Sunday, July 1, 2018

cerpen 2014

Cinta yang Berbatas Waktu

By: Baiq Synithia M.R.M

“Ah… aku begitu merindukan seseorang yang membuatku menjadi segar menjalani pahit getirnya kehidupan. Ya sudah lah, dia hanya masa lalu ku.” Guman Rina dalam hatinya sambil mengeset alarm di hand-phone buatan Negara “ Tirai Bambu”. Ketika akan meletakan di samping tempat ia tidur, namun ia mendapatkan pesan dari nomor asing.

“Assalamu’alaikum mbak Rina,” begitu pesan yang Rina dapatkan.

Ia begitu penasaran dengan pesan baru yang didapatkan, akhirnya gadis yang siap dengan piamanya membatalkan untuk bemimpi indah. Kemudian dengan jari gemulainya Rina menjawab pesan tersebut. Dan orang misterius itu mengaku bahwa ia adalah orang yang difikiran Rina saat itu. Nama pemuda itu adalah Rifki, pria tampan yang tak banyak bicara. Lelaki itu jarang bersosialisasi dengan sekitar. Hobi ngeBand, dia adalah seorang drummer. Tak heran semua wanita disekolahnya mengejar-ngejar dan menyebut ia Mr.cool .

“Wah,, benar- benar sebuah kebetulan,” sambil tertawa kecil. Malam itu Rina membatalkan rencananya tuk tidur. Kemudian Rina mengcalling cowo yang telah membuat Rina jatuh hati kepadanya. Walaupun Rina hanya bisa mendengarkan suara yang menggetarkan hatinya. Tak terasa jarum jam menunjukkan angka 12.00 malam. Akhirnya Rina menyudahi perbincangan yang memakan waktu 3 jam. Entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka.

Keesokan harinya, dimana hujan yang begitu lebat hingga Rina tak ingin berangkat ke sekolah. Namun, ketika ia mengingat nama Rifki semua yang memberatkan dirinya terasa ringan. Bak kapas terhembus tiupan angin.

Karena hatinya yang berbunga-bunga,  Rina tak sadar bahwa dirinya mandi hujan. Alhasil, teman-temannya yang berkumpul di depan kelas tertawa terbahak-bahak. Tetapi, bagi Rina mereka seperti anjing yang menggonggong. Satu katapun tak keluar dari bibir manisnya.

“Selamat pagi, Rina.” Sapa Wildan teman sebangku Rina.

“Pagi juga,” sambil tersenyum dan menggosok kedua tangannya sembari meletakkan tas birunya.

“Dan, Ikut aku yuks, ke kantin.” Pinta Rina kepada Wildan.

“Oke, dengan hati senang, maksud aku dengan senang hati. Hehe,” sambil beranjak dari kursi kayu berwarna coklat.

Akhirnya, mereka pergi menuju kantin. Sesampai di kantin Rina melihat Rifki lagi. Gadis berjilbab putih itu hanya bisa tertunduk malu dan segera memesan weddang jahe dan teh hangat untuk Wildan. Sambil duduk dan meletakkan minuman mereka di meja saji nomer 3 , Rina dan Wildan asyik mengobrol hingga tak sadar kalau bel masuk berdering. Rina melihat sekeliling namun batang hidung Rifki tak terlihat. Akhirnya, Rina bersama Wildan bergegas masuk kelas. Beruntung guru pengajar belum tiba di kelasnya.

“Menantikan jam istirahat seperti cacing kepanasan, haha.” Gumam Rina dalam hati. Akhirnya yang dinantikan terkabul. Sesegera mungkin Rina bergegas menuju kantin. Dan kedua kali Rina melihat Rifki bersama teman-temannya bercanda ria. Lagi-lagi Rina hanya bisa tertunduk malu.

Setelah kembali dari kantin Rina ingin sekali bisa berbicara secara dekat. Namun, keinginan itu pupus setelah Rina mendengar pembicaraan Hesti dan Wildan di samping tempat duduknya.

“cie cie… Wildan yang lagi jatuh cinta.” Guyon Hesti kepadanya.

“ahh.. jangan buat saya malu dong,” sambil senyam-senyum tak karuan.

“kan benar kamu suka sama anak band itu kan, si drummer? ayo ngaku-ayo ngaku,” sambil menyenggol lengannya.

Saat itu Rina hanya memperhatikan mereka. Seakan lamunannya tak berarti lagi. Ingin marah namun tak mungkin, karena Wildan adalah sahabatnya sendiri. Dan dilain sisi Rina gak memiliki status apapun berkaitan dengan Rifki. Mereka hanya sahabat tapi sayang.

Namun, malamnya si Rifki sms dirinya, biasa topiknya dari yang lucu hingga kocak. Rina kaget ketika mengetahui kalau Rifki seorang yang humoris juga. Rina mencoba bercerita mengenai hubungan dia dengan perempuan. Namun, iya tak banyak mengomentari. Akhirnya, Rina berbicara tentang masa depan. Rifki selalu berbicara tentang  Negara “Sakura”. Tak disangka Rifki memiliki perasaan kepada Rina, begitupun Rina. Namun Rina tak ingin melukai sahabatnya. Sehingga, ia beralasan tidak ada relation hingga kita lulus sekolah. Mungkin kata-kata itu memukul Rifki, namun dia hanya tersenyum.

Rifki akan melanjutkan kuliahnya di Malang, begitupun pula dengan Rina. Namun, sejak kejadian itu Rina selalu memohon agar SNMPTN nya gagal dan ia bisa mencoba melanjutkan kuliah di Jember, sebuah Universitas swasta.

Rasanya cinta mereka hanya terpaut melalui telepon genggam saja. Dan tak bisa dituangkan dalam dunia nyata. Rina tak banyak berharap lagi, walaupun hati kecilnya selalu menentangnya. Karena Rina hanya mencintai sosok lelaki yang selalu membuat dirinya melebarkan bibirnya. Saat itu Rina hanya bisa mencintai jarak jauh, selain Rina tak boleh keluar rumah. Tradisi “Siti Nurbaya” mungkin akan diterapkan dikeluarganya.

Bagai bulan yang bersinar tanpa bintang di gelapnya malam. Itulah cinta Rina yang takkan pernah gugur hingga dirinya memantaskan dirinya untuk sang pujaan hatinya.

Situbondo, 20 April 2014

 

2. 


Cinta yang Pergi

By: Baiq Synithia M.R.M

 

Tepat jam 03.00 WIB Syahira terbangun dari mimpinya, segera turun dari kasur spring bad—nya. Ia begitu ketakutan, keringat dingin membasahi dahinya. Tampaknya mimpi buruk telah merasukinya, ntah mimpi tentang apa. Ia menginjakkan kakinya ke kamar mandi tak jauh dari tempat ia tidur. Basuhan air wudhu menyegarkan hatinya yang kian terkikis oleh nafsu setan yang selalu menggodanya.

Sesegera ia melaksanakan sholat Tahajjud, yaitu sholat sunnah yang dilaksanakan pada waktu sepertiga malam. Rakaat demi rakaat dijalani dengan penuh khitmad. Seraya berdo’a : “Ya Rabbi, Tuhan semesta alam yang tidak pernah tidur dan selalu mengawasi makhluk-Nya. Di malam ini aku memohon ampun kepada-Mu atas kekhilafan yang telah aku lakukan. Kabulkanlah do’a hamba. Aamiin.”

Ia langsung menuju dapur, untuk sahur sebagai ganjal perutnya esok hari. Sejak tiga hari terakhir di bulan Sya’ban yang penuh ampunan Syahira kerap melaksanakan puasa wajib yaitu puasa mengganti pada waktu Ramadhan lalu yang ia tak kerjakan. Betapa kagetnya ketika menghidupkan lampu dapur. Di atas meja saji terdapat kertas berukuran A4 yang terbuat dari bekas kertas iklan ‘PEMILU’ beberapa bulan lalu. Tersurat “ INI DI DALAM KOTAK PLASTIK UNTUK SAHUR”. Air mata Syahira seketika menggenang di pelupuk matanya.

“Betapa muliahnya Ayah aku hingga rela melakukan ini semua demi anaknya” sambil menyeka pipinya. Tanpa pikir panjang gadis berambut lurus berwarna hitam mengambil sebungkus mie instan dari dalam kotak plastik. Syahira bukanlah seorang anak yang dilahirkan untuk bermanja-manja. Beberapa menit kemudian ia menyantap separuh mie yang di campur nasi. Sisanya ia tutup dengan tutup saji.

Langkah kakinya menuju ruang tamu yang remang-remang, hanya cahaya dari luar yang menerangi. Rumah Syahira di bagian depan terdapat kaca besar yang hanya dapat dilihat dari dalam. Suasana perumahannya begitu sunyi, hanya detak jarum jam yang menemani santap sahur Syahira. Sambil menyuapkan ke dalam mulutnya yang mungil, gadis yang telah menginjakkan umur 17 tahun itu teringat dengan seseorang yang telah berjanji akan menjemputnya di pesta pernikahannya.

Namanya adalah Hameed, lelaki keturunan India yang kini bekerja di Oman telah menghianati cinta Syahira. Awal pertama jumpa dengannya adalah melalui jejaring sosial yang sangat populer apalagi kalau bukan ‘Face Book’. Setahun lalu, ketika Syahira masih duduk di bangku kelas XI. Hameed menceritakan tentang Syahira kepada mamanya yang bernama Maymoona. Dia tinggal bersama suaminya di Oman karena mereka baru saja pindah. Sedangkan  Hameed masih melanjutkan kuliahnya di India bersama nenek dan bibinya tepatnya di Pattambi, Keralla.

Awalnya Syahira tak pernah percaya dengan semua ucapan manis Hameed. Karena dia telah membuktikan keseriusannya kepada Syahira. Dengan menelpon setiap bulan, begitu besar pengorbanannya. Syahira sendiri pernah mengirim pesan kepada sahabat dekatnya. Tarif satu pesan saja adalah Rp 1000,- . Apalagi menghubungi, pulsa yang pernah ia isi hingga Rp 15.000,- tidak cukup untuk memiskol teman dekatnya itu yang bernama Arakkal.

Syahirah telah memikirkan matang-matang, setelah minta persetujuan dari Nenek tersayangnya ia tak diperbolehkan berhubungan dengan orang asing tersebut. Karena sejak kecil ia tinggal bersama Pamannya yang kini menjadi Ayah angkatnya dan Neneknya menggantikan kedua orang tuanya. Lantaran menitipkannya kepada sang Nenek.

Bulan Desember adalah bulan yang menyedihkan bagi Syahira. Sembilan bulan ia telah berhubungan dengan Hameed lantas harus Syahira tinggalkan karena permintaan sang Nenek tercinta. Awalnya Hameed tidak mendengarkan desakan Syahira karena laki-laki itu begitu mencintainya. Dia tak pernah mempermasalahkan biaya untuk menemuinya atau menikahinya juga menghidupinya. Karena dia adalah anak seorang konglomerat. Tetapi, Syahira lebih berpikir realistik daripada ia terhanyut dalam mimpi cerita dongeng. Setelah perdebatan berjam-jam di akun FB. Akhirnya Hameed kalah dan bersedia mengikuti keinginan Syahira yaitu mencari gadis di Negara Bombay atau di Oman.

Syahira senang dan berduka, ia senang bisa menuruti keinginan sang Nenek tetapi ia sangat kecewa harus kehilangan cintanya. Beserta mimpinya yang sejak kecil ingin menginjakkan kakinya di India. Ini bukan masalah tradisi atau bahasa namun masalah Syahira tak dapat kembali ke Indonesia lagi, wajar karena wanita selalu patuh kepada suaminya.

Tahun baru baginya hanya hal biasa ia lewati tanpa kebahagian bersama orang tua kandungnya. Dan tanpa kekasih yang selalu membuatnya tersenyum. Saat itu Syahira telah bersiap-siap bertempur melawan Ujian Nasional. Ternyata, orang pernah merasakan jatuh cinta susah untuk menghilangkanya. Hal itu  membuat posisi Syahira sangat mengecewakan ayah angkatnya. Tujuh semester berturut-turut ia menyabet juara bertahan sebagai siswa paling teladan yaitu juara umum. Namun di acara pisah kenang kelas XII MA Ainul Ulum dia telah tersisih ke juara 2. Sungguh sangat membuat malu dirinya dan guru yang selama ini berada di belakang Syahira. Ia mendapat bantuan beasiswa dari sekolahnya.

Hari-demi hari ia lewati hingga pengumuman kelulusan dikumandangkan, Syahira begitu bersyukur karena dirinya ‘LULUS’. Dan hal yang sangat membuat ia semakin putus asa adalah ketika ia telah diterima di Perguruan Tinggi yang ia idamkan. Sang Ayah tidak memiliki cukup uang untuk registrasi daftar ulang.

Terakhir gadis yang memiliki hobi online sempat menghubungi Hameed yang kini telah menjadi sahabat karibnya. Ia berharap Hameed masih menyimpan perasaannya kepadanya. Namun, ketika ia melihat dinding Hameed dia mendapati. Status Hameed yang berubah menjadi “ Bertunangan ( Ditunda)”  itu berarti salah satu masih belum mengkonfirmasinya. Tanpa ragu-ragu Syahira menanyakan hal tersebut.

“ Hei, you had engaged with who?” (Hai, kamu telah bertunangan dengan siapa?)

“What?” (Apa?)

“had engaged with…?” (Telah bertunangan dengan…?)

“Oh in Malayalam Language Engane = How” :D (Oh, dalam bahasa Malayalam bahasa Engane berarti bagaimana.)

“ I am seriously !” (Saya serius!)

“Hm”

“ Oke, who is name your lover?” (Baik, siapa nama pacarmu?)

Hameed mengetik begitu lama, hingga Syahira mengirimkan stiker-stiker lucu bertanda bingung, akhirnya beberapa saat kemudian muncul “ Thasnia”.

Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh jutaan jarum ke dalam hati Syahira. Lantas Syahira hanya berkata “ Hope You happy with Thasnia”. Dan Hameed membalas “ I am more happy with you”. Untuk menutupi kesedihan Syahira, dia mengirim smile tersenyum sambil berkata “no no”. Beberapa detik kemudian Hameed offline.

Syahira juga menutup akunnya dan melempar handphonenya ke atas bantal. Dia seperti kelilipan berkilo-kilo debu. Lantas ia hanya bisa menangis di tengah malam yang begitu sunyi.

“Audzubillahiminassyaitannirrajim” terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menandakan Subuh semakin dekat. Syahira menyantap makanannya seperti menyatap sekam tak ada rasa sama sekali. Kemudian ia sadar, bahwa Hameed bukanlah jodoh yang tepat untuk Syahira. Karena selain benua dan samudra yang memisahkan, cinta itu telah menjadi milik Allah. Allah yang menciptakan cinta dan Sang Khalik yang akan mengambilnya kembali. Dan Syahira tidak merasa risau lagi karena jodohnya takkan pernah tertukar atau hilang, hanya cinta ilusi yang hilang.

Situbondo, 20 Juni 2014/22 Sya’ban 1435 H

@15.40

 

3.


Impian yang tertunda

By: Baiq Synithia Maulidia Rose Mitha

Situbondo, 10 June 2014

Pagi itu adalah hari yang sangat menentukan bagi Septiana setelah selama tiga tahun mengenyam pendidikan. Seperti hari-hari biasanya, gadis tomboy ini terbiasa ke Sekolah dengan diantar-jemput oleh Ayahnya. Sesampai di Sekolah tercinta, suasana begitu riuh. Karena siswa kelas tiga tidak memasuki kelas masing-masing. Melainkan tersebar di beberapa titik, di lobi, kantin dan taman.

“Aku begitu gugup,” sambil berjalan melewati kerumuhan anak-anak yang sibuk bergosip dan berkicau.

“Na, kamu apa kabar?” tiba-tiba salah satu temanku memanggilku namanya Resti. Dia peringkat ke tiga setelah Dini sedangkan aku sendiri adalah siswa teladan yang selalu menduduki peringkat parallel.

“Eh, Resti ada apa?” seketika menghentikan laju kakinya.

“Enggak sih, hanya rindu saja beberapa pekan tidak bertemu.” Sambil menyalami tangan Septiana.

“Uda dulu ya aku buru-buru ingin mengembalikan buku.” Seraya menuruni tangga dan pergi menjauh.

“Iya,” dia hanya tersenyum manis. Kami sering dianggap kembar, karena kami sama-sama memiliki lesung pipit dan hidung mancung. Namun, aku lebih manis dan dia cantik dengan kacamata minusnya.

Seperti biasa aku lebih memili duduk di perpustakaan daripada duduk di kantin atau di sekitar lobi hanya untuk berbicara yang tak berguna. Pengumuman kelulusan akan segera di umumkan melalui website Sekolah MA Ainul Hasanah. Satu- satunya sekolah berbasis agama yang diminati di kota aku.

Sekitar pukul 10.00, aku telah meninggalkan perpustakaan dan menuju mushollah. Disebabkan perintah Kepala Sekolah yang mewajibkan melihat hasil pengumuman di tempat itu agar sesegera mungkin bersyujud syukur bukan hura-hura dan aksi corat-coret serta konvoi di jalan raya.

Semua mata tak berkedip melihat loading website yang seperti siput, kami sangat tidak sabar ingin segera melihat dengan mata kepala sendiri.

“Hore! Aku lulus, salah seorang temanku tiba-tiba berteriak histeris melihat namanya tercantum lulus. Beberapa saat kemudian, aku melihat “Ananda Septiana, LULUS. Alhamdulillah berkali-kali kuhaturkan rasa syukur aku kepada Allah. Selanjutnya Yuni memelukku dari arah belakang, mungkin karena kebahagiaan yang tak bisa digambarkan. Dia adalah teman sebangku aku. Dia cerewet juga tomboy serta penggemar Korea. Lain halnya dengan Yuni aku melihat Resti dia menghapus air mata yang membasahi kaca matanya. Akupun turut serta terharu, hari itu adalah hari yang sangat bersejarah di dalam hidupku.

Keesokan hari adalah hari pisah kenang, setelah tiga hari siswa-siswi kelas tiga melaksanakan geladi kotor dan geladi bersih. Acara yang digabung dengan wisuda siswa D1, “oh iya,” di sekolah aku ada program setara D1 jurusan TIK. Namun sayang aku tidak mengikuti program tersebut. Acara berlangsung hikmat sejak pelepasan siswa dan acara wisuda. Ini yang aku tunggu, pengumumuman siswa teladan. Semua mata tertuju padaku, sambil tersenyum dan mengatakan “pasti kamu orangnya”. Aku hanya mengelak sambil tertawa renyah.

“Dan juara tiga adalah Yuni! Prok …prok…prok.”

“Selanjutnya kami bacakan juara kedua, YAITU”semua mata tak berkedip. “Adalah! Septiana!” Prok…prok…prok.” Aku begitu terkejut tidak menyangka. Aku masih tepaku di kursi berwana hitam yang empuk itu. “Ayo, Na maju!” Beberapa orang memanggilku. Enggan rasanya aku maju, bagaimana dengan raut wajah Ayahku. Aku tak habis berpikir. Baru aku menginjakkan kaki di atas pentas. Aku mendengar bahwa juara pertama sekaligus juara umum adalah “RESTI”. Aku hanya berusaha tersenyum manis di depan ratusan kepala. Kemudian dengan langkah penuh percaya diri dia berjalan menuju samping kananku. Kemudian bapak Kepala Sekolah kami memberikan penghargaan sekaligus menyalami tangan kami satu-persatu. Aku mengucapkan selamat kepada Resti namun mulutnya bungkam, tak bersua. Aku hanya menelan ludah yang tak ada rasanya sama sekali.

Kami kembali ke tempat duduk kami masing-masing, saat itu posisi Resti di deret depanku namun sedikit ke tengah sedangkan aku di deret kedua dipinggir. Tepuk tangan begitu riah, sedangkan aku memperlihatkan senyum terindah kepada semuanya. Sekalipun aku tak bahagia saat itu. Teman disampingku berbisik kepadaku mengucapakan selamat dan ingin melihat isi map yang aku bawa. Aku hanya tersenyum menolak, beberapa detik kemudian acara hiburan dimulai. Nada-nada alunan piano yang indah namun aku tak sanggup ingin meluluh lontarkan air mataku.

Kejadian itu takkan pernah hilang dari memoriku, beberapa pekan setelah pisah kenang. Yaitu pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Dan semua harapanku semakin pupus setelah melihat hasilnya melalui website dari telepon genggamku. “MAAF ANDA TIDAK LOLOS SELEKSI”. Saat itu pula air mataku jatuh diatas permukaan layar sentuh pesawat teleponku. Aku mencoba menghibur diri, bahwa semua yang terjadi karena kehendak Allah. Itu berarti aku tidak pantas disana, karena masih ada tempat yang lebih baik untukku.

Kebetulan aku juga mengikuti jalur PMDK di salah satu Perguruan Tinggi swasta, aku tak bisa melihat hasilnya melalui pesawat teleponku, maklum bukan smartphone. Akhirnya, sore itu aku mengajak ayahku ke tempat biasa aku meminjam buku. Yaitu Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Situbondo. Disana tersedia komputer lengkap dengan Wi-fi. Aku berjalan secepat kilat setelah mengisi daftar kunjungan dan mengembalikan buku yang aku pinjam seminggu lalu.

Kali ini keberuntungan memihak kepadaku, Alhamdulillah aku diterima di Unmuh. Dan batas pendafataran ulang adalah tujuh hari lagi. Kutak sabar memberikan kabar gembira ini kepada Ayahku, dia tersenyum kepadaku.

“ Berapa biaya daftar ulangnya, Na?”

“ Sekitar empat juta lima ratus ribu Ayah!” jawabku penuh kegirangan.

“oh, baiklah Ayah akan sesegera mungkin mencari uangnya.” Sambil tersenyum kepadaku.

“ ayo kita pulang Ayah, aku telah selesai meminjam bukunya.”

Seminggu setelah kejadian itu, tidak nampak kabar dari Ayahku mengenai nominal yang akan dibayarkan. Saat itu aku kembali tersenyum, mungkin tahun depan aku akan mengenyam pendidikan lagi. “Aku harap Tuhan tidak pernah diam dengan usahaku selama ini.” Tuturku sambil menutup jendela kamarku, kupandangi langit yang kemerah-merahan, senyumku tak pernah berhenti. Begitupun dengan semangatku. “Aku pasti bisa, ini hanya Impian yang Tertunda.”

 

Situbondo, 8 Juni 2014

4.


Menanti Embun dan Cahaya Syurga

By: Baiq Synthia M.R.M

Bagi Zahra seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan,sosok orang yang ia sayangi,   kagumi dan akan menjadi imam dalam mengarungi bahtera kehidupan telah meninggalkannya. Sebut saja namanya Zulqarnain,seorang sarjana muda yang menderita kanker darah sejak umur 5 tahun. Zahra hanya bisa menyaksikan keranda hijau menjadi tumpangan beliau. Lafadz “La ilaa ha illaAllah” terdengar hingga gendang telinganya. Tetes demi tetes mengalir dari pelupuk mata gadis shalihah berparas manis. Sambil bibirnya berkomat-kamit menyeruh kepada Allah, bahwa kehidupan di muka bumi ini tiada yang abadi.Tersimpuh lemas di dekat jendela ruang tamu kediaman sang mayyit.

Zahra hanya bisa mengenang canda, tawa dan senyumannya ketika beliau meminangnya dihadapan keluarga Zahra. Mereka tidak pernahh berbicara satu sama lain, apalagi bertemu atau jalan bersama layaknya muda-mudi pada umumnya. Hanya sekali momen yang tak pernah ia lupakan.

Awal perkenalannya sebenarnya sejak kelas 3 SMU.Detik-detik Ujian akan dilaksanakan, Zahra memasuki ruang kelas XII IPA 1.Disana mereka terkenal cuek dan garang, mungkin karena mereka merasa paling hebat.Nama kelas unggulan di salah satu SMU swasta bernuansa Islam.Namun Zahra tak mengindahkan semua itu, karena ia memang mendapat tugas dari seorang guru untuk menyampaikan pesan bahwa gurunya tidak akan mengajar, sehingga mereka mendapat tugas tambahan.Sedangkan Zahra sendiri adalah siswi kelas XII BAHASA 1.Saat itu terasa aneh di dada Zahra.Namun, Zahra berusaha menghilangkan saja, karena rata-rata siswa XII IPA 1 adalah anak orang berada. Tak pernah Zahra sangka Ujian dilaksanakan bersama laki-laki tinggi perawakan arab. Yang ia rasakan senang, duka dan campur aduk. Ujian Nasional kali ini memang membuat mereka menjadi ciut. Namun bagi Zulqarnain terasa tak ada beban sama sekali,memang ia sering disebut si aneh.

Ujian telah usai, Zahra pun merasa sedikit tenang,rasa tegang masih ada karena pengumuman kelulusan tinggal 1 purnama lagi. Untuk mengisi waktu kosongnya Zahra sering mengubah celoteh hatinya menjadi rangkaian kata. Juga sering berinteraksi dengan kawan dunia maya. Hingga ia berkenalan dengan sosok wanita shaleha, yang menjadi teman curhat. Beliau berumur setahun lebih tua dari Zahra, yang memiliki nama Indah Aira. Zahra sendiri banyak belajar darinya dan mereka acap kali menyebut nama yang unik. Aira memanggil Zahra Cahaya Syurga serta Zahra tak mau kalah Embun Syurga untuk Aira. Mereka tak pernah bertatap muka, karena Laut Jawa memisahkan mereka. Keakraban mereka tak bisa dipisahkan,walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda.Zahra banyak bercerita tentang Zulqarnain kepada Cahaya Syurga.

Waktu yang dinanti tiba,Zahra menduduki nilai tertinggi, hatinya berbinar.Aira pum bahagia.Masuk ke dunia kampus mereka semakin erat dan hal yang tak pernahh ia sangka laki-laki aneh itu sekampus dengannya.Cerita cinta monyet mereka dimulai di semester 8.Aira sangat mendukung itu.

“Kring…Kring..”Nada dering handphone Zahra,semua lamunan Zahra buyar.Si Cahaya menelpon dan mengucapkan bela sungkawa serta tak dapat hadir.Saat itu Zahra mulai tenang mendengarkan suara kakak tercintanya.Dan kabar gembiranya ia mengajak menjadi partner untuk menggarap novel.Dan mereka sepakat akan menulis novel dengan judul “Kerinduan Cahaya dan Embun Syurga”.

Zahra mulai sadar dalam kehidupan ada suka dan duka, ada tawa dan luka. Tak perlu berkecil kalbu.Semua itu adalah tantangan Ilahi, untuk menjadi Insan sempurna di Jannahnya kelak.

Situbondo,24 April 2014

@9.33

 


Sepi




Apa yang aku cari sekarang?

Apa yang aku kejar sekarang?

Apa yang aku inginkan sekarang?





Semuanya telah lenyap

Hilang dari jangkauan.

Aku gak habis pikir.

Mengabaikan pesanmu.




Rindu menyemai,

Memang benar di sini indah.

Tapi apa artinya jika hidup tanpanya.




Ku mohon tunggu aku, Umi.

Aku merindukanmu, di setiap nafasku.

Aku pasti kembali.

Tenanglah di sana.




Denpasar, 14 Januari 2015




by: Baiq Synithia M.R.M

Aku Bisa Menggapai Mimpi.


Saat pertama kali menginjakan kaki di kota yang terkenal se-Indonesia. Kesan yang aku peroleh adalah asing. Karena aku meninggalkan kampung halaman yang begitu jauh dari sini. Terpisah oleh selat Bali. Aku mengalami nuansa yang sangat berbeda dari yang pernah aku alami selama ini. Tetapi, setelah melepas rindu bulan Maret 2015 silam aku mulai sadar. Akan arti hidup yang sebenarnya. Aku tak perlu bersusah payah lari dari masalah. Atau mengejar impian yang tak pasti. Karena apa yang aku alami akan jauh berbeda dengan yang orang nilai. Dan target aku adalah. Sukses di Bali. Dan kembali ke tanah Jawa, bumi Sholawat. Itu. :)



 

Aku gak tahu apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Aku hanya ingin mendapatkan apa yang kuimpikan sejak dulu. Tapi, gak tahu bagaimana cara memulainya. Kehidupan bak perputaran roda, kadang di atas. Juga bisa di bawah. Yang terpenting jalani dengan ikhlas setiap hembusan nafasku. Aku yakin badai akan berlalu, awan mendung akan lenyap. Hidup yang pahit akan berlalu. Tetap istiqomah. Insyaallah.



27 Juni 2015




Malang


 

 

Malam Ramadhan begitu indah. Di saat akan memasuki sepuluh malam terakhir, aku merasa ada sesuatu yang membuatku kian rapuh. Aku tak paham maksud semua skenario dari Tuhan. Yang aku pahami adalah mengapa hidup begitu tidak adil. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata-kata lagi. Aku seperti hanya bisa termenung memperhatikan semuanya yang tak pernah ada lagi. Semuanya pergi, meninggalkan aku sendiri. Aku ingin rasanya mengadu kepadaMu Ya Rabbi. Aku ingin menangis di pangkuanMu. Aku sadar, begitu banyak dosa yang telah kuperbuat kepadaMu. Aku benar-benar khilaf, sekarang aku ingin kembali memelukMu. Bukankah, Engkau Maha pengampun dan Maha penyayang. Ampunilah aku.



Aku aku akan selalu memegang janji teguh itu, walaupun. Banyak rintangan yang akan aku lewati. Aku harap aku tidak mengecewakan kedua orang tuaku. Aku harus bisa mewujudkan impian mereka. Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi lainnya.





Malang, 19 Ramadhan 1435 H/ 6-7-15 :) tetep tersenyum


 

 

Luka tak Akan Hilang

Setiap orang pasti pernah merasakan cinta.

Namun, tak semua cinta akan membahagiakan.

Setiap orang pernah terjerumus dalam lubang nista. Tak semua lubang akan membinasakan.

Tak ada insan terlepas dari dusta dunia.

Lupa akan apa yang dibuat.

Tak sadar.

Hilang akal?

Pernahkah kaubayangkan, ketika sosok yang paling berharga musnah.

Mungkin sekarang Tuhan berpihak kepadamu.

Tapi, karma akan tiba tanpa bicara.

Baiq Cynthia

Malang, 16/4/16

 

     Selamat Pagi, jumpa lagi bersama Aiq. Musim pernikahan gak ada surutnya, ya? Tiba-tiba saya baper. Eits 2016 dilarang baper. Pernah ditanya arti pernikahan oleh kawanku. Jadi ... pandangan saya seperti ini.


Pernikahan menurut saya adalah sebuah ikrar suci kepada Tuhan,  bersanding dengan pasangan. Pasangan yang memang pilihan hati, atau pilihan pihak lain maupun pilihan Tuhan sendiri.


Pernikahan bukan hanya sebuah status menjadi suami atau istri yang terukir di atas kertas. Pernikahan tentang dua insan yang bersatu menuju tempat yang satu tujuan. Meski jalan yang ditempuh berbeda. Pernikahan tidak hanya tentang
materi yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak hanya tentang cinta--cinta dusta. Namun, cinta yang tulus dari sanubari tuk selalu menebar bunga-bunga keharmonisan.


Pernikahan mustahil tanpa sebuah argumentasi. Tapi, kedua pihak harus menyeimbangkan hasil kompromi. Pernikahan idaman adalah selalu bersama, bersatu, menyelaraskan dalam suka dan duka hingga masa senja menyemai.


Itu makna pernikahan menurut saya, semoga kelak dipertemukan dengan jodoh yang baik dan bijaksana.


Aamiin....☺


Situbondo, 25 September 2016



Ya.... aku baru menyadari bahwa kamu suka music jazz 25/9/16


BAIQ nama ini identik dengan nama anak bangsawan di pulau lombok sana....


Sayangnya nama Baiq yang aku punya ini gak ada hubungannya dengan keturunan darah biru. Ea.... aku darah merah. Bukan keturunan bangsa belalang. EH!


Intinya aku rakyat yang merdeka, tidak ada unsur SARA lho... Jadi? Setiap ditanya bagaimana kabarnya? Jawabannya pasti namaku.


Setiap ucapan seorang guru jika akan melanjutkan ke topik berikutnya pasti namaku. Eh, kita belum kenalan ya?


Btw nama aku simple dan unik. BAIQ CYNTHIA M.R.M. Itu title aku, jangan salah.... Jika ingin kenalan tinggalkan pesan di IG @baiqcynthia. 


Kembali ke topik baiq. Pasti kena bully.... karena banyak lagu populer pake nama aku. Wah mereka gak ada izin lho. Gak papa.... Aku jadi terkenal kan....:D


Kemudian karena nama itu sifat aku jadi seperti nama, ini kata temen sih. Padahal aslinya aku GJ. 


Gak rugi kok kenalan sama Baiq... entar ketularan pinternya baru tahu rasa.... Aamiin....


Hanya butuh penjelasan maksud mereka kalau ledekin Baiq itu kenapa?


Intinya nama Baiq itu unyu dan aku suka.... Aku jadi paling unik.... Padahal kalau di lombok udah pasaran mah....


Wkwkwkwk


Setiap yang terdetik dalam kehidupan pasti ada gagal dan keberhasilan.


Apa pun impianmu, jika kau sungguh-sungguh. Impianmu bukan sekedar mimpi belaka


0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.