Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.


[Review Film] Sui Dhaaga Made India 2018 India-Baiq Cynthia

Dibalik suksesnya seorang lelaki ada pengorbanan dan perjuangan seorang wanita. Karena tidak ada yang bisa hidup sendiri. Laki-laki dan perempuan seperti pakaian yang saling menutupi kesalahan satu sama lain. Wanita memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyakiti hatinya, tetapi ia bisa menjadi sosok yang kuat tanpa bandingan. Lelaki ialah pahlawan super yang rela berjuang untuk kehidupan orang di sekitarnya. Meskipun terkadang melupakan keadaan dirinya.
Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.

Sejak tahun-tahun lalu, saya punya keinginan untuk menjadi editor di sebuah penerbit. Maka, sebelum itu terealisasi, maka saya coba dengan mengedit naskah orang-orang terdekat. Menerima tantangan mengedit dari penerbit Indie. Bahkan saya pernah ditolak dalam sebuah penerbit. Menjadi editor itu enggak mudah sebenarnya. Kita dikasih tugas untuk reparasi naskah klien. Tidak hanya soal menyunting namun memperbaiki secara utuh.Kesuksesan sebuah naskah terletak pada sang editor, editor sebagai kacamata kedua penulis. Mereka harus kompak dan beriringan.

Mencari lowongan editor ternyata sulit, terlebih harus menetap di pusat kerjanya. Bagai mimpi di siang bolong, bisa bertemu dengan teman kolaborasi menulis tahun lalu. Ia langsung menawari, kerja bareng gitu. Ternyata ada sesi training, ya sudahlah jalani saja. Hitung-hitung bisa belajar. Tapi, untuk memutuskan, diterima atau tidak. Saya harus memutar pikiran, mengingat ambivert itu ya selalu moody, dan mudah bosan. Sementara menjadi editor konsekuensinya dikejar oleh deadline.

Tetiba pikiran soal biaya pernikahan, mungkin ini sudah jalanku. Hanya dengan begini bisa terus mengisi pundi-pundi ATM, apalagi masih punya tanggungan sama penerbit itu. Belum lagi yang keep buku belum membeli, dan buku masih di sana. Satu lagi yang menjadi pegangan hidup. Kalau saya takut, berarti belum pasrah sama Allah. Padahal kalau sudah mau pasrah, tentu saja akan mudah segala sesuatu yang diminta.



Diterima tugas editor, berarti tanggung jawab juga baru dimulai, menjadi pemungut kata. Kalau ditanya bisa enggak, Insyaallah akan terus belajar. Karena manusia memang hanya terus belajar. Tapi kalau sudah menyerah, enggak akan bisa berkembang. Orang sukses ialah yang suka mencari solusi bukan suka mencari alasan.

Dimasukkan dalam grup utama dalam penerbitan, diberitahukan strukturnya. Lalu dimasukkan ke grup kumpulan para cabang. Sungguh kaget, banyak juga yang saya kenal. Rasanya seperti reuni, seru dan tentu sangat bikin baper. Apalagi yang mengaku ngefans sama saya, berkat artikel Menulis Membuatmu Gemuk. Soalnya sebagai penulis jarang banget interaksi langsung paling hanya saling tegur sapa. Kali ini mereka saling menyapa, semakin menguatkan proses untuk menjaga komitmen di dunia literasi.




Kalau disuruh memilih antara menulis novel genre pop, sastra, atau fiksi saya tidak bisa memilih. Tapi, kalau disuruh artikel atau ngeblog pasti saya pilih dua-duanya. Dari ngeblog,dan nulis artikel kita menjadi terbiasa untuk menulis, ya meskipun harus terkantuk-kantuk nulisnya. Menulis di blog selalu akhir prioritas. Karena terlalu sering nulis blog di awal, esoknya enggan untuk menulis lagi.

Satu lagi soal menjadi editor trainingan, selain memperhatikan setiap huruf dari ribuan naskah, dan memperhatikan kelogisan cerita, juga tak lupa memperhatikan kondisi pikiran dan mental. Tidak bisa mengutak-atik naskah dalam keadaan depresi dan banyak fokus. Pasti semerawut hasilnya. Ingat saja, lelah akan menjadi berkah jika kita pasrah kepada yang Maha Kuasa, apalagi kalau motivasinya buat modal nikah.




Situbondo, 13 Sep. 18
Baiq Cynthia

Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah Buat Perubahan Baru!


Detik menuju detik, mengubah menit menjadi jam dan hari hingga tahun harus kembali berganti. Semalam keseruan malam pergantian tahun baru Islam yang riuh di beberapa sudut jalan dengan karnaval lampu obor maupun lampion.

Menjadi momentum yang membahagiakan sekaligus sebagai refleksi diri untuk selalu berubah menjadi pribadi lebih baik lagi. Karena ada pepatah lama mengatakan, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik lagi dari sekarang.

Mengawali 1 Muharram 1440 H saya mendapatkan sebuah bingkisan dari Cheria Holiday, berupa kaos bertuliskan #BloggerTRAVELJamanNOW.

[caption width="720"]Yeay! Dapat bingkisan dari Cheria Holiday[/caption]

Jodoh tidak menunggu kamu mapan.




Jodoh itu unik saat dikejar-kejar tak kunjung datang, namun saat kita sudah lelah mengejar ia menghampiri sendiri tanpa pemberitahuan telebih dahulu.

Mau cerita dikit nih, soal jodoh.
Ada seorang namanya Rapunzell ia selalu bertanya-tanya soal jodoh, setiap bertemu dengan pria ia berharap lelaki itu adalah jodohnya. Ternyata tak satu pun yang ia temui menjadi jodohnya hingga Rapunzell pun depresi berpikir soal jodohnya yang tak kunjung datang.

Jika Engkau Dikecewakan, Maafkanlah. Akan Datang Pengganti yang Lebih Baik di Waktu yang Tak Terduga.

PARI : Not a Fairytale


Sinopsis Film PARI 2018, sekaligus saya berikan ulasannya secara bersamaan. Film horor 2018 Bollywood yang recomended.

PARI : Is not fairytale. Bukan seorang manusia dan bukan seorang peri. Ia bisa lebih menyeramkan dari monster. Menonton film yang dibintangi Anushka Sharma selalu membuat saya semakin ketagihan dengan aksi bermain peran. Sukses di film H1N1 sebuah film thriller yang mencekam, di tahun 2018 ia bermain film horor yang membuat selera makan berkurang dan kaki dingin selama
menonton.


Saya memang takut dengan adegan-adegan mengejutkan, tetapi film ini selalu membuat penasaran untuk mengikuti alurnya. Untuk pertama kali saya dibuat terkesan dengan pesan-pesan tersirat dalam film ini soal jin, ifrit, kiamat dan akal. Berlatar belakang di Bangladesh, tidak mengurangi nilai seni dan ciri khas India. Karena masih serumpun dan bahasa yang digunakan juga India bukan Bengali.


TRAILER OFFICIAL PARI 2018


Film dengan trailer bagus! Tidak membocorkan isi film
tapi sudah melingkupi dari awal sampai akhir. Tidak ada skenario yang diada-ada, semua sama dengan isi. Segi pemain, baik Anuskha yang menjiwai menjadi seseorang pinggiran yang terbebani oleh 'pertanyaan-pertanyaan' yang bahkan tidak ada jawaban.
Bagaimana ia berakting setengah melamun, bagaimana berakting dengan wajah menyeramkan dan tatapan kosong.


Sedikit saya kisahkan (Sinopsis film PARI);




[caption id="attachment_1311" align="aligncenter" width="519"]Pari Poster Film. Source www.pinkvilla.com Sumber : www.pinkvilla.com[/caption]

Film garapan Anushka Sharma dan Karnesh Sharma, sudah rilis 2 Maret 2018 sedikit membuat opini soal jin Ifrit.  Pada film PARI, ritual pemuja setan dirancang sedemikian hingga cerita benar-benar bulat dikisahkan dari sudut pandang orang ketiga yaitu Arnab. Parambrata Chaterjee berperan sebagai lelaki yang polos, tidak pernah pacaran dan tidak ingin menikah di waktu dekat itu ternyat terjebak dalam permasalahan yang rumit.


Ia bertemu dengan Rukhsana sebagai pemain utama, anak dari korban ritual Auladhchakra. Anushka menjelma menjadi iblis yang memilih tinggal bersama Arnab, karena ia takut dengan suara adzan maupun aroma dupa. Ditengahi oleh Profesor Quasim Ali yang berusaha memutus rantai jin ifrit agar kiamat tidak cepat terjadi. Beliau mengejar para perempuan pemuja setan yang beranak pinak. Salah satu target sasarannya ialah Rukhsana.


Di awali adegan Arnab yang harus berurusan dengan polisi dan olah TKP atas kecelakaan yang tidak terduga, di saat hujan dan deras. Mobil yang ditumpangi oleh Arnab menyebabkan tewas pada wanita tanpa identitas yang memakai tudung hitam. Setelah bertanya dengan orang sekitar, wanita yang sudah dibawa ke kamar mayat merupakan Kuttewali budhiya, yang berarti perempuan pengembala anjing, ia tinggal di sebuah gubuk di ujung telaga dengan kumpulan anjing yang menyalak.


Semua seperti rantai yang saling menikam, mengikat dengan kencang pada kaki agar tak saling berlari. Ada sebuah kutipan yang membuat saya, sedikit tercengang. Kutipan ini dikatakan oleh Piyali, “Ada monster di dalam diri kita semua.” 


Tonton selengkapnya, agar tuntas rasa penasaran kalian. Kalau boleh kasih rating, mungkin julukan the best film horor di bulan ini versi Baiq. Karena rasa mencekamnya seperti menonton Conjuring 2. Star 9/10


Selamat menonton, pastikan tidak sendiri agar tidak ngompol di tempat!


Penulis : Baiq Cynthia

Info lengkap film PARI
Setiap perjalanan ialah hikmah, setiap tempat baru yang dituju selalu menemukan pengalaman baru.

Review salah satu penginapan nyaman di Jember. Doho Homestay.



Bukan hanya pekerja yang butuh istirahat, hati juga.
(Inspirasi muncul dari mana saja, termasuk dari satu benda atau satu kata atau satu huruf sekalipun. Maka, sangat lucu kedengarannya jika mengatakan tidak punya ide untuk menulis.
Berhenti cari masalah dengan penulis, atau abadi dalam tulisannya).


#Blogger #Autor #menulis #Situbondo

Minggu, 17 Juni 2018



The Nekad Melancong Tipis-Tipis
Edisi LEBARAN di NGALAM

Teman-teman Mohon Maaf Lahir batin ya, mungkin ada kesalahan pada perbuatan atau ucapan, baik yang disengaja maupun tidak. Mungkin saya sering membuat teman-teman merasa jengkel atau tidak nyaman di hati. Kali ini Daily's Baiq hadir lagi.

Hidup itu semakin indah dengan rumus SYUKUR + SABAR.

Holla, Shobat Baiq. Ngerasa bersalah sih telat posting lagi, harusnya sudah saya post kemarin. Tapi, berhubung ambivert sakit dan butuh istirahat delapan jam, kemarin harus memberikan tubuh istirahat sejenak. Sebenarnya sekarang masih belum pulih, hanya saja gak bisa istirahat pasca bangun.

[Tulisan ini sudah lama mengendap, hanya sebuah surat tanpa penerima]

Judul : One Day in Jakarta

Penulis : Thibault Gregoire


Penerjemah : Ken Nadya


Penerbit : KPG (Kepustakaam Populer Gramedia)


Tahun Terbit : 2010


Jumlah halaman : 150


Peresume : Baiq Cynthia



Lima ratus lima belas hari yang lalu. Sebongkah hati masih tertanam di sana. Entah berapa hari lagi. Membiarkan terpendam. Hanyut dalam bisingnya hidup. Sebelas purnama lalu aku melihatmu.

Merayakan Tahun Baru Ala Ambivert.
Dari dulu sama sekali belum tahu rupa dari tahun yang baru. Perayaan tahun baru itu apa? Menyambut tahun yang baru? Nungguin detik-detik jam 00.00? Ngapain? Lihat kembang api? Abis itu dingin-dingin pulang ke rumah? Macet? OMG!

Kalau dihitung beberapa tahun silam kurang lebih yang bekesan tentang malam tahun baru adalah ... bunyi petasan yang menggelegar. Dentumannya mengusik alam bawah sadar, ya begitulah. Ingar-bingar di jalanan, tak jarang ada pesta miras. Kalimat barusan itu sudah sering kita dengar. Begitu yang disodorkan oleh acara televisi di beberapa stasiun. Selalu ada masalah. Tapi, ambivert punya cerita unik tentang Pengalaman Tahun baru di beberapa kota.

Tahun pergantian 2014 menuju 2015 (Denpasar, Bali). 

Rekan kerja sudah menyiapkan jadwal untuk party di Kuta yang notabene kota yang tidak pernah tidur. Tapi, tempat kerja saya yang ownernya Muslim meminta kami menghadiri salah satu agenda rutin tahunan. Rukyah dan muhasabah diri. Bertempat di kediaman Big Boss. Acara dimulai seusai sholat Isya’.

Semua peserta rukyah harus duduk tenang dengan mata terpejam. Mengikuti apa yang dikatakan oleh pembimbing rukyah. Doa-doa khusus digemakan dalam ruangan tersebut. Kami pun mulai khidmat. Baru berjalan beberapa menit, dari ujung sudah terdengar teriakan. Ya! Ada peserta yang kesurupan.

Lantas semua formasi berubah menepi, menjauh dari sosok yang kemasukan jin. Sedikit ngeri, karena yang kami lihat mata nyalang ingin menerkam. Suara yang lebih nyaring dan saya tidak bisa menceritakan kejadian itu.

Intinya setelah rukyah, kami mendapatkan pelajaran. Bahwa jiwa kami pun butuh untuk selalu diberi tameg untuk terhindar dari lubang-lubang masuknya setan. Pukul 10.30 pm WITA kami disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing. 
Berhubung jalan yang saya tempuh rawan macet, juga posisi banyaknya pengguna miras. Saya tidak ikut pulang ke rumah, saya memilih pulang dengan mbak V. Dia baik banget, ternyata kami pulang berenam. Saya, mbak V, Mbak I, dan satu lagi teman kami dari beda Showroom, ikut mengantar.

Jalan mulai sepi di area rumah Big Boss, mengingat jauh dari kompleks dan pertokoan. Tapi, kami berusaha untuk tidak gentar. Udara sudah dingin malam itu Rabu malam Kamis. Untung bukan malam Jumat. Lantas Aku, Mbak V dan Mbak I bertamu di rumah mbak I, kebetulan rumah mbak V tidak jauh dari mbak I. Sembari menunggu malam pergantian tahun. Mata sudah mengantuk sejak tadi. Tapi ditahan.

Tibalah saatnya malam itu berakhir, kami segera naik ke lantai dua rumah mbak I, untuk melihat taburan langit yang penuh dengan kembang api. Beragam yang timbul di langit, seketika aku merindukan rumah. Hanya selang beberapa menit, malam itu sudah berakhir.

Jadi, malam tahun baru hanya begitu saja?
Akhirnya kami ngobrol di ruang tengah kediaman mbak I, karena penghuni rumah sudah terlelap semua. Makanya mirip maling bisik-bisik. Mata kami sudah lima watt, ditambah keesokan hari, kami tetap masuk kerja. Akhirnya disudahi acara kami, aku dan mbak V pulang ke rumah mbak V. Kami pun melanjutkan acara menonton TV. Hihihi, bisa dibilang master begadang. Tapi, tak sampai pukul 2 dini hari sudah usai acara kita. Esoknya malah tepar.

Jadi kesimpulannya? Malam tahun baru membuat mata makin hitam. Efek begadang. Tubuh kurang fit karena dipaksa untuk terjaga.
Beda lagi pergantian tahun 2015 menuju 2016 (Malang, Jawa Timur).

Cepat sekali waktu bergulir, yang sebelumnya masih berstatus karyawan sekarang sudah berstatus mahasiswa. Malam tahun baru, bisa dibilang tugas yang menumpuk. Karena masih sore kami masih mengerjakan tugas di ITC. 
Bayangkan saja, itu hal yang menyebalkan. Walhasil aku pulang ke kontrakan. Bunda angkatku mengizinkan aku tahun baru bersama temanku. Tapi, aku gak suka. Karena kota Malang yang padat akan membuat jalanan macet.

Sedangkan temanku memaksa mengajak. Akhirnya aku ikutin saja, tapi sebelum itu kami mencari makan. Mencari makan. Jam 22.00 WIB mencari makan? Ada? Setelah keliling hampir sampai ke perbatasan Batu. Kami menemukan di salah satu warung. Membeli sate ayam. Bisa dibilang Mahasiswa itu kere, makan saja pas-pasan. Muka udah belepotan.

Usai mengisi perut, kami pun pergi melihat pertandingan basket di kampus, semacam latihan. Tapi, aku sudah merengek kepada temanku untuk pulang lebih awal. Entahlah aku merasa kalut, takut dan macam-macam. Tidak ada malam tahun baru selain ditraktir makan gratis. Tidur nyenyak sampai pagi.

Malam Tahun Baru 2016 menuju 2017 (Situbondo)

Kalau sudah di kota sendiri maka menjadi Rapunzell, di rumah. Eh tapi kebetulan kemarin itu masih sempat sibuk. Ngapain? Akhir tahun menyelesaikan bacaan. Buku Tentang Kamu-Tere liye dalam sehari semalam. Kebetulan bukunya dikasih oleh seseorang yang dermawan. Hihi, kemudian aku menulis resensinya.

Bisa baca resensinya di sini.

Punya waktu sendiri, membaca buku tuntas membaca sampai jam 20.00 WIB lantas langsung ngebut menulis. WAHHHH! Gak menyangka buku setebal 500 halaman bisa selesai dalam sehari. Xixixi. Itu karena selain bukunya memikat, juga isi ceritanya bagus. Bahkan tak jarang malah menangis sendiri. Terharu dengan perjuangannya yang super sabar , menghadapi segala cobaan.

Tetangga sudah ramai dengan acara bakar-bakar jagung dan ikan, aku hanya bisa diam mencium aromanya. Tak sampai pukul sepuluh, sudah memilih tepar. Tidur! Tiada masalah walaupun tak ikut melihat kembang api.

Tahun 2017 menuju 2018

Perkiraan ambivert sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang kemarin. Kalau enggak membaca buku, ya menulis atau mengedit saja. Toh, tidak ada manfaatnya melihat kembang api di tengah malam, berdesak-desakan dan menyebalkan saja kalau momentumnya hanya untuk melihat kembang api.

Sedih juga sih, akhir bulan kan sama aja dengan akhir tahun. Sama-sama tinggal dikit uangnya. Mending di rumah atau tidur, daripada begadang hingga kesehatan terganggu. Apalagi sekarang udah musim sakit, batuk dan macam-macam.

Saran Ambivert buat yang jomlo gak punya teman. Tahun baru tetap happy asal kita kreatif saja menjadikan momen yang baru. Misalnya nih, yang suka banget nonton film. Bisa tuh nonton film bareng keluarga, atau sahabat.

Buat yang suka baca kayak saya, nah- tantang dirinya untuk terus membaca. Selama masih diberikan kesempatan untuk membaca. Pilih buku-buku yang ringan dan pembahasan yang tidak begitu memeras otak, misalnya buku fiksi atau komik.

Bagi yang hobinya melukis atau menggambar, bisa banget memanfaatkan waktu untuk kreatifitas seninya.
Intinya, apa pun profesinya tetap untuk terus berproduktivitas. Demi masa depan lebih cerah. Tahun baru hanya sebuah bergantinya hari. Tidak otomatis dirimu berganti juga. Memanfaatkan resolusi tahun lalu yang belum direalisasikan agar segera tercapai.

Tahun baru ala ambivert itu berposes. ☺😊
Kalau ada yang bingung kenapa sampul postingan gak ada gambar kembang api(?) Kok malah hanya tiga koin dan stiker bekas kegiatan literasi. Karena akhir tahun baru hanya itu yang tersisa. 😂 

Realisasinya masih jauh dari resolusi. 

Terima kasih sudah mampir. :)

Selamat liburan! 😄🙏