Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Fenomena media sosial di kalangan anak di bawah umur.

Media sosial sudah menjamur di era milineal, terlebih pesatnya gadget terbaru yang memiliki vitur lebih bagus lagi, bisa melakukan video call atau fitur-fitur foto lucu yang kemudian di share di media sosial. Pengguna media sosial tidak hanya dari kalangan dewasa dan manula bahkan anak-anak di bawah umur juga ikut ‘mencicipi’ dunia maya yang sering kita kenal media sosial. Tanpa bertemu secara fisik, kita bisa terhubung dengan beragam orang dari belahan dunia mana pun. Tak jarang sering terjadi kejahatan melalui media sosial. Rawan terjadinya penipuan bahkan sampai pada kasus terjadinya penghilangan nyawa.

Orangtua terlalu khawatir dengan kondisi anak-anak mereka ketika di luar rumah, tak jarang orangtua memberi bekal alat komunikasi berupa gadget untuk selalu bertukar kabar. Tetapi karena anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka membuat media sosial. Alasan anak mempunyai media sosial, karena mengikuti perkembangan zaman. Pola pikir anak yang polos terkadang lebih suka meniru temannya yang lebih dulu memiliki media sosial. Tidak ada alasan orangtua zaman now melarang anak mempunyai akun media sosial karena memang tuntutan teknologi dan perkembangan zaman.

Sebenarnya media sosial tidak selalu cenderung buruk, ada banyak dampak positifnya. Anak bisa berkomunikasi dengan temannya, bertanya tugas ketika tidak masuk sekolah. Melalui media sosial anak bisa mengetaui hal baru yang tidak diketahuinya. Melalui youtube, anak-anak bisa memperoleh informasi baru dan menarik. Tetapi, dampak negatifnya juga tidak kalah besar untuk perkembangan dan pola pikir anak.


Baiq Cynthia Opini Media Sosial
sumber:

Media sosial ibaratnya seperti pisau yang tajam, jika bisa mengendalikan penggunaan media sosial, maka ragam manfaat media sosial seperti menambah pertemanam dan berbagi maupun mendapatkan  hal baru di media sosial.

Orang tua yang memiliki kesibukan di luar rumah, juga mendapatkan manfaat positif adanya media sosial. Media sosial mempermudah orangtua memantau keadaan anaknya dan mendapatkan kabar setiap saat. Media sosial juga bermanfaat untuk sarana promosi diri maupun jasa, bagi beberapa orang dewasa hanya sebuah hiburan saja; melepas rasa penat setelah seharian bekerja.Terlepas dari segudang hal positif dari media sosial, sebagai orangtua wajib memberikan arahan kepada anak, tentang apa saja yang boleh diakses juga yang dilarang untuk dibuka.


Kapan Anak Diperbolehkan Punya Media sosial?
Tidak ada batasan kapan sebaiknaya memiliki akun media sosial. Hal utama yang harus diperhatikan adalah, apakah anak sudah siap secara mental maupun moral untuk bertanggung jawab. Mereka hanya tahu jika mempunyai akun media sosial itu terlihat lebih keren, dan mereka bisa menjadi 'artis dadakan' melalui media sosial. Tetapi mampukah anak untuk mengatur emosinya, di kala derasnya arus informasi yang tidak jarang hoax. Apakah anak sudah cukup matang merespon berita-berita yang hangat. Anak cenderung hanya sekedar melontarkan apa yang ia tahu, tapi masih belum bisa mengatur emosi. Apakah yang ditulis dalam sebuah komentar sudah pantas atau masih mengandung cyberbullying, yang merugikan diri sendri maupun orang lain. Tidak mudah memberikan patokan usia, kapan anak diperbolehkan punya media sosial. Bahkan tidak jarang yang usianya di atas 13 tahun, namun masih belum bisa membedakan mana hatespeech mana kritik. Peran orangtualah yang lebih tahu karakter anak, usia tepat mempunyai media sosial.


Baiq Cynthia Media Sosial Anak
sumber:

Jika Telanjur Memiliki Akun Media Sosial di Bawah Umur, Bagaimana?
Tidak salah jika orangtua ingin mengenalkan dunia maya yang begitu banyak hal yang baru dan metode baru belajar anak dengan media sosial. Maka hal-hal yang harus diperhatikan oleh orangtua saat anak telanjur memiliki akun media sosial;
cara hentikan gadget pada anak
sumber :
https://www.publicnewsservice.org
  • Membatasi penggunaan media sosial, sangat penting memberikan jadwal untuk anak. Waktu belajar tentu diprioritaskan, mengalihkan pada permainan di dunia nyata yang lebih menarik, juga mengajak jalan-jalan sebagai sarana pengenalan dengan lingkungan sosial. Menurut beberapa pakar penggunaan media sosial yang baik untuk anak berkisar 1,5 jam hingga 2 jam setiap hari. Jika melebihi dari itu, khawatir terjadi sebuah masalah baru pada konstrentrasi berpikir anak, depresi, sulit tidur tepat waktu hingga gejala antisosial.
  • Mengganti cara bermain anak, memilihkan permainan mengasah otak kanan yang berhubungan dengan seni seperti menggambar, melukis dan aktivitas-aktivitas outdoor yang menyenangkan. Aktivitas lain selain bermain gadget merupakan salah satu cara mengurangi kecanduan media sosial.
  • Orantua wajib memantau aktivitas anak di media sosial, apa saja yang ia tulis dan usahakan mengaktifkan mode aman dalam pengaturan akses media sosial. Agar tayangan yang tidak sesuai bagi anak bisa disembunyikan. Beritahu juga lingkaran pertemanan hanya sebatas keluarga, tidak menerima pertemanan dari orang asing.

Mengajarkan keutamaan berdoa maupun belajar mandiri membuat tugas PR sebagai tameng paling ampuh untuk mengaktifkan pontensi kecerdasan anak lewat alam bawah sadar, sehingga media sosial otomatis terhapus dalam memorinya. Masa perkembangan anak jangan sampai dinodai oleh dampak buruk penggunaan media sosial. Sebagai orangtua pasti tidak ingin masa depan anak hancur karena media sosial.

Penulis: Baiq Cynthia / www.baiqcynthia.com
 

[Review Film] Sui Dhaaga Made India 2018 India-Baiq Cynthia

Dibalik suksesnya seorang lelaki ada pengorbanan dan perjuangan seorang wanita. Karena tidak ada yang bisa hidup sendiri. Laki-laki dan perempuan seperti pakaian yang saling menutupi kesalahan satu sama lain. Wanita memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyakiti hatinya, tetapi ia bisa menjadi sosok yang kuat tanpa bandingan. Lelaki ialah pahlawan super yang rela berjuang untuk kehidupan orang di sekitarnya. Meskipun terkadang melupakan keadaan dirinya.
Essai karya Baiq Cynthia & Reyhan M. Abdurrahman dilombakan untuk tugas UNSAM 2018

Perkembangan film Indonesiabenar-benar melesat. Buktinya beberapa film garapan sineas dalam negeri mampubersaing di kancah internasional. Penghargaan festival film di luar negeri punsudah banyak mereka dapatkan. Faktanya, karya hebat mereka justru tidak bisadinikmati di bioskop dalam negeri, karena berbenturan dengan Lembaga SensorFilm yang dinilai sangat ketat dalam menjaring film atau tayangan yang hendak disebarluaskan ke penikmat film tanah air. Kenapa? Bukankah itu akan membuat prospekcerah bagi perfilman di dalam negeri. Lalu bagaimana kita bisa menikmati filmberkualitas yang sudah diakui di luar negeri jika tak bisa ditonton di dalamnegeri, jadi siapa penikmat film Indonesia yang berkualitas tersebut?

Film yang ditunggu-tunggu setelah sebelumnya sudah booming Insyaallah SAH yang diperankan oleh Pandji Pragiwaksono, (Raka), Titi Kamal (Silvi) dan Richard Kyle sebagai Dion. Pada film Insyaallah SAH 2 dengan look lebih fresh tetap menghadirkan 'Raka' dengan tokoh yang sama dengan sebelumnya, yang berbeda penokohan 'Raka' yang lebih khas dengan cara berpikir yang lambat dan terlihat kocak.


Tentang Siapa dan Di Mana





Terkadang saya terheran-heran dengan segalanya yang terjadi begitu alamia pada setiap detik yang berubah. Keadaan dan situasi menuntut diri untuk lebih siap. Manusia memang memiliki rencana, tetapi perancang rencana paling hebat, Allah Sang Maha Menciptakan rencana.





Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.
Saya sangat memberikan apresiasi pada diri sendiri yang berani keluar dari zona nyaman. Drop out dini, dengan alasan krusial yaitu masalah finansial, padahal itu impian yang sudah lama didambakan, mencari beasiswa, dan bantuan dari keluarga IMM Renaissance. Bagaimana mungkin bisa lupa dengan segala kepedihan dan kesulitan dari jeratan yang tak kasat mata, tanpa bantuan orangtua. Menjalani hidup di kota orang yang asing dengan sendiri.
Menggeser November 2016, ambivert patah hati Nasional. Setelah banyak berusaha dan berharap sosok lelaki yang digadang-gadang akan menjadi calon suaminya harus meninggalkannya dengan beragam tanda tanya. Memilih untuk amnesia? Bahkan kilasan memori itu terus mengalun pada setiap detik deru nadi. Berhenti berharap pada seorang yang katanya akan menikahiku.
Luka dalam diubah dengan membaca cerita dan menulis, hingga mendapatkan banyak bonus buku. Semangat menulis meletup-letup hingga dinobatkan menjadi juara editing naskah. Saat itu sosok yang membuatku galau dan mood berantakan, kembali dan mengatakan selamat. Kebahagiaan yang tak terkira. Semacam dukungan dan kesempatan untuk bisa kembali (?)
Terlalu naif membiarkan waktuku hancur hanya untuk menanti ketidakpastian, yang menyakitkan pada relung dada. Kalau boleh merayakan duka, akan kubuat ribuan puisi yang menjejalkan namanya sebagai penyebab luka.
Tahun berikutnya mengikuti lomba menulis dan mengasah diri dengan mengikuti UNSAM 2018, bertepatan dengan ikut tantangan menulis remake sebuah novel. Pun mengalami sebuah peristiwa traveling dadakan dan menjelajah tempat-tempat penting juga bertemu dengan penyair favorit. Di tempat yang jauh dari kotaku. Merenung tentang sebuah kehidupan yang pasang-surut. Aku menggilai dunia menulis. Dan kau tahu, dia tetap hadir memberikan dukungan. Aku semakin yakin bahwa dia akan menjadi seseorang ayah dari anakku kelak.
Stok sabar masih banyak dan pengorbanan waktu dan rindu yang tak terbalas pada akhirnya berujung dengan bertemunya dengannya 2018. Tapi, apa yang terjadi?
Hubungan yang aku anggap serius, ternyata tidak konkrit. Dia pun mengatakan tidak mempunyai perasaan selama ini. Jadi apa?
Saat itu aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta, walaupun terlalu banyak yang hadir menyapa maupun singgah. Aku tak lagi sudih menerima. Entah mengapa, cinta bisa kalah dengan kata komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Seorang lelaki yang tidak kutahu asalnya, sosok yang asing tiba-tiba mengajak berkomitmen tanpa embel-embel gombal maupun candaan romantis. Entah siapa yang menggerakan bibir dan jemari untuk membalas pesannya. Aku menerima komitmennya tanpa syarat dan tanpa harapan lainnya.
Semua berjalan begitu cepat hingga kami akhirnya menikah, meskipun kami tak pernah bertemu sebelumnya, selain ia yang datang ke rumah membawa rombongan keluarga. Detik itu juga, aku percaya seseorang yang berani datang ke rumah dengan keluarga pasti sangat serius. Kami mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang super singkat yaitu 15 hari.
Saat itu aku percaya kepada Allah yang menguasai hati manusia, soal jodoh yang datang tepat pada waktunya. Orang baik akan bertemu dengan jodoh yang baik pula pun doa seseorang setahun lalu, “Semoga mendapatkan lelaki Shalih.”
Sudah sebulan penikahan kami, 1 November 2018 aku yakin pikiran positif akan membawa kepada kebahagiaan. Sekalipun yang dijalani bukan harapan yang diinginkan. Pikiran yang baik selalu memunculkan kebahagiaan. Walaupun menjalani kehidupan yang berkelok dan penuh aral. Ia mengajakku untuk dinner di luar malam ini. Sungguh sebuah kebahagiaan sederhana yang berkesan, jika kita rayakan dengan penuh cinta, syukur dan bahagia.
Aku tak akan membuang waktu sia-sia hanya mengharapkan semua keinginan hidup tercapai, lebih baik capailah impian dan harapan dengan cara yang baik dan bertahap. Semua akan indah tepat
Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.
Saya sangat memberikan apresiasi pada diri sendiri yang berani keluar dari zona nyaman. Drop out dini, dengan alasan krusial yaitu masalah finansial, padahal itu impian yang sudah lama didambakan, mencari beasiswa, dan bantuan dari keluarga IMM Renaissance. Bagaimana mungkin bisa lupa dengan segala kepedihan dan kesulitan dari jeratan yang tak kasat mata, tanpa bantuan orangtua. Menjalani hidup di kota orang yang asing dengan sendiri.
Menggeser November 2016, ambivert patah hati Nasional. Setelah banyak berusaha dan berharap sosok lelaki yang digadang-gadang akan menjadi calon suaminya harus meninggalkannya dengan beragam tanda tanya. Memilih untuk amnesia? Bahkan kilasan memori itu terus mengalun pada setiap detik deru nadi. Berhenti berharap pada seorang yang katanya akan menikahiku.
Luka dalam diubah dengan membaca cerita dan menulis, hingga mendapatkan banyak bonus buku. Semangat menulis meletup-letup hingga dinobatkan menjadi juara editing naskah. Saat itu sosok yang membuatku galau dan mood berantakan, kembali dan mengatakan selamat. Kebahagiaan yang tak terkira. Semacam dukungan dan kesempatan untuk bisa kembali (?)
Terlalu naif membiarkan waktuku hancur hanya untuk menanti ketidakpastian, yang menyakitkan pada relung dada. Kalau boleh merayakan duka, akan kubuat ribuan puisi yang menjejalkan namanya sebagai penyebab luka.
Tahun berikutnya mengikuti lomba menulis dan mengasah diri dengan mengikuti UNSAM 2018, bertepatan dengan ikut tantangan menulis remake sebuah novel. Pun mengalami sebuah peristiwa traveling dadakan dan menjelajah tempat-tempat penting juga bertemu dengan penyair favorit. Di tempat yang jauh dari kotaku. Merenung tentang sebuah kehidupan yang pasang-surut. Aku menggilai dunia menulis. Dan kau tahu, dia tetap hadir memberikan dukungan. Aku semakin yakin bahwa dia akan menjadi seseorang ayah dari anakku kelak.
Stok sabar masih banyak dan pengorbanan waktu dan rindu yang tak terbalas pada akhirnya berujung dengan bertemunya dengannya 2018. Tapi, apa yang terjadi?
Hubungan yang aku anggap serius, ternyata tidak konkrit. Dia pun mengatakan tidak mempunyai perasaan selama ini. Jadi apa?
Saat itu aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta, walaupun terlalu banyak yang hadir menyapa maupun singgah. Aku tak lagi sudih menerima. Entah mengapa, cinta bisa kalah dengan kata komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Seorang lelaki yang tidak kutahu asalnya, sosok yang asing tiba-tiba mengajak berkomitmen tanpa embel-embel gombal maupun candaan romantis. Entah siapa yang menggerakan bibir dan jemari untuk membalas pesannya. Aku menerima komitmennya tanpa syarat dan tanpa harapan lainnya.
Semua berjalan begitu cepat hingga kami akhirnya menikah, meskipun kami tak pernah bertemu sebelumnya, selain ia yang datang ke rumah membawa rombongan keluarga. Detik itu juga, aku percaya seseorang yang berani datang ke rumah dengan keluarga pasti sangat serius. Kami mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang super singkat yaitu 15 hari.
Saat itu aku percaya kepada Allah yang menguasai hati manusia, soal jodoh yang datang tepat pada waktunya. Orang baik akan bertemu dengan jodoh yang baik pula pun doa seseorang setahun lalu, “Semoga mendapatkan lelaki Shalih.”
Sudah sebulan penikahan kami, 1 November 2018 aku yakin pikiran positif akan membawa kepada kebahagiaan. Sekalipun yang dijalani bukan harapan yang diinginkan. Pikiran yang baik selalu memunculkan kebahagiaan. Walaupun menjalani kehidupan yang berkelok dan penuh aral. Ia mengajakku untuk dinner di luar malam ini. Sungguh sebuah kebahagiaan sederhana yang berkesan, jika kita rayakan dengan penuh cinta, syukur dan bahagia.
Aku tak akan membuang waktu sia-sia hanya mengharapkan semua keinginan hidup tercapai, lebih baik capailah impian dan harapan dengan cara yang baik dan bertahap. Semua akan indah tepat pada waktunya. Love you, My Husband.

Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.



Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.




Entah mengapa saat mendengar kata deadline yang terlintas pertama kali ialah mengerjakan tugas di ujung batas waktu. Padahal sejak hari pertama sebelum deadline sudah disiapkan secara matang, rancangannya. Tetapi apa? Semua menjadi berantakan.




Lagi-lagi harus perbaiki senyaman mungkin proses manajemen waktu, ini sangat krusial. Mengingat status bukan lagi single yang bebas melakukan rutinitas kapan pun dan di mana pun yang diinginkan. Sudah menikah punya tanggung jawab baru, kepada diri sendiri dan pasangan juga kepada keluarga pasangan.




Menulis sudah menjadi passion saya, karena tidak ada yang bisa dilakukan di banyak kesempatan selain menulis dan membaca. Bagi mereka yang tidak menyukai proses menulis, mungkin sangat membosankan. Kebayang enggak sih? Menulis dengan waktu yang terbatas, selalu menjadi deadliner. Ini memang kebiasaan yang buruk sebenarnya. Selain pikiran kita terpecah, hasilnya mungkin akan kurang bagus dan risiko jauh lebih besar.




Saya ambivert yang sudah memiliki jalan hidup dan prinsip sendiri, ia tidak mudah tergoyahkan dengan pilihan lainnya. Sekali melangkah pantang untuk mundur dan sekali mengambil jalan ia akan terus memperjuangkan sampai akhir. Terkadang ia sendiri memilih banyak pilihan yang lebih sulit dan cenderung menyiksa dirinya sendiri. Seperti pengabdi deadline. Niatnya mengerjakan on time tetap saja nanti bakalan ngerjakan di ujung waktu.




Sudah berapa kali diwanti-wanti sama suami untuk segera selesaikan, tetapi apa? Tuntutan lainnya juga tidak kunjung selesai, bahkan waktu seakan cepat di pagi dan siang hari. Berbeda dengan malam hari, waktu terasa lambat dan di waktu-waktu seperti ini lebih mudah mencerna sebuah tugas dan cocok sebagai bahan renungan. Di samping itu, efek negatifnya tidak baik untuk kesehatan.





Pengabdi deadline berarti harus siap dengan konsekuensinya, berpacu dengan waktu dan siap selalu terjaga. Tetapi sejak di Jember, rasanya lebih semangat dan termotivasi lagi untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.



Anyway, cara terampuh bagi pengabdi deadline ialah tidak menunda segala sesuatu, cukup dinikmati dan segera dituntaskan.

Jember, 25 Oktober 2018
Baiq Cynthia
Memilih profesi sebagai penulis tidak bisa disamakan dengan pekerja kantoran. Terlebih kerjannya hanya dari rumah, penulis yang baik ialah yang mampu memanajemen waktu menulis dengan waktu aktivitas harian. Terlebih ada banyak sebab yang menyebabkan penulis harus bernapas berat karena banyak aktivitas di luar skenario harapan, misalnya Ayah sakit. Itu yang saya alami beberapa hari terakhir. Bahkan ikut menulis di ruangan serba bau obat.





T

Tapi, penulis bukan robot ... ketika tagihan naskah sudah diminta oleh penerbit maka penulis harus jujur apa yang sedang dialami. Jangan lantas mengatakan hal yang mengarang cerita, meminta maaf dan mulai mengerjakan. Seperti yang di awal tadi saya utarakan, penulis bukan robot. Is butuh jam istirahat untuk mengembalikan pikiran yang semerawut akibat padatnya kegiatan.

Pengalaman saya kemarin, niatnya itu mau begadang menyelesaikan tulisan secepatnya ditemani dengan segelas kopi. Memang jarang minum kopi bahkan tidak pernah. Tetapi, karena ingin melawan kantuk dicoba dan berujung sakit.

Kepala pening dan demam tinggi, bukannya selesai tugas menulis. Ini malah harus bed rest, seharian pula. Semakin lama proses menulisnya dan tak kunjung selesai. Sedih, kan?

Kalau gak mau sakit maka jaga kesehatan, kesehatan mahal harusnya dijaga benar-benar. Intinya jaga pola makan aku dan keluarga.

Tidur dulu, malam ini. Mata sudah mengantuk kepala pening lagi.

12.9.18
Pernahkah engkau melihat serat kulit pisang? Seperti itu kerumitan pikiranku saat ini, entah memikirkan pijakan masa depan. Atau memikirkan kapan berhenti masa stagnan, memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran kegagalan masa lalu. Menurut seseorang yang akan menjadi teman hidupku, aku terlalu cemas dan banyak memikirkan segala sesuatu. Padahal tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu rumit dalam menyongsong kehidupan baru yaitu menjadi seorang istri dan seorang ibu. Fase yang penuh liku-liku kesulitan, petualangan baru dengan biduk rumah tangga.



Saat aku ditanya, “Apakah Nanda sudah siap untuk menikah?

Mengapa naskah tidak kunjung selesai?




Menulis bukan perkara yang sangat sulit, ‘setengah’ sulit bisa dibilang begitu. Kita harus melatihnya setiap hari itu sudah harga mati. Semakin sering menulis dan terbiasa disiplin menulis setiap hari akan memperbaik kualitas tulisan. Apa jadinya jika menulis tidak kunjung selesai.




Kalau kita terus-menerus membiarkan diri larut dengan rutinitas selain menulis, kita hanya sibuk memikirkan tulisan namun tidak kunjung menuliskannya ini sudah keadaan yang sangat membahayakan. Memang apa yang membahayakan, kamu pasti akan bertanya-tanya ya?




Itu sebuah gejala yang sering terjadi kepada penulis pemula, seperti saya. Kita hanya berangan naskah selesai tanpa mengerjakannya, apakah bisa? Tentu saja tidak akan bisa. Jika ingin memasak telur, maka terlebih dahulu kita harus punya telur dan minyak goreng, itu minimal. Selanjutnya jika ingin telur itu masak tentu saja kita harus memasaknya. Sama halnya dengan menulis, jika kita hanya menginginkan tanpa ada inisiatif untuk memulai, maka bersiaplah naskah tidak akan kunjung selesai.




Point berikutnya, jangan terlalu banyak mengatakan, ‘Saya Sibuk’. Semua orang memiliki 24 jam itu sama dengan apa yang kita punya. Bedanya, apakah kita benar-benar mengoptimalkan waktu kita, atau hanya membuang-buang waktu? Sisihkan satu atau dua jam setiap hari untuk menulis, apa saja tanpa ada yang menghalangi lagi. Semakin sering menunda kegiatan menulis, maka tentu saja naskah tidak akan selesai.


Masih asyik dengan media sosial.



Era digitalisasi membuat semua orang berlomba-lomba paling eksis dan narsis untuk menunjukkan profil yang terbaik. Begitupun dengan aktivitas medsos yang kadang memakan waktu untuk menulis, berbanding terbalik, waktu menjadi sia-sia dan semakin tidak tersisa.
Bagaimana tips menyelesaikan naskah tepat waktu?




Pertama, gunakan mind map.


Tentu saja dalam membuat sebuah karya, kita butuh alur cerita yang jelas. Agar tidak bertele-tele dan tulisan kita menjadi teratur. Dengan peta pikiran, ide-ide yang sudah dikonsep sejak awal akan berakhir sesuai dengan prediksi. Tentu saja menggunakan peta pikiran memangkas waktu.


Jangan nanti-nanti. Tapi SEKARANG!





Sama seperti nasi yang panas ingin kau makan, semakin lama menunggu. ‘Nanti, nanti’, maka nasi akan berubah menjadi dingin. Tulisanmu bukan semakin cepat beres, akan tetapi akan semakin lama untuk selesai.
Menulislah apa yang dikuasai, jangan menunggu hasil tulisan menjadi baik. Kita tidak akan pernah puas, tapi menulislah terlebih dahulu sampai sukses di akhir. Baru setelah itu bisa disunting hal-hal yang perlu diperbaiki.


Tidak terpengaruh dengan suasana.




Kita harus konsisten untuk menyelesaikan sampai finish. Jangan tergiur untuk makan-makan enak, atau sekadar jalan-jalan maupun menonton film bagus. Kecuali memang bertujuan untuk riset.


Pasang Deadline!


Buat target sendiri misalnya satu jam sekian kata, dan kita upayakan yang terbaik hingga selesai. Tidak ada yang sulit dalam membuat sebuah karya tulis sampai selesai lalu terbit. Hal yang membuat sulit ialah rasa malas dan tidak ingin sukses.



Ala bisa karena terbiasa, biasakan nulis setiap hari minimal satu lembar, tetapi saat kita sudah terbiasa menulis 1000 kata setiap hari selama 3 bulan. Tentu kita bisa akan menjadi penulis yang handal dan mengerjakan deadline sesuai dengan harapan.


Baiq Cynthia