Penulis Butuh Istirahat

Memilih profesi sebagai penulis tidak bisa disamakan dengan pekerja kantoran. Terlebih kerjannya hanya dari rumah, penulis yang baik ialah yang mampu memanajemen waktu menulis dengan waktu aktivitas harian. Terlebih ada banyak sebab yang menyebabkan penulis harus bernapas berat karena banyak aktivitas di luar skenario harapan, misalnya Ayah sakit. Itu yang saya alami beberapa hari terakhir. Bahkan ikut menulis di ruangan serba bau obat.





T

Tapi, penulis bukan robot ... ketika tagihan naskah sudah diminta oleh penerbit maka penulis harus jujur apa yang sedang dialami. Jangan lantas mengatakan hal yang mengarang cerita, meminta maaf dan mulai mengerjakan. Seperti yang di awal tadi saya utarakan, penulis bukan robot. Is butuh jam istirahat untuk mengembalikan pikiran yang semerawut akibat padatnya kegiatan.

Pengalaman saya kemarin, niatnya itu mau begadang menyelesaikan tulisan secepatnya ditemani dengan segelas kopi. Memang jarang minum kopi bahkan tidak pernah. Tetapi, karena ingin melawan kantuk dicoba dan berujung sakit.

Kepala pening dan demam tinggi, bukannya selesai tugas menulis. Ini malah harus bed rest, seharian pula. Semakin lama proses menulisnya dan tak kunjung selesai. Sedih, kan?

Kalau gak mau sakit maka jaga kesehatan, kesehatan mahal harusnya dijaga benar-benar. Intinya jaga pola makan aku dan keluarga.

Tidur dulu, malam ini. Mata sudah mengantuk kepala pening lagi.

12.9.18

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts