Akan Datang yang Terbaik, di Waktu Tak Terduga.

Jika Engkau Dikecewakan, Maafkanlah. Akan Datang Pengganti yang Lebih Baik di Waktu yang Tak Terduga.




Memang berat untuk melepaskan sebuah ikatan yang selama ini dinantikan. Memaafkan kesalahan yang sudah kadung menyesap begitu dalam. Terlebih saat hati berharap terlalu banyak, ujungnya hanya kekecewaan.



Aku wanita mandiri yang suatu ketika jatuh hati kepada pria yang lebih matang, dewasa dan mapan. Tentunya melalui jalur taaruf, dikenalkan oleh kerabatku yang tinggal di Malang. Ia bisa dibilang lelaki lembut juga penyayang kepada anak-anak, maka semakin jatuh hati untuk bisa merajut rumah tangga bersamanya. Meski berasal dari latar belakang berbeda dan usia yang terpaut selisih 12 tahun. Aku mencintainya diam-diam, pun saat itu anggapanku ia juga merasakan hal yang sama, terlebih saat ia mengirimkan sebuah kado yang kuinginkan.


Sumber gambar: Unpash.com




Wanita mana yang mau menginggalkan sosok seperti itu; pengertian, santun, bertanggung jawab dan menepati janji.
Ketika Allah yang Maha Membolak-balikkan hatinya, semua menjadi pelik. Hati yang sudah 24 purnama menanti kabar pernikahan, ternyata harus kandas lebih awal. Ketika semua harapan lebih cepat pupus dari yang diperkiran, rasanya hati hancur berkeping-keping. Apalagi kami sempat bersua untuk yang terakhir kalinya di kota tempat ia tinggal, Allah mempertemukan kami malam itu ternyata sebagai tanda salam perpisahan.



Hanya sebagai bukti bahwa mencintai tak harus memiliki, cinta bisa hadir kapan saja, tetapi belum tentu akan menetap. Ia yang sudah sangat cukup umur, tetapi dengan sangat jelas mengatakan tidak ada perasaan secuil pun untukku.




Selama ini, sahabat terdekatku selalu mengatakan, dia tidak mencintaimu. Tetapi, aku tidak mempercayai hatiku sendiri. Bahkan aku terlalu buta, mencintainya diam-diam selama dua tahun dan tidak ada kejelasan yang pasti. Aku terluka, sangat terluka. Tetapi, malam saat ia sematkan kata ‘maaf’, mampu mengurangi kadar luka. Hatiku tidak terhujam oleh dera yang lebih sakit lagi.



Aku menerimanya, bahkan tersenyum dalam tangis. Pupus sudah bisa bersanding dengannya, berjalan dalam visi-misi yang sama.




Hampir sebulan aku tidak keluar kamar, bisa dibilang patah hati dan merasa pilu dalam waktu yang bersamaan. Bukannya berniat menutup diri, tetapi aku hanya membutuhkan kesendirian. Kubuka secarik kertas dan kutulis semua rasa kesalku. Sedikit pun tidak ada rasa dendam kepadanya. Hanya saja kali ini aku tidak ingin jatuh pada lubang yang sama. Kuhapus semua pesan-pesan darinya, tetapi kubiarkan saja kontak dia bertengger di ponselku. Aku tidak ingin memutuskan jalinan persahabatan karena cinta.




Dua bulan setelah itu, sahabatku mengenalkan kepada seseorang yang masih kerabatnya. Orangtuanya langsung setuju denganku, bahkan tidak sabar untuk segera meminang. Aku bersyukur, bisa mengenalnya. Selama ini aku berharap pada yang jauh ternyata mendapatkan yang lebih dekat. Berkat rasa memaafkan, tidak menyimpan dendam dan berusaha move on.



Ternyata Allah mengganti lelaki yang lebih baik, lelaki dewasa, hanya terpaut empat tahun dan Insyaallah berani komitmen dalam waktu dekat.




Jika hati kita terus-terusan menyimpan dendam, sama halnya menyimpan kotoran di hati. Berat rasanya jika setiap hari membiarkan ‘sampah’ melekat dalam diri. Mari bersihkan hati, karena manusia hanya bisa berencana Allah yang memutuskan. Dengan memaafkan saudaramu, engkau akan mendapatkan ganjaran yang lebih baik kelak.

Baiq Cynthia-Situbondo.

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts