Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Review Mini Novel “MANTAN” karya Bey Tobing

Holla, Baiq kembali menyapa kalian, nih. Sebenarnya hiatus 33 hari itu tidak membuat kita benar-benar bahagia. Pasalnya selalu pengin stalking medsos mantan, cie ... karena mau mantau status manten juga jadi manten. Gara-gara status yang lagi viral nih. Mereka yang pasang status jika komentar tembus 1000 akan mengganti profil medsos dengan foto mantan. Yakin sudah move on?

Di Tanah Lada-Ziggy Z

Pertama kali saya dibuat kagum jika menemukan anak kecil yang cerdas, entah karena berhitung cepat, bisa bahasa Inggris atau menguasai bahasa Asing lainnya. Tetapi, ketika bertemu dengan sosok yang masih sangat kecil untuk mengerti sebuah kehidupan yang runyam dalam lingkungannya, itu saya dapatkan dalam kisah Di Tanah Lada. Novel yang menjadi pemenang ke-2 di Sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014.

#30HariNgabuburead

#I_Jakarta

Jodoh memang benar rahasia dari Allah, tetapi jangan menunggu dijemput sama jodoh, karena gak akan datang sendiri. Sama seperti rezeki, semuanya butuh diperjuangkan dan butuh stok sabar yang cukup banyak. Kenapa jodoh gak datang-datang? Padahal sudah mapan, wajah ya gak buruk-buruk amat, masa depan juga cerah.

Ada banyak permasalahan dalam melewati Bahtera Rumah Tangga, yang perjalanannya tidak hanya dalam beberapa tahun tetapi bertahun-tahun sampai akhir hayat, sampai pada kehidupan yang hakiki nantinya.

Dipersembahkan oleh @Ijakarta
Judul buku : CLAIRES
Penulis : Valeire Patkar
Penerbit : BIP (Bhuana Ilmu Populer)
Jumlah halaman : 384 halaman
Tahun terbit : 2018
ISBN : 978-602-455-366-1
Reviewer : Baiq Cynthia

“Cintai orang yang bisa buat kamu bahagia. Bukan yang bisa buat kamu sempurna. Karena yang sempurna belum tentu bisa buat kamu bahagia. Tapi bahagia selalu bisa buat hidup kamu sempurna.” (Halaman 345).

Judul : One Day in Jakarta

Penulis : Thibault Gregoire


Penerjemah : Ken Nadya


Penerbit : KPG (Kepustakaam Populer Gramedia)


Tahun Terbit : 2010


Jumlah halaman : 150


Peresume : Baiq Cynthia



Bagi penulis review merupakan bentuk apresiasi yang dinanti. Berikut review yang dibuat oleh penulis "Cinta di Tujuh Keajaiban Dunia" salah satu terbitan Arsha Teen dalam proyek tantangan menulis (TAT S4) yang diadakan kurang dari sebulan.

Nindya VanHelwill M merupakan nama akun media sosial facebook, memiliki nama pena Nindya M. Ia juga salah satu Mahasiswi Institut Pertanian Bogor. Setelah dirasa cukup dengan profil singkatnya, mari kita telaah ulasan singkat darinya, yang sekaligus merangkum dari sepuluh cerita tentang psikopat dalam buku berjudul DARAH.




Review Kumcer "Darah"



Beberapa hari yang lalu gue menerima paket buku kumcer berjudul "Darah" dengan tagline 10 Kumcer Psikopat. Oke, kita garis bawahi kata "psikopat". Itu adalah alasan pertama gue beli buku ini. Ada 11 cerpen yang ditulis oleh lima penulis berbeda.



Review gue? Hmm.. sejujurnya, gue gak banyak mendapatkan apa yang diharapkan. Ya.. kalo dipersentasikan, tidak sampai 50%. Sebetulnya kumcer ini bagus, semua ceritnya bagus dari segi penulisan yang rapi, mulus dan cantik bahasanya. Tapi kembali ke garis besar tema "psikopat", gue rasa gak semua cerita sampai ke tema itu. Plus ending yang bisa ditebak (ini relatif sih, tergantung seberapa banyak cerita dengan tema sejenis yang kita sering baca).



Beberapa tokoh yang seharusnya menunjukkan sosok psikopat kurang sampai rasanya. Psikopat adalah sosok yang manipulatif, cerdas, tidak memiliki empati, cenderung anti sosial dan tidak pernah merasa bersalah karena konsep penilaian kemanusiaan yang berbeda dari orang lain.



Contoh karakter psikopat yang 'dapet' dan gue sukai adalah : Prakash (Bisikan Batu-Batu). Konsep pemikiran seperti dia yang membedakan antara psikopat dan pembunuh biasa. Lalu Celsa (Celsa) dan Vigra (Jodoh Untuk Papa) yang sosoknya manipulatif, pendendam dan menghanyutkan.





Lalu ada beberapa cerpen yang lebih jatuh ke Dark Comedy daripada thriller, seperti Keluarga Pak Yanto dan Patung (tergantung juga sih, tergantung selera humor kita, kalo dipaksakan selera humor gue, hampir semuanya punya sisi dark comedy, tapi ya dua itu yang menurut gue paling dominan).





Kelemahan sebagian besar di cerpen-cerpen buku itu sebenarnya terlalu banyak mendeskripsikan latar belakang, tapi eksekusi di klimaksnya kurang. Kurang mencekam, kurang 'dingin' dan kurang menggambarkan sosok psikopat itu sendiri. Tetapi buku ini ditutup oleh dua cerita yang menurut gue dapetlah feel 'sakitnya' yaitu (Daging untuk Rania dan Jodoh untuk Papa).





Overall, kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan ringan dengan tema yang 'berbeda' dari kebanyakan buku-buku (apalagi di jaman cerita demam CEO tajir dan perempuan kelas karyawan biasa lagi menjamur dimana-mana). Cukup menghibur, tapi lebih ke dark comedy ketimbang thriller itu sendiri.



Oh ya, satu lagi, semua kumcer ini memang menceritakan sisi tergelap manusia, keserakahan, dendam, ilmu hitam, dan kondisi mendesak yang memaksa seseorang untuk 'memenuhi kebutuhan'nya. Menarik. Terkadang monster itu sendiri memang hidup di dalam diri manusia.



Sangat senang rasanya bisa membaca review singkat yang sangat mendalam pembahasannya. Terlepas dari pemikirannya yang mengambil dari sudut pandang pemikirannya sebagai pembaca. Itu sangat wajar, karena intensitas bacaan tergantung jumlah bacaan yang sudah dinikmati. Kebetulan Nindya M salah satu penyuka buku ber-genre seperti DARAH.



Apa pun itu, itu hak pembaca untuk menilai buku. Penulis hanya ingin menyampaikan pesan tersirat dalam tulisannya.



Alhamdulillah, terima kasih sudah berkenan memberikan review yang KEREN!



Salam literasi.
Aku tidak benar-benar tahu arti melupakan. Melupakan sama dengan mengingat, bahkan saat seseorang yang sudah susah payah dilupakan akan selalu muncul ke permukaan.



Novel ringan ini sungguh mengaduk-aduk emosi. Penulis begitu pandai bermain sudut pandang aku secara bergantian dalam setiap tokoh.
Tapi, saya merasa ada beberapa bagian yang terlalu mubazir. Seperti pengulangan kisah yang dituturkan dalam sudut pandang 'aku' tokoh lain.

Ciamik novel setebal 132 halaman mampu membuat pembaca menerka-nerka apa yang akan terjadi. Ternyata endingnya tidak seperti terkaan saya. Selamat menerka-nerka.
Membaca novel ini hanya butuh satu jam 19 menit. :)
Kutipan yang memikat bagi saya, "Jika cinta selalu membuat belenggu untuk kita dan membuat kita tersiksa, saya kira itu tidak baik."

Terakhir, baca novel Unggulan Sayembara mengarang novel remaja 2005. Novel ini terbit kembali 15 Juli 2014. Sangat rekomendasi bagi pencinta novel remaja.



Selamat membaca. Jangan lupa manfaatkan aplikasi IJakarta. 



#Ijakarta

#bookreviewer
Keterpurukan bukan sebuah akhir. Bisa jadi awal yang tidak disangka-sangka. Setiap orang memiliki jalan tersendiri untuk menyematkan perasaan kalut, kekesalan, pencarian jati diri pun perhatian. 
Jingga dalam Elegi, lanjutan dari novel sebelumnya Jingga dan Senja. Benar-benar menguras emosi pembaca. Penulis sangat lihai memainkan karakter kembar identik yang memiliki perbedaan juga ciri khas. Alur yang begitu kuat, ditambah penggambaran latar turut menyuarakan tokoh. 

Ciri khas lainnya, novel ini meski pembawaan santai, tetap fokus dengan isi cerita. Sebagaimana cerita remaja, yang penuh drama, melankolis. Tapi, berbeda dengan gaya-gaya sinetron. 



Konflik yang ditawarkan memikat, tidak membuat pembaca terlalu tegang atau jengah. Sangat rekomen untuk pecinta teenlite, juga karya pop. 

Jangan lupa koleksi ketiganya! Bisa juga baca gratis di aplikasi e-book (Ijakarta).



#SalamLiterasi
Penulis memaparkan dalam Iftitah novel manis yang sarat pendidikan ini merupakan hasil tadaburnya pada Al Quran surat At-Taubah ayat 74: "Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi."



Buku berjudul Istighfar Cinta sebuah novel Pewaras Hati karya Mulyanto benar-benar memberikan inspirasi jiwa untuk senantiasa menggantungan diri kepada yang Maha Memiliki juga Maha Menerima Taubat.

Ria Melisa si teller bank swasta, sebagai wanita karier--hobi shopping sudah menjadi bagiannya. Menghabiskan waktu untuk hura-hura. Tak terkecuali mendekati lubang lumpur yang sangat dilarang—berpacaran berujung zina. 
Allah menitipkan janin di rahim Ria. Tetapi, saat itu hidayah juga datang. Kasih sayang Rabb yang mengucur pada hambahnya. Termasuk jodoh untuk Ria.
Bagai bunga seruni, tersenyum merekah bersenandung pada kumbang untuk mendekatinya. 

Tak ada bayangan untuk membunuh segumpal darah yang tak berdosa. Ria terus mendekatkan diri, memperbaiki hati. Hingga si cabang bayi akan memiliki seorang Ayah. Meski bukan ayah kandungnya. 
Ini bukan akhir segalanya, justeru menjadi tantangan awal untuk seseorang yang menyatakan cinta kepada Ilahi.

 




Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [Âli ‘Imrân/3: 186]



Petik hikmah dalam buku yang penuh hikmah. Sedikit berkaca manik mata saya, seusai membaca kisah penuh inspirasi. Membaca novel ini laksana menonton sebuah film fenomenal. Saya sangat setuju jika buku ini kelak difilmkan. Meski nantinya akan ada perbaikan di beberapa bagian. 

Selama membaca novel yang sederhana, sangat memikat karena ukurannya yang tidak terlalu tebal. Sekali mendaras akan tandas. Bisa menjadi teman saat perjalanan. 

Novel ini benar-benar mengedepankan nilai-nilai agama. Maka tak salah judulnya Istigfar Cinta. Setiap halaman mengajak pembaca untuk merenungi arti hidup. Hidup yang tak hanya tentang hakikat duniawi tetapi juga ukhrawi. 

Berisi juga tentang parenting, bagaimana mendidik anak secara tak langsung saya mendapatkan ilmu. Setiap bayi terlahir seperti kertas kosong. Hanya orangtua yang menentukan akhlak dan agamanya.
Sangat menyayangkan, plot yang terkesan cepat. Alternatifnya, hati ikut membaca selain pikiran yang mengolah. Saya menyukainya! Sangat rekomended bagi yang ingin berhijrah namun masih belum percaya diri. Bahwa Allah menerima hambah-Nya yang bertaubat. 
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri (QS Al-Baqarah [2] : 222)

Salam ukhwuah. 

Situbondo, 

Jumat, 13 Oktober 2017

Pereview : Baiq Cynthia

Judul : Istigfar Cinta, Novel Pewaras Hati

Penulis : Mulyanto

Penerbit : Kota Tua

Cetakan  : Pertama, Maret 2017

ISBN : 978-602-61136-6-5
Saat bising, ingar-bingar kemacetan mengusik ketenangan. Berbisik untuk melangkah lebih jauh. Saat itu kaki terus berpijak. Meski ribuan kilometer pun akan dikejar. 

Posisi aman, karier mapan, berada pada zona nyaman. Namun, membuat jauh dari pemberi karunia. Itu bukan hanya sebuah dilema. 

Tak selamanya hidup mewah akan membuat harmoni, terkadang kebahagiaan yang hakiki; hampa. Jiwa meronta mencari hakikat kehidupan sebenarnya.



Jannah memutuskan hijrah. Meninggalkan kelakuan ‘jahil’. Memulai semua dari titik nol. Bahkan minus. Pilihannya jatuh pada mengasingkan diri. Mencari Ridho Allah. 

Sebagai istri full-time on job. Bersusah payah berbagi waktu, untuk menjadi teladan untuk buah hatinya. Suaminya yang sakit keras. Mengukuhkan hatinya untuk survive

Duh, berat sekali ya pekerjaan ini. Walaupun aku merasa sudah siap mental, kok terasa juga beratnya. Kalau Ibu, saudara-saudara, dan teman-teman di Tanah Air melihatku, apa kata mereka? Dulu manajer perusahaan raksasa, sekarang jadi tukang cuci baki di toko sayuran, Jannah Membatin. (Halaman 89)

Hukum no work, no money; every second counts. Tak bekerja tak ada uang, setiap saat. Membangun pondasi tawakkal dan ikhlas. Berupaya menjadikan diri selalu dalam naungan-Nya, meski berat tak terkekalkan.

Ketidaknyamanan akan dilewati. Getir yang dirasakan akan tetap dikunyah. Bagi Jannah, untuk pertama kali di Vancouver. Masa adaptasi di bawah zona 0, menjadi pelecut untuk bertahan. 

Kisah Jannah tak hanya tentang kesulitan, novel autoubiografi menghimpun tips Permanent Resident dan survive di Canada. Menjadi imigran yang mengumpulkan semangat dalam dekapan ridho-Nya.

Membaca setiap gulir jejaknya, tak ubahnya membaca kisah Sri pada novel Tentang Kamu-Tere Liye. Sama-sama berani mencoba hal baru, belajar dari kesalahan. Siap mengambil segala konsekuensinya. 
Menyiapkan mental untuk menghadapi hal buruk lebih sulit dibanding menerima hal yang menyenangkan. Prepare for the worst, hope for the best, kata pepatah. (Halaman 120)

Gaya tulisannya santai, tapi penuh dengan gambaran harmonis antara doa dan ikhtiar, ilmu dan amal, serta kerendahan hati. Saya masih menunggu kelanjutannya! (Satriyo Boediwardoyo, Pengajar dan penerjemah lepas Bhs. Inggris)

Saya sependapat dengan beliau, diksi yang sederhana. Sarat makna yang memotivasi. Terlepas dari terlalu banyak menyematkan kalimat berbau Inggris. Bagi yang suka sekali dengan bahasa asing, akan mudah menyerap. Tapi, bagi yang ingin mendalami bahasa Asing mendapat ‘ilham' membuka kamus. Seperti judulnya yang berbahasa Inggris, menambah semangat untuk mempelajari bahasa Internasional. 

Dikemas dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu. Merangkul pembaca mencicipi indahnya survive. Berkelana di padang tanpa mata air. Bernaung pada Kasih Sayang-Nya. 

Terkadang mata hati baru terbuka dan menyadari hikmah dari sebuah kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan lama setelah waktu berlalu. Namun, tak jarang banyak yang kurang peka atau enggan menghubungkan sebuah kejadian sebagai hikmah atas peristiwa sebelumnya, yang sejatinya merupakan takdir yang lebih baik darinya. (Halaman 194) 

Novel setebal 216 halaman mampu menggoncang kesadaranmu. Tentang jatah waktu yang engkau habiskan. Tentang sebuah pencarian diri. Tentang keadaan yang harus disyukuri. Tentang bertahan--Survive.

Blurb:

“Bapak tidak keberatan bila dilakukan tes HIV atau AIDS?” tanya dr. Arief hati-hati dengan suara pelahan. Jannah tercekat, jantungnya serasa mau lepas. Dipandang Ihsan, suaminya yang semakin kurus kering. Bayang-bayang menjadi janda dengan dua anak kecil sontak menari-nari di benaknya. 

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula; begitulah rumah tangga Ihsan-Jannah yang digulung rangkaian cobaan. Keluarga mapan ini akhirnya memilih jalan keluar yang terbilang nekat: pindah ke Kanada, negara maju yang menghargai imigran dan penduduk muslimnya. Mimpi-mimpi dan cita-cita mereka melecut keberanian menjalankan keputusan besar itu. 

Sungguh tak mudah memperjuangkan nasi di negeri orang. Dari seorang chief accountant, Ihsan beralih profesi jadi tukang bersih-bersih di pabrik wafel. Dulu menjabat sebagai manajer perusahaan raksasa, Jannah harus berjibaku menjadi salad bar girl  dan kasir dollar store. Mereka menjalani survival job seraya mencari jalan yang lebih baik. 
Novel yang terinspirasi kisah nyata ini mengusung semangat dan optimisme menghadapi rintangan hidup. Keimanan, keteguhan dan perjuangan tanpa keluhan tersaji apik mengajak kita turut berselancar di atas gelombang kehidupan.

~*~

“Membaca karya Rini Hidayat ini, bagi saya bagaikan membuka lembar-lembar buku Laa Tahzan dalam versi novelnya. Di mana konsep hidup tanpa menyerah, tak larut dalam kesedihan masa lalu, tak gentar menghadapi masa depan, bekerja yang terbaik untuk hari ini, bersyukur, bersabar serta tawakkal dan rida pada Allah mengalir deras tanpa terasa. Dan doa adalah senjata utama kala hidup terasa sempit.” – Ustaz Samson Rahman, M.A. Penerjemah buku fenomenal Laa Tahzan
*) Terima kasih yang tak terhingga, saya haturkan kepada Mbak Rini Hidayat. Yang telah mencurahkan buku inspiratif dengan cover yang Apik! Alhamdulillah, suka sekali dengan kisahnya yang begitu istimewa, Surviving Canada.
Reviewer : Baiq Cynthia

Info buku: 

Judul : Surviving Canada

Penulis : Rini Hidayat

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2017

Jumlah Halaman : 216 Halaman

No. ISBN : 978-602-03-3693-0
Senang rasanya bisa membaca buku ini, sejak membaca pengumuman terpilihnya novel ini menjadi juara utama. Saya langsung jatuh cinta. Alhamdulillah, berkat give away yang diadakan langsung oleh penulis dan penerbit. Saya, diberikan kesempatan yang luar biasa--membaca karya Aster untuk Gayatri. 

~*~



Novel pilihan juara pertama lomba Novella Mazaya Publishing House 2017. Membuatku terpikat sejak pandangan pertama. Covernya seolah merayuku, untuk menjamahnya.

Buku yang ditulis dengan bahasa mendayu-dayu, syahdu. Berhasil membuat pembaca terpaku, khususnya saya. Puitis namun berisi. Penulis lihai dalam mengolah kata. Setiap tangkai kata aster seolah mewakili kisahnya. Gayatri.

“Akulah asternya,” bisik Gayatri sarat sakit hati. “Aku selalu mengerti kalau tiada seorang pun yang akan memilih aster di tengah rimbun mawar. Termasuk kau.” (Halaman. 110)

Berkisah tentang Gayatri yang telah membuat Giran jatuh hati. Jatuh hati di antara dua pilihan, ada atau tiada. Persamaan latar belakang—luka, memunculkan petasan-petasan kecil dalam perut saat bertatap muka. 

Kisah romantisme dan drama tersisip dalam buku ringan setebal 160 halaman. Pembaca dihipnotis setiap pergantian bab-nya. Oleh sapuan kata-kata.

Tak hanya suguhan kisah yang menyayat hati. Ada beberapa gambar pendukung yang entah tak paham maksudnya. Karena tak ada caption. Turut membangun suasana. 

Setiap bab pun, bagai diiringi nada dalam kata. Puisi yang mem-baper-i. Beberapa kutipan yang menjadi favorit saya;
Telah kubunuh setiap kamu. 

Dalam setiap harap. 

Dan jeri yang terkumpul.

Pada do’a-do'a.

Tak ubahnya timun-timun Jepang. (Halaman 60)


Mencintaimu bagai membasuh basah bola mata dengan air laut,

Lalu

Kalikan sejuta pedih-perihnya. (Halaman 74)

Cinta seorang gadis yang harus dilepas demi membalas budi? Tetapi, hanya persetan cinta yang didapat. Cinta tak ubahnya transaksi. Tak hanya di era daring. Saat rakus mengikis benih cinta--bahkan menumpasnya.
“Dulu, kaulah alasannya untuk tetap hidup. Kaulah alasan untuk tetap bertahan ketika badai kehidupan menggantikannya."(Halaman 127) 

Novel ini sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca. Di mana tiap bab berisi banyak konflik. Alur yang digunakan maju-mundur. Laksana terombang-ambing dalam rolling coster . Jeri pun menyenangkan

Terlepas dari beberapa kesalahan kata, saya tidak merasa terganggu saat membaca. Malahan, banyak kosakata baru yang mulai tertanam dalam neuron.

Aster untuk Gayatri sangat rekomen bagi pencinta bunga maupun cerita romantisme. Kalau boleh memberi rating dari angka 1-5 saya ingin memberi 3.9.

Blurb: 

Telah kularungkan

Kepada Gayatri

Tiap-tiap kesedihan

Jua

Perih-pedih

Masa Lampau
Dan telah kuwariskan

Kepada Giran

Cerita-cerita luka

Tentang rindu

Yang 

Dipandanginya lama-lama

Pun telah kuhidangkan

Kepada kamu

Seorang 

Kisah-kisah tentang 

Apa-apa 

Yang harusnya

Ada

Dan apa-apa

Yang mestinya

Tiada
Judul : Aster untuk Gayatri

No. ISBN : 978-602-6362-35-3

Penulis : Irfan Rizki

Penerbit: Mazaya Publishing House

Tanggal terbit: Cetakan pertama, April 2017

Jumlah Halaman : 160 halaman
*) Ucapan terima kasih yang mendalam kepada penulis yang memberikan kesempatan kepada saya, untuk bisa menggenggam langsung. Meski seperti mimpi. Semoga produktif. Salam literasi. 
Cinta yang hakiki bukanlah cinta yang mudah meraup segalanya sebelum waktunya. Cinta tak pernah salah, hadirnya pun karena fitrah. Kita yang menyalahkan cinta. Mengkambinghitamkan cinta dengan nafsu. Tetapi begitulah cinta. Hadir bagai benang kecil di dada manusia.



Membaca novel karya EL Salman Ayashi Rz, tak lengkap jika tak dibumbui dengan cinta. Gaya bahasanya selalu manja dalam setiap untainya. Beberapa kisahnya hadir dengan konflik yang beragam. Memunculkan tegangan setiap babnya.
Rembulan di Langit Konstantinopel, sebuah novel islami yang dibungkus dengan wadah yang berbeda. Tak melulu tentang kawin-cerai, bukan hanya komitmen sehidup-semati.

Tentang salah satu peradaban islam yang telah pudar. Peradaban yang pernah jaya lebih dari 700 tahun, dibawah perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Negara Turki yang pernah menjadi kiblat islam. Kini hanya menjadi buaian dongeng semata. 

Negara yang dulunya berkibar tentang jihad, sudah tak ada jejak lagi. Selain puing-puing bangunan yang megah. Seperti Masjid Biru yang fenomenal. Lokasi yang berdekatan dengan benua lain membuka dunia barunya. Menjadi peradaban islam sekuler yang dominan. 

Dikisahkan sosok pemuda yang mencari Tuhannya, setelah terbuang dibilik kebun oleh mereka yang tak bertanggung jawab. Yusuf Hasan Ali yang telah lama mentuhankan komputer, sebagai pelampiasan atas nasibnya. Terbuang dari keluarganya. Meski tak tahu apa kesalahannya. Tak pernah melihat wajah asli ibu maupun bapaknya. Hidup dalam ketidaksempurnaan, menutup mata hatinya. 

Allah mahaBesar. Kedatangan ke Negeri batas dua benua, membuka sanubarinya. Selain menghindari kejaran interpol. Yusuf mengaku menjauh dari cinta. Cinta yang tak pernah mempertemukan dengan Ibunya. 

Dunia Hacking tak selamanya kelam. Seperti mereka yang hidup tanpa identitas. Tidur menemani kode-kode rumit. Demi membela ketidakadilan. Bagaimana mungkin, kita bisa tidur lelap. Sementara saudara kita merintih. Bayi-bayi tak berdosa menjadi santapan zionis tak punya hati. Sengketa lahan yang berujung terbangnya nyawa-nyawa suci. Geram. Hatinya tercabik-cabik.

Oum@r Mitnick, nama gelap yang membela atas nama jihad. Peperangan besar-besaran hingga mengunci komputer bom nuklir milik Israel. Menjadi buronan 3 negara Sekuler. Tak membuat jiwanya gentar. Atas kerja kerasnya merentas 20 ribu unit komputer. Ya! Peperangan Cyber

Kisahnya sudah pilu, tapi jiwanya tak bisa putus asa. Ingin membebaskan tawanan yang tak bersalah. Meski hidupnya menjadi taruhan. 

Apakah selamanya wanita hanya menjadi bahan pelampiasan lelaki?” (hlm 231)

Sebuah ironi. Bagi mereka yang tidak bisa memuliakan sosok wanita, berarti tak memuliakan seorang ibu. Memilukan sekali, (pernah) besar dalam rahim wanita. Lantas merusak kehormatan wanita. Tak ubahnya pecundang yang penakut. Lari dan melenyapkan diri, bagai ditelan bumi. 

~*~

Blurb
Karena kegemarannya bermain komputer dan mengotak-atik program, Yusuf mulai jatuh dalam dunia cyber crime. Bahkan, ia harus melarikan diri dari kejaran Interpol hingga ke Turki. Tapi, saat berada di negara sekuler itu, Yusuf justru mendapat hidayah. Dia sudah bertaubat dan tidak lagi menggunakan keahliannya untuk perbuatan kriminal. Dia memutar haluan, memanfaatkan kemampuan hacking-nya untuk meretas situs-situs milik pemerintah Israel dan Amerika. Yusuf membentuk sebuah forum hacker muslim untuk membela Palestina yang dia namakan Cyber Jihad for Palestine.

Di negeri dua benua itu pula, Yusuf jatuh cinta pada Syamaa, seorang gadis Turki yang menjadi kasir di Supermarket. Meski Yusuf tahu cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, ia urung menyatakan perasaannya. Sebab, dia menyadari dirinya tengah menjadi incaran interpol, Mossad, dan CIA atas aksi hacking-nya. Bagaimana nasib Yusuf selanjutnya? Apakah dia berhasil meloloskan diri dari agen rahasia Israel dan Amerika? Bagaimana kelanjutan kisah cintanya dengan Syamaa? Temukan jawabannya dalam novel ini.”

Diksi yang disajikan kental dengan bahasa yang lugas, mengalir dan membuat penasaran. Buku setebal 266 halaman menyimpan banyak rahasia. Membuat pembaca seolah membuka kotak-kotak dalam labirin. Penggunaan sudut pandang orang ketiga serba tahu, membuat pembaca tidak tersesat dalam cerita. Pembaca tak hanya dihipnotis dengan diksi puitis di bagian awal. Beberapa bab terselip humor. 

Sebuah novel islami, jelas isinya mengandung nuansa Islam. Beberapa kalimat tak jarang terselip dakwah.

Hanya saja, saya merasa beberapa terkesan diulang-ulang. Entah tujuan untuk penekanan. Atau penulis memang mensiasatinya, agar pembaca mengingat pesan penting yang disampaikan. Terlepas dari minim typo.

Tidak terlalu kaku, bahasa santai. Tak terkesan tergesa-gesa membawa masalah. Penuh edukasi dan romantis. 

Satu kutipan favorit saya. 

“Senantiasa berjuanglah di kala sempit maupun lapang.”(hlm 103)

Judul                            : Rembulan di Langit Konstatinopel
Penulis                          : El Salman Ayashi Rz

Editor                           : Ahmad Asrof Fitri

Penerbit                       : Semesta Hikmah

Tahun Terbit                : Pertama, 2017

Jumlah Halaman          : 266 halaman

ISBN                           : 978-602-6210-20-3

Book Reviewer : Baiq Cynthia    
           Kutinggalkan dia karena Dia



Pernah diposkan : Blog Indonesia Membaca

Sebuah kumpulan cerita inspiratif, menghimpun kisah mereka yang ingin meninggalkan pacaran. Tujuannya ingin mendekatkan diri kepada Allah. 
Pacaran jelas dilarang oleh agama. Taaruf yang lebih diutamakan. Itu pun ada tata cara tersendiri.
Buku karya @duniahijab & Ririn Rahayu Astuti Ningrum benar-benar membuat saya tersentuh. Ada banyak kisah yang menjadi inspirasi, bagi mereka yang benar-benar ingin hijrah. Kisahnya yang diangkat dari kisah nyata menjadi sebuah hikmah.

Pelajaran yang bisa diambil untuk lebih menjaga diri, menjaga pandangan dari hal yang dilarang. 

Ada banyak kisah yang menjadi tanda, bahwa Allah menyayangi hamba-Nya. Buku yang ringan, pembahasan yang mengingatkan yang pacaran, untuk benar-benar muhasabah diri.
Bagi kaum 'Jomloh' seperti saya, dengan membaca buku ini. Bisa sadar dan makin mantap akan pilihannya. Karena tidak ada yang benar-benar positif dalam pacaran. Kecuali positif maksiat. Naudzubillah.
Semoga dihindarkan. 

Bagi yang sudah siap untuk menikah, memang segera mungkin untuk menikah. Namun, saat belum siap diajurkan berpuasa. Itu perintah Allah.
Allah dengan segala Rahmat-Nya, masih peduli pada hamba-Nya, tak perlu baper saat melihat mereka yang lebih dulu menikah.
Urusan takdir yang satu ini, memang sudah ada ketentuan tersendiri. Di samping buku yang penuh cerita inspiratif, setiap berganti judul selalu disisipi kata bijak. Yang 'ngena' sekali.

 
Saat masih belum ada bahu untuk sandaran, masih ada Dia untuk bersujud.
Memang sudah lama saya mencari buku pinjaman ini. Alhamdulillah, saya menemukan dengan mudah di rak Perpusda. Seolah bukunya melambaikan tangan. Tetapi, perbedaan cover dengan terbitan terbaru. Tidak menyurutkan saya untuk membacanya. 
Terlepas dari minim typo, buku bertabur cerita remaja yang patah hati karena percaya kepada dia daripada Dia. 
Memunculkan sebuah hidayah setiap ending. Hal ini membuat pembaca lebih mawas diri. Bisa berkaca pada peristiwa yang telah terjadi (khususnya) di buku bersampul menarik. Mengingat diadaptasi dari kisah nyata.

Hikmah terbesar yang saya peroleh dari buku kumpulan cerita inspiratif. 
Jodoh adalah cermin diri, semakin memperbaiki perangai. Sang jodoh pun akan lebih baik. Insyaallah, jodoh menjemput pada waktu yang tepat. Di saat hati siap menerima belahan jiwa. 

Selain itu, buku ini memang mudah dipahami tanpa menggurui. Ditulis dengan gaya bahasa popular dan lugas. 
Terakhir, pesan yang saya dapat, "Allah tidak pernah menutup kesempatan bagi mereka yang ingin mempebaiki dan mendekat."
Peresume : Baiq Cynthia

Situbondo, 30 Mei 2017

Judul: Kutinggalkan Dia Karena Dia   

No. ISBN : 9789797959586

Penulis: @DuniaHijab & @ Ummu_Raisha81

Penerbit : WAHYUQOLBU 

Tanggal terbit: Januari - 2015, cetakan 1

Jumlah Halaman : 252

Berat Buku : 250 gr
Hal paling menyenangkan dalam dunia kata-kata. Bisa membaca banyak buku. Sekaligus menuliskannya. Tapi, terkadang perasaan dinamis seperti langkah sepatu yang bersisian. Pasang surut. Tak jarang muncul rasa bosan.


Alangkah menyenangkan I-Jakarta dan Noura Books Publishing kembali mengadakan Reading Challenge. Hastag #MembacaLuka menjadi syarat mutlak. Setelah selesai melalui berbagai syarat lainnya. 

Membaca, bukan hal mustahil dilakukan di mana pun. Termasuk dalam perjalanan. Yang notabene akan sibuk dengan bawaan yang berat. 

Bisa membaca, berkat aplikasi perpustakaan digital. Saya bisa membaca tanpa merasa berat membawa buku. Sejauh ini, aplikasi ini selalu menjadi kawan saat di luar kota. Aplikasi yang ringan, berbobot dengan banyak buku dan e-perpustaka. Cara membacanya mudah, bisa digulir ke bawah maupun ke samping, juga transisi kertas. 


Lebih kerennya, aplikasi orange ini gratis!!! Berguna bagi mereka yang memiliki kendala budget untuk membeli buku. 

Terlepas dari hal tersebut, kerja sama dengan penerbit, seperti Noura Books. Bisa menyokong koleksi buku terupdate. 

Penerbit Noura yang merupakan bagian dari PT. Mizan Republika. Benar-benar mengetahui selera pembaca. Alhasil, buku-buku terbitannya menjadi favorit tersendiri bagi pembaca seperti saya. 

                               ~*~


Blurb 

“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia adalah rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.”

Mudah dicerna, sarat makna. Itu hal pertama yang saya dapat dari tulisan Bernard Batubara. 

Buku yang berjudul “Luka dalam Bara”, tak hanya memunculkan sebuah diksi. Buku penuh ilustrasi ini mampu menguras emosi. Sebuah tulisan yang khusus. Bukan serupa puisi atau novel. Buku ini berbeda, dikemas dalam sebuah rasa baru.

Beberapa penggalan rasa cemas juga sedih. Memunculkan fragmen baru yang indah. Bisa dinikmati banyak pencinta kata. Ini semacam album diari. Berbentuk lebih fresh dan mudah dipahami.

Menggamit buku dalam bentuk aplikasi, berjumlah 108 halaman tak memeras waktu. Justru berbekas pada palung hati. Kata-katanya sederhana, penuh metafora. Seolah membekukan suasana.

Metafora Ombak, berisi tentang sebuah ombak. Hanya ombak yang mampu menghancurkan karang. Terhempas menjadi buih.

Ada makna lain bagi Bara. Ombak yang seolah dirinya. Menaklukkan cinta membutuhkan perjuangan. Tak bisa hanya sekali. Pun tak bisa datar. Karena ombak memiliki ragam. Di sana juga dijelaskan tentang seorang peselancar yang menemui ombak. Peselancar dikiaskan sebagai sang kekasih ombak. Ditutup dengan kalimat;

“Aku akan menarik, menenggelamkanmu hingga ke laut terdalam.” (Halaman 19)

Pembuka buku ini begitu manis, berupa kata-kata yang kental dengan profesi penulis. Penulis yang terkadang dipandang sebelah mata. Lewat ini, selipan pesan bahwa membaca dan menulis seperti ikatan yang mustahil dilepaskan.

Penulis kelahiran Kalimantan sangat memesona saat mengolah kisah dalam bentuk baru. Dalam buku ini, sekurang-kurangnya ada 5 pola penulisan. 

1. Narasi singkat seperti judul Rumah,

2. Narasi panjang seperti judul Sepatu yang hilang. 

3. Dalam wujud surat yang terdiri dari beberapa part.

4. Semacam dialog.

5. Kisah flash back. 

Itu opini saya sebagai pembaca, model-model baru yang dimunculkan dalam satu buku ini. Ciamik. Tanpa menghilangkan rasa, irama, diksi yang manis. Membuat saya bertahan membaca, benar-benar membuat saya terhanyut. Hanyut pada memori kelam yang saya alami. 

Sepotong hati yang sudah lama hilang terasa kembali. Memoar kilasan hitam-putih menyusup. Bagi pecinta romance seperti saya, sudah klepek-klepek

Meski berupa kisah sendiri yang dibuat seakan blocknote pribadi. Kata-kata yang diracik seakan mengunci mata untuk tetap menatap buku ini. Hingga saya tak bosan membacanya berulang kali. 

Lebih dari itu, kata pepatah lama. Tak ada gading yang tak retak. Wajar, ada hal-hal yang masih kurang. Seperti, salah satu gambar ilustrasi yang kurang sesuai dengan isi yang disuguhkan. Seperti sub bab Doa, isinya tentang harapan dan keinginan untuk selalu merekam baik dan memutar ulang segala hal yang manis yang telah terjadi. 

Mungkin saja masih sedikit nyambung, dengan gambar sepasang kekasih merayakan ulang tahun. 

Tetapi, pembaca bingung. Sebab, penulis mengatakan, “Selamat berulang tahun, rembulan pagi. Satu hari penuh doa dan harapan baik kini melayang kepadamu dan menjadi milikmu. (Halaman 11)

Hanya soal selera bagi saya. Namun, karena pembuat ilustrasi sangat pandai. Menggoreskan gambar-gambar nuansa baru.Bukan masalah yang cukup krusial. 

Di beberapa bagian, juga ada sebuah kata yang bermakna ganda. Bagi saya, jarang digunakan. 'Menyigi'. Apakah berarti menerangi atau mencungkil. Kata setelahnya berhubungan dengan hati yang terdalam. 

Terlepas dari minim kesalahan tulisan, nyaris tak ada. Bagi penikmat senja dan kisah cinta. Terus dibanjiri kisah romantis. Tidak berlebihan. Kisahnya pun lebih berbobot. Seperti “Cerita Kecil tentang Kartu Ucapan. Tempat yang Tua dan Bagaimana Kita Diselamatkan oleh Benda-Benda Mati.”

Kisah ini penuh dengan pasak-pasak kecil yang membuat kaki tersandung, terjerembab, namun berkat pasak-pasak. Sebuah kenangan kecil terekam sempurna. 

Selain, #MembacaLuka dan membuat hati terpilin. Penulis begitu kritis. Menyelipkan kisah persahabatan yang terpecah hanya karena perbedaan aliran politik. 

Juga tentang pembangunan yang merajalela. Hingga mempersulit pengguna jalan. 

Ada satu kutipan dari buku ini yang benar-benar membuatku jatuh cinta berkali-kali. 
“Sesuatu yang membuatku mencintai seseorang begitu lama adalah, karena garis waktu dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu terulur, cinta semakin dalam terpancang.”

Walaupun, saya baru pertama kali membaca karya beliau. Saya langsung jatuh hati. Rasanya ingin mengoleksi semuanya. Buku ini merupakan karya ke-11 yang dimiliki Bara. 

Sebenarnya, saya ingin menulis panjang lebar tentang #Membacaluka. Seperti bagiamana perasaan seorang pecinta senja. Mencintai seseorang yang memiliki perasaan yang sama. Namun tujuan yang berbeda. 

Cinta wanita senja hanya dibalas dengan cinta tak murni. Itu mengapa setiap membaca Luka dalam Bara. Rasanya ada bara yang meletup ingin mengoyak luka.

Hanya dengan mencintai luka, kita akan benar-benar paham. Tentang luka yang tak benar-benar melukai si pemilik luka. 

Penulis : Baiq Cynthia

Info buku: 

Judul : Luka Dalam Bara Non Ttd  

No. ISBN : 9786023852321

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit: Noura Book Publising 

Tanggal terbit: Maret - 2017

Jumlah Halaman : 108

Berat Buku : 200 gr

Jenis Cover: Hard Cover

Dimensi(L x P) : 130x200mm

Kategori : Romance


Indonesia ... Merah Darahku ... Putih Tulangku. 

Judul buku : How to Love Indonesia

Penulis : Duma M. Sembiring

Editor : Cahyadi H. Prabowo

Cetakan Pertama November 2014

Penerbit : Ketamine, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Halaman : 274 Hal

ISBN : 978-979-045-774-4
Blurb:
Aku bukan manusia yang cinta tanah kelahirannya. Sebab, bagiku tidak ada guna aku mencintai negeri ini. Berbeda halnya dengan ibuku, aku sangat mencintainya. Dalam hidup ini, dialah manusia yang paling berharga. Jika bukan karenanya, aku tidak akan melihat dunia ini. Aku tumbuh dalam kelembutan belaiannya.
Seiring waktu berjalan aku mulai tahu apa yang seharusnya kulakukan, yaitu mengerti lebih dalam apa arti negeri ini bagiku. Dan semua itu dimulai dari kata “Ibu”. Seorang anak tak sepantasnya bertanya pada dunia, “Apa yang sudah ibu berikan padaku?” Sebab, meski pertanyaan itu tidak diajukan, jawabannya sudah lebih dulu diketahui. Artinya, pertanyaan itu tidak berguna. Hanya orang bodoh yang akan mengajukannya. Sebagai anak, akan terlihat lebih pintar jika ia bertanya, “Apa yang sudah kuberikan pada ibu?”
Sadar atau tidak, ternyata tanah kelahiranku sama dengan ibuku. Pada akhirnya, aku mengerti apa maksud dari pernyataan John F. Kennedy, “Jangan tenyakan apa yang Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan pada negaramu.” 

Salah satu buku pemenang ajang “Seberapa Indonesiakah Dirimu?” Sebuah novel yang menceritakan kisah gadis pecinta anime yang tinggal di Tanah Karo. Memiliki seorang sahabat bernama Suri. Mereka berasal dari latar belakang berbeda. Suri asli Jawa. Berbeda tradisi dan kepercayaan tak lantas membuat jarak di antara keduanya. 

Dea namanya, memiliki seorang kakak yang cerewet dan galak. Tinggal bersama sosok ibu yang kuat dan ayah yang keras. Meski kakaknya terbilang dewasa, masih suka cengeng untuk hal sepele. Berbanding terbalik dengan Dea yang kekanak-kanakan namun tak suka menangis. 

Dea salah satu mahasiswi jurusan Sejarah yang suka membaca novel genre fantasy maupun romantis. Sosok introvert yang tidak suka diajak ke pesta pernikahan. 

Memiliki seorang tetangga yang sering mencuri pandang kepada kakaknya. Kakaknya merasa risih dengan penampilan pria ala Koboy namun tak berkuda. Karena ini menyapu halaman menjadi wajib bagi Dea, meski sapu lidi pinjam ke sepupunya. Letak rumahnya tak jauh dari rumah Dea. 

Si Topi Koboy julukan yang sering Dea dengungkan kepada kakaknya. Pakaian saat pergi ke ladang kontras dari petani biasanya. Hampir setiap hari Si Topi Koboy menatap ke rumah Dea demi melihat wajah kakaknya. 

Ternyata Ibu Dea yang memiliki Ladang yang berdekatan dengan lelaki penyuka topi Koboy, menjadi menantu idaman ibu Dea.

Pekerja keras, rajin, sopan dan ganteng maksimal. Sudah tersemat pada pria berusia 35 tahun. Kakak Dea tidak suka dengan lelaki tersebut. Selain itu, sudah memiliki pacar. Dea tak henti-henti mem-bully.

Bagaimana olokan-olokan yang diciptakan Dea--dijuluki Beo, bisa membuat si Koboy makan bersama dengan keluarga Dea? Tiap hari! 

Suri sahabat setianya, meski sering kena semprot Dea. Karena otak kritisnya, terhadap isu sosial yang minim moral. Tentang penerobos lampu pelangi. Tentang pemboros kertas. Hingga kritis saat makan, menghitung jumlah nasi. Tetap menyokong Dea mengalami hal terberat.

Membuat masalah dengan Dosen yang tak ingin dianggap salah. Hingga mendapatkan nilai E. 

Bagaimana perasaan seorang ayah, yang juga pengajar di Perguruan Tinggi Swasta, menerima hal tersebut. 

Sikap angkuh, cuek dan jutek namun masih bisa menitik airmata. Saat berurusan dengan Ayahnya. 

~*~

Awalnya saya mengira buku non fiksi. Tampilan luar yang benar-benar khas. Setelah melihat hologram (bertanda khusus) pemenang 3. Saya yakin ini buku hasil sayembara menulis.

Novel berbobot ringan dan alur santai benar-benar menguras kepala untuk kritis. Penulis pandai bermain sudut pandang. Tanpa kesan menggurui. Buku ini memiliki emosi yang kuat. Itu mengapa meski berlembar-lembar. Tidak ada rasa kantuk. 

Kisah hidup di Tanah Karo yang belum pernah saya bertandang. Memiliki ending yang manis. Sadar mencintai Indonesia. Tak hanya dengan sebuah identitas WNI. Tapi, benar-benar melaksanakan butir-butir Pancasila. Saling menghargai dan menghormati kunci kebersamaan.

Saya menjadi sadar. Selama ini, masih jauh dari cinta Ibu Pertiwi. Kedepannya, berharap bisa memetik nilai dari novel yang terbitan Metamind.
Catatan Imut, Perjalanan Gadis Gendut. 



​Akhirnya tamat juga membaca buku yang tebalnya tidak begitu tebal. Eh, maksud saya buku ini memuat banyak kisah. Saking banyaknya saya tidak hafal berapa bab saya habiskan untuk tertawa, tersenyum, terkekeh, terharu, salut. Semuanya. 

“Go Internasional.” Sebuah buku yang langsung saya dapatkan dari penulis kece yang baik hati. Sebuah kenang-kenangan pernah berjumpa. Pertemuan yang tak di sangka. 

Sebelumnya, tak pernah terbetik dalam hati menentukan hari bertemu dengan Mbak Hayyu. Mengingat saya tinggal di Situbondo. Tidak di Malang lagi. Yang udah janjian malah gak bisa hadir. Itulah hidup. Seperti kisah-kisah ciamik yang sarat makna. 

Buku berbalut cover pink yang bersimbol melankolis-feminim di terbitkan oleh Stiletto. Saya suka sekali dengan layoutnya. Simple elegan gitu. 

Kita bisa saja pergi ke Luar Negeri. Tak harus karena prestasi. Tetapi karena mimpi yang kuat. Begitu yang bisa dapat dari kisah ini. Penulis imut ini mengajak saya travelling keliling Indonesia. Malang, Yogyakarta, Bali, Bandung, Ibu kota Indonesia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. 

Gaya penulisan asyik, dijamin ngakak terus. Cerita yang tragis dirubah menjadi comedi. Hebat banget dan Penulis yang doyan banget berburu kuliner. 

Ada satu kutipan yang benar-benar terkadang membuat nadi berhenti berdetak 0,01 detik. 

Beranilah bermimpi, entah mimpi kecil atau mimpi besar. Yakinlah Tuhan akan mendengarkan mimpi-mimpi kita. Di waktu tepat yang tak terduga Dia akan mengabulkan segalanya dengan cara yang tak terduga pula dan membuatmu menjadi manusia hebat. Halaman 91.

Sebuah catatan perjalanan meraih mimpi. Meski mimpi terbesar ternyata ada di sekitar. Mimpi tak harus tentang glamor. Bagi penulis mimpi adalah bagaimana orang bisa percaya kepada kita. Kita bisa memberikan uluran kepada orang lain. 

Tak ada gading yang tak retak. Terlepas dari kesalahan tulisan. Maupun tanda baca. Saya merasa terlalu banyak brand yang dipaparkan. Namun, dibalik demikian saya yakin penulis hanya ingin give and share. 

Melepas buku ini hanya ingin memeluknya. Percayalah, kamu akan merindukan buku ini. Saat ada tugas yang lebih penting. Wajib bagi kamu yang ingin pergi meninggalkan Nusantara. Membaca catatan Go Internasional. 



*)Terima kasih saya haturkan kepada penulis yang berbaik hati memberikan pengalaman besar lewat buku ini. Ditunggu buku selanjutnya. Semoga bisa bertemu dengan impian terakhir yang belum mengajaknya ‘terbang’.

Situbondo, 19 Maret 2017

Baiq Cynthia
Alhamdulillah, Puji syukur Allah. Saya bisa menuntaskan membaca buku karangan Doktor Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani yang diterjemahkan oleh Abu Sabiq 'Aly. 


Buku yang berjudul asli, " Afatul Lisan Fi Dhau'il Kitab Was Sunnah". Benar-benar menjadi penyejuk kalbu. Sebagai pengingat, betapa banyak tergelincir dalam ucapan. Padahal ucapan akan selalu dalam pengawasan Malaikat, dipertanggungjawabkan kelak. 

Buku ini menjelaskan tentang bahaya Ghibah, membicarakan keburukan orang lain. Namimah, mengadu domba. Berkata dusta, Mencela, serta perkataan ringan yang ternyata bisa menyulut api neraka. Naudzubillah.

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba. (Hadis Al Bukhari & Muslim)- halaman 66.

Buku yang tipis ini penuh dengan sumber yang konkrit dan terpercaya. Di mana setiap sub bab judul akan selalu berpedoman pada Al-Quran dan Hadits Shahih. 

Meskipun minim penjelasan, tidak ada contoh. Namun, uraian singkatnya mudah dipahami. Termasuk hal-hal yang berhubungan. Maupun penyebab munculnya sifat buruk tersebut. 

Pembahasan pengobatan sifat marah misalnya, pada halaman 142 menjelaskan cara dan alternatifnya. Caranya menjaga untuk tidak mencari akar marah. Menghindari sombong, bangga terhadap diri sendiri, merasa tinggi, menyesatkan orang, semangat yang tercela, dan gurauan yang tidak sesuai, bercanda atau yang semisalnya.

Alternatifnya, meminta pertolongan Allah, memperbanyak isti'adzah. Kemudian berwuduh. Yang ketiga mengubah keadaan ketika dia marah, dengan cara duduk, berbaring, keluar, menahan diri bicara ataukah yang lainnya. Yang terakhir mengingat dalil ini. 

"Barang siapa yang menahan marah dan dia mampu menuruti keinginannya, maka Allah SWT akan mendo'akan baginya di hadapan pembesar para malaikat pada hari kiamat sampai dipilihkan baginya bidadari yang dia inginkan." (Abu Dawud, At-Tirmidzi,dan Ibnu Majah)

Meskipun terdapat beberapa redaksi yang kurang dipahami, saya membaca sampai tamat. Buku ini tidak hanya membahas tentang ucapan. Namun, kejadian yang kini sudah merebak. Yang harusnya tabu menjadi fenomenal. Salah satu tanda-tanda akhir zaman. 

Wallahu'alam. 

Semoga review mini ini membuat rekomendasi baru koleksi bacaan. 

#Reviewer

Baiq Cynthia
Seorang muslim tidak terlepas dalam kesehariannya untuk berucap. Begitu banyak ucapan yang mendatangkan ridha Allah, dan sebaliknya begitu banyak pula ucapan yang bisa mendatangkan murka Allah Seorang tidak bisa selamat dalam ucapannya, kecuali dia telah memiliki ilmu tentang masalah ini.

Buku ini adalah karya DR. Said bin Wahf Al-Qahthani yang berjudul "Afatul Lisan Fi Dhau'il Kitab Was Sunnah", yang membahas ucapan-ucapan yang wajib untuk tidak dikeluarkan oleh seorang muslim dengan lisannya. Semua itu berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih. Dengan tujuan agar kaum muslimin memberikan perhatian terhadap perkara lisan, boleh jadi mereka belum mengetahui hukum dari ucapan-ucapan yang mereka keluarkan. Ternyata di antara ucapan-ucapan ringan yang sering diucapkan tersebut tingkatannya bukan hanya sebatas dosa biasa, tetapi itu merupakan dosa besar yang sangat dimurkai Allah. Walaupun apa yang dibawakan oleh penulis tidak semuanya masuk dalam kategori dosa besar, tetapi sebagian besar apa yang beliau sebutkan itu merupakan dosa besar. 
Judul: Ucapan-Ucapan Ringan Yang Termasuk Dosa Besar Dalam Tinjuan Al Quran dan Sunnah

Penerbit: DR. Said bin Ali bin Wahf al Qahthani

Isi: 220 halaman

Berat: 200 gram
Daftar isi:

Bab Pertama: 

GHIBAH DAN NAMIMAH

Pasal yang pertama: Ghibah (Mencakup 9 Pembahasan)

1. Pengertian Ghibah

2. Perbedaan Antara Ghibah dan Namimah

3. Hukum Ghibah

4. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Ghibah

5. Apa yang Seharusnya Dilakukan Apabila Seorang Muslim Mendengarkan Saudaranya Dighibahi

6. Sebab-sebab yang Akan Mendorong Perbuatan Ghibah

7. Pengobatan Ghibah

8. Jalan Untuk Bertaubat dari Perbuatan Ghibah 

9. Apa Saja yang Diperbolehkan dari Ghibah 

Pasal yang kedua: Namimah (Mencakup 8 pembahasan)

1. Pengertian Namimah 

2. Hukum Namimah

3. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Perbuatan Namimah 

4. Apa yang Hendaknya Dilakukan Bagi Siapa yang Dibawa Kepadanya Namimah 

5. Berwajah Dua 

6. Perkara yang Mendorong Untuk Terjatuh dalam Perbuatan Namimah 

7. Pengobatan Namimah 

8. Perkara yang Diperbolehkan dari Namimah 

BERBICARA ATAS ALLAH TANPA ILMU

Pasal yang pertama: Dusta Atas Allah dan Rasul-Nya (Mencakup 3 Pembahasan)

1. Pengertian Dusta 

2. Ancaman dari Dusta Atas Rasulullah 

3. Perbedaan Ancaman Terhadap Seorang yang Berdusta Atas Rasulullah dan Seorang yang Berdusta Atas Selain Beliau Serta Hukum Dusta Atas Beliau 

Pasal yang kedua: Dusta Secara Umum (Mencakup 4 Pembahasan)

1. Hukum Berdusta 

2. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Dusta Secara Umum 

3. Dusta Pada Mimpi Baik atau Mimpi Buruk 

4. Dusta yang Diperbolehkan 

Pasal yang ketiga: Persaksian Palsu (Mencakup 3 Pembahasan)

1. Pengertian Az-Zur 

2. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Persaksian Palsu 

3. Kejahatan yang Muncul Akibat Persaksian Palsu 

TUDUHAN, PERDEBATAN DAN LISAN YANG KOTOR

Pasal yang pertama: Tuduhan (Mencakup 2 Pembahasan)

1. Pengertian Tuduhan 

2. Ancaman Untuk Melakukan Tuduhan 

Pasal yang kedua: Pertengkaran dan Perdebatan (Mencakup 3 Pembahasan)

1. Perdebatan dengan Perkara Batil 

2. Pertengkaran dan Perselisihan 

3. Pengobatan dari Bertikai dan Marah 

Pasal yang ketiga: Lisan yang Kotor (Mencakup 25 Pembahasan)

1. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Ucapan yang Ielek 

2. Meminta Hujan dengan Bintang 

3. Bersumpah dengan Selain Allah 

4. Bersumpah Palsu dan Mengungkit-ungkit Pemberian 

5. Memberi Nama dengan Raja dari Seluruh Raja 

6. Mencela Masa 

7. Meratapi Mayat 

8. Bersaing dalam Penawaran dengan Tujuan Memberikan Madharat

9. Pujian yang Tercela yang Akan Memitnah Orang yang Dipuji atau Ada Padanya Perkara yang Berlebihan 

10. Apa Saja yang Diperbolehkan dari Bentuk Pujian

11. Seseorang yang Membuka Aibnya Sendiri 

12. Mencela, Mencerca dan Mengolok-olok Kaum Mukmin 

13. Cercaan Seseorang Kepada Kedua Orang Tuanya Termasuk Dosa Besar 

14. Laknat 

15. Bolehnya Melaknat Pelaku Maksiat dan Orang Kafir Secara Umum, Tidak Secara Langsung Individu Mereka

16. Ucapan: "Karena Kehendak Allah dan Kehendak Fulan" atau "Kalau Bukan Allah dan Fulan" 

17. Ucapan: "Andaikata" dan Tidak Menyerahkan Taqdir Kepada Allah

18. Ucapan Seseorang: "Manusia Telah Celaka" 

19. Nyanyian dan Sya` ir yang Haram 

20. Janji Dusta 

21. Orang yang Memerintahkan ke Dalam Kebaikan Namun Dia Tidak Melaksanakannya dan Dia Melarang Dari Kejelekan Namun Dia Melakukannya 

22. Menyebarkan Rahasia Suami Istri 

23. Seseorang yang Bersumpah dengan Selain Agama Islam 

24. Menjadikan Orang Fasiq Sebagai Pemimpin

26. Murtad dengan Ucapan 

Pasal yang keempat: Wajibnya menjaga lisan
Info detail 
101 Hari Menulis dan Menerbitkan Novel Manual bagi (calon) Novelis

Salah satu buku pedoman yang wajib dimiliki sesorang penulis pemula. Mengapa saya katakan wajib. Di sini tidak seperti buku cara menulis yang pernah saya baca. Buku ini mengulas sangat detail selama 101 Hari. Sesuai dengan judulnya. 
Tulisannya sangat singkat padat dan jelas. Setiap kata seperti amunisi. Mendobrak rasa yang selama ini opini. Menjadi kenyataan. Menulis tidak sesulit yang dibayangkan.

Menurut penulis setidaknya setiap hari rutin menulis 4 lembar dengan spasi ganda. Hakikat penulis ya menulis. Jika memang ingin bermimpi menjadi penulis, maka menulislah.

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not a an act, but a habit. (Halaman 40)




Buku yang terdiri dari banyak sub-bab namun hanya 2 Bab besar; Bagian 1 (Menyiapkan Novel Perdana) dan Bagian 2 (101 Hari saja)

Sudah banyak kutipan dari penulis tersohor dari abad awal hingga zaman digital yang disematkan dalam buku ini. 

Bahkan saya sempat merasa tersinggung, merasa sadar. Saat Penulis Senior buku ini, mengatakan penulis hanya butuh Ide dan Alat. 

Saya salah satunya yang kesulitan di alat. Baginya selama masih ada kertas dan pena, tidak ada alasan untuk tidak menulis. 

A writer who wait for ideal conditions under which to work will die without putting a word to paper. (Hal 53)

Meski buku hanya setebal 218 halaman, banyak manfaat yang bisa diambil selama proses menulis novel. Menulis novel tidak selesai langsung kirim, ada banyak prosesnya. Dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami dalam novel ini. 

Saya mengutip salah satu ungkapan yang sering didengungkan. Terdapat pada salah satu bab, “The Greatest Novels are Never Finished.”
Sinopsis

Inilah "how to book" yang memandu, siapa saja, untuk berani mulai menulis novel. Hanya butuh 101 hari saja. Ditanggung di hari ke-101, naskah novel Anda siap ditawarkan ke penerbit. Dengan catatan, Anda mengikuti dengan saksama petunjuk dalam buku ini, langkah demi langkah. Jika ada novel yang ingin Anda baca belum ditulis, Anda sendiri yang harus menulis novel itu! Setiap orang, pada galibnya, mempunyai satu kisahan novel yang belum ditulis, yakni kisah hidupnya. Sungguhkah Anda mau menjadi novelis?
Penulis : R. Masri Sareb Putra

Penerbit : Grasindo

Ukuran : 14 x 21 cm

Cover : Soft Cover

ISBN      : 978-602-375-145-7