Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.
Saya sangat memberikan apresiasi pada diri sendiri yang berani keluar dari zona nyaman. Drop out dini, dengan alasan krusial yaitu masalah finansial, padahal itu impian yang sudah lama didambakan, mencari beasiswa, dan bantuan dari keluarga IMM Renaissance. Bagaimana mungkin bisa lupa dengan segala kepedihan dan kesulitan dari jeratan yang tak kasat mata, tanpa bantuan orangtua. Menjalani hidup di kota orang yang asing dengan sendiri.
Menggeser November 2016, ambivert patah hati Nasional. Setelah banyak berusaha dan berharap sosok lelaki yang digadang-gadang akan menjadi calon suaminya harus meninggalkannya dengan beragam tanda tanya. Memilih untuk amnesia? Bahkan kilasan memori itu terus mengalun pada setiap detik deru nadi. Berhenti berharap pada seorang yang katanya akan menikahiku.
Luka dalam diubah dengan membaca cerita dan menulis, hingga mendapatkan banyak bonus buku. Semangat menulis meletup-letup hingga dinobatkan menjadi juara editing naskah. Saat itu sosok yang membuatku galau dan mood berantakan, kembali dan mengatakan selamat. Kebahagiaan yang tak terkira. Semacam dukungan dan kesempatan untuk bisa kembali (?)
Terlalu naif membiarkan waktuku hancur hanya untuk menanti ketidakpastian, yang menyakitkan pada relung dada. Kalau boleh merayakan duka, akan kubuat ribuan puisi yang menjejalkan namanya sebagai penyebab luka.
Tahun berikutnya mengikuti lomba menulis dan mengasah diri dengan mengikuti UNSAM 2018, bertepatan dengan ikut tantangan menulis remake sebuah novel. Pun mengalami sebuah peristiwa traveling dadakan dan menjelajah tempat-tempat penting juga bertemu dengan penyair favorit. Di tempat yang jauh dari kotaku. Merenung tentang sebuah kehidupan yang pasang-surut. Aku menggilai dunia menulis. Dan kau tahu, dia tetap hadir memberikan dukungan. Aku semakin yakin bahwa dia akan menjadi seseorang ayah dari anakku kelak.
Stok sabar masih banyak dan pengorbanan waktu dan rindu yang tak terbalas pada akhirnya berujung dengan bertemunya dengannya 2018. Tapi, apa yang terjadi?
Hubungan yang aku anggap serius, ternyata tidak konkrit. Dia pun mengatakan tidak mempunyai perasaan selama ini. Jadi apa?
Saat itu aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta, walaupun terlalu banyak yang hadir menyapa maupun singgah. Aku tak lagi sudih menerima. Entah mengapa, cinta bisa kalah dengan kata komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Seorang lelaki yang tidak kutahu asalnya, sosok yang asing tiba-tiba mengajak berkomitmen tanpa embel-embel gombal maupun candaan romantis. Entah siapa yang menggerakan bibir dan jemari untuk membalas pesannya. Aku menerima komitmennya tanpa syarat dan tanpa harapan lainnya.
Semua berjalan begitu cepat hingga kami akhirnya menikah, meskipun kami tak pernah bertemu sebelumnya, selain ia yang datang ke rumah membawa rombongan keluarga. Detik itu juga, aku percaya seseorang yang berani datang ke rumah dengan keluarga pasti sangat serius. Kami mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang super singkat yaitu 15 hari.
Saat itu aku percaya kepada Allah yang menguasai hati manusia, soal jodoh yang datang tepat pada waktunya. Orang baik akan bertemu dengan jodoh yang baik pula pun doa seseorang setahun lalu, “Semoga mendapatkan lelaki Shalih.”
Sudah sebulan penikahan kami, 1 November 2018 aku yakin pikiran positif akan membawa kepada kebahagiaan. Sekalipun yang dijalani bukan harapan yang diinginkan. Pikiran yang baik selalu memunculkan kebahagiaan. Walaupun menjalani kehidupan yang berkelok dan penuh aral. Ia mengajakku untuk dinner di luar malam ini. Sungguh sebuah kebahagiaan sederhana yang berkesan, jika kita rayakan dengan penuh cinta, syukur dan bahagia.
Aku tak akan membuang waktu sia-sia hanya mengharapkan semua keinginan hidup tercapai, lebih baik capailah impian dan harapan dengan cara yang baik dan bertahap. Semua akan indah tepat pada waktunya. Love you, My Husband.

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts