Sunday, October 28, 2018

Tetap Genggam Tanganku, Honey.

0

Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.



Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.






***


Dia selalu melontarkan kalimat penuh kelembutan, dengan mata cokelat bening melebarkan lengannya untuk tempatku berteduh. Otot-otot kekar menjadi tempat paling nyaman untuk memejamkan mimpi.


Tak sampai hitungan satu purnama, kutanyakan padanya, "Apa engkau menyayangiku?" satu kata yang sering berputar dalam benak yang pada akhirnya meluncur melewati terowongan mulut. Ia dengan mudahnya berucap dan mengingkari segala bentuk rasa cinta yang terlalu banyak dicurahkan.


"Jika aku tidak mencintaimu, tidak mungkin menikahimu. Aku menikah denganmu, memilihmu sebagai teman hidup sampai mati, sampai hidup lagi sebagai bentuk cinta yang haqiqi, mahabbah kepada Allah dan menjadi ladang untuk menyempurnakan separuh agama.


Untuk menuju pada jalan cinta yang direstui, harus melewati jalan setapak yang terjal dan penuh duri. Dengan batu-batu tajam yang siap menggores tapak kaki. Duri dari ceceran ranting yang siap menusuk secara perlahan. Pada ilalang yang menghibur, kuucapkan terima kasih. Kupetik satu dan mulai mengelus pipinya dengan tanaman menggelikan itu.



Meskipun hidup pelik, aku akan tetap tersenyum bersamamu. Menelusuri kehidupan yang pahit maupun legit. Asal selalu bersamamu, tetap genggam erat tanganku, Honey. Percayalah setiap perjalanan akan menemukan tujuan, dan sebaik-baiknya tujuan ialah rumah kita yang penuh cinta dan kebahagiaan sampai Jannah.


Jember, 28 Oktober 2018

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.