Benci Sewajarnya, Cinta pun Gitu.

Jangan bilang Benci, Nanti Cinta loh.



Pepatah ini sangat familiar hampir di seluruh belahan dunia. Judulnya emang mainstreams sih. Daripada blog ini kosong melompong ditinggal terus sama pemiliknya yang super duper sibuq. Ngalahin artis ibu kota sampai gak sempat buka medsos. Jadi wajar lah ya, job dadakan selalu ada. Mulai dari tukang masak, asisten henna wedding sampai jadi calon ibu. Hehehe, doakan saja Baiq segera niqah. Biar gak pasang status galau terus karena gak menemukan sandaran.





Kok malah curhat, jadi gini ... selama ini saya sangat membatasi makan mie bahkan bisa dibilang hampir gak mau makan mie instant. Alasannya tentu saja saya menjaga kesehatan dan kestabilan pencernaan, terlepas saya memiliki masalah di sana. Apalagi mie instant terbukti tidak memiliki nutrisi apa-apa, selain 3 hari proses penggilingan di dalam lambung sampai usus. Banyak bahan aditif dan itu sangat menyebalkan.




Walaupun tampilan luar yang menggoda sampai bikin air liur ngeces, saya tidak lagi memakannya. Bisa dibilang saya benci mie, i hate noddle. Kerjaan saya sejak Januari-Agustus dan September sangat menguras pikiran dan tenaga bahkan merasa tidak menulis apa-apa. Kemarin saja tidur hanya tiga jam, hari ini saya belum sempat tidur dari setengah 3 dini hari karena ada acara ngehenna tangan pengantin sampai akad jam 07.30. Pulang ke rumah sudah disambut kedatangan adik saya jauh-jauh dari Bali untuk menjenguk ayah yang sedang dirawat di rumah sakit. Sudah tiga hari, tentu saja hari ini ikut menjaga beliau.



Alhamdulillah kondisi kesehatan beliau berangsur membaik, meskipun masih perlu ada serangkaian test lanjutan. Kemarin di tes darah katanya ada gangguan di jantung, masalah asam urat dan kolestrol itu ada. Bantu doanya ya kawan-kawan. Besok masih menjalani tes USG untuk melihat keadaan di perutnya. Karena sering mengeluh sakit.




Sedih rasanya, melihat orang yang kita cintai itu merasakan sakit. Semoga rasa sakit ini bias menjadi pelebur dosa-dosa yang lalu. Nah, guys ayah saya sakit karena suka makan terlambat dan masakan yang berat, seperti rawon, gulai dan daging itu kesukaannya. Bagaimana kalau kita enggak suka sama suatu makanan yang pada akhirnya makanan itu menjadi satu-satunya pilihan untuk dimakan? WORTH IT! Mie instant, bayangkan seperti anak kos saja.

[wpvideo L8rubUOS]

Karena harusnya saya sempatkan masak tadi pagi. Berhubung sudah didesak untuk segera meluncur ke rumah sakit, pada akhirnya enggak memasak. Ini berimbas pada pola makan malam yang bergeser pada jam sebelas malam! Adakah yang lebih menyebalkan? Makan makanan yang tidak disukai di waktu yang tidak tepat, larangan untuk makan lagi. Tapi kalau enggak diganjal nanti malah timbul masalah lainnya seperti penyakit maag, busung lapar dan kekurusan karena kekurangan cinta. Yang terakhir ini, enggak perlu dibahas lagi.




Ngomongin soal mie instan yang menjadi makanan paling dibenci, heran saja bias ada isi 2 yang ukuran jumbo. Pas banget, itu mantep dan memuakkan, tapi di saat kondisi sangat membutuhkan dan hanya itu yang bisa dimakan, mau-tidak-mau dan suka-tidak-suka maka harus dimakan! Ini salah satu filosopi loh.




Jika kita mencintai seseorang itu sekadarnya saja, jangan telalu berlebihan membenci orang tersebut dan jangan pula terlalu dalam mencintai orang tersebut. Tengah-tengah saja, kenapa? Saat kita sudah mencintai lalu dikhianati bisa jadi benci. Pun berlaku saat kita sudah sangat benci (sekali)—ini boros banget pake kata-kata sangat dan sekali. Bisa jadi kita malah butuh kepada orang yang dibenci tadi.




Iya kan, iya kan? Udah dulu ya, saya mau lanjutkan revisi. Yang penting sudah mampir di sini. Semoga esok lebih menyenangkan. Selamat malam.
Situbondo, 3 September 2018
Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts