AGUSTUS: Terlalu Lekas Juli Berlalu

Lembaran Hari Baru dengan Semangat Baru.





Bulan Juli sepertinya berlalu terlalu cepat, atau saya yang mengalaminya begitu padat? Padahal post di blog sederhana ini tidak begitu banyak. Lantas kemana saja penulisnya?


Tidak semuanya yang kita alami bisa di-share pada media sosial, khususnya blog. Hal ini menjadi dilema pada para penulis. Kita dituntut untuk selalu jaga image juga harus humble dengan pembaca maupun teman media sosial. Akhir-akhir ini mungkin kalian akan merasakan perbedaan pada postingan saya.
Biasanya akan menjumpai status slenge’-an tetapi kini jarang buat status bahkan nyaris tidak membuatnya. Mengapa?





Baru tiga hari yang lalu saya menginjakkan pada pilihan hidup yang baru. Usia manusia semakin bertambah berarti tanggung jawab yang dipikul akan banyak lagi. Terkadang saya ingin membagikan beragam momen manis di bulan Juli. Lagi-lagi saya pertimbangkan secara matang, apakah tujuan memonsting hal-hal yang bersifat individu itu penting? (tidak layak konsumsi publik, entah itu kebersamaan dengan family member atau rutinitas yang baru).




Saya memilih menyimpan saja, meminjam kata-kata Tere Liye. Orang yang bahagia tidak akan sibuk untuk pamer, justeru mereka yang sering pamer tidak benar-benar bahagia. Pada postingan yang lain juga berujar soal hal-hal manis bersama keluarga cukuplah kita yang menikmati, orang lain jangan. Mengapa? Kita tidak tahu siapa saja teman di media sosial, menghindari dari kejahatan yang bisa saja terjadi di masa saja. Apalagi perilaku netizen yang akhir-akhir ini lebih menyukai sebuah fenomena yang menurut mereka lucu meskipun harus bertingkah ‘bodoh’ di media sosial. Semacam kemerosotan pikiran.




Tiga hari ini saya mencoba untuk menonaktifkan media sosial, mengurung diri pada pertanyaan-pertanyaan seputar langkah apa yang akan dilakukan pada usia 22 tahun? Terlebih sebentar lagi sudah menginjakkan kaki pada biduk rumah tangga. Semua orang pasti bermimpi soal menikah. Tentu saja, begitu juga dengan saya.






Menikah mengubah status sosial, dari yang sebelumnya hanya sebagai anak kemudian menjadi seorang istri maupun ibu. Otomatis kalau sudah menikah menjadi sebuah keluarga di mana keluarga adalah unik terkecil dari masyarakat. Menjadi seorang istri sekaligus penasihat yang baik untuk suami. Menjadi seorang ibu sekaligus contoh yang teladan bagi anak.




Semacam dilema jika dihadapkan pada pilihan pernikahan yang serba dadakan. Jika tidak mengambil kesempatan, apakah masih ada harapan yang lain? Itu adalah kesempatan untuk memijak hidup yang terbaru. Siap-tidak siap harus selalu sigap. Hidup seakan sebuah mimpi, ia hadir hanya untuk membuat kenangan, indah maupun buruk tersimpan pada lembaran-lembaran hari.




Selamat datang Agustus! Kamu adalah alasanku untuk tidak berhenti, tidak menyerah maupun frustrasi. Tentu saja kita hidup pada hari ini, maka persiapkan yang terbaik untuk hari esok. Semakin berusaha memperbaiki, masa depan kita akan lebih cermelang.




Tidak jadi off bukan berarti saya akan terus-menerus memantau beranda media sosial. Justru saya sedang berusaha untuk meminimalisir penggunaan ponsel dan internet. Sebisa mungkin mengalihkan pada kegiatan yang lebih produktif membaca lebih banyak buku dan menulis lebih sering.




Sangat bersyukur di bulan yang baru, mendapatkan ‘pinangan’ dari sebuah penerbit pada naskah yang sempat saya posting pada sweek. Inilah salah satu langkah baru dan semangat baru.
Optimis dan semakin banyak bersyukur.


Salam Literasi.
Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts