Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Sunday, October 28, 2018


Tetap Genggam Tanganku, Honey.

Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.



Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.





Friday, October 26, 2018

Pengabdi Deadline

Entah mengapa saat mendengar kata deadline yang terlintas pertama kali ialah mengerjakan tugas di ujung batas waktu. Padahal sejak hari pertama sebelum deadline sudah disiapkan secara matang, rancangannya. Tetapi apa? Semua menjadi berantakan.




Lagi-lagi harus perbaiki senyaman mungkin proses manajemen waktu, ini sangat krusial. Mengingat status bukan lagi single yang bebas melakukan rutinitas kapan pun dan di mana pun yang diinginkan. Sudah menikah punya tanggung jawab baru, kepada diri sendiri dan pasangan juga kepada keluarga pasangan.




Menulis sudah menjadi passion saya, karena tidak ada yang bisa dilakukan di banyak kesempatan selain menulis dan membaca. Bagi mereka yang tidak menyukai proses menulis, mungkin sangat membosankan. Kebayang enggak sih? Menulis dengan waktu yang terbatas, selalu menjadi deadliner. Ini memang kebiasaan yang buruk sebenarnya. Selain pikiran kita terpecah, hasilnya mungkin akan kurang bagus dan risiko jauh lebih besar.




Saya ambivert yang sudah memiliki jalan hidup dan prinsip sendiri, ia tidak mudah tergoyahkan dengan pilihan lainnya. Sekali melangkah pantang untuk mundur dan sekali mengambil jalan ia akan terus memperjuangkan sampai akhir. Terkadang ia sendiri memilih banyak pilihan yang lebih sulit dan cenderung menyiksa dirinya sendiri. Seperti pengabdi deadline. Niatnya mengerjakan on time tetap saja nanti bakalan ngerjakan di ujung waktu.




Sudah berapa kali diwanti-wanti sama suami untuk segera selesaikan, tetapi apa? Tuntutan lainnya juga tidak kunjung selesai, bahkan waktu seakan cepat di pagi dan siang hari. Berbeda dengan malam hari, waktu terasa lambat dan di waktu-waktu seperti ini lebih mudah mencerna sebuah tugas dan cocok sebagai bahan renungan. Di samping itu, efek negatifnya tidak baik untuk kesehatan.





Pengabdi deadline berarti harus siap dengan konsekuensinya, berpacu dengan waktu dan siap selalu terjaga. Tetapi sejak di Jember, rasanya lebih semangat dan termotivasi lagi untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.



Anyway, cara terampuh bagi pengabdi deadline ialah tidak menunda segala sesuatu, cukup dinikmati dan segera dituntaskan.

Jember, 25 Oktober 2018
Baiq Cynthia