Rahasia di Keramba Pantai Pathe' [Situbondo]

Setiap perjalanan ialah hikmah, setiap tempat baru yang dituju selalu menemukan pengalaman baru.



Seperti edisi jalan-jalan ke Pantai Pathe’ naik sampan apung yang tujuannya menuju Keramba ikan salah satu tempat penangkaran ikan yang sudah berhasil ditangkap dengan jaring maupun umpan.


Masih pagi saat itu, Pak Samsul selaku salah satu pemilik penyewaan perahu maupun sampan apung menawarkan kami untuk sekedar mampir di keramba miliknya. Senang sekali rasanya, sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.




Bulan Ramadhan memacu adrenalin, bermain di laut yang dikelilingi oleh ikan-ikan lucu, menyaksikan ikan mungil yang biasanya saya makan (ikan berbentuk nasi, nama lain dari ikan teri). MasyaAllah begitu agung dan indah ciptaannya. Ini baru di laut bagian keramba, belum di dasar maupun palung, belum di danau, di bukit, di gunung, gurun dan tempat-tempat yang melapisi bumi.

Saya kagum dengan para nelayan yang bekerja keras, tak hanya memancing dan menjaring ikan—ia juga membudidayakan. Pak Samsul sapaannya, dia tinggal di pesisir Pathek. Sehari-hari menjadi nelayan, di akhir pekan kadang sebagai pengantar wisatawan yang hendak menutar area laut landai.
Saya sempat bertanya soal penghasilan ikan tiap tahu, menurutnya semakin tahun hasil tangkapan kurang memuaskan. Memang setelah saya lihat, kualitas terumbu karang masih kurang memadai untuk tempat tinggal ikan-ikan badut yang lucu.

Miris sekali, air yang muncul di muara tidak sejernih air yang saya temui di daerah pegunungan. Airnya berwarna kecoklatan dan bercampur dengan sampah-sampah. Kabar terbaru yang sempat menggemparkan para pekerja di daerah pesisir Bali, tentang terdamparnya Paus Sperma yang di perutnya bersarang sampah. Bayangkan?
Alarm bagi manusia, tenang kualitas perairan yang memburuk. Sedih sekali, jika paus yang yang dalam keadaan hewan langka.




Kembali lagi ke main topik, melancong tidak sekadar menikmati alam. Tetapi, kita ikut menjaga alam. Dengan tidak membuang sampai sembarang apalagi membuang sampai ke sungai yang ujungnya ke laut, sementara laut sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh manusia.




Contoh kecil saja, garam yang dihasilkan dengan proses penguapan air laut, kalau kualitas air laut bebas dari sampah hidup kita akan sehat. Segala yang kita lakukan terkadang berdampak pada diri kita sendiri.

Melancong emang membuka inspirasi kehidupan baru, menambah teman baru dan dengan berpetualang kita tahu hidup tidak sesempit daun kelor.
#penulis Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts