Tuesday, July 3, 2018

Dari Mana Saja, Engkau Bisa Belajar

Dari mana saja, Engkau bisa Belajar. Daily's Baiq kali ini ingin sharing sedikit seputar pengalamannya maupun aktivitas hariannya pasca memilih  resign dari pekerjaannya sebagai admin di sebuah proyek pembangunan. Ia merasa tidak ada waktu untuk mendekatkan diri dengan keluarga maupun menulis, karena energinya dikuras untuk bekerja.



Bisa dibilang seperti kesempatan emas yang yang dibuang sia-sia, karena masuk kerja tidak melalui seleksi. Pun di Situbondo mencari lowongan pekerjaan dibilang susah. Apalagi dengan gaji yang standar. Jika ada yang gajinya tinggi, itu hanya berlaku di supermarket maupun mall dan tentu saja dinas yang memiliki kualifikasi yang minimal S1 atau D3.

Drop out dari kampus, juga tidak ada kampus lagi yang akan menerima karena usia sudah semakin menua. Alternatifnya hanyalah membaca, menonton film, dan lebih mendekatkan dengan keluarga. Sejak sekolah saya menyukai bacaan dan sering menuliskan faksi maupun kisah-kisah pribadi dalam sebuah tulisan yang hanya bisa dibaca sendiri. Karena saya tidak memiliki teman yang memiliki hobi yang sama, saya mencoba mencari info-info dan grup menulis di media.

[caption id="attachment_1346" align="alignnone" width="2712"]Source from Unplas Sumber: unsplash.com[/caption]

 

Ternyata sangat banyak, dan saya menemukan setitik terang sengan berjumpa dengan satu-persatu penulis yang sudah lebih awal menjejakkan kakinya di dunia literasi. Seperti Siti Khumairah, Lindsay Lov dan Ken Hanggara. Mereka seperti mentor tulisan saya, dan dari mereka saya banyak belajar lagi. Secara bertahap satu persatu saya bisa mengenal banyak penulis di Nusantara.

Dari sana saya terus berproses, hingga suatu hari setelah kelulusan sekolah, saya tidak bisa melanjutkan kuliah hanya karena keterbatasan dana, dan pengajuan bidikmisi tidak bisa diproses karena adanya perbedaan nama dengan form pendaftaran jalur masuk perguruan tinggi Negeri. Kegagalan itu saya tuangkan pada tulisan, awalnya hanya pada sebatas postingan-postingan ringan di medsos, pada akhirnya lebih banyak menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kisah nyata.

Sedikit kesulitan untuk menerjemahkan pesan dari Allah saat kita dalam keadaan gagal, namun tidak menemui penyemangat. Ingin berkeluh kesah dengan orangtua, takut semakin membebani. Jadi hanya dengan tulisan dan menulis yang bisa mengerti keadaan kita. Mulai saat itu saya ingin menulis agar orang terinspirasi dari pengalaman saya, agar tidak mudah menyerah dalam kehidupan. Sungguh itu yang ada dalam benak, karena mencari kerja juga sulit dengan lulusan SMA. Akhirnya saya ikut bekerja di sepupu menjaga parfum dan membuat bahan-bahan trika maupun pelembut untuk kebutuhan laundry.

Masa muda ialah masa mencari jati diri, kurangnya perhatian orangtua membuat banyak impian yang harus direalisasikan sedari dini. Saya pergi merantau ke luar pulau Jawa, meninggalkan seseorang yang begitu khawatir dengan keadaan saya. Impian yang sedari dulu selalu saya harapkan, bisa melanjutkan studi lagi dan bisa ke luar negeri. Melihat indahnya dunia yang selama ini tidak bisa dilihat secara langsung, hanya dilihat dari gambar, didengar melalui ucapan orang.

Tidak semua yang kita inginkan, akan dikabulkan saat itu juga oleh Allah. Karena yang tebaik versi kita belum tentu sama dengan yang Allah harapkan, saya mendengar informasi penerimaan mahasiswa baru melalui teman saya. Bagi saya itu impian terbesar, dia mengajak saya untuk mencapai impian yang selama ini hanya mendengung di dalam liang pendengaran. Saya merasa tidak nyaman di tempat kerja dan lingkungan baru, maka saya kembali resign dan pergi ke Jawa lagi, tapi bukan di tempat tinggal saya. Universitas Muhammadiyah Malang, di sana saya kembali mengadu nasib, hanya bermodal nekad. Intinya saya meyakinkan orang di rumah, bahwa saya bisa survive di tempat itu. Alhamdulillah, saya bisa bertahan selama setahun di Malang menunggu pengumuman, rentetan test sebelum ditentukan kelasnya, maupun pesmaba.

[caption id="attachment_1347" align="alignnone" width="6000"]Photo by rawpixel on Unsplash Photo by rawpixel on Unsplash[/caption]

Terharu bisa sejauh itu kaki melangkah, karena kebodohan dan ingin mencapai impian. Memang benar, kata seseorang yang cukup akrab dengan saya di warkop tiap mengerjakan tugas."Manusia tanpa mimpi, ia akan terus dalam dunia kegelapan." Ia selalu menjejalkan petuah-petuah baru yang membuat saya terus bersemangat mengejar cita-cita.

Tetapi, pada suatu hari justru cinta yang menghacurkan masa depan. Cinta memang aneh dan menubruk cita-cita yang sudah lama diperjuangkan. Karena cinta itu, membuat Allah cemburu akhirnya saya kembali 'dideportasi' dari tempat yang selama ini sudah menjadi rumah sendiri. Saya mengalami kegagalan yang hampir saja saya dapatkan, kegagalan ketika saya akan mendapatkan beasiswa yang selama ini saya idamkan, karena bekerja sembari kuliah itu sama sekali tidak menyenangkan. Nyaris tidak ada waktu untuk tidur. Tetapi, mulut saya bungkam kalau saya menderita batin dan sering muncul pikiran untuk bunuh diri. Karena sudah tidak ada yang peduli. Tetapi, saya akan menjadi perempuan yang lemah jika hanya pecundang menghadapi permasalahan sepele.

Orang di rumah meminta saya untuk pulang lebih awal, padahal saya punya rencana yang ke seribu. Melamar pekerjaan lagi, selain kerja paruh waktu, jualan cilok, jadi asisten rumah tangga, hingga tidak sempat untuk menulis. Saya sangat rindu dengan menulis, tetapi tugas kampus dan jadwal kuliah di Universitas Swasta tidak ada libur, hari Minggu juga masuk dengan jadwal kuliah Minggu di pagi hari. Tapi, saya sudah terbiasa dengan ritme waktu cepat yang membuat saya larut pada kesibukan diri, melupakan orang-orang tersayang, dan ibadah menjadi tidak khusuk.

Pikiran terpecah, mengerjakan sesuatu menjadi semakin sulit. Saya tahu itu bukan keinginan saya, tapi seperti menemukan lorong yang sepi dan sangat gelap. Saya pulang secara diam-diam, tanpa mengabari teman saya, meninggalkan tugas kampus juga impian-impian terpendam. Sungguh sangat sulit menerima kenyataan, rasanya ingin tertidur cukup panjang dan tidak bangun lagi.

Mengapa saya merasa lemah? Padahal banyak orang di luar sana yang mendapatkan cobaan yang sangat berat, maka saya bangkit dengan mencari pekerjaan, tidak ada yang bersedia selain menjadi admin IT di Proyek. Sungguh seperti mimpi saja, dan saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau memberikan arti pentingnya kehidupan.

Saya mulai menekuni tulisan, melaui lomba-lomba hingga ajang penulis versi Unsa Sahabat, belajar menulis melalui tantangan menulis sampailah terbit buku September Wish, menulis buku DARAH, dan saya merasa masih gagal. Karena berputar dengan kesalahan yang terulang lagi (gagal) dan masih tidak belajar dari kesalahan masa lalu.

Hari ini saya akan belajar dari pengalaman, meski tidak bisa belajar dari pendidikan formal. Saya ingin belajar dari kalian juga, jika berkenan tuliskan kesan yang didapatkan setelah mendengar kisah saya. Semoga bisa terinspirasi.

Penulis : Baiq Cynthia

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.