisa mengembangkan skill menulis di grup alumni. Termasuk ketika akan menerbitkan buku, akan diberi tips-tips hanya di grup alumni Endonesia.

Kuota terbatas. Kami ingin memberikan perhatian besar kepada peserta kursus. Maksimal 10 kursi. Agar lebih intensif proses karantina.

Kapan program dimulai? Pertengahan September. Tepatnya 10-15 September 2017.

"Tak ada kata mahal dalam mencari ilmu," kata Ariny NH. CEO Arsha Teen dan novelis.

Untuk info pendaftaran.

Hubungi Arya Wibisana

WA: 0852-2650-2521

SMS : 0856-4763-3224

Phone : 0286-325244

Tuesday, July 18, 2017

[Book Review] Surviving Canada-Rini Hidayat

Saat bising, ingar-bingar kemacetan mengusik ketenangan. Berbisik untuk melangkah lebih jauh. Saat itu kaki terus berpijak. Meski ribuan kilometer pun akan dikejar. 

Posisi aman, karier mapan, berada pada zona nyaman. Namun, membuat jauh dari pemberi karunia. Itu bukan hanya sebuah dilema. 

Tak selamanya hidup mewah akan membuat harmoni, terkadang kebahagiaan yang hakiki; hampa. Jiwa meronta mencari hakikat kehidupan sebenarnya.



Jannah memutuskan hijrah. Meninggalkan kelakuan ‘jahil’. Memulai semua dari titik nol. Bahkan minus. Pilihannya jatuh pada mengasingkan diri. Mencari Ridho Allah. 

Sebagai istri full-time on job. Bersusah payah berbagi waktu, untuk menjadi teladan untuk buah hatinya. Suaminya yang sakit keras. Mengukuhkan hatinya untuk survive

Duh, berat sekali ya pekerjaan ini. Walaupun aku merasa sudah siap mental, kok terasa juga beratnya. Kalau Ibu, saudara-saudara, dan teman-teman di Tanah Air melihatku, apa kata mereka? Dulu manajer perusahaan raksasa, sekarang jadi tukang cuci baki di toko sayuran, Jannah Membatin. (Halaman 89)

Hukum no work, no money; every second counts. Tak bekerja tak ada uang, setiap saat. Membangun pondasi tawakkal dan ikhlas. Berupaya menjadikan diri selalu dalam naungan-Nya, meski berat tak terkekalkan.

Ketidaknyamanan akan dilewati. Getir yang dirasakan akan tetap dikunyah. Bagi Jannah, untuk pertama kali di Vancouver. Masa adaptasi di bawah zona 0, menjadi pelecut untuk bertahan. 

Kisah Jannah tak hanya tentang kesulitan, novel autoubiografi menghimpun tips Permanent Resident dan survive di Canada. Menjadi imigran yang mengumpulkan semangat dalam dekapan ridho-Nya.

Membaca setiap gulir jejaknya, tak ubahnya membaca kisah Sri pada novel Tentang Kamu-Tere Liye. Sama-sama berani mencoba hal baru, belajar dari kesalahan. Siap mengambil segala konsekuensinya. 
Menyiapkan mental untuk menghadapi hal buruk lebih sulit dibanding menerima hal yang menyenangkan. Prepare for the worst, hope for the best, kata pepatah. (Halaman 120)

Gaya tulisannya santai, tapi penuh dengan gambaran harmonis antara doa dan ikhtiar, ilmu dan amal, serta kerendahan hati. Saya masih menunggu kelanjutannya! (Satriyo Boediwardoyo, Pengajar dan penerjemah lepas Bhs. Inggris)

Saya sependapat dengan beliau, diksi yang sederhana. Sarat makna yang memotivasi. Terlepas dari terlalu banyak menyematkan kalimat berbau Inggris. Bagi yang suka sekali dengan bahasa asing, akan mudah menyerap. Tapi, bagi yang ingin mendalami bahasa Asing mendapat ‘ilham' membuka kamus. Seperti judulnya yang berbahasa Inggris, menambah semangat untuk mempelajari bahasa Internasional. 

Dikemas dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu. Merangkul pembaca mencicipi indahnya survive. Berkelana di padang tanpa mata air. Bernaung pada Kasih Sayang-Nya. 

Terkadang mata hati baru terbuka dan menyadari hikmah dari sebuah kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan lama setelah waktu berlalu. Namun, tak jarang banyak yang kurang peka atau enggan menghubungkan sebuah kejadian sebagai hikmah atas peristiwa sebelumnya, yang sejatinya merupakan takdir yang lebih baik darinya. (Halaman 194) 

Novel setebal 216 halaman mampu menggoncang kesadaranmu. Tentang jatah waktu yang engkau habiskan. Tentang sebuah pencarian diri. Tentang keadaan yang harus disyukuri. Tentang bertahan--Survive.

Blurb:

“Bapak tidak keberatan bila dilakukan tes HIV atau AIDS?” tanya dr. Arief hati-hati dengan suara pelahan. Jannah tercekat, jantungnya serasa mau lepas. Dipandang Ihsan, suaminya yang semakin kurus kering. Bayang-bayang menjadi janda dengan dua anak kecil sontak menari-nari di benaknya. 

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula; begitulah rumah tangga Ihsan-Jannah yang digulung rangkaian cobaan. Keluarga mapan ini akhirnya memilih jalan keluar yang terbilang nekat: pindah ke Kanada, negara maju yang menghargai imigran dan penduduk muslimnya. Mimpi-mimpi dan cita-cita mereka melecut keberanian menjalankan keputusan besar itu. 

Sungguh tak mudah memperjuangkan nasi di negeri orang. Dari seorang chief accountant, Ihsan beralih profesi jadi tukang bersih-bersih di pabrik wafel. Dulu menjabat sebagai manajer perusahaan raksasa, Jannah harus berjibaku menjadi salad bar girl  dan kasir dollar store. Mereka menjalani survival job seraya mencari jalan yang lebih baik. 
Novel yang terinspirasi kisah nyata ini mengusung semangat dan optimisme menghadapi rintangan hidup. Keimanan, keteguhan dan perjuangan tanpa keluhan tersaji apik mengajak kita turut berselancar di atas gelombang kehidupan.

~*~

“Membaca karya Rini Hidayat ini, bagi saya bagaikan membuka lembar-lembar buku Laa Tahzan dalam versi novelnya. Di mana konsep hidup tanpa menyerah, tak larut dalam kesedihan masa lalu, tak gentar menghadapi masa depan, bekerja yang terbaik untuk hari ini, bersyukur, bersabar serta tawakkal dan rida pada Allah mengalir deras tanpa terasa. Dan doa adalah senjata utama kala hidup terasa sempit.” – Ustaz Samson Rahman, M.A. Penerjemah buku fenomenal Laa Tahzan
*) Terima kasih yang tak terhingga, saya haturkan kepada Mbak Rini Hidayat. Yang telah mencurahkan buku inspiratif dengan cover yang Apik! Alhamdulillah, suka sekali dengan kisahnya yang begitu istimewa, Surviving Canada.
Reviewer : Baiq Cynthia

Info buku: 

Judul : Surviving Canada

Penulis : Rini Hidayat

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2017

Jumlah Halaman : 216 Halaman

No. ISBN : 978-602-03-3693-0

Monday, July 10, 2017

Saat Rindu Mengerang-Baiq Cynthia (Sebuah Puisi)

Aku terpaku di sini. Menatap nanar pada serpihan rindu yang mengusik. Mereka bercanda denganku. Rintik hujan tak lagi datang. 



Senyap. Tremor serambi jantung yang tak terbedah. Menginginkanmu berdiri di dekatku. Kelak. 


Aku belum mampu tuk sekadar menyapa. Aku sadar, ragaku belum mampu menembus dimensimu. 


Jika engkau ingin berkata, kalimat suci yang sengaja kutunggu. 
 Janji kepada Abah, ikrar kepada Allah. 

Entah kapan. 
Sebuah penantian tak akan pernah berakhir sia-sia.
Sengaja kumenjauh. 

Aku ingin Allah-lah yang mendekatkan, debaran dengan jantung. 

Ah ... sudahlah. Malam ini biarkan kututup rapat--jendela hati. Aku ingin hanya kamu yang mengetuk. Kelak.
Ya ... kamu yang kutatap dari sini. ❤
Selamat malam. Kuharap malammu tak sayu oleh rembesan rindu. 
🍃

Di sudut kota, Saat rindu mengerang.

Baiq Cynthia
#Situbondo #bookstagram #blogger #autor #buzzer #futuredesign #Indonesian #muslim #poetry #puisi #jatim #rindu #love #malam #malang

Tuesday, May 16, 2017

10 Pemuda yang dimaksud Bung Karno

Tak usah bicara tentang keadilan di birokrasi dan jajarannya, Pemerintah dan perangkatnya. Itu urusan hukum. 

[caption width="2000" align="alignnone"]http://answersafrica.com/wp-content/uploads/2015/07/shutterstock_Symbol-of-law-and-justice-1.jpg[/caption]

Berbicara saja bisa kena pasal. Apalagi, hingga mencemarkan nama baik. 

Berbicara tentang suara nurani. Suara rakyat seolah hanya dengungan dalam ruang hampa.
Berbicara soal ketimpangan 'adil'. Saya temui dalam sebuah forum. Di mana banyak tamu penting. Saya segani semua. 
Meskipun saya tak sempat berkenalan, mereka tidak asing bagi saya. Fotonya sering terpampang pada banner, maupun baliho. Saya simak setiap tutur katanya. Hingga sesi penyambutan selesai. 
Beralih pada acara inti. Saya pikir seorang lelaki yang memegang mikrofon seorang pembicara. Namun, setelah mendengar isi pembicaraan. Ia pemegang kendali forum tersebut. (Baca : moderator).
Meski terselip pesan jenaka, yang seolah menjatuhkan satu pihak. Saya tidak mengerti siapa gerangan yang dia maksud. Mengkritik secara simile.
Pembicara di depan hanya sesekali tersenyum. 

Bola mataku fokus pada mereka. Pemateri. Meski ada beberapa bagian yang keluar dari topik. Membuat seseorang harus berdiri, menghilangkan rasa kaku. Terlalu lama duduk. 
Aku hanya terus mengikuti sumber suara. Ide-ide gagasannya. Sumbang pikiran untuk membangun bangsa yang 'berpikir'. Bukan hedonis. 

~*~
Tibalah detik-detik terakhir. Di mana pembicaraan tidak hanya satu arah. Butuh suara dari 'audience'.
Seseorang yang ingin bertanya untuk mewakili suara kami. Aku pun yang terbiasa bertanya, urungmengeluarkan suara. Aku yakin dia lebih bisa mengeluarkan suaranya. 

Tahukah kamu? 
Seseorang yang sudah mengacungkan tangan lebih dulu justru diabaikan. Seseorang yang mengikuti acara demi acara dengan takzim. Justru tak dilihat oleh pembawa acaranya. 

Kesempatan itu dialihkan kepada mereka yang masih dalam cakupan sama. Padahal undangan tak hanya terdiri dari pelajar, ada dari media, perangkat-perangkat berpangkat, hingga aktivis dan komunitas. 
Pertanyaannya pun seolah pernyataan. "Sudah dibahas saat materi, masih ditanyakan lagi. Aku tak mengerti, dia sekolah atau enggak!"  Mendengar suara si pemandu acara berkata kecil. Tanpa mic, aku tatap kerut wajahnya. Mimiknya, hanya tertawa masam. 
Aku hanya diam, mendengarkan seorang pelajar yang menjelaskan panjang lebar. Namun intinya satu. Pertanyaan tersebut hanya sebuah pernyataan tak berbobot. Mengapa aku katakan seperti itu, 4 pemateri di podium sudah menjelaskan dengan detail. 

Mungkin saja beda pikiran beda masa penyerapan informasi. Itu hanya bisa menengahi pikiranku. 
Kembali ke inti. Seseorang yang memang ingin menyuarakan suara, sebagai wakil banyak suara. Meminta kepada seorang panitia, untuk meminta mic-nya. 
Dalam waktu sekian detik, si pemandu suara. Tergopoh-gopoh dari sudut ruangan, berusaha merebut mic. Jadilah konflik kecil selang 3 detik. 
Seperti, dua anak kecil yang merebut es krim. Ini bukan sebuah es krim yang bisa dibeli lagi. Lebih dari itu.
Pembawa acara yang bertampang jenaka kini berubah merah padam. Seolah, ada butir kebencian kepada seseorang yang sempat mengusulkan pertanyaan. 

Aku sebagai penonton aktif, yang mengikuti acara dari awal sampai akhir merasa kecewa. 

Aku tatap dalam-dalam wajahnya. Tiga baris guratan. Cengar-cengir, tertawa sendiri. Tak segan-segan, dia memotong pembicara utama. Yang mungkin dalam benaknya dia tak berpangkat seperti yang ketiga. 

Aku tak pandai meramal, tapi aku hanya melihat jiwanya yang bicara. Bahwa, hanya dia yang benar-benar bisa menentukan siapa yang berhak bertanya. Siapa yang berhak berbicara. Meski sebuah pencitraan. 

Esensi forum yang penuh ilmu, ternoda oleh satu oknum tak bertanggung jawab. Membiarkan salah seorang calon penanya, harus terabaikan. 
Saat aku mendengar orang yang dia pilih, rata-rata hanya tentang 'aku'. Ke-akuan. Di mana revolusi mental yang dimaksud? 

Acara yang hanya memakan belanja negara, tak menggubris suara rakyat kecil. 

Hanya sebuah forum ketidak adilan sudah bisa terlihat. Bagaimana, dalam cakupan lebih besar? 

Indonesia ... bisakah sepesat negeri Jepang yang meski sempat mati oleh ledakan bom atom. Jepang mampu bangkit secara mandiri. Meski keterbatasan SDA maupun SDM.
Indonesia negeri yang kaya. Bahkan 1/3 dikelilingi lautan yang penuh kekayaan mineral maupun tambang. 
Ingat perkataan Ir. Soekarno selalu Pahlawan Proklamator:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno).
Justice for All. Harapannya, munculkan rasa keadilan tanpa ketimpangan. Tanpa berat sebelah. Meski kita melihat banyak ketimpangan sosial. 

Jika satu individu saja mewujudkan keadilan. Banyak individu pun ikut berpartisipasi. Tumpaskan korupsi, kolusi dan nepotisme. Akan muncul 10 keadilan. Begitu seterusnya.

Indonesia, sudahkan merdeka? Merdeka dari rezim yang bernama KKN, Hukum memiliki mata uang, krisis kepercayaan. 
Ayo pemuda bergerak! 
"Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia." (Bung Karno)

Penulis : Baiq Cynthia 

Thursday, July 9, 2015