Showing posts with label Challenge. Show all posts
Showing posts with label Challenge. Show all posts

Tuesday, May 30, 2017

[Book Review] Luka Dalam Bara-Bernard Batubara~Reading Challenge iJakarta & Noura Books

0

Hal paling menyenangkan dalam dunia kata-kata. Bisa membaca banyak buku. Sekaligus menuliskannya. Tapi, terkadang perasaan dinamis seperti langkah sepatu yang bersisian. Pasang surut. Tak jarang muncul rasa bosan.


Alangkah menyenangkan I-Jakarta dan Noura Books Publishing kembali mengadakan Reading Challenge. Hastag #MembacaLuka menjadi syarat mutlak. Setelah selesai melalui berbagai syarat lainnya. 

Membaca, bukan hal mustahil dilakukan di mana pun. Termasuk dalam perjalanan. Yang notabene akan sibuk dengan bawaan yang berat. 

Bisa membaca, berkat aplikasi perpustakaan digital. Saya bisa membaca tanpa merasa berat membawa buku. Sejauh ini, aplikasi ini selalu menjadi kawan saat di luar kota. Aplikasi yang ringan, berbobot dengan banyak buku dan e-perpustaka. Cara membacanya mudah, bisa digulir ke bawah maupun ke samping, juga transisi kertas. 


Lebih kerennya, aplikasi orange ini gratis!!! Berguna bagi mereka yang memiliki kendala budget untuk membeli buku. 

Terlepas dari hal tersebut, kerja sama dengan penerbit, seperti Noura Books. Bisa menyokong koleksi buku terupdate. 

Penerbit Noura yang merupakan bagian dari PT. Mizan Republika. Benar-benar mengetahui selera pembaca. Alhasil, buku-buku terbitannya menjadi favorit tersendiri bagi pembaca seperti saya. 

                               ~*~


Blurb 

“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia adalah rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.”

Mudah dicerna, sarat makna. Itu hal pertama yang saya dapat dari tulisan Bernard Batubara. 

Buku yang berjudul “Luka dalam Bara”, tak hanya memunculkan sebuah diksi. Buku penuh ilustrasi ini mampu menguras emosi. Sebuah tulisan yang khusus. Bukan serupa puisi atau novel. Buku ini berbeda, dikemas dalam sebuah rasa baru.

Beberapa penggalan rasa cemas juga sedih. Memunculkan fragmen baru yang indah. Bisa dinikmati banyak pencinta kata. Ini semacam album diari. Berbentuk lebih fresh dan mudah dipahami.

Menggamit buku dalam bentuk aplikasi, berjumlah 108 halaman tak memeras waktu. Justru berbekas pada palung hati. Kata-katanya sederhana, penuh metafora. Seolah membekukan suasana.

Metafora Ombak, berisi tentang sebuah ombak. Hanya ombak yang mampu menghancurkan karang. Terhempas menjadi buih.

Ada makna lain bagi Bara. Ombak yang seolah dirinya. Menaklukkan cinta membutuhkan perjuangan. Tak bisa hanya sekali. Pun tak bisa datar. Karena ombak memiliki ragam. Di sana juga dijelaskan tentang seorang peselancar yang menemui ombak. Peselancar dikiaskan sebagai sang kekasih ombak. Ditutup dengan kalimat;

“Aku akan menarik, menenggelamkanmu hingga ke laut terdalam.” (Halaman 19)

Pembuka buku ini begitu manis, berupa kata-kata yang kental dengan profesi penulis. Penulis yang terkadang dipandang sebelah mata. Lewat ini, selipan pesan bahwa membaca dan menulis seperti ikatan yang mustahil dilepaskan.

Penulis kelahiran Kalimantan sangat memesona saat mengolah kisah dalam bentuk baru. Dalam buku ini, sekurang-kurangnya ada 5 pola penulisan. 

1. Narasi singkat seperti judul Rumah,

2. Narasi panjang seperti judul Sepatu yang hilang. 

3. Dalam wujud surat yang terdiri dari beberapa part.

4. Semacam dialog.

5. Kisah flash back. 

Itu opini saya sebagai pembaca, model-model baru yang dimunculkan dalam satu buku ini. Ciamik. Tanpa menghilangkan rasa, irama, diksi yang manis. Membuat saya bertahan membaca, benar-benar membuat saya terhanyut. Hanyut pada memori kelam yang saya alami. 

Sepotong hati yang sudah lama hilang terasa kembali. Memoar kilasan hitam-putih menyusup. Bagi pecinta romance seperti saya, sudah klepek-klepek

Meski berupa kisah sendiri yang dibuat seakan blocknote pribadi. Kata-kata yang diracik seakan mengunci mata untuk tetap menatap buku ini. Hingga saya tak bosan membacanya berulang kali. 

Lebih dari itu, kata pepatah lama. Tak ada gading yang tak retak. Wajar, ada hal-hal yang masih kurang. Seperti, salah satu gambar ilustrasi yang kurang sesuai dengan isi yang disuguhkan. Seperti sub bab Doa, isinya tentang harapan dan keinginan untuk selalu merekam baik dan memutar ulang segala hal yang manis yang telah terjadi. 

Mungkin saja masih sedikit nyambung, dengan gambar sepasang kekasih merayakan ulang tahun. 

Tetapi, pembaca bingung. Sebab, penulis mengatakan, “Selamat berulang tahun, rembulan pagi. Satu hari penuh doa dan harapan baik kini melayang kepadamu dan menjadi milikmu. (Halaman 11)

Hanya soal selera bagi saya. Namun, karena pembuat ilustrasi sangat pandai. Menggoreskan gambar-gambar nuansa baru.Bukan masalah yang cukup krusial. 

Di beberapa bagian, juga ada sebuah kata yang bermakna ganda. Bagi saya, jarang digunakan. 'Menyigi'. Apakah berarti menerangi atau mencungkil. Kata setelahnya berhubungan dengan hati yang terdalam. 

Terlepas dari minim kesalahan tulisan, nyaris tak ada. Bagi penikmat senja dan kisah cinta. Terus dibanjiri kisah romantis. Tidak berlebihan. Kisahnya pun lebih berbobot. Seperti “Cerita Kecil tentang Kartu Ucapan. Tempat yang Tua dan Bagaimana Kita Diselamatkan oleh Benda-Benda Mati.”

Kisah ini penuh dengan pasak-pasak kecil yang membuat kaki tersandung, terjerembab, namun berkat pasak-pasak. Sebuah kenangan kecil terekam sempurna. 

Selain, #MembacaLuka dan membuat hati terpilin. Penulis begitu kritis. Menyelipkan kisah persahabatan yang terpecah hanya karena perbedaan aliran politik. 

Juga tentang pembangunan yang merajalela. Hingga mempersulit pengguna jalan. 

Ada satu kutipan dari buku ini yang benar-benar membuatku jatuh cinta berkali-kali. 
“Sesuatu yang membuatku mencintai seseorang begitu lama adalah, karena garis waktu dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu terulur, cinta semakin dalam terpancang.”

Walaupun, saya baru pertama kali membaca karya beliau. Saya langsung jatuh hati. Rasanya ingin mengoleksi semuanya. Buku ini merupakan karya ke-11 yang dimiliki Bara. 

Sebenarnya, saya ingin menulis panjang lebar tentang #Membacaluka. Seperti bagiamana perasaan seorang pecinta senja. Mencintai seseorang yang memiliki perasaan yang sama. Namun tujuan yang berbeda. 

Cinta wanita senja hanya dibalas dengan cinta tak murni. Itu mengapa setiap membaca Luka dalam Bara. Rasanya ada bara yang meletup ingin mengoyak luka.

Hanya dengan mencintai luka, kita akan benar-benar paham. Tentang luka yang tak benar-benar melukai si pemilik luka. 

Penulis : Baiq Cynthia

Info buku: 

Judul : Luka Dalam Bara Non Ttd  

No. ISBN : 9786023852321

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit: Noura Book Publising 

Tanggal terbit: Maret - 2017

Jumlah Halaman : 108

Berat Buku : 200 gr

Jenis Cover: Hard Cover

Dimensi(L x P) : 130x200mm

Kategori : Romance


Monday, November 7, 2016

[REVIEW LENGKAP]-Corat-Coret di Toilet (EKA KURNIAWAN)

0

Melihat postingan Gramedia Pustaka Utama sedang mengadakan sebuah event menarik bagi pecinta buku maupun literasi. Namun, yang menarik kita tak harus dianjurkan membeli buku terlebih dahulu. Membacanya lebih modern melalui aplikasi membaca buku digital. Perpustakaan yang bisa diakses dari mana saja. Membaca melalui gadget maupun PC. Oh ya, nama aplikasinya iJakarta.

Aplikasi yang berwarna jingga mampu menyediakan berbagai perpustakaan di Jakarta maupun masyarakat umum yang ingin membantu donasi. Saya langsung berbinar melihat banyak buku yang bagus di sana. Meski beberapa harus mengantre. Tak menyurutkan untuk terus membaca di sana. Suka sekali! Hampir tiap hari sejak pertama kali download pada tanggal 28 Oktober 2016. Meski kadang sering ngadat. Semoga ada perbaikan.

Ngomongin tantangan membaca yang diadakan GPU. Saya langsung mencari perpustakaan--epustaka Gramedia Pustaka Utama. Namun, yang ditemukan hanya Reading Challenge Gramedia. Mungkin ini sudah ada cover berwarna putih dengan gambar animasi laki-laki yang memegang corong, berteriak membara.



Ya! Benar sudah itu yang harus dibaca, kepala langsung berpikir Eka Kurniawan. Siapa gerangan. Kenapa saya belum pernah mendengar di timeline media sosial. Sempat terpikir lelaki yang cerdas, bisa membuat judul yang ekstrem seperti itu. Pernah terbayangkan buku ini mengandung humor dan aku sangat suka.
Baru buka halaman pertama buku ini cetakan GPU pada tahun 2014 bulan April. Semakin memburu rasa penasaran ini. Aku kembali mengamati judul bukunya.



Wah! Ini kumpulan cerpen?

1. Peter Pan (2000)
2. Dongeng Sebelum Bercinta (2000)
3. Corat-coret di Toilet (1999)
4. Teman Kencan (1999)
5. Rayuan Dusta untuk Marietje (2000)
6. Hikayat Si Orang Gila (1999)
7. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam (2000)
8. Siapa Kirim Aku Bunga? (2000)
9. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti (2000)
10. Kisah dari Seorang Kawan (1999)
11. Dewi Amor (2000)
12. Kandang Babi (2000)

Sedikit menelan ludah, aku meyakinkan. Kenapa judulnya tak terlihat ada segment yang lucu. Ah! Sudahlah aku harus membaca. Ini tantangan walapun genrenya tak begitu saya sukai.
Di bab awal saya bingung dengan cerita Peter Pan. Alhasil tiga kali mengulang baca di bab itu, baru bisa nyambung. Tidak klise namun mancep, tentang seorang aktivis yang mencuri banyak buku dari perpustakaan-perpustakaan seluruh pelosok kota. Suatu saat dijual dan untuk modal mencetak selebaran-selebaran untuk kegiatan subversif.

  • Tentang Peter Pan yang mengorbankan pendidikannya hanya untuk kegiatan itu. Bertahun-tahun ia tak lulus kuliah. Hingga suatu masa dicari oleh diktaktur. Peter menghilang bahkan mayat tak tercium. Aku sedih diendingnya.

  • Bab selanjutnya tentang “Dongeng Sebelum Bercinta”, mungkin dari judulnya terkesan vulgar. Namun, dibalik cerita itu hanya menceritakan sosok Alamanda yang mendongeng tentang Alice's Adventure in Wonderland kepada suaminya. Namun, dongeng itu belum selesai, karena trauma kejadian sebelum menikah dengan si Gembel. Amanat cerita ini, lebih menjaga diri sebelum menikah. Ritual perjodohan dengan sepupunya walaupun tak ada cinta.

  • Saya lebih suka bagian ketiga, “Corat-coret di Toilet. Cerita tentang pengguna toilet yang melakukan hajatnya namun, membuat dinding penuh dengan tulisan tentang revolusi yang gagal, kaum Hedonis, karikatur PKI: Penggemar Komik Indonesia. Cerita ini kocak, lugas dan berbobot. Sama sekali semuanya yang tabu dijelaskan dengan bahasa yang tepat. Dibalik cerita ini ada pesan yang kuat tentang keadaan tahun 1999 silam.

  • “Teman Kencang”, cerita yang ini sedikit menggelitik. Pemuda yang mencari teman kencang untuk malam minggu, namun tak satu pun menemukan gadis yang dimaksud. Hingga terlintas dalam benaknya menghubungi mantannya. Akhirnya menuju tempat mantannya, yang terjadi twist. Perempuan yang pernah menjadi belahan jiwanya, bukan tambah gemuk. Tapi, hamil sudah bersuami! Gagal acara malam minggunya. Hehe.

  • Ada juga tentang “Rayuan Dusta untuk Marietje”. Cerita yang terjadi pada 1869 silam tentang prajurit Belanda yang merindukan kekasihnya. Namun, belum bisa bertemu hingga terusan Suez dibuka. Lelaki yang mengundang Marietje datang ke tanah Hindia Belanda dengan alasan tempat yang menabjubkan. Setelah tiba di negeri Bar-bar. Marietje menagih janji pacarnya itu, untuk menaklukkan negeri Bar-bar. Disitulah munculnya pemuda-pemuda Belanda mengangkat senjata.

  • Cerita selanjutnya membuat hati terenyuh, “Hikayat Si Orang Gila”. Orang gila yang kelaparan menceritakan kekejaman Belanda yang membumi hanguskan Ibu Pertiwi. Merampas seluruh hak penduduk hingga tak tersisa. Sedih dan ending memilukan-mengenaskan. “Tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak bernyawa. 1999.”

  • “Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam,” cerita seorang gadis berusia 17 th tak bisa kemana-mana. Meski melakukan pemberontakan tetapi ayahnya tak mengizinkan. Sosok orangtua yang ketat, khawatir putri satu-satunya dirampok, diperkosa hingga gila dan tak bisa pulang, salah pergaulan. Suatu ketika si Cantik jatuh cinta dengan pemain teater. Namun, karena tak boleh keluar malam. Si Cantik diam-diam menemui ke pentas walaupun gelap. Sayang, si pangeran lebih memilih lawan mainnya, yang berperan sebagai juliet. Hancur hati si Cantik hingga tak ingin pulang, masa depannya raib. Dirinya menjadi kekasih malam. Ending cerita ini, si Cantik yang dibully oleh temannya semasa sekolah tak kembali pulang. Salah pergaulan hingga hantunya penasaran.

  • “Siapa Kirim Aku Bunga?”Kontrolir Henri yang terjadi di Hindia Belanda akhir abad 20-an. Bunga misterius yang datang menghantui, setiap hari dengan kertas catatan “untuk Henri”, bahkan saat tak di tempat kerja. Bunga itu masih terus datang. Cerita ini menyajikan tentang bunga misterius yang membuat Henri menderita skizofrenia.

  • Cerita yang sempat membuat mata berair itu ini, “Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti”. Anak kecil tanpa orangtua sejak kecil yang membuat masalah. Hingga polisi kelimpungan, namun ucapan polisi mampu membuatnya keluar dari tempat sembunyi—hutan kecil pinggir kota. Nasib malang, si bandit harus diborgol hanya karena roti.

  • Kisah dari Seorang Kawan, cerita yang satu ini tentang saudagar kapitalis yang menjual beras. Dimulai dari membeli 8 kios, menimbun beras. Saudagar itu menjual harga lebih murah dari harga normal. Namun, menjual kepada pedagang lebih tinggi dari harga standar. Miris dan ironi yang pernah terjadi pada zaman orde baru.

  • Dewi Amor berkisahkan tentang pemuda yang jatuh cinta kepada Laura, namun ternyata cintanya ditolak. Laura memilih lelaki yang lain daripada pemuda yang tulus. Lelaki pilihan Laura harus lebam di tangan seseorang yang dilukai hatinya.

  • Terakhir, cerita tentang “Kandang Babi” kisah Mahasiswa yang malas, suka minum arak, dan tak memiliki pondokan. Harus tidur di gudang penyimpanan yang disebut kandang babi. Tentang permasalahan sosial, butuh banyak uang namun tak bisa. Hingga temannya yang sudah menjadi dosen meminjamkan uang. Ternyata habis untuk membayar hutang, berpesta dan membuka pintu gudang yang pernah ditutup birokrasi. Ya, kembali ke asal mula. Meski pernah tidur di pos satpam. Ah, hatiku lagi-lagi teiris. Gak bisa dibayangkan awal tahun 2000 masih banyak yang demikian.


Secara keseluruhan, aku suka dengan ceritanya. Semuanya twist! Ada yang kocak, menggantung, sedih dan tragis. Banyak penggunaan kata lugas dan satir.
All the best with this story!



Judul buku : Corat-coret di Toilet
Penulis. : Eka Kurniawan
Penerbit. : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : April, 2014

Diterbitkan pertama kali di tahun 2000 dengan judul yang sama kemudian diterbitkan kembali di tahun 2014 ini.

Itu sekelumit review tentang Corat-coret di Toilet juga asyiknya menggunakan aplikasi iJakarta.