Penulis Teks Komersial era Milineal


Penulis Teks Komersial era Milineal.

Menjadi  penulis bayaran itu tidak enak, terlebih karyanya tidak ada hak cipta nama penulisnya. Menjadi ghost writer adalah sebutannya, kita menulis sesuai dengan ketentuan kemudian dengan harga yang ditetentukan. Saya ingin berbagi pengalaman soal hal ini. 

Tidak jarang freelancer ingin menjadi sesuatu yang baru dan mendapatkan penghasilan dari apa yang dikerjakan. Termasuk freelancer sebagai penulis. Sering didengungkan penulis yang hanya karyanya saja diambil namun tidak mendapatkan reward, sebagai penulis teks komersial. Pengerjaan sebagai penulis ghost writer, semacam budak tulisan. Kita dituntut menulis naskah dengan susah payah menguras otak dan energi serta meluangkan banyak waktu demi artikel sesuai dengan yang diminta. Pada akhirnya tulisan yang dikumpulkan sudah menjadi milik orang lain, orang lain mencantumkan nama pada karya kita!!!
 
Artikel yang diminta biasanya bertema berbeda setiap tugas yang diberikan, tergantung permintaan klien. Mulai dari tema sehari-hari, sampai dunia games. Ghost writer dituntut untuk mengetahui banyak informasi dengan cepat dan akurat. Tentunya hasil tulisan setelah dicek pada mesin anti plagiat harus lolos 100 persen. Tidak ada tanda-tanda plagiat lagi dalam naskah yang akan dikumpulkan. 

Menjadi penulis teks komersial, harus profesional. Mengumpulkan tulisan dengan jumlah naskah yang diminta juga tepat waktu. Sebelum deadline yang ditentukan. Biasanya pemberian materi diberikan sehari sebelum tugas dikumpulkan, terkadang kurang dari 24 jam. Penulis yang memiliki rutinitas padat harus pandai memanajemen waktunya, kalau enggak? Maka tidak akan menyelesaikan naskah tepat waktu. 

Karena ghost writer, tulisan kita dibayar tidak serta merta mendapatkan bayaran yang tinggi. Biasanya cara hitungnya per artikel ada yang IDR 3000 sampai IDR 8000. Murah sekali ya! Tidak setara dengan hasil dan waktu yang dikorbankan. Saya memilih mengundurkan diri setelah merasa adanya tekanan dalam menulis. Pertama, harus revisi saat ada beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan permintaan. Kedua, siap bekerja di bawah tekanan. 



Terkadang pesan masuk untuk materi diberikan di atas jam 9 malam. Waktunya istirahat harus rela begadang, demi menyelesaikan naskah yang diminta sesuai dengan kategori pesanan klien. Otak dipaksa untuk menulis teks yang kaku seperti artikel berita. Tidak ada daya untuk memberikan percikan kalimat-kalimat copywriting maupun prosa. Murni artikel pada umumnya. 

Saya yang memiliki backgroud bebas, imajinatif dan kreatif tidak betah harus menulis kalimat yang tidak efektif penuh dengan pengulangan. Menulis dibayar dengan upah yang tidak sesuai dengan pekerjaan bagi saya hanya membuang-buang waktu. Sementara ada banyak web yang memberikan reward menulis kreatif dan inspiratif sesuai dengan passion dengan hak cipta sepenuhnya milik saya dan tentunya menambah lingkar pertemanan.

Menjadi penulis teks kormesial tidak mudah, kawan. Butuh motivasi tinggi untuk terus menulis di sana. Motivasi terbesar hanyalah uang. Sementara saya tidak memprioritaskan fee. Hal paling penting dari menulis ialah membagikan pengetahuan yang saya miliki dan tentunya bisa menebar asas kebermanfaatan. 


Penulis: Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts