Poetry

Keadamu yang Kupanggil dalam Bingkai Doa.


Baiq Cynthia

Melalui secarik harap dalam kata-perkata masih tersimpan sepucuk rindu.


Kubiarkan saja, hadirmu memang kunantikan. Maka rindu itu tak akan kubiarkan tumbuh.


Aku terlalu naif, menyukaimu, tapi tak menghadirkan setitik perasaan.


Bagiku cukup membingkai sayup-sayup namamu dalam kalbu.





Aku memang bukan wanita yang istimewa, memiliki tetes darah biru.


Aku tidak terlahir dari keturunan pemilik tongkat-tongkat berselimut permata.


Aku bukan pemilik paras yang berbalut kain sutera.


Aku hanyalah sosok wanita biasa yang siap menemanimu membaca dunia.



Di bawah rembulan yang redup, kutangkupkan harapan setipis kabut.


Bukan meminta kau datang dengan segala kemewahanmu.


Tapi aku akan bersyukur, saat kau hadir melengkapi kekurangku.


Inikah hati yang telah tertaut?



Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan bulan-bulan lainnya yang akan kulewati sendiri.


Membiasakan untuk mandiri di atas dentum jejak kaki .


Kuharap masa penantian itu, menambal dosa-dosa yang merambah setiap masa.


Pun membunuh rasa itu, kubiarkan saja rindu itu pupus.


Agar aku tidak mencintai terlalu dalam, sebelum kau datang membawa bukti cinta.



Hanya satu doa-doa yang terus kubisikan dalam sepi, sunyi dan kekosongan.


Doa untukku, agar bisa menjaga diri, menutup hati demi keutuhannya.


Doa untukmu, engkau terus berpacu dengan waktu, dengan guguran peluh demi pengabdianmu.


Doaku pada pemilik hati, jika memang namamu yang tertulis dalam kitab-Nya, pertemukan aku dan kamu dalam mahligai cinta yang suci.


Maafkan aku, kini aku harus melepaskan semua tentang kamu.


Karena kita masih sama-sama berjuang untuk saling menguatkan, kelak dalam satu genggaman.


Situbondo, 8/4/18



0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.