Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Selama beberapa tahun yang lalu, terlalu sering memimpikan indahnya pesta pernikahan terlebih film-film India selalu menyuguhkan kisah romantisnya hari-hari setelah menikah. Mungkin sering terdengar di telinga soal ‘shaadi’—menikah. Pertemuan dua hati yang diikat dengan sebuah ikrar yang sangat sakral kepada Allah. Janji untuk menerima seorang wanita menjadi teman sehidup-semati.
Diam-diam terlalu sering aku menangkupkan doa dalam selipan tangis dan harapan untuk bisa bertemu dengan belahan jiwa yang akan menjadi pelindung di kala suka maupun duka. Mimpi membangun keluarga yang harmonis bersama bayi-bayi gempal menggemaskan. Impian semua wanita ialah menikah dengan orang yang mencintainya dan membuatnya nyaman akan hadirnya sosok lelaki yang sudah ditakdirkan untuk bersama, merajut kehidupan yang bahagia.

Jangan bilang Benci, Nanti Cinta loh.



Pepatah ini sangat familiar hampir di seluruh belahan dunia. Judulnya emang mainstreams sih. Daripada blog ini kosong melompong ditinggal terus sama pemiliknya yang super duper sibuq. Ngalahin artis ibu kota sampai gak sempat buka medsos. Jadi wajar lah ya, job dadakan selalu ada. Mulai dari tukang masak, asisten henna wedding sampai jadi calon ibu. Hehehe, doakan saja Baiq segera niqah. Biar gak pasang status galau terus karena gak menemukan sandaran.



Tentang Memasak Kambing


Bisa dibilang tidak ada resep khusus membuat masakan enak, semua terjadi karena perpaduan komposisi bahan yang pas dan teknik yang tepat. Selama ini saya tidak pernah suka mencicipi masakan yang saya buat. Karena merasa pasti sudah enak, dan benar saja masakan itu enak menurut keluarga yang mencicipinya. Tapi saya bosan dengan masakan sendiri.



Pernahkah engkau melihat serat kulit pisang? Seperti itu kerumitan pikiranku saat ini, entah memikirkan pijakan masa depan. Atau memikirkan kapan berhenti masa stagnan, memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran kegagalan masa lalu. Menurut seseorang yang akan menjadi teman hidupku, aku terlalu cemas dan banyak memikirkan segala sesuatu. Padahal tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu rumit dalam menyongsong kehidupan baru yaitu menjadi seorang istri dan seorang ibu. Fase yang penuh liku-liku kesulitan, petualangan baru dengan biduk rumah tangga.



Saat aku ditanya, “Apakah Nanda sudah siap untuk menikah?

Tidak semua hari menyenangkan bagi kita, adakalanya ada hari yang membuat hari-hari terlewati dengan segudang permasalahan, hingga membuat kita mengecap sebagai hari sial.


Entah mengapa tepat pada hari ini (Rabu) penulis Daily's Baiq merasakan selalu mendapatkan kesialan, sejak ia sekolah. Pagi yang buruk akan membuat siang, sore dan malam menjadi tidak menyenangkan. Tetapi, sekarang karena sudah dewasa. Setiap hari itu sama, tidak ada hari sial. Hanya saja suasana hati kita yang tidak bersahabat—katakanlah bad-mood.



Mengapa naskah tidak kunjung selesai?




Menulis bukan perkara yang sangat sulit, ‘setengah’ sulit bisa dibilang begitu. Kita harus melatihnya setiap hari itu sudah harga mati. Semakin sering menulis dan terbiasa disiplin menulis setiap hari akan memperbaik kualitas tulisan. Apa jadinya jika menulis tidak kunjung selesai.




Kalau kita terus-menerus membiarkan diri larut dengan rutinitas selain menulis, kita hanya sibuk memikirkan tulisan namun tidak kunjung menuliskannya ini sudah keadaan yang sangat membahayakan. Memang apa yang membahayakan, kamu pasti akan bertanya-tanya ya?




Itu sebuah gejala yang sering terjadi kepada penulis pemula, seperti saya. Kita hanya berangan naskah selesai tanpa mengerjakannya, apakah bisa? Tentu saja tidak akan bisa. Jika ingin memasak telur, maka terlebih dahulu kita harus punya telur dan minyak goreng, itu minimal. Selanjutnya jika ingin telur itu masak tentu saja kita harus memasaknya. Sama halnya dengan menulis, jika kita hanya menginginkan tanpa ada inisiatif untuk memulai, maka bersiaplah naskah tidak akan kunjung selesai.




Point berikutnya, jangan terlalu banyak mengatakan, ‘Saya Sibuk’. Semua orang memiliki 24 jam itu sama dengan apa yang kita punya. Bedanya, apakah kita benar-benar mengoptimalkan waktu kita, atau hanya membuang-buang waktu? Sisihkan satu atau dua jam setiap hari untuk menulis, apa saja tanpa ada yang menghalangi lagi. Semakin sering menunda kegiatan menulis, maka tentu saja naskah tidak akan selesai.


Masih asyik dengan media sosial.



Era digitalisasi membuat semua orang berlomba-lomba paling eksis dan narsis untuk menunjukkan profil yang terbaik. Begitupun dengan aktivitas medsos yang kadang memakan waktu untuk menulis, berbanding terbalik, waktu menjadi sia-sia dan semakin tidak tersisa.
Bagaimana tips menyelesaikan naskah tepat waktu?




Pertama, gunakan mind map.


Tentu saja dalam membuat sebuah karya, kita butuh alur cerita yang jelas. Agar tidak bertele-tele dan tulisan kita menjadi teratur. Dengan peta pikiran, ide-ide yang sudah dikonsep sejak awal akan berakhir sesuai dengan prediksi. Tentu saja menggunakan peta pikiran memangkas waktu.


Jangan nanti-nanti. Tapi SEKARANG!





Sama seperti nasi yang panas ingin kau makan, semakin lama menunggu. ‘Nanti, nanti’, maka nasi akan berubah menjadi dingin. Tulisanmu bukan semakin cepat beres, akan tetapi akan semakin lama untuk selesai.
Menulislah apa yang dikuasai, jangan menunggu hasil tulisan menjadi baik. Kita tidak akan pernah puas, tapi menulislah terlebih dahulu sampai sukses di akhir. Baru setelah itu bisa disunting hal-hal yang perlu diperbaiki.


Tidak terpengaruh dengan suasana.




Kita harus konsisten untuk menyelesaikan sampai finish. Jangan tergiur untuk makan-makan enak, atau sekadar jalan-jalan maupun menonton film bagus. Kecuali memang bertujuan untuk riset.


Pasang Deadline!


Buat target sendiri misalnya satu jam sekian kata, dan kita upayakan yang terbaik hingga selesai. Tidak ada yang sulit dalam membuat sebuah karya tulis sampai selesai lalu terbit. Hal yang membuat sulit ialah rasa malas dan tidak ingin sukses.



Ala bisa karena terbiasa, biasakan nulis setiap hari minimal satu lembar, tetapi saat kita sudah terbiasa menulis 1000 kata setiap hari selama 3 bulan. Tentu kita bisa akan menjadi penulis yang handal dan mengerjakan deadline sesuai dengan harapan.


Baiq Cynthia
Pagi Dunia, hari Ahad!


Setiap irama napas, sebanyak itulah aku jatuh cinta kepada-Mu. Terkadang dalam pekatnya hidup aku bermanja-manja kepada-Mu, tetapi saat gelimang bahagia yang Engkau berikan sudah menyertaiku, aku bermanja-manja pada mainanmu—ia bernama dunia.

Lembaran Hari Baru dengan Semangat Baru.





Bulan Juli sepertinya berlalu terlalu cepat, atau saya yang mengalaminya begitu padat? Padahal post di blog sederhana ini tidak begitu banyak. Lantas kemana saja penulisnya?


Tidak semuanya yang kita alami bisa di-share pada media sosial, khususnya blog. Hal ini menjadi dilema pada para penulis. Kita dituntut untuk selalu jaga image juga harus humble dengan pembaca maupun teman media sosial. Akhir-akhir ini mungkin kalian akan merasakan perbedaan pada postingan saya.
Biasanya akan menjumpai status slenge’-an tetapi kini jarang buat status bahkan nyaris tidak membuatnya. Mengapa?





Baru tiga hari yang lalu saya menginjakkan pada pilihan hidup yang baru. Usia manusia semakin bertambah berarti tanggung jawab yang dipikul akan banyak lagi. Terkadang saya ingin membagikan beragam momen manis di bulan Juli. Lagi-lagi saya pertimbangkan secara matang, apakah tujuan memonsting hal-hal yang bersifat individu itu penting? (tidak layak konsumsi publik, entah itu kebersamaan dengan family member atau rutinitas yang baru).




Saya memilih menyimpan saja, meminjam kata-kata Tere Liye. Orang yang bahagia tidak akan sibuk untuk pamer, justeru mereka yang sering pamer tidak benar-benar bahagia. Pada postingan yang lain juga berujar soal hal-hal manis bersama keluarga cukuplah kita yang menikmati, orang lain jangan. Mengapa? Kita tidak tahu siapa saja teman di media sosial, menghindari dari kejahatan yang bisa saja terjadi di masa saja. Apalagi perilaku netizen yang akhir-akhir ini lebih menyukai sebuah fenomena yang menurut mereka lucu meskipun harus bertingkah ‘bodoh’ di media sosial. Semacam kemerosotan pikiran.




Tiga hari ini saya mencoba untuk menonaktifkan media sosial, mengurung diri pada pertanyaan-pertanyaan seputar langkah apa yang akan dilakukan pada usia 22 tahun? Terlebih sebentar lagi sudah menginjakkan kaki pada biduk rumah tangga. Semua orang pasti bermimpi soal menikah. Tentu saja, begitu juga dengan saya.






Menikah mengubah status sosial, dari yang sebelumnya hanya sebagai anak kemudian menjadi seorang istri maupun ibu. Otomatis kalau sudah menikah menjadi sebuah keluarga di mana keluarga adalah unik terkecil dari masyarakat. Menjadi seorang istri sekaligus penasihat yang baik untuk suami. Menjadi seorang ibu sekaligus contoh yang teladan bagi anak.




Semacam dilema jika dihadapkan pada pilihan pernikahan yang serba dadakan. Jika tidak mengambil kesempatan, apakah masih ada harapan yang lain? Itu adalah kesempatan untuk memijak hidup yang terbaru. Siap-tidak siap harus selalu sigap. Hidup seakan sebuah mimpi, ia hadir hanya untuk membuat kenangan, indah maupun buruk tersimpan pada lembaran-lembaran hari.




Selamat datang Agustus! Kamu adalah alasanku untuk tidak berhenti, tidak menyerah maupun frustrasi. Tentu saja kita hidup pada hari ini, maka persiapkan yang terbaik untuk hari esok. Semakin berusaha memperbaiki, masa depan kita akan lebih cermelang.




Tidak jadi off bukan berarti saya akan terus-menerus memantau beranda media sosial. Justru saya sedang berusaha untuk meminimalisir penggunaan ponsel dan internet. Sebisa mungkin mengalihkan pada kegiatan yang lebih produktif membaca lebih banyak buku dan menulis lebih sering.




Sangat bersyukur di bulan yang baru, mendapatkan ‘pinangan’ dari sebuah penerbit pada naskah yang sempat saya posting pada sweek. Inilah salah satu langkah baru dan semangat baru.
Optimis dan semakin banyak bersyukur.


Salam Literasi.
Baiq Cynthia
Detik menjadi menit menjadi jam menjadi hari menjadi tahun. Tahun ini menjadi kesempatan hidup yang luar biasa bagi saya, karena bisa dipertemuka dengan orang-orang baik dan tentu saja dengan pengalaman hidup yang baru dan lebih baik.

Jika Engkau Dikecewakan, Maafkanlah. Akan Datang Pengganti yang Lebih Baik di Waktu yang Tak Terduga.

Tengah Malam di Kota Kediri yang katanya penuh sejarah perjuangan presiden pertama Indonesia. Ternyata di sini cukup dingin 26 derajat. Lokasi saya di Kesamben saat ini, di rumah family juga. Kurang paham di mana tepatnya.

Ketika sore hari, aku menerima sebuah pesan Whats App dari teman dunia Maya yang tinggal di India. Ia berencana mengajakku liburan di Belanda, senang sekali itu merupakan impian yang sudah lama terpendam. Melihat secara langsung kincir angin dan berseminya bunga tulip. Tapi sempat bingung, gimana caranya bisa sampai ke sana? Kalau misalnya nyasar gimana? Huhuhu. Apalagi jarak tempuh dari Asia Selatan menuju Eropa pasti harus translit di beberapa bandara, yang saya saya khawatirkan salah tujuan maupun ketinggalan pesawat.

Aku memang pemula dalam urusan tulis-menulis, tetapi semangat itu tidak pernah padam walau satu cuil. Seperti bulan Juli yang penuh dengan deadline tulisan, mengapa saya tertarik dengan tantangan. Sebab mengasah kemampuan dan semakin membuat diri untuk terus berpacu dengan waktu.

Kesulitan saat mengikuti kompetisi, sebenarnya hanya mengatur mood. Karena pikiran yang sumpek akan mempengaruhi tulisan. Begitu juga dengan rasa malas yang membuyarkan keinginan. Sebenarnya kesulitan itu terletak pada suasana hati. Sebisa mungkin seorang penulis menjaga suasana hatinya agar tidak cenderung galau dan mengurangi tingkat produktif dalam berkarya.

[caption id="attachment_1355" align="alignnone" width="4608"]cara atasi writer's block Photo by Steve Johnson on Unsplash[/caption]

Cara-cara membangun mood agar terus menghasilkan karya;

  1. Banyak Membaca


Semakin sering membaca, semakin terbuka cara berpikir kita. Kita punya tambahan wawasan yang lebih komplit. Karena jumlah tulisan kita bergantung pada intesitas bacaan. Sadar atau tidak dengan membaca bisa memancing ide, tentunya semakin banyak membaca akan menghasilkan tulisan yang lebih padat.

2. Melakukan hobi yang disenangi

Tubuh lebih sering mendapatkan kejenuhan, jika setiap hari berutinitas dengan kebiasaan yang melahirkan budaya. Memanfaatkan hobi secara optimal akan mengasah diri semakin terampil, out putnya semakin semangat melakukan aktivitas lainnya seperti menulis yang membutuhkan daya konsentrasi yang tinggi.

3. Banyak menulis

Mengapa masih harus menulis? Tidak bisa dipungkiri setiap peristiwa yang indah sayang jika hanya dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan. Sebuah tulisan adalah salah satu cara merekam peristiwa yang tidak bisa dijelaskan melalui bahasa visual. Agar tidak kehilangan ide, maka segera tangkap ide dalam tulisan.

Nah, itu salah satu tips memunculkan semangat menulis, ketika stuck menghampiri. Jangan lupa untuk berdoa, sebelum beraktivitas apa pun. Karena ini sudah menjelang pagi, maka saya udahi dulu ya.

Waktunya istirahat kembali. Salam literasi.

Selamat Malam
Dari mana saja, Engkau bisa Belajar. Daily's Baiq kali ini ingin sharing sedikit seputar pengalamannya maupun aktivitas hariannya pasca memilih  resign dari pekerjaannya sebagai admin di sebuah proyek pembangunan. Ia merasa tidak ada waktu untuk mendekatkan diri dengan keluarga maupun menulis, karena energinya dikuras untuk bekerja.


Tidak mengapa menunggu lebih lama lagi, asalkan engkau tetap memelihara hati dalam kebaikan. Karena yang baik datang tidak tergesa-gesa, ia datang dengan persiapan yang sangat matang. Teruslah memperbaiki diri, memantaskan diri untuk pilihan yang terbaik, versi-Nya. Jangan menodai dengan setitik ketidaksabaran.



Bukan hanya pekerja yang butuh istirahat, hati juga.
(Inspirasi muncul dari mana saja, termasuk dari satu benda atau satu kata atau satu huruf sekalipun. Maka, sangat lucu kedengarannya jika mengatakan tidak punya ide untuk menulis.
Berhenti cari masalah dengan penulis, atau abadi dalam tulisannya).


#Blogger #Autor #menulis #Situbondo

Hidup itu semakin indah dengan rumus SYUKUR + SABAR.