(Essai) Siapa Penikmat Film Indonesia Berkualitas?

Essai karya Baiq Cynthia & Reyhan M. Abdurrahman dilombakan untuk tugas UNSAM 2018

Perkembangan film Indonesiabenar-benar melesat. Buktinya beberapa film garapan sineas dalam negeri mampubersaing di kancah internasional. Penghargaan festival film di luar negeri punsudah banyak mereka dapatkan. Faktanya, karya hebat mereka justru tidak bisadinikmati di bioskop dalam negeri, karena berbenturan dengan Lembaga SensorFilm yang dinilai sangat ketat dalam menjaring film atau tayangan yang hendak disebarluaskan ke penikmat film tanah air. Kenapa? Bukankah itu akan membuat prospekcerah bagi perfilman di dalam negeri. Lalu bagaimana kita bisa menikmati filmberkualitas yang sudah diakui di luar negeri jika tak bisa ditonton di dalamnegeri, jadi siapa penikmat film Indonesia yang berkualitas tersebut?

Menarik untuk dikupas lebih dalam. Mengingat film merupakan tayangan yang tidak hanya sebagai hiburan, tapi media menyampaikan gagasan kepada penikmatnya dengan cara menarik. Sependapat dengan Effendi (1986) yang mengartikan bahwa film adalah hasil budaya dan alat ekspresi kesenian, sehingga film memang penting keberadaannya sebagai sarana berekspresi dan berkebudayaan. Maka tidak heran jika muncul film-film “jujur” yang terkadang tidak bisa diterima karena terlalu sensitif untuk ditayangkan di Indonesia yang notabene bermasyarakat majemuk dan berkebudayaan timur.

Tim Lembaga Sensor Film tentu akan selektif dalam meloloskan sebuah film untuk bisa tayang di muka khalayak dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Ini tidak sembarangan. Karena akan memberikan dampak yang sangat terasa pada rumah produksi. Rumah produksi tentu tidak mau rugi, tapi terkadang keputusan LSF dinilai telah merugikan karena memberikan pilihan; disensor, diubah, atau bahkan tidak tayang sama sekali.

Rupanya, keuntungan yang besar atau minimal balik modal dari jumlah tiket yang terjual ternyata bukan menjadi tujuan bagi beberapa sutradara dan rumah produksi, karena mereka tetap menomorsatukan idealisme mereka yang terkadang berbenturan dengan peraturan yang sudah diatur oleh LSF. Atas nama kejujuran. Bisa jadi film yang dibuat tersebut memang sengaja tidak ditayangkan di dalam negeri, tapi diikutkan pada ajang festival internasional, karena sudah tahu apa yang diangkat adalah hal tabu yang akan menimbulkan kontra. Hebatnya apa yang mereka lakukan dan niatkan itu malah mendapat penilaian plus di luar negeri hingga mendapatkan pelbagai penghagaan bergengsi.

source: Stock photos

Kita telisik film About a Woman (2014) buatan Teddy Soeriaatmadja yang terpaksa tidak bisa tayang di bioskop Indonesia karena tak mau filmnya dipotong oleh LSF, karena menurut sang sutradara akan mengurangi esensi film tersebut. Film yang menonjolkan konflik seksualitas, agama dan kemunafikan ini malah mendapat apresiasi besar di luar negeri. Pada akhir 2014 film ini diputar di world premiere di Singapore International Film Festival 2014.

Tema Kontrversi dan Sensitif

Sebenarnya Undang-undang tentang perfilman sudah jelas memberikan batasan-batasan sebuah tayangan yang dapat diterima dan bisa dijadikan konsumsi publik. Sutradara pun harusnya sudah mengetahuinya, karena batasan tersebut tak bisa dilanggar jika karyanya tetap ingin mejeng di dalam negeri. Hanya saja, masih banyak sineas yang tetap memperjuangkan idealismenya, dengan mengatasnamakan kejujuran dan penyampaian gagasan, dengan mendobrak peraturan yang ada.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman Pasal 19, film dan reklame akan ditolak jika mengandung salah satu adegan yang dilihat dari segi sosial dan budaya menampilkan ketelanjangan dari segala sisi, close up alat kelamin, buah dada, dan pantat, ciuman yang merangsang, onani, oral, dan seks sesama jenis, dll. Maka jika kita menilik film Parts of The Heart(2012) garapan Paul Agusta yang mengangkat cerita homoseksual ini jelas tidak akan bisa ditayangkan di Indonesia, meskipun film yang menceritakan kehidupan Peter yang seorang homoseksual yang dikemas apik ini sudah mendapatkan banyak penghargaan di luar negeri, salah satunya adalah Festival Film Internasional Rotterdam 2012.

Tema homoseksual yang diangkat dalam film The Sun, The Moon and The Hurricane(2014) yang disutradarai Andri Cung ternyata memang sengaja tidak ditayangkan di bioskop Indonesia, tapi sudah mengantongi prestasi di luar negeri. Film yang menceritakan kisah kehidupan Rain yang diperankan oleh William Tjokro ini pernah tayang perdana pada Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014 dan mendapat pernghargaan sebagai Official Selection dan nominasi sutradara baru terbaik pada Vancouver International Film Festival 2014.

Film semacam ini tetap bisa diterima di luar negeri khususnya negara-negara yang tidak terlalu mempersoalkan tetang LGBT tapi tetap tak melegalkan pernikahan sesama jenis. Sebut saja Thailand yang menjamur sekali film dan tayangan berbau homosexual. Bukannya dilarang pemerintah dan dapat penolakan dari masyarakat, malah film dan tayangan serupa tersebut digemari dan mendapatkan banyak penghargaan dan fans. Sebut saja film The Love of Siam, yang mengantarkan sang aktor Mario Maurer menjadi lebih terkenal dan memacu munculnya film dan tayangan serupa. Lembaga sensor di Thailand agaknya lebih memberikan keleluasaan terhadap sineas mereka asal tetap tidak mempertontonkan adegan dalam ranah privasi. Masyarakat tidak melakukan penolakan, bahkan diketahui penikmatnya kebanyakan adalah remaja putri yang jelas menjadi pasar paling ramai.

Memang apa yang ingin disampaikan sutradara lewat film Parts of The Heart dan The Sun, The Moon and The Hurricane serta film serupa lainnya bukanlah tentang pembenaran homoseksual semata atau tentang seksualitas yang dieksplor, tapi sekedar memberikan pengetahuan kepada khalayak tentang keberadaan kaum tersebut, termajinalkannya kaum tersebut dan gejolak-gejolak yang dialami mereka, serta menyisipkan pesan penting yang menjadi tujuan sang sutradara. Apa boleh buat, film tersebut  tetap tidak bisa tayang, meski penghargaannya sudah berderet.

Kritik sosial pada suatu kelompok atau golongan yang lebih dari 50% pada sebuah film atau tayangan juga tidak diijinkan lolos oleh Lembaga Sensor Film. Sehingga, menyebabkan film Babi Buta yang Ingin Terbang atau dalam judul di luar negerinya menjadi Blind Pig Who Wants to Fly ini tidak tayang di Indonesia. Film yang rilis tahun 2008 ini lahir dari tangan dingin Edwin, dengan pemeran utama Ladya Cheryl dan Pong Hardjatmo. Menceritakan seputar etnis Tionghoa di Indonesia yang diwakili oleh beberapa tokoh di dalamnya. Kisah yang dirangkum dalam durasi 77 menit memberikan pesan tentang delapan karakter serta mozaik bagaimana menjadi seorang keturunan Tionghoa di Indonesia. Penghargaan yang telah diraih diantaranya; Rotterdam International Film Festival 2009 (Fipresci Prize), Singapore International Film Festival 2009 (Fipresci/Netpac Award), Pusan International Film Festival 2008 (Nominated New Currents Award), Nantes Three Continets Festival 2009 (Young Audiece Award), terakhir Jakarta Film Festival 2009 (Best Director).

Sebuah film garapan Teddy Soeriaatmadja, berhasil menuliskan sejarah dalam Berlin International pada tahun 2013 sebagai World Premiere. Dibintangi oleh aktor kondang—Reza Rahardian dan Ratu Felisha. Film yang sarat dengan memicu adanya gejolak sosial ini pun tidak diperkenankan di bioskop Indonesia. Something in The Way (2013) merupakan judul film yang mengangkat tema agama, konflik yang cenderung menuai kontra, dengan memvisualisasikan agak vulgar. Sang sutradara mengaku, film ini memang sengaja tidak diedarkan di Indonesia, karena dia menyadari tak akan lolos dari LSF.

Sebenarnya ada tiga kemungkinan yang dapat diambil oleh pekerja film jika film yang digarapnya tidak lolos sensor, yakni tidak bisa tayang sama sekali, tayang secara terbatas, atau tayang di luar negeri. Mungkin pilihan terakhir yang akan diambil sineas yang berani mengangkat tema-tema kontoversi dan sensitif, dan sudah tahu tidak akan lolos oleh LSF bahkan akan menimbulkan kontra di negaranya sendiri.

Film Tanda Tanya garapan Hanung Bramantyo. Memasukkan banyak tokoh utama yang memiliki perbedaan dalam agama. Bisa dibilang masyarakat Indonesia sangat sensitif dengan SARA. Tokoh utama Menuk yang beragama Islam bekerja pada restoran China yang beragama Kongkhucu. Suaminya Soleh yang Islam menjadi Banser NU yang terkadang ditugaskan mengamankan acara ceremonial agama lain. Seperti perayaan Natal. Tapi, dalam film yang sarat dengan nilai moral tak benar-benar mengajak penonton untuk bermusuhan seperti pada karakter Hendra yang menjadi tokoh antagonis. Bila ditonton secara keseluruhan, nilai moralnya tentang. “Biarkan masing-masing individu memiliki cara menemui Tuhannya, sendiri.” Kutipan dari skenerio film Tanda Tanya. Tak terhitung kritikan dituai dari kelompok muslim Indonesia, tentang isi pesan plurarisme. Film yang diputar secara Internasional ini mendapatkan nominasi pada sembilan Piala Citra di Festival Film Indonesia (2011), tapi ruang publikasinya terpangkas.

Lolos dari LSF

Diadakan Festival Film Indonesia, menjadi ajang ekplorasi sinema yang menaikkan citra film di Indonesia. Meski beberapa malah laris di luar negeri, daripada di rumah ibu pertiwi. Terlepas dari peraturan LSF yang begitu ketat terhadap konten; pornografi, pornoaksi, SARA, maupun LGBT, merupakan sebuah kewajaran tetap memerhatikan kultur budaya bangsa. Sebagai negara yang memiliki pedoman sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Jelas melarang adanya penyelewengan dengan konten negatif. Narasi film yang tidak sesuai dengan moralitas bangsa jelas akan dihapus. Meski tak sedikit yang menjadi sasaran LSF; seperti adegan kekerasan yang menumpahkan darah, akan di-blur, termasuk film pendatang luar negeri yang mengambil lebih banyak cerita vulgar juga akan dipotong. Akhirnya beberapa film yang ditayangkan, akan kehilangan sisi menariknya.

Toleransi sangat penting dalam pembuatan sebuah film yang mengangkat isu panas. Tidak melulu tentang idealisme yang harus terwujud, tapi setidaknya bisa diwakili dengan pengadeganan yang masih bisa ditolerir oleh LSF, sehingga dapat diterima di dalam dan di luar negeri.

Pengabdi Setan sudah pernah ditayangkan di era 1980-an. Karena tingkat kengerian, efek horor yang terlalu mencekam. Akhirnya pada masa tersebut film pengabdi setan ditayangkan secara terbatas. Joko Anwar selaku sutradaraPengabdi Setan (2017), menuliskan kicauannya pada akun twitternya. Ucapan terima kasih kepada penonton Pengabdi Setan. Tak mudah bagi sang sutradara meyakinkan Rapi Films untuk merilis film yang membutuhkan satu dekade me-remake menjadi lebih fresh. Film horor sejak setelah tahun 2000-an identik dengan kesan horor campuran. Bahkan cenderung menyisipkan adegan blue-ray.

Setelah sukses ditonton lebih dari 2.8 juta penonton, bahkan mengalahkan rekor film horor abadi seperti Danur. Pengabdi Setan tetap memiliki kekurangan dari segi efek visual. Sang sutradara tidak ingin bermain dengan CGI (ComputerGeneratedImagery).Baginya cukup efek-efek alami yang muncul dalam film yang berdurasi 107 menit. Rumah kuno di daerah Pengalengan yang menjadi visualisasi cerita, benar-benar ditajamkan. Demi menjaga nuansa horor yang mencekam. Meski tak menjelaskan dengan budget yang dihabiskan, sang Produser—Sunil memastikan lebih dari 2 Milyar.

Padahal akan lebih ‘liar’ dan penuh fantasi jika efek tersebut ada. Film-film yang sukses di Hollywood, lebih banyak menggunakan efek CGI selain mengurangi resiko adanya cedera para pemain, memangkas biaya produksi. Seperti film Jurassic Park, tidak perlu menghadirkan dinosaurus asli. Pada film legendaris yang mengambil setting tempo dulu, pun hanya cukup menyediakan transportasi kuno. Tak perlu mencari lokasi yang sesuai. Apa pun itu, Pengabdi Setan berhasil diterima di dalam negeri bahkan rencananya akan tayang di beberapa negara di Eropa dan Asia.

Jika hal tabu, kekerasan, berbau vulgar pun bisa di-remake total dalam sebuah film yang pernah dilarang keras peredaran secara kormesial. Maka catatan penting bagi sang sutradara, untuk lebih memajukan seni dalam sinematografi tanpa harus melawan arus peraturan penyiaran dan pertelevisian. Sebut saja film-film laris seperti Ayat-Ayat Cinta, mengambil isu sensitif seperti perbedaan agama. Tak lantas menjadi dicekal oleh LSF, karena dominansi nilai-nilai spiritual yang lebih dikukuhkan dan dikemas secara halus tanpa menyinggung pihak lain. Film Laskar Pelangi yang diangkat dari kisah nyata, perjuangan anak-anak mencapai kesuksesan. Anak-anak yang notabene harus dilindungi dan diberi kesempatan menuntut ilmu yang layak. Justru film ini sangat inspiratif, berkenaan dengan porsi kekerasan tidak ada dalam film tersebut.

Kebijakan negara pun penting dalammenetapkan standar diterimanya sebuah film atau malah dicekal. Seperti film2012, cerita tentang berakhirnya dunia bumi—terjadinya kiamat. Tidak dapatditerima di negeri China pada saat itu. Karena bertepatan dengan adanyaperayaan suci yang melarang adanya isu-isu negatif, yang khawatir akanmengganggu ketenangan penduduk di negeri Tirai Bambu.

Jika film berkualitas karya anakbangsa tak bisa tayang di negeri sendiri, maka siapa yang bisa menikmatinyakecuali tim dari Lembaga Sensor Film?

Ditulis, 7 November 2017 oleh Baiq Cynthia (Situbondo) dan Reyhan M Abdurrohman (Kudus)

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts