Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Sejak tahun-tahun lalu, saya punya keinginan untuk menjadi editor di sebuah penerbit. Maka, sebelum itu terealisasi, maka saya coba dengan mengedit naskah orang-orang terdekat. Menerima tantangan mengedit dari penerbit Indie. Bahkan saya pernah ditolak dalam sebuah penerbit. Menjadi editor itu enggak mudah sebenarnya. Kita dikasih tugas untuk reparasi naskah klien. Tidak hanya soal menyunting namun memperbaiki secara utuh.Kesuksesan sebuah naskah terletak pada sang editor, editor sebagai kacamata kedua penulis. Mereka harus kompak dan beriringan.

Mencari lowongan editor ternyata sulit, terlebih harus menetap di pusat kerjanya. Bagai mimpi di siang bolong, bisa bertemu dengan teman kolaborasi menulis tahun lalu. Ia langsung menawari, kerja bareng gitu. Ternyata ada sesi training, ya sudahlah jalani saja. Hitung-hitung bisa belajar. Tapi, untuk memutuskan, diterima atau tidak. Saya harus memutar pikiran, mengingat ambivert itu ya selalu moody, dan mudah bosan. Sementara menjadi editor konsekuensinya dikejar oleh deadline.

Tetiba pikiran soal biaya pernikahan, mungkin ini sudah jalanku. Hanya dengan begini bisa terus mengisi pundi-pundi ATM, apalagi masih punya tanggungan sama penerbit itu. Belum lagi yang keep buku belum membeli, dan buku masih di sana. Satu lagi yang menjadi pegangan hidup. Kalau saya takut, berarti belum pasrah sama Allah. Padahal kalau sudah mau pasrah, tentu saja akan mudah segala sesuatu yang diminta.



Diterima tugas editor, berarti tanggung jawab juga baru dimulai, menjadi pemungut kata. Kalau ditanya bisa enggak, Insyaallah akan terus belajar. Karena manusia memang hanya terus belajar. Tapi kalau sudah menyerah, enggak akan bisa berkembang. Orang sukses ialah yang suka mencari solusi bukan suka mencari alasan.

Dimasukkan dalam grup utama dalam penerbitan, diberitahukan strukturnya. Lalu dimasukkan ke grup kumpulan para cabang. Sungguh kaget, banyak juga yang saya kenal. Rasanya seperti reuni, seru dan tentu sangat bikin baper. Apalagi yang mengaku ngefans sama saya, berkat artikel Menulis Membuatmu Gemuk. Soalnya sebagai penulis jarang banget interaksi langsung paling hanya saling tegur sapa. Kali ini mereka saling menyapa, semakin menguatkan proses untuk menjaga komitmen di dunia literasi.




Kalau disuruh memilih antara menulis novel genre pop, sastra, atau fiksi saya tidak bisa memilih. Tapi, kalau disuruh artikel atau ngeblog pasti saya pilih dua-duanya. Dari ngeblog,dan nulis artikel kita menjadi terbiasa untuk menulis, ya meskipun harus terkantuk-kantuk nulisnya. Menulis di blog selalu akhir prioritas. Karena terlalu sering nulis blog di awal, esoknya enggan untuk menulis lagi.

Satu lagi soal menjadi editor trainingan, selain memperhatikan setiap huruf dari ribuan naskah, dan memperhatikan kelogisan cerita, juga tak lupa memperhatikan kondisi pikiran dan mental. Tidak bisa mengutak-atik naskah dalam keadaan depresi dan banyak fokus. Pasti semerawut hasilnya. Ingat saja, lelah akan menjadi berkah jika kita pasrah kepada yang Maha Kuasa, apalagi kalau motivasinya buat modal nikah.




Situbondo, 13 Sep. 18
Baiq Cynthia
Jangan bilang Benci, Nanti Cinta loh.



Pepatah ini sangat familiar hampir di seluruh belahan dunia. Judulnya emang mainstreams sih. Daripada blog ini kosong melompong ditinggal terus sama pemiliknya yang super duper sibuq. Ngalahin artis ibu kota sampai gak sempat buka medsos. Jadi wajar lah ya, job dadakan selalu ada. Mulai dari tukang masak, asisten henna wedding sampai jadi calon ibu. Hehehe, doakan saja Baiq segera niqah. Biar gak pasang status galau terus karena gak menemukan sandaran.



Tentang Memasak Kambing


Bisa dibilang tidak ada resep khusus membuat masakan enak, semua terjadi karena perpaduan komposisi bahan yang pas dan teknik yang tepat. Selama ini saya tidak pernah suka mencicipi masakan yang saya buat. Karena merasa pasti sudah enak, dan benar saja masakan itu enak menurut keluarga yang mencicipinya. Tapi saya bosan dengan masakan sendiri.



Jodoh tidak menunggu kamu mapan.




Jodoh itu unik saat dikejar-kejar tak kunjung datang, namun saat kita sudah lelah mengejar ia menghampiri sendiri tanpa pemberitahuan telebih dahulu.

Mau cerita dikit nih, soal jodoh.
Ada seorang namanya Rapunzell ia selalu bertanya-tanya soal jodoh, setiap bertemu dengan pria ia berharap lelaki itu adalah jodohnya. Ternyata tak satu pun yang ia temui menjadi jodohnya hingga Rapunzell pun depresi berpikir soal jodohnya yang tak kunjung datang.

Detik menjadi menit menjadi jam menjadi hari menjadi tahun. Tahun ini menjadi kesempatan hidup yang luar biasa bagi saya, karena bisa dipertemuka dengan orang-orang baik dan tentu saja dengan pengalaman hidup yang baru dan lebih baik.

Setiap perjalanan ialah hikmah, setiap tempat baru yang dituju selalu menemukan pengalaman baru.

Di Tanah Lada-Ziggy Z

Pertama kali saya dibuat kagum jika menemukan anak kecil yang cerdas, entah karena berhitung cepat, bisa bahasa Inggris atau menguasai bahasa Asing lainnya. Tetapi, ketika bertemu dengan sosok yang masih sangat kecil untuk mengerti sebuah kehidupan yang runyam dalam lingkungannya, itu saya dapatkan dalam kisah Di Tanah Lada. Novel yang menjadi pemenang ke-2 di Sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014.

Review salah satu penginapan nyaman di Jember. Doho Homestay.