Tentang Sebuah Proses

Tentang Memasak Kambing


Bisa dibilang tidak ada resep khusus membuat masakan enak, semua terjadi karena perpaduan komposisi bahan yang pas dan teknik yang tepat. Selama ini saya tidak pernah suka mencicipi masakan yang saya buat. Karena merasa pasti sudah enak, dan benar saja masakan itu enak menurut keluarga yang mencicipinya. Tapi saya bosan dengan masakan sendiri.





Tetapi tadi sore, saat sudah tidak ingin memasak. Namun, saya paksakan untuk memasak hal ajaib yang diluar dugaan. Saya menikmati proses memasak, setelah kemarin memasak lima macam masakan dari pagi sampai sore. Itu benar-benar membuat punggung terasa linu.

Lalu, sejenak saya melihat timeline medsos. Sungguh di luar dugaan soal apa yang dirasakan oleh editor yang mengaku jengah dengan penulis yang arogan.
Tentu saja saya merasakan juga setahun lalu, mengedit naskah teman saya. Bukan hal mudah mengedit sebuah naskah yang menurut saya seperti drama dan kesalahan penulisan tersebar di mana-mana. Lalu beberapa hari yang lalu ia memposting cerita yang saya edit di sebuah grup kepenulisan. Herannya, sudah lupa dengan editornya siapa. :”)

Dan saat itu saya mengedit tanpa meminta apa-apa. Tapi, biarlah sudah ... mungkin itu sudah jalannya untuk sukses.

Nah, berkenaan dengan cerita saya yang pernah diposting di sweek, saya merasa tidak enak hati untuk menerbitkannya. Karena ada banyak alasan terselubung selain saya tidak ingin tergesah-gesah menuliskan sebuah karya. Saya masih baru sembuh dari stagnan dan stuck menulis, dan saya tidak suka dengan kisah yang saya buat. Hal yang sama saya alami ketika memasak, hanya menyukai proses tapi tidak mencicipi masakan.



Kalau dibandingkan proses memasak daging kambing dengan proses menulis sungguh tidak jauh berbeda. Memasak membutuhkan ketelitian, ketepatan bahan dan sangat cermat memperhatikan besar-kecilnya api. Lantas dengan menulis? Memperhatikan inti ceritanya apa, bagaimana cerita itu ditulis sampai ending. Terakhir proses editing sendiri, membaca ulang dan mengkaji secara efektif.

Sungguh, menulis bukan hanya sebuah bakat yang dibutuhkan tetapi latihan, sama halnya memasak setiap hari di dapur akan terbiasa memegang spatula dan akan cepat hafal dengan bahan-bahan dan bumbu masakan. Maka menulis juga butuh dibiasakan setiap hari, agar ide selalu menemukan wadah.

Kali ini saya benar-benar tersadar, bahwa selama ini terlalu banyak mengkhawatirkan masa depan tetapi tidak merealisasikan. Apakah saya mampu menjalaninya? Saya tidak tahu, yang pasti saya akan mencoba sebisa mungkin untuk mampu. Seperti memasak daging kambing yang pada akhirnya saya menyukai masakan saya sendiri dan hampir menghabiskan daging kambing. Semoga esok tidak naik tensi darah.

Situbondo, 24 Agustus 2018

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts