Showing posts with label Baiq. Show all posts
Showing posts with label Baiq. Show all posts

Sunday, October 28, 2018

Tetap Genggam Tanganku, Honey.

0

Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.



Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.




Wednesday, May 23, 2018

Sunday, November 19, 2017

#Tentang Belajar Privat

0

πŸ‘© "Iq, di rumah kamu ada anak kecil?"

(Kaget, ditanya macam itu. Masih stay Single.)

πŸ‘± "Adanya cuma anak tetangga? Emang kenapa?"

πŸ‘© "Iya, itu maksudku!"

~*~

Kalau ingat sama anak tetangga, aku jadi ingat beberapa tahun lalu jadi guru les buat mereka. Pulang kerja masih sisakan waktu buat memenuhi permintaan satu anak tetangga. Dia mau ujian kelulusan kelas 6. 
Tak disangka, semakin hari makin bertambah yang main ke rumah. 😍 Seru! Bisa sharing. Tanya cita-cita mereka dan ngadepin beberapa karakter. 



Hanya saja, mereka yang sama-sama teman main. Lupa, ada tugas penting setiap malam. Belajar. 
Kadang harus teriak-teriak. Untuk mendominasi suara minorku. Emang dari dasarnya beda. Beda anak, beda karakter. 
Yang satu usil, menganggu temannya yang belajar. Ada yang gantikan posisi aku. Karena yang satu dari SD A sudah mendapatkan materi lebih dulu. Tapi, yang SD B ... merasa terganggu dengan penjelasan si anak dari sekolah A. 
Ricuh. πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ Aku tak terbiasa seperti guruku yang memukul meja untuk menenangkan. Jadi, aku diamkan beberapa saat.
Tantangan paling sulit lagi. Mereka rata-rata tidak pernah belajar di siang hari. Ditambah daya ingat terbatas. 
Bersyukur dari 7 yang diajari ada 2 yang tanggap. Langsung paham saat diajari. Sisanya ... mudah bosan. Menyerah, dsg. 
πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»

Unjuk rasa sering terjadi saat proses belajar. Kadang masalah pinjam alat tulis yang tak dikembalikan menjadi ribut. Memang yang meminjamkan punya sifat yang kurang murah hati. 
Ayahku tak suka dengan belajar yang 'ricuh'. Terlalu sering, ada yang menangis dalam proses belajar. Sehingga, dia tak izinkan aku memberi bimbingan belajar kepadanya. 
Dalihnya, Aku pulang kerja menjelang magrib. Belum sempat istirahat sejenak. Pukul 18.00 mereka sudah mengetok pintu. 😸
Dilema jadinya. Sampai orangtua si Murid merajuk, akan memberikan Fee untukku. Karena menurutnya. Hasil belajarnya lebih baik. Aku tak sedang mencari penghasilan lebih. Kecuali aku menerima uang buat jajan dari bos ku. Anaknya juga les di rumahku.
Tapi, Aku sudah membulatkan tekad. Tidak mencari ribut sama Babe. πŸ˜‚ Les pun ditutup. Meski banyak yang kecewa. Aku pun kecewa. Belum bisa berbagi kepada mereka. 
Kasian banget. Di satu sisi, mereka kurang kepedulian orangtua. Orangtua di lingkunganku sibuk bekerja. 
Aku bersyukur, punya Umi. Beliau yang buat aku sebesar ini. Meski Beliau tak bisa baca tulis. Setiap pulang sekolah selalu mengingatkan tentang PR. 
Maka, masa kecilku hanya berkutat dengan buku, buku gambar, dan radio. Kecuali saat ada sepupu datang dan saudara. Hari-hari lebih menyenangkan.
Apalah arti dari memori masa kecil tak akan kembali lagi. Satu lagi, yang membuatku suka dengan dunia membaca dan menulis. Aku ingin menceritakan kisah-kisah sejarah lebih banyak lagi kepada Beliau. 

πŸ‘©"Iq, kamu belum membalas pesanku!"

πŸ‘± "Oh, iya. Akan aku bantu kabarkan pada semuanya." 
#TorehanAiq

Friday, October 13, 2017

Seruni (bukan) Bunga Kertas-Baiq Cynthia

0

"Jangan pernah merasa kecil (terkucilkan)."

Mungkin sekarang kamu bingung tentang tujuan hidupmu.



Sumber : Google

Allah maha mendengar suara hati kecilmu. Tapi, ujian ini semata-mata untuk membuatmu lebih kuat suatu saat nanti.
Ini hanya masalah waktu. Yakinlah buah kesabaran itu manis rasanya. Sabar disertai upaya dan do'a. 
Kau-tak harus dengarkan celotehan negatif orang lain. Ini hidupmu, ini jalanmu. Dengarkan saran yang membuatmu bertambah kuat.
Boleh jadi kamu kehilangan anak tangga untuk mendaki langit. Tapi, kamu bisa membuat menara sendiri. 
Kehidupan itu fana. Kau-tahu itu. Kemudian apa yang perlu dibuktikan? 
Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan-- Itu tertera di dalam musyaf. 
Perlu waktu untuk memahaminya. Hei! Kamu sudah 1/5 abad. Ayolah. Lebih realistik. 
Jangan tergiur manisnya dunia yang membutakan akhiratmu.
Walau mata mereka terbuka, mereka tak melihat. Walau bibir mereka bisa bicara, tapi tak bisa menasihati. Walau tangan mereka utuh, tapi tak ingin berbagi. Mata batinnya telah lenyap. Kuharap itu bukan kamu, dia atau kalian.
You know ... it's dangerous of life.
#Renungan

#KeepCalm

#Aiq

#13Oktober2016

Monday, September 18, 2017

Kekuatan Doa untuk Rezeki

0

Setiap apa yang telah digariskan pada hamba-Nya tidak akan pernah bertukar. Apalagi hanya tentang sebuah rezeki dan cobaan. 



Source 

Kita tidak akan pernah tahu. Kapan rezeki itu datang, kapan cobaan menghadang. Tetapi, sebagai manusia hanya bisa mencoba bertahan. Menghadapi segala permasalahan yang ada. Bukan memilih jalan pintas dan pergi dari kesempatan. Sejatinya cobaan hanya sebuah kerikil-kerikil kecil yang apabila kita lewati dengan tenang tak akan tergelincir. Tetapi, saat kerikil berubah menjadi gumpalan besar. Bersiaplah untuk tersakiti. 





“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” -Ali Bin Abi Thalib-



Hal paling indah adalah saat meminta doa kepada Allah. Kepada sang Pemberi Rezeki. Terkadang doa-doa kita yang sering dilayangkan belum juga terkabul. Apa sebabnya? Barangkali, terlalu banyak butiran dosa yang melekat pada kita. Bisa jadi pula karena perasaan kita yang belum pandai bersyukur. 

Tapi, janganlah risau. Allah Maha Mendengar atas apa yang terjadi. Hanya Allah yang mampu mengabulkan doa-doa kita. Terkadang, doa-doa yang kita layangkan pada Langit. Dikabulkan pada waktu yang tidak terduga. 
Terlalu sering aku mendengar nasihat dari guruku. Allah maha Mengetahui. Allah akan berikan apa yang kita butuhkan, daripada apa yang kita inginkan. 

“….boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah : 216)






Cukuplah Allah yang mengetahui doa-doa kita, keluhan kita. Karena belum tentu keluhan yang kita utarakan kepada orang lain akan menemukan jalan. 
Butuh jalan berliku untuk lebih memantapkan diri menemukan jalan yang lurus. Karena setiap kesulitan hanya ada di awalnya saja. 
Cukup katakan Alhamdulillah setiap saat. Dalam keadaan suka maupun duka. Tak selamanya matahari akan terus bersinar. Juga tak selamanya langit akan mendung. Periode kebahagiaan akan mirip dengan cuaca. 

Jazakallah khair. 

Semoga bermanfaat. Setiap kata yang teruntai merupakan ilmu yang diberikan oleh-Nya. Kebenaran mutlak diberikan oleh Allah. Sedangkan lupa dan salah adalah milik manusia. 

Surabaya,

Baiq Cynthia

Saturday, August 26, 2017

Perjuangan Dibalik DARAH (Kumcer Psiko-PAT)

9

Alhamdulillah, puji syukur saya haturkan kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan. Salawat serta salam kepada baginda Rasulullah SAW. 

Terima kasih yang tak terhingga kepada Mas Erby. S yang karyanya go International. Kini beliau tengah merampungkan proyek film terbarunya. Semoga sukses! 

Sebagai pencetus ide menulis bersama, secara tim. Maka, berkumpulnya 5 penulis ini tak lepas dari kuasa Allah. Kesulitan terberat saat itu kami yang tak saling mengenal, tak saling bertemu. Diberi deadline hampir 2 bulan. Menyelesaikan cerpen dengan genre yang menantang. 



                         PSIKO- P A T

Sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada orangtua saya, teman-teman dan sahabat yang terus mendukung proses menulis ini. Alhamdulillah. Berakhir dengan keputusan LOLOS.

Sunting

Ini dia penulis yang keren! Mereka pejuang-pejuang yang selalu menjaga solidaritas. Saling mendukung saling menguatkan satu sama lain.



Jujur saya hampir sebulan meriset, mulai dari meminta rekomendasi buku kepada koordinator Gerakan Situbondo Membaca – Imam Sofyan. Sampai diundang mereview buku fenomenal Budi Dharma yang berjudul RAFILUS. Ternyata itu novel psikologi bukan psikopat. 

Walhasil, saya mendiamkan diri. Merenung menjauh dari hiruk-pikuk media sosial. Hampir 11 hari tepat pada ultah saya 30 Juli saya masih vakum. Selama itu saya sering menelpon teman saya. Mendengarkan keluh kesahnya membuat saya jadi memiliki sebuah ide. 
Salah satu cerpen yang saya tulis, beberapa part-nya terinspirasi dari keunikan yang dimiliki olehnya. Jujur menulis tak hanya sekedar menorehkan kata. 

Menulis menjadi sebuah wadah yang lebih sistematis, penuh pertimbangan juga butuh menggali informasi. 
Saya selesai menulis sebelum akhir juli, dengan beberapa penyuntingan yang membuat jadi lama. Kesulitan terbesar, menulis dari handphone. Mengalokasikan waktu chat, telp maupun waktu untuk mencharger. Menulis lewat handphone tak lantas membuat semangat saya menjadi luruh. Beberapa draft ditulis sebelum menulis cerita. 

Satu jam menulis di handphone sama dengan 1 lembar ½. Menulis di HP butuh dua jari, itu yang membuat waktu lebih banyak terbuang. Juga tulisan agak kecil, membuat mata harus sering istirahat sejenak. Kesulitan lainnya HP yang limited edition mudah panas, jadi dengan upaya keras saya menuliskan meski tahu efek radiasi besar.

Cerpen kedua saya lebih hati-hati memilih ide. Meski banyak ide yang berseliweran. Awalnya ingin menulis tema roman-psiko, diganti lagi fantasy-psiko, diganti lagi roman-fantasy-psiko hingga terakhir mendapatkan ilham yang berbeda.

Setelah menggali informasi kepada Chimut. Thanks so much :* Dia merekomendasikan komik yang ada psiko-nya. Pelan-pelan otak saya terbuka. Meski sering browsing, jarang ternyata yang muncul di pencarian google. Kalau pun ada, ceritanya sudah biasa terjadi seperti di TV. 

Cerpen yang ke-2 lebih memakan waktu. Saat itu sudah mendekati deadline. Tapi, saya belum bisa menyelesaikan tugas, ada beberapa hal seperti kesibukan membantu persiapan pernikahan kerabat. Butuh ekstra konsentrasi menuliskannya, namun berhubung tidak di rumah. Sebisa mungkin saya paksa untuk konsen. Alhamdulillah bisa. 

Tetapi, saat waktu tinggal beberapa jam. Saya bingung menentukan endingnya. Maka dengan mata terpejam saya tidur. Saya masih ingat seminggu pasca ultah dini hari akan bertolak ke Probolinggo. Melanjutkan menulis pukul 2.00 setelah tidur pukul 23.00 luar biasa. 

Sedikit terkantuk-kantuk menulis di dalam mobil. Memang bukan waktunya menulis. Tapi saya paksa. Komitmen itu yang mewajibkan saya mengumpulkan tepat waktu. Karena paginya harus lanjut ke Tuban. 
Alhamdulillah ... dengan doa orangtua, dan ikhtiar. Redaksi Penerbit Scritto menyatakan LOLOS review dan tim pemasaran. 
Congratulation! Genta, Mas Uj, Mas Damar juga Mas Erby yang keren. Terima kasih Om Dominic atas diterimanya naskah DARAH.



Menjadi kado spesial yang indah, setelah berhari-hari parah hati bisa mendengar kabar luar biasa. 
Menulis membuatmu ada! ~Baiq Cynthia~

Menulis tak harus menunggu waktu, tak harus menanti fasilitas. Menulis di mana pun kamu bisa dan kapan pun kau mau. 

Baiq Cynthia

Situbondo

Tuesday, July 11, 2017

[BOOK REVIEW] Aster untuk Gayatri-Irfan Rizky

0

Senang rasanya bisa membaca buku ini, sejak membaca pengumuman terpilihnya novel ini menjadi juara utama. Saya langsung jatuh cinta. Alhamdulillah, berkat give away yang diadakan langsung oleh penulis dan penerbit. Saya, diberikan kesempatan yang luar biasa--membaca karya Aster untuk Gayatri. 

~*~



Novel pilihan juara pertama lomba Novella Mazaya Publishing House 2017. Membuatku terpikat sejak pandangan pertama. Covernya seolah merayuku, untuk menjamahnya.

Buku yang ditulis dengan bahasa mendayu-dayu, syahdu. Berhasil membuat pembaca terpaku, khususnya saya. Puitis namun berisi. Penulis lihai dalam mengolah kata. Setiap tangkai kata aster seolah mewakili kisahnya. Gayatri.

“Akulah asternya,” bisik Gayatri sarat sakit hati. “Aku selalu mengerti kalau tiada seorang pun yang akan memilih aster di tengah rimbun mawar. Termasuk kau.” (Halaman. 110)

Berkisah tentang Gayatri yang telah membuat Giran jatuh hati. Jatuh hati di antara dua pilihan, ada atau tiada. Persamaan latar belakang—luka, memunculkan petasan-petasan kecil dalam perut saat bertatap muka. 

Kisah romantisme dan drama tersisip dalam buku ringan setebal 160 halaman. Pembaca dihipnotis setiap pergantian bab-nya. Oleh sapuan kata-kata.

Tak hanya suguhan kisah yang menyayat hati. Ada beberapa gambar pendukung yang entah tak paham maksudnya. Karena tak ada caption. Turut membangun suasana. 

Setiap bab pun, bagai diiringi nada dalam kata. Puisi yang mem-baper-i. Beberapa kutipan yang menjadi favorit saya;
Telah kubunuh setiap kamu. 

Dalam setiap harap. 

Dan jeri yang terkumpul.

Pada do’a-do'a.

Tak ubahnya timun-timun Jepang. (Halaman 60)


Mencintaimu bagai membasuh basah bola mata dengan air laut,

Lalu

Kalikan sejuta pedih-perihnya. (Halaman 74)

Cinta seorang gadis yang harus dilepas demi membalas budi? Tetapi, hanya persetan cinta yang didapat. Cinta tak ubahnya transaksi. Tak hanya di era daring. Saat rakus mengikis benih cinta--bahkan menumpasnya.
“Dulu, kaulah alasannya untuk tetap hidup. Kaulah alasan untuk tetap bertahan ketika badai kehidupan menggantikannya."(Halaman 127) 

Novel ini sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca. Di mana tiap bab berisi banyak konflik. Alur yang digunakan maju-mundur. Laksana terombang-ambing dalam rolling coster . Jeri pun menyenangkan

Terlepas dari beberapa kesalahan kata, saya tidak merasa terganggu saat membaca. Malahan, banyak kosakata baru yang mulai tertanam dalam neuron.

Aster untuk Gayatri sangat rekomen bagi pencinta bunga maupun cerita romantisme. Kalau boleh memberi rating dari angka 1-5 saya ingin memberi 3.9.

Blurb: 

Telah kularungkan

Kepada Gayatri

Tiap-tiap kesedihan

Jua

Perih-pedih

Masa Lampau
Dan telah kuwariskan

Kepada Giran

Cerita-cerita luka

Tentang rindu

Yang 

Dipandanginya lama-lama

Pun telah kuhidangkan

Kepada kamu

Seorang 

Kisah-kisah tentang 

Apa-apa 

Yang harusnya

Ada

Dan apa-apa

Yang mestinya

Tiada
Judul : Aster untuk Gayatri

No. ISBN : 978-602-6362-35-3

Penulis : Irfan Rizki

Penerbit: Mazaya Publishing House

Tanggal terbit: Cetakan pertama, April 2017

Jumlah Halaman : 160 halaman
*) Ucapan terima kasih yang mendalam kepada penulis yang memberikan kesempatan kepada saya, untuk bisa menggenggam langsung. Meski seperti mimpi. Semoga produktif. Salam literasi. 

Thursday, February 9, 2017

Cinta di Pelupuk Senja (Baiq Cynthia)

0

​Judul     : Cinta di Pelupuk Senja

Penulis : Baiq Cynthia



Sumber gambar 
"Ayo, cepat! Entar langit akan segera gelap,” dengus wanita cantik yang membolak-balik majalah. Wajahnya seperti salah satu girls band yang digandrungi banyak lelaki. Meski matanya menatap banyak mode pakaian, sesekali mencuri pandang dengan jam yang melingkar di tangannya.

"Iya sayang, ini udah beres," lelaki yang masih mencoba mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Tergopoh-gopoh menuju asal suara. Wanita yang duduk di beranda rumah, dengan wajah tertekuk masih terus mengomel.

Dengan kunci yang ditancapkan di kepala sepeda motor, Roy langsung menstater Ninja merahnya. Derung suara dari cerobong kecil di belakang. Membuat Santi segera mengambil posisi mantap, duduk di jok belakang. Tangan indahnya melingkari perut lelaki yang datar.

Udara terasa hangat karena matahari telah bergeser 30ΒΊ dari ujung kepala. Perjalanan yang menempuh jarak yang tak begitu dekat. Namun, dinikmati tanpa ada suara. Santi merebahkan kepalanya di punggung lelakinya. Membiarkan matanya menatap nyalang ke arah rumah-rumah yang berjalan mundur. 

Aroma pasir dan sejuknya angin laut memancing banyak orang untuk mengunjungi pantai Pathe'. Roy segera memarkir motornya. Santi bergegas menuju ke arah laut. Deru ombak saling mengejar. Melihat anak-anak yang bermain pasir.

Roy, menuju ke warung mungil di sekitar pantai. Tujuannya tak lain mencari es degan.

"Mbak, pesan es degan satu, sedotan dua!" sambil melempar wajah sinis melihat perempuan berusia sekitar 18 tahunan yang terkesan kampungan.

"Tunggu sebentar pak!" jawabnya ketus.

"Eh, aku masih mudah kok dipanggil Bapak."

"Nah, terus aku manggil siapa?"

Wanita yang mulai terganggu, mengambil kelapa muda. Sangat terampil mengupas dengan golok.

"Panggil saja, Roy!” nadanya jelas sambil meletakkan Nokia Lumia 1020 di atas meja.

"Oh, aku Rahma," timpanya, menyelipkan dua buah sedotan.

"Berapa?"

"Lima ribu rupiah saja." 

Roy berdiri dan memberikan uangnya lantas pergi sambil membawa es degan.

"Dasar lelaki aneh datang-datang seperti monster!" 

Perempuan yang baru menerima selembar uang. Beralih komat-kamit, jengkel. Roy yang saat itu baru berjalan 3 langkah mendengar kata-kata Rahma sontak berbalik 180ΒΊ dan melemparkan es degan ke arah perempuan berambut ikal itu. Serta membuat beberapa pelanggan kaku.

"Woy! saya gak mukul sampeyan, kenapa  ngelempar gak jelas!"

"Nah, 'kan elo yang cari gara-gara sama cowok ganteng sepertiku."

"Lebih ganteng monyet."

"Sialan!" Hampir saja tangan Roy mendarat di pipi Rahma yang eksotis. Sebuah tangan menahannya.

"Santi!"

"Iya, lebih baik kita cabut dari tempat kumuh seperti ini,” sorot mata yang tajam menarik lengan kekasihnya. Sementara Rahma sibuk membereskan lantai dan acuhkan mereka. Lemparan tadi meleset, namun membuat lantai becek. Alas yang hanya sebuah gundukan tanah. 

"Aku mencarimu, ternyata di situ bersama cewek kampungan.

"Maaf Say. Tadinya aku memesan es degan buat kita berdua. Eh, dia cari masalah denganku. Awas saja dia muncul lagi!" 

Roy sudah sangat jengkel, bahkan baru yang tak berdosa pun dianiaya. Di tendang. Gumpalan kesalnya membuat moodnya ingin pulang saja. Padahal moment di pantai masih sebentar. Santi pun setuju dengan rayuan Roy yang begitu dasyat. Merangkul menuju parkiran.

~*~

"Huh, capek banget! Nemani Santi, sekarang waktunya istirahat. Entar malam time for Eka," ujar Roy dalam hati sambil merebahkan badannya. Seringai kecil terselip di antara dua rahang yang keras.

Di tempat yang berbeda, Rahma masih kesal dengan perlakuan Roy. Dia memilih tempat yang sama, saat Roy duduk. Ketika akan menjatuhkan diri ke kursi. Santi melihat ponsel mewah di atas meja.

"Rahma, itu ponsel siapa?" Suara ibunya tiba-tiba mengagetkan Rahma.

"Anu, mungkin punya Roy."

"Roy? Pacar kamu?"

"Hah, Aku punya pacar seperti monster?" 

Kemudian ponselnya berdering, incoming call dari Eka. Tanpa sedikit ragu. Tangannya sudah menempelkan pada telinga.

"Halo? Ini siapa?" 

"Ini siapa!" Suaranya terdengar menggelegar ke telinga Rahma. 

"Ini Eka ya?"

"Lah, kamu kok tahu namaku? Ponsel Roy kok sama kamu?"

"Anu, ketinggalan!" Tut ... tut ... tut .... Tiba-tiba sambungan putus, ponselnya mati.

"Huh, ponsel kampungan!" seraya meletakkan kembali. 

Ibunya tercenung, melihat ekspresi Rahma. Wanita dengan bibir tipis terlihat tegang. Rahma berusaha meyakinkan ibunya, bahwa Roy akan menjemput ponselnya. 

Bagi seseorang yang memiliki waktu padat, melayani pembeli. Selalu memikirkan waktu di hemat. Membiarkan Rahma kini hanyut dalam lamunan.

Pengunjung mulai sepi, malam telah merenggut siang. Ombak seakan teriak, memanggil temannya. Rumah Rahma berdekatan dengan warung mungilnya. Seakan bisa tidur dengan melodi laut. 

Andai saja engkau masih ada. Mungkin aku masih bisa tertawa denganmu. Mencari kerang bersama. Membuat hari-hariku menjadi hangat. Juga menemani ibu. 

Hari telah berganti. Rahma pergi ke tengah laut yang surut. Kerang-kerang dimasukkan ke ember kecil. Ember berdiameter 30 cm. Mengambang di laut. Meski diberi beban.

Baru saja, mengangkat ember. Terdengar  sahutan keras, samar-samar. Rahma mendongakkan kepala. Dilihatnya lelaki berpostur tinggi. Dengan dada datar. Wajah oriental. Sedikit menjengkelkan. Diam-diam Rahma kagum. 

"Iya, kembalikan HP-ku, pencuri!" 

"Hei, jangan sembarangan ngomong! Jelas-jelas kamu yang pikun sama ponsel!"

Rahma mulai menuju asal suara. Membawa beban kerang yang tidak terasa berat.

"Hei, gara-gara kamu Aku putus dengan Eka. Semalam dia nyamperin rumah, menampar pipi mulusku ini. Lucunya, Santi juga datang mengambil majalah yang ketinggalan. Rekor muri sepanjang sejarah playboy, sudah diraih. 2 kali cap 5 jari. Puas!”

Rahma hanya memegang perutnya. Mulai tertawa mirip nenek sihir. Dilepasnya kerang yang banyak. Sebagai ucapan maaf. Rahma siap menemani sang Play Boy.

"Sini, mendekat lihatlah kepiting itu. Aku akan menangkapnya untukmu,” ada sorot binar dari wanita yang berbulu mata lentik.

"Coba saja kalau berani," Roy melipat kedua tangan di depan dada. Roy melihat tangan cekatan gadis yang menurutnya juga manis.

"Yeah, ini buat kamu!" Rahma melemparkan ke arah Roy. Tepat di bahunya sang kepiting ukuran sedang mencapit bajunya. Alhasil dia menjerit, lari pontang-panting mengejar Rahma. 

"Hei, cewek aneh ini ambil saudaramu!" Melihat Roy yang ketakutan, Rahma menghampiri. Lagi-lagi senyum lepas hadir di antara mereka.

"Oke, kita akan panggang nanti sore! Gimana kalau sekarang kita beradu mendayung ke tengah laut?" 

"Siapa takut," kata Roy sambil meletakkan barang-barang yang melekat di saku ke atas pasir.

"Itu perahuku, dan ini perahumu,” tangan Rahma menunjuk ke arah Perahu yang ditambatkan di bibir pantai. 

"Are you ready?" tantang Roy. 

"Ready," jawabnya mantap.

Mereka mendayung di lokasi sedikit jauh dari objek wisata. Sunyi yang terasa, deburan ombak menghantam karang. Semakin menantang adrenalin mereka. Matahari mulai menyengat. Seolah tak ada. Tiba-tiba perahu milik Roy oleng, dan Roy terjebur ke dalam air yang mulai pasang. 

"Tolong ... tolong ...." Rahma segera mungkin mendayung ke arah Roy dan berusaha menaikkan ke perahu. Namun, sayang Roy malah mengguncang perahu Rahma dan gadis berkulit coklat ikut terjebur juga. 

Roy tertawa kencang. Ini hanya rencana balas dendam. Saat kepiting keras mencapit. Lelaki yang memiliki alis tebal, diam-diam kagum dengan sosok sederhana Rahma. Tidak marah meski dikerjai.
"Haha, wajahmu pucat. Takut kehilanganku?"

"Jangan bercanda, ini tidak lucu. Ayo bantu aku menarik dua perahu itu,” bibirnya mengerucut, kesal. Rahma menarik perahu-perahu kayu, mengamankan kembali.

"Au, sakit."

"Kenapa?" Roy berhenti  tertawa.

"Lihat, sesuatu menancap di kakiku." 

Darah mulai mengalir dari telapak kaki Rahma, sebuah duri. Bekas babi laut, telah menancap cukup dalam, hingga tak mampu berdiri. Roy tak tega melihat temannya. Menggendong ke rumah Rahma. 
"Lukamu parah! Sini Aku obati, rumahmu tampak sepi." 

"Au, iya ibu jualan di warung, sakit tahu!"

Kaki Rahma terbalut dengan perban dan masih berjalan pincang.

 "Aku boleh, gak ngomong sesuatu?" Roy mendekati Rahma di beranda rumah.

"Apa? Katakan cepat! Janjiku masih belum lunas kepadamu." Janji Rahma untuk menemani seharian. 
"Iya, sebenarnya aku lupa kalau sekarang ada janji sama teman."
"Aku pikir ada apa," diam-diam Rahma telah berharap. Lelaki ganteng akan menyatakan cinta. Debar-debar kecil mulai menyeruak. Ada rasa ingin mendekapnya.

"Aku pulang ya, aku janji sore nanti aku kembali." 

"Oke," balas Rahmah sambil menahan sakit.

Suara Ninjanya meraung, melesat. Tak terdengar lagi. Rahma hanya menatap matahari. Perlahan membuat air laut kembali menyusut. Ia menanti kedatangan Roy. 

"Aku jatuh cinta? Entahlah." Kakinya yang diperban tidak terasa sakit lagi. Duduk di bawah pohon kelapa dan melempar batu ke arah laut. Beberapa jam kemudian menanti, namun tak ada kabar. 

~*~

Suara benturan keras yang membuat orang-orang berkumpul Rahma yang penasaran juga bergabung. Ternyata seorang lelaki sepeda Ninja. Berlumuran darah. Di tangannya ada kantong plastik bermotif bunga. 

Rahma memungutnya, sebuah kado, seperti bungkusan kecil. Ada kertas terselip di antara pita. Orang-orang sudah mengeksekusi Roy. Mata Rahma menatap nanar. Hatinya lebam. Tadi, pagi masih bersama. Kini tergeletak. Dengan darah mengucur. Tidak tahu pasti keadaanya. Rahma tak bisa mendekat. Beberapa saat, petugas sudah menutup dengan koran. 

Tangis Rahma pecah. Kini Rahma merasa seorang diri. Di tengah keramaian. Tangannya masih meremas kertas. 

"Aku telah jatuh cinta kepada sosok gadis yang menyebalkan namun membuatku rindu. Cinta itu begitu cepat, aku telah yakin dan tak akan pernah mengulangi kesalahanku yang lalu. Maafkan aku, sebenarnya aku telah jatuh cinta sejak kita masih berusia 8 tahun. Namaku Rangga Roy, aku baru sadar kalau kau adalah Diana Rahma yang aku cari. Diana, maukah kau menjadi kekasihku dan menemani hari-hariku bersama mentari? Anggukan kepalamu, jika kau setuju. Ini, aku belikan ponsel yang kau impikan. Dan itu cincin pertunanganku. Tetaplah di sini bersamaku. Karena kau matahariku dan aku bunga matahari. Cintaku seperti bunga matahari yang tak pernah berpaling dari cahayamu. Aku mencintaimu, Diana Rahma. Salam cinta, Rangga Roy." 

Seketika, Rahma meletakkan sepucuk surat itu. Dirinya berlari menuju lelaki yang tak bernyawa. Memeluk jasad Roy.

“Tidak, jangan pergi Roy!" Polisi mulai datang dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Menarik Rahma untuk tak mendekati Roy.

Meski berat, Rahma meninggalkan Roy. Menatap mentari yang perlahan hilang ditelan laut.
~TAMAT~

*Cerita ini ditulis karena ada lomba di SC. Sebagai cerpen romans perdana yang saya buat 3 tahun silam. Terlepas dari ide yang terlalu aneh. Saya tetap cinta sama cerpen ini. Semoga terhibur. :)

Tuesday, November 8, 2016

Emak, Aku Mau Jadi Apa?

0

​Cita-cita masih kecil ingin menjadi dokter, guru, artis, penulis, dan ahli bahasa.

Saat usia menginjak 20 tahun aku sendiri bingung akan menjadi apa. Aku dilarang keluar. Tak paham alasannya apa.

Kalau aku diizinkan untuk egois dan hanya maunya aku sendiri. Aku bisa saja pergi lagi. Mencari jalan itu sendiri. 
Aku tahu itu salah satu perjuangan untuk meraih impian aku. Tapi, aku sadar aku terbelenggu. Dengan alasan yang tak bisa dijabarkan.


Apa yang aku tunggu?




Aku tak sedang menunggu siapapun, aku hanya ingin menjemput impianku. 
Barangkali mereka hanya berpikir aku pemalas, penakut dan pesimis.
Aku pikir, aku bingung. Tak menemukan teman diskusi yang mantap. 
Aku sendiri tak tahu ini sudah benar atau salah.

Aku ingin teriak sekarang
.
Tapi, Izinkan aku berkata. Aku ingin seperti mereka.

So, sad. Ya Allah tabahkan aku. Biarkan mereka berbicara panjang kali lebar. Mereka tak tahu rintangan aku. 
Jadi, aku tak perlu menjelaskan dan meminta pendapat mereka lagi. 
Aku hanya ingin membuang unek-unek ini, kemudian melupakan. 

Hahahahah 🐣

Setiap bulan pun banyak kejutan yang tak tertebak. :) Keep smile.
Aku pernah bertanya kepada orang yang paling aku percayai. 
"Mi, aku mau jadi apa?"

"Jadi orang!"

"Nah, maksudnya cita-citanya?"

"Jadi orang yang shaleh!"
Aku tertegun sesaat. Setelah itu aku sadar, bahwa aku harus menjadi orang yang tegar dan lebih punya prinsip yang tangguh. Tak hanya bisa berprestasi di dunia. Namun, bekal untuk akhirat. 
Semangat! Semangat. Tetap tersenyum.
Gak usah dibaca, ya! :v

Sunday, November 6, 2016

Tutorial Obati Patah Hati

0

​Setiap orang yang berani jatuh cinta akan merasakan patah hati. Hati yang patah terkadang susah diobati. Namun, aku sudah banyak riset dari teman yang sering patah hati. Mereka biasanya pergi ke karaoke, hang out, makan bareng, nonton film dan ada yang menyendiri. Tapi, setelah selesai bukannya lebih tenang. Biasanya masih murung sampai hari yang tak ditentukan. 

Patah hati? 😭😭😭 Hari ke-enam aku lewati. Rasanya ya begitulah. Namun, usiaku sudah bukan ABG lagi. Jadi, patah hati dengan cara elegan. Aku sedikit share, jika suka bisa diterima atau diterapkan. Kalau gak suka boleh di-skip. Mudah-mudahan bisa membantu. 😊 *Hanya cocok untuk kaum hawa. πŸ˜‚πŸ˜‚

  1. Pertama kali yang aku lakukan. Aku mencubit tangan, merasakan kulit yang sedikit ngilu--ternyata sakit. Ini bukan mimpi! Aku merasakan itu nyata, sakitnya tak seberapa dengan sakit di hati.

  2. Siapkan tisu yang banyak, tumpahi ingus dan airmata. Hati luka terasa plong abis nangis. Percaya deh, setegar-tegarnya manusia pasti akan menangis. Entah menangis bahagia atau malah patah hati. Rata-rata perempuan lebih sering menangis daripada laki-laki.

  3.  Matikan sosmed. Takutnya malah curhat Gak Jelas. Hingga maki-maki orang bikin masalah baru deh! Suasana yang buruk tidak diharuskan membuka sosial media. Apalagi kalau melihat foto mantan yang numpang lewat di beranda. Sakit! *Yang jelas aku nangis sambil ngaca. Busyett jelek amat wajah di cermin. Semoga Jin Iprit kabur.

  4. Kabur ke kamar mandi, mengusir setan dengan guyur air.Emosi yang meluap merupakan jalan masuk setan. Pasti dia bakalan ngomporin terus. Setan itu panas karena api, maka jinakkan dengan air. Bagi muslim bisa berwudhu.* Mau tengah malam pun, aku pasti lakukan. Gak perlu kembang 7 rupa. 🌸🌹🌼 

  5. Jika tak ada bahu untuk bersandar, masih ada sajadah yang siap menjadi tempat bersyujud. Sembari intropeksi diri, kesalahan yang membuat hubungan berakhir. Memang tak ada istilahnya pacaran. Mungkin dipisahkan untuk menjadikan pribadi yang lebih tangguh. Mungkin patah hati karena terlalu banyak berharap dengan si-Dia. Hoby stalking yang ternyata si dia malah gak tahu. Eh, ujung-ujungnya nikah sama orang lain. Doakan saja semoga langgeng. Namun, patah hatiku kali ini karena (rahasia). Dosaku mungkin banyak, jadi ditunda deh acara akad nikahnya. 😿 Berbicara dengan-Nya melalui Al-Quran bisa membuat hati sejuk. Entah rasanya adem kalau dekat sama Pemberi Jodoh. (Mungkin) dia bukan jodoh terbaik. Berpositif thinking.

  6. Istirahat sejenak, membiarkan otot yang menegang melentur. Biarkan memori otak menguapkan tentang dia yang tak bersama kita lagi. Tidur salah satu sarana refleksi pikiran dan jiwa. Aku akan tidur, berharap esok pagi aku lupa kejadian ini. 

  7. Energi untuk nangis, untuk berpikir terkuras. Memang tidak berselera untuk makan. Paksakan! Daripada lambung luka. *Cari makanan di dapur. Entah apa pun aku makan. Asal bukan makan kecoak yang mirip kurma.

  8. Luapkan rasa itu, jangan disimpan bisa menorehkan pada hobi masing-masing. Boleh olahraga, jogging, berenang, menulis, membaca, nonton, piknik, mendaki, traveling, main sama anak kecil atau shopping. *Aku curhat panjang lebar, lebih panjang dari rel kereta api. Tapi aku curhat sama buku diary.

  9. Menjalin hubungan baik dengan semua orang termasuk orang yang membuatmu patah hati. Jika beresiko, lebih baik jaga jarak. Hilangkan sifat benci, lebih baik memaafkan. Ikhlaskan, hati yang menerima akan lebih cepat kembali baik.

  10. Think positive! Setiap manusia sudah diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan jodoh kita ditulis sebelum kita lahir. Perbaiki diri dan pengrangai kita. Pasangan yang baik akan hadir suatu saat. Scenario paling indah adalah rencana Allah. Kita bahkan tak tahu rencana satu detik lagi.


 Itu salah satu tutorial mengobati hati yang luka. Bisa diambil beberapa poin. Boleh dipakai semua, boleh didaur ulang. Semoga hati yang patah bisa kembali utuh. πŸ’”πŸ‘‰πŸ’– .... 😊 
Salam Baiq Cynthia

Monday, September 26, 2016

Kau dan Aku laksana Clownfish dan Anemon

0



"Jika engkau adalah Clownfish maka aku akan menjadi Anemon.

Tak satupun boleh menyakitimu, hanya aku yang bisa melindungimu dari taring-taring predator.

Cerah warnamu menghiasi hati yang telah lama membeku. Saat pasir mulai membenamkan, engkau selalu hadir membuatku berdiri tegak.

Jika engkau menjadi ikan badut, akulah tempat persinggahanmu."

Sunday, September 25, 2016

Hijrah Cinta

0

Pertama jatuh cinta itu. Rasanya aneh, setiap berjumpa harus salah tingkah. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi, hanya diam yang bisa dilakukan. Kata orang cinta itu gila, cinta itu buta dan cinta itu segalanya. Tapi, menurutku cinta itu semu. Tuhan memang menganugrahkan cinta. Cinta bisa menjadi hal yang terindah. Saat cinta memberikan kebahagiaan. Tak hanya di dunia juga di di dimensi keabadian.