Kulit Pisang : Renungkan Sebentar

Pernahkah engkau melihat serat kulit pisang? Seperti itu kerumitan pikiranku saat ini, entah memikirkan pijakan masa depan. Atau memikirkan kapan berhenti masa stagnan, memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran kegagalan masa lalu. Menurut seseorang yang akan menjadi teman hidupku, aku terlalu cemas dan banyak memikirkan segala sesuatu. Padahal tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu rumit dalam menyongsong kehidupan baru yaitu menjadi seorang istri dan seorang ibu. Fase yang penuh liku-liku kesulitan, petualangan baru dengan biduk rumah tangga.



Saat aku ditanya, “Apakah Nanda sudah siap untuk menikah?



jawabanku tentu sangat siap. Beliau yang sudah purnausia memberikan petuah soal tanggung jawab. Saat kita memutuskan untuk berumah tangga, berarti kita harus siap dengan konsekuensi tanggung jawab. Sebagai perempuan yang menikah sudah tahu tugas dan kewajiban sebagai istri yang tunduk dan patuh kepada suami, tanpa menghilangkan bukti sayang kepada seorang ibu dan ayah. Tidak ada putus hubungan antara orangtua dan anak, meskipun sudah menikah.

Selama ini aku berpikir kenapa saat aku meninginkan menikah tetapi belum ada yang benar-benar serius kepadaku? Di saat sudah tidak begitu peduli, mengapa malah datang sendiri. Jodoh itu memang rahasia Ilahi. Memang benar wanita menunggu untuk dijemput oleh lelaki yang akan menjadi pemimpin sekaligus ayah dari anak-anak kita. Tetapi saat menunggu, wanita juga mempersiapkan diri sebagai sosok tiang penyangga rumah tangga. Jika rumah tidak memiliki tiang yang kuat maka rumah akan ambruk, dan suami sebagai pondasi—jika pondasi tidak bagus maka rumah akan hancur total.



Semalam juga sempat berbincang dengan seseorang yang kuanggap kakak, ia juga sangat mendukung adik-nya untuk menikah, “Coba tanyakan pada hati nuranimu.” Seyogianya seorang kakak menjadi pelindung untuk adik-adiknya. Ia juga berpesan untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, karena ada yang seseorang yang belum setahun menikah memutuskan untuk berpisah. Dalam benakku tidak ada keinginan menikah hanya ikut-ikutan, atau agar tidak di-bully sebagai seorang jomlo.

Kembali lagi dengan petuah seorang yang mengatakan, “Apakah engkau siap menikah?” SANGAT SIAP! Itu menjadi suara batinku. Ia menuturkan bahwa pernikahan akan berlangsung selamanya, ia pun berwajah sedih menceritakan kegagalan pernikahan anak-anaknya, padahal sebagai seorang Ayah sudah mencarikan calon yang terbaik untuk anaknya dan mewanti-wanti, tetapi apa daya ada saja yang membuatnya harus berpisah. Entah karena beda pemikiran atau kematian yang membuat untuk berpisah. Ia pun menuturkan bahwa lelaki yang datang ke rumahnya untuk meminang anaknya merupakan keluarga baik-baik, dilihat juga akhlaknya baik. Entah mengapa bisa buta karena harta. Lalu menceritakan pula tentang lelaki yang mapan dan penuh adab melamar anaknya yang lain, entah mengapa masih bisa berpisah.

Tentang hati yang selalu bergejolak, hati yang dekat dengan Allah akan selalu tenang dan tidak was-was tetapi saat jauh dari Allah hati akan selalu gundah, emosi bekecamuk dan pikiran menjadi sorotan pada negativitas. Begitu yang dikatakan oleh seseorang yang aku anggap kakak.

Aku lantas menangkup wajahku sendiri, melihat kulit pisang yang tergeletak di dekat catatan harianku, bahwa yang terlihat buruk belum tentu isinya buruk. Begitu juga dengan pisang yang terlihat mulus belum tentu isinya bagus—bisa jadi malah mentah. Maka kukatakan pada diriku, aku siap menikah meskipun orang lain menilai berbeda dengan hati nuraniku, tetapi aku yakin seseorang yang akan menjadi teman sekaligus kekasih yang mengisi sisa-sisa hariku nanti adalah sosok pilihan Allah yang didatangkan kepadaku untuk menjemputku, mengantar kepada rumah keabadian.

Kini aku tersenyum melihat kulit pisang yang diam menatapku sejak tadi, ia pun ikut tersenyum meskipun sudah tidak digunakan sekarang, tetapi pisang sudah dimakan olehku dan membuatku kenyang.

Jumat, 24 Agustus 2018
Situbondo, 12 Dzulhijjah 1439 H

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts