Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Friday, November 30, 2018

[Cerpen] Kau dan Kehilangan

Kau dan Kehilangan
Oleh : Baiq Cynthia

Cerpen ini pernah dimuat di Takanta.id
Ketika gelap menyapa sosok yang bercelana jin, angin malam berantuk kulit berbalut jaket.  Aku mengayuh sepeda di tengah temaram. Bekas rinai hujan, terus bertasbih. Pepohonan masih basah. Aroma tanah menguat diguyur langit.
Tak ada rumah penduduk. Jejeran lahan sawah, sebuah toko bangunan telah tutup. Dingin menyergap kompleks pemakaman. Diiringi melodi sayap jangkrik. Satu-dua motor melintas seolah dikejar sang waktu. Aku mempercepat mengayuh sepeda. Napas sedikit tersengal. Menumbuhkan bulir-bulir di kening.
Padahal udara masih dingin. Sisa tenaga telah menyusut, digunakan seharian di kampus. Berurusan dengan mata kuliah Logaritma. Huh! Dosen Killer. Membayangkan saja membuat perutku berbunyi.
Baru seperempat jalan yang kutempuh. Jalan beraspal penuh lubang. Sering kali membuat sebuah guncangan mini. Getaran kecil pada keranjang. Aku senang jalan sepi. Tidak harus menyempil di antara mobil dan motor berlomba mencapai finish.




(CERPEN) Cinta Ujung Memori

Cinta Ujung Memori
Baiq Cynthia

Kulit keriput di wajahku sudah menggelayut manja. Terlalu banyak kenangan yang terkubur di sela-sela rambutku yang menjadi putih kelabu. Lelaki yang duduk di sampingku lebih banyak diam, sesekali menatap aku. Far namanya, sudah hampir delapan puluh tahun melalang buana di bumi. Pertemuan kami pun selama 60 tahun lalu. Bingkai hati yang menutup jendela hatinya tak akan pernah terlepas. Terlalu banyak kenangan yang tertoreh pada buku bersampul biru. Kacamataku kian menebal. Hanya untuk membaca ribuan kali kenangan yang terekam sempurna dalam aksara. 



Saturday, November 24, 2018

[Review Film] Sui Dhaaga Made India 2018 India


[Review Film] Sui Dhaaga Made India 2018 India-Baiq Cynthia

Dibalik suksesnya seorang lelaki ada pengorbanan dan perjuangan seorang wanita. Karena tidak ada yang bisa hidup sendiri. Laki-laki dan perempuan seperti pakaian yang saling menutupi kesalahan satu sama lain. Wanita memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyakiti hatinya, tetapi ia bisa menjadi sosok yang kuat tanpa bandingan. Lelaki ialah pahlawan super yang rela berjuang untuk kehidupan orang di sekitarnya. Meskipun terkadang melupakan keadaan dirinya.

Tuesday, November 20, 2018

(Essai) Siapa Penikmat Film Indonesia Berkualitas?

Essai karya Baiq Cynthia & Reyhan M. Abdurrahman dilombakan untuk tugas UNSAM 2018

Perkembangan film Indonesiabenar-benar melesat. Buktinya beberapa film garapan sineas dalam negeri mampubersaing di kancah internasional. Penghargaan festival film di luar negeri punsudah banyak mereka dapatkan. Faktanya, karya hebat mereka justru tidak bisadinikmati di bioskop dalam negeri, karena berbenturan dengan Lembaga SensorFilm yang dinilai sangat ketat dalam menjaring film atau tayangan yang hendak disebarluaskan ke penikmat film tanah air. Kenapa? Bukankah itu akan membuat prospekcerah bagi perfilman di dalam negeri. Lalu bagaimana kita bisa menikmati filmberkualitas yang sudah diakui di luar negeri jika tak bisa ditonton di dalamnegeri, jadi siapa penikmat film Indonesia yang berkualitas tersebut?


Review Film Insyaallah Sah 2

Film yang ditunggu-tunggu setelah sebelumnya sudah booming Insyaallah SAH yang diperankan oleh Pandji Pragiwaksono, (Raka), Titi Kamal (Silvi) dan Richard Kyle sebagai Dion. Pada film Insyaallah SAH 2 dengan look lebih fresh tetap menghadirkan 'Raka' dengan tokoh yang sama dengan sebelumnya, yang berbeda penokohan 'Raka' yang lebih khas dengan cara berpikir yang lambat dan terlihat kocak.


Saturday, November 17, 2018

Bertemu dengan Jodohmu


Tentang Siapa dan Di Mana





Terkadang saya terheran-heran dengan segalanya yang terjadi begitu alamia pada setiap detik yang berubah. Keadaan dan situasi menuntut diri untuk lebih siap. Manusia memang memiliki rencana, tetapi perancang rencana paling hebat, Allah Sang Maha Menciptakan rencana.






Sunday, November 4, 2018

Jika Dia Jodohmu, Ia Akan Mendekatimu

Jodoh itu dekat.


Awalnya aku tidak percaya jika jodoh itu dekat. Pasalnya kita setiap hari dipertemukan dengan orang baru dan tidak bisa dipungkiri mereka hadir dari beberapa tempat. Selama ini menunggu jodoh seperti menanti mekarnya bunga Desember. Ia hanya sekali berbunga setiap tahun. Jodoh itu dekat.




Bertemu dengan suami seperti hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Kami tidak saling kenal dan tempat tinggal kami lumayan jauh. Jarak tempuh bisa sampai tiga jam setengah. Pertama hanya iseng dijodohkan dengan sahabat saya yang notabene masih dulur dengan kerabat kakaknya.




Pun rencana kami menikah tanpa persiapan yang sakral, hanya 15 hari saja. Menikah dadakan, bahkan banyak yang enggak percaya kalau kami sudah nikah tanpa pacaran. Memang dari dulu saya memimpikan itu, menikah dengan orang salih yang serius berkomitmen menjalani biduk rumah tangga tanpa main-main dulu (pacaran). Dalam benak saya soal menikah dengannya tidak memasang prioritas lagi, yang terpenting akhlak dan agamanya.




Alhamdulillah ternyata dia salah satu alumni ponpes di Bondowoso. Masyaallah, saat saya berkunjung di salah satu kerabat di Bondowoso. Tanya-tanya seputar pondok pesantren tempat ia mengenyam ilmu agama. Ayah kerabat saya jadi kepala sekolah di sana. Saya pun bertanya apakah mengenalnya. Ternyata memang kenal. Masyaallah.
Malam ini ada acara sambung tali silaturahmi di tempat pondok suami.



Entah tanpa sengaja bisa bertemu dengan sepupu nenek saya. Saya berbincang kemudian mengatakan kalau datang bersama suami. Ia merasa suami saya sangat familiar dengannya. Benar saja, ternyata mereka dulu bekerja di satu kantor yang sama.




Saya tanya kembali soal kepala sekolah dengan kakek saya yang memang menjadi salah satu pengurus di Ponpes. Beda, karena pengurus yang menaungi beberapa instansi. Sejak kejadian ini, saya makin yakin bahwa lelaki yang kini menjadi suami saya ialah jodoh yang dikirim oleh Allah untuk menemani perjalanan hidup sampai Jannah.




Meskipun kami berasal dari latar belakang budaya yang berbeda tetapi ada banyak ciri yang membuat saya yakin bahwa jodoh ialah dekat. Dekat bukan diukur dari jarak namun seberapa yakin dirimu bahwa hatinya dengan pemilik hati sangat dekat.
Menikah tidak menunggu mapan atau harus jatuh cinta dulu. Perbaiki niat terlebih dahulu nanti cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Cinta yang diutamakan ialah cinta kepada Allah.




Bondowoso, 3 November 2018

Saturday, November 3, 2018

Izinkan Aku Cemburu

Perempuan bisa menahan luka dan sedih dengan sedalam kekuatan hatinya. Tapi menahan cemburu? Sama sekali enggak bisa. Walaupun lelaki yang engkau cintai hanya melihat foto perempuan lain. Itu menyakitkan sekali bagi kaum wanita. Apalagi harus melihatnya memandang lebih dari lima menit, rasanya seperti ada gumpalan api bergumul di hati. Panas dan nyeri begitu dalam.

Aku tahu lelaki memang memiliki kodrat yang tidak bisa menutup mata ketika melihat wanita dengan paras cantik. Padahal menjaga pandangan itu penting, dengan terjaganya pandangan akan tertutup pintu menuju maksiat.




Wahai kaum lelaki, bisakah engkau menjaga pandangan untuk dirimu sendiri maupun kemurnian cinta sang istri? Seorang istri sudah melepaskan orangtuanya, kesenangan masa mudanya, maupun kesenangan untuk diri dan temannya. Ia rela dan patuh pada lelaki yang disebut suami. Ia menanggalkan segalanya hanya untuknya.

Lelaki memang tidak mampu jika melihat wanita yang menggoda imannya, tetapi sangat tangguh menahan cemburu. Sebaliknya, wanita bisa mengabaikan lelaki tampan bahkan ada wanita yang tidak tertarik pada harta bendanya maupun karirnya. Ia jatuh cinta murni karena kasih sayang dan perilakunya. Wanita bisa mengabaikan seribu pria demi lelaki yang paling dicintainya. Tetapi untuk menahan cemburu(?)

Wanita tidak mampu. Suruh jatuhkan saja peluru, jika batas cemburu terlampau besar. Ia tidak bisa melihat lelaki yang dicintainya menatap lawan jenis terlalu lama, apalagi sampai di tahap yang tidak sewajarnya.

Aku paham cemburu itu bisa menjadi peluru, yang membunuh perlahan. Tetapi hanya wanita yang setia dan sayang pasti akan merasa cemburu tatkala pasangannya mulai perlahan menjaga jarak, mengabaikan dan condong dengan sesuatu yang melupakan soal pasangannya.

Cemburu itu wajar, tetapi jangan terlalu besar. Kamu tidak akan kuat. Biar aku saja yang menanggung.




Baiq Cynthia

Friday, November 2, 2018

November Baru Bersemi, Peluk Erat.

Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.


Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.
Saya sangat memberikan apresiasi pada diri sendiri yang berani keluar dari zona nyaman. Drop out dini, dengan alasan krusial yaitu masalah finansial, padahal itu impian yang sudah lama didambakan, mencari beasiswa, dan bantuan dari keluarga IMM Renaissance. Bagaimana mungkin bisa lupa dengan segala kepedihan dan kesulitan dari jeratan yang tak kasat mata, tanpa bantuan orangtua. Menjalani hidup di kota orang yang asing dengan sendiri.
Menggeser November 2016, ambivert patah hati Nasional. Setelah banyak berusaha dan berharap sosok lelaki yang digadang-gadang akan menjadi calon suaminya harus meninggalkannya dengan beragam tanda tanya. Memilih untuk amnesia? Bahkan kilasan memori itu terus mengalun pada setiap detik deru nadi. Berhenti berharap pada seorang yang katanya akan menikahiku.
Luka dalam diubah dengan membaca cerita dan menulis, hingga mendapatkan banyak bonus buku. Semangat menulis meletup-letup hingga dinobatkan menjadi juara editing naskah. Saat itu sosok yang membuatku galau dan mood berantakan, kembali dan mengatakan selamat. Kebahagiaan yang tak terkira. Semacam dukungan dan kesempatan untuk bisa kembali (?)
Terlalu naif membiarkan waktuku hancur hanya untuk menanti ketidakpastian, yang menyakitkan pada relung dada. Kalau boleh merayakan duka, akan kubuat ribuan puisi yang menjejalkan namanya sebagai penyebab luka.
Tahun berikutnya mengikuti lomba menulis dan mengasah diri dengan mengikuti UNSAM 2018, bertepatan dengan ikut tantangan menulis remake sebuah novel. Pun mengalami sebuah peristiwa traveling dadakan dan menjelajah tempat-tempat penting juga bertemu dengan penyair favorit. Di tempat yang jauh dari kotaku. Merenung tentang sebuah kehidupan yang pasang-surut. Aku menggilai dunia menulis. Dan kau tahu, dia tetap hadir memberikan dukungan. Aku semakin yakin bahwa dia akan menjadi seseorang ayah dari anakku kelak.
Stok sabar masih banyak dan pengorbanan waktu dan rindu yang tak terbalas pada akhirnya berujung dengan bertemunya dengannya 2018. Tapi, apa yang terjadi?
Hubungan yang aku anggap serius, ternyata tidak konkrit. Dia pun mengatakan tidak mempunyai perasaan selama ini. Jadi apa?
Saat itu aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta, walaupun terlalu banyak yang hadir menyapa maupun singgah. Aku tak lagi sudih menerima. Entah mengapa, cinta bisa kalah dengan kata komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Seorang lelaki yang tidak kutahu asalnya, sosok yang asing tiba-tiba mengajak berkomitmen tanpa embel-embel gombal maupun candaan romantis. Entah siapa yang menggerakan bibir dan jemari untuk membalas pesannya. Aku menerima komitmennya tanpa syarat dan tanpa harapan lainnya.
Semua berjalan begitu cepat hingga kami akhirnya menikah, meskipun kami tak pernah bertemu sebelumnya, selain ia yang datang ke rumah membawa rombongan keluarga. Detik itu juga, aku percaya seseorang yang berani datang ke rumah dengan keluarga pasti sangat serius. Kami mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang super singkat yaitu 15 hari.
Saat itu aku percaya kepada Allah yang menguasai hati manusia, soal jodoh yang datang tepat pada waktunya. Orang baik akan bertemu dengan jodoh yang baik pula pun doa seseorang setahun lalu, “Semoga mendapatkan lelaki Shalih.”
Sudah sebulan penikahan kami, 1 November 2018 aku yakin pikiran positif akan membawa kepada kebahagiaan. Sekalipun yang dijalani bukan harapan yang diinginkan. Pikiran yang baik selalu memunculkan kebahagiaan. Walaupun menjalani kehidupan yang berkelok dan penuh aral. Ia mengajakku untuk dinner di luar malam ini. Sungguh sebuah kebahagiaan sederhana yang berkesan, jika kita rayakan dengan penuh cinta, syukur dan bahagia.
Aku tak akan membuang waktu sia-sia hanya mengharapkan semua keinginan hidup tercapai, lebih baik capailah impian dan harapan dengan cara yang baik dan bertahap. Semua akan indah tepat

Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.
Saya sangat memberikan apresiasi pada diri sendiri yang berani keluar dari zona nyaman. Drop out dini, dengan alasan krusial yaitu masalah finansial, padahal itu impian yang sudah lama didambakan, mencari beasiswa, dan bantuan dari keluarga IMM Renaissance. Bagaimana mungkin bisa lupa dengan segala kepedihan dan kesulitan dari jeratan yang tak kasat mata, tanpa bantuan orangtua. Menjalani hidup di kota orang yang asing dengan sendiri.
Menggeser November 2016, ambivert patah hati Nasional. Setelah banyak berusaha dan berharap sosok lelaki yang digadang-gadang akan menjadi calon suaminya harus meninggalkannya dengan beragam tanda tanya. Memilih untuk amnesia? Bahkan kilasan memori itu terus mengalun pada setiap detik deru nadi. Berhenti berharap pada seorang yang katanya akan menikahiku.
Luka dalam diubah dengan membaca cerita dan menulis, hingga mendapatkan banyak bonus buku. Semangat menulis meletup-letup hingga dinobatkan menjadi juara editing naskah. Saat itu sosok yang membuatku galau dan mood berantakan, kembali dan mengatakan selamat. Kebahagiaan yang tak terkira. Semacam dukungan dan kesempatan untuk bisa kembali (?)
Terlalu naif membiarkan waktuku hancur hanya untuk menanti ketidakpastian, yang menyakitkan pada relung dada. Kalau boleh merayakan duka, akan kubuat ribuan puisi yang menjejalkan namanya sebagai penyebab luka.
Tahun berikutnya mengikuti lomba menulis dan mengasah diri dengan mengikuti UNSAM 2018, bertepatan dengan ikut tantangan menulis remake sebuah novel. Pun mengalami sebuah peristiwa traveling dadakan dan menjelajah tempat-tempat penting juga bertemu dengan penyair favorit. Di tempat yang jauh dari kotaku. Merenung tentang sebuah kehidupan yang pasang-surut. Aku menggilai dunia menulis. Dan kau tahu, dia tetap hadir memberikan dukungan. Aku semakin yakin bahwa dia akan menjadi seseorang ayah dari anakku kelak.
Stok sabar masih banyak dan pengorbanan waktu dan rindu yang tak terbalas pada akhirnya berujung dengan bertemunya dengannya 2018. Tapi, apa yang terjadi?
Hubungan yang aku anggap serius, ternyata tidak konkrit. Dia pun mengatakan tidak mempunyai perasaan selama ini. Jadi apa?
Saat itu aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta, walaupun terlalu banyak yang hadir menyapa maupun singgah. Aku tak lagi sudih menerima. Entah mengapa, cinta bisa kalah dengan kata komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Seorang lelaki yang tidak kutahu asalnya, sosok yang asing tiba-tiba mengajak berkomitmen tanpa embel-embel gombal maupun candaan romantis. Entah siapa yang menggerakan bibir dan jemari untuk membalas pesannya. Aku menerima komitmennya tanpa syarat dan tanpa harapan lainnya.
Semua berjalan begitu cepat hingga kami akhirnya menikah, meskipun kami tak pernah bertemu sebelumnya, selain ia yang datang ke rumah membawa rombongan keluarga. Detik itu juga, aku percaya seseorang yang berani datang ke rumah dengan keluarga pasti sangat serius. Kami mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang super singkat yaitu 15 hari.
Saat itu aku percaya kepada Allah yang menguasai hati manusia, soal jodoh yang datang tepat pada waktunya. Orang baik akan bertemu dengan jodoh yang baik pula pun doa seseorang setahun lalu, “Semoga mendapatkan lelaki Shalih.”
Sudah sebulan penikahan kami, 1 November 2018 aku yakin pikiran positif akan membawa kepada kebahagiaan. Sekalipun yang dijalani bukan harapan yang diinginkan. Pikiran yang baik selalu memunculkan kebahagiaan. Walaupun menjalani kehidupan yang berkelok dan penuh aral. Ia mengajakku untuk dinner di luar malam ini. Sungguh sebuah kebahagiaan sederhana yang berkesan, jika kita rayakan dengan penuh cinta, syukur dan bahagia.
Aku tak akan membuang waktu sia-sia hanya mengharapkan semua keinginan hidup tercapai, lebih baik capailah impian dan harapan dengan cara yang baik dan bertahap. Semua akan indah tepat pada waktunya. Love you, My Husband.