Thursday, December 13, 2018

Fenomena Media Sosial di Kalangan Anak di Bawah Umur

0

Fenomena media sosial di kalangan anak di bawah umur.

Media sosial sudah menjamur di era milineal, terlebih pesatnya gadget terbaru yang memiliki vitur lebih bagus lagi, bisa melakukan video call atau fitur-fitur foto lucu yang kemudian di share di media sosial. Pengguna media sosial tidak hanya dari kalangan dewasa dan manula bahkan anak-anak di bawah umur juga ikut ‘mencicipi’ dunia maya yang sering kita kenal media sosial. Tanpa bertemu secara fisik, kita bisa terhubung dengan beragam orang dari belahan dunia mana pun. Tak jarang sering terjadi kejahatan melalui media sosial. Rawan terjadinya penipuan bahkan sampai pada kasus terjadinya penghilangan nyawa.

Orangtua terlalu khawatir dengan kondisi anak-anak mereka ketika di luar rumah, tak jarang orangtua memberi bekal alat komunikasi berupa gadget untuk selalu bertukar kabar. Tetapi karena anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka membuat media sosial. Alasan anak mempunyai media sosial, karena mengikuti perkembangan zaman. Pola pikir anak yang polos terkadang lebih suka meniru temannya yang lebih dulu memiliki media sosial. Tidak ada alasan orangtua zaman now melarang anak mempunyai akun media sosial karena memang tuntutan teknologi dan perkembangan zaman.

Sebenarnya media sosial tidak selalu cenderung buruk, ada banyak dampak positifnya. Anak bisa berkomunikasi dengan temannya, bertanya tugas ketika tidak masuk sekolah. Melalui media sosial anak bisa mengetaui hal baru yang tidak diketahuinya. Melalui youtube, anak-anak bisa memperoleh informasi baru dan menarik. Tetapi, dampak negatifnya juga tidak kalah besar untuk perkembangan dan pola pikir anak.


Baiq Cynthia Opini Media Sosial
sumber:

Media sosial ibaratnya seperti pisau yang tajam, jika bisa mengendalikan penggunaan media sosial, maka ragam manfaat media sosial seperti menambah pertemanam dan berbagi maupun mendapatkan  hal baru di media sosial.

Orang tua yang memiliki kesibukan di luar rumah, juga mendapatkan manfaat positif adanya media sosial. Media sosial mempermudah orangtua memantau keadaan anaknya dan mendapatkan kabar setiap saat. Media sosial juga bermanfaat untuk sarana promosi diri maupun jasa, bagi beberapa orang dewasa hanya sebuah hiburan saja; melepas rasa penat setelah seharian bekerja.Terlepas dari segudang hal positif dari media sosial, sebagai orangtua wajib memberikan arahan kepada anak, tentang apa saja yang boleh diakses juga yang dilarang untuk dibuka.


Kapan Anak Diperbolehkan Punya Media sosial?
Tidak ada batasan kapan sebaiknaya memiliki akun media sosial. Hal utama yang harus diperhatikan adalah, apakah anak sudah siap secara mental maupun moral untuk bertanggung jawab. Mereka hanya tahu jika mempunyai akun media sosial itu terlihat lebih keren, dan mereka bisa menjadi 'artis dadakan' melalui media sosial. Tetapi mampukah anak untuk mengatur emosinya, di kala derasnya arus informasi yang tidak jarang hoax. Apakah anak sudah cukup matang merespon berita-berita yang hangat. Anak cenderung hanya sekedar melontarkan apa yang ia tahu, tapi masih belum bisa mengatur emosi. Apakah yang ditulis dalam sebuah komentar sudah pantas atau masih mengandung cyberbullying, yang merugikan diri sendri maupun orang lain. Tidak mudah memberikan patokan usia, kapan anak diperbolehkan punya media sosial. Bahkan tidak jarang yang usianya di atas 13 tahun, namun masih belum bisa membedakan mana hatespeech mana kritik. Peran orangtualah yang lebih tahu karakter anak, usia tepat mempunyai media sosial.


Baiq Cynthia Media Sosial Anak
sumber:

Jika Telanjur Memiliki Akun Media Sosial di Bawah Umur, Bagaimana?
Tidak salah jika orangtua ingin mengenalkan dunia maya yang begitu banyak hal yang baru dan metode baru belajar anak dengan media sosial. Maka hal-hal yang harus diperhatikan oleh orangtua saat anak telanjur memiliki akun media sosial;
cara hentikan gadget pada anak
sumber :
https://www.publicnewsservice.org
  • Membatasi penggunaan media sosial, sangat penting memberikan jadwal untuk anak. Waktu belajar tentu diprioritaskan, mengalihkan pada permainan di dunia nyata yang lebih menarik, juga mengajak jalan-jalan sebagai sarana pengenalan dengan lingkungan sosial. Menurut beberapa pakar penggunaan media sosial yang baik untuk anak berkisar 1,5 jam hingga 2 jam setiap hari. Jika melebihi dari itu, khawatir terjadi sebuah masalah baru pada konstrentrasi berpikir anak, depresi, sulit tidur tepat waktu hingga gejala antisosial.
  • Mengganti cara bermain anak, memilihkan permainan mengasah otak kanan yang berhubungan dengan seni seperti menggambar, melukis dan aktivitas-aktivitas outdoor yang menyenangkan. Aktivitas lain selain bermain gadget merupakan salah satu cara mengurangi kecanduan media sosial.
  • Orantua wajib memantau aktivitas anak di media sosial, apa saja yang ia tulis dan usahakan mengaktifkan mode aman dalam pengaturan akses media sosial. Agar tayangan yang tidak sesuai bagi anak bisa disembunyikan. Beritahu juga lingkaran pertemanan hanya sebatas keluarga, tidak menerima pertemanan dari orang asing.

Mengajarkan keutamaan berdoa maupun belajar mandiri membuat tugas PR sebagai tameng paling ampuh untuk mengaktifkan pontensi kecerdasan anak lewat alam bawah sadar, sehingga media sosial otomatis terhapus dalam memorinya. Masa perkembangan anak jangan sampai dinodai oleh dampak buruk penggunaan media sosial. Sebagai orangtua pasti tidak ingin masa depan anak hancur karena media sosial.

Penulis: Baiq Cynthia / www.baiqcynthia.com
 

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.