Friday, June 29, 2018

Belum Saatnya Usai Masa Penantianmu


Tidak mengapa menunggu lebih lama lagi, asalkan engkau tetap memelihara hati dalam kebaikan. Karena yang baik datang tidak tergesa-gesa, ia datang dengan persiapan yang sangat matang. Teruslah memperbaiki diri, memantaskan diri untuk pilihan yang terbaik, versi-Nya. Jangan menodai dengan setitik ketidaksabaran.





Aku pikir sudah usai masa penantianku, tetapi saat kereta yang akan menjemputku harus mencari alternatif jalan baru, akan semakin panjang masa menungguku. Aku menyadari terlalu banyak balok-balok pada rel kereta yang membuat harus mencari jalan keluar yang lebih baik. Agar kereta itu bisa dengan segera menjemputku di stasiun terakhir



Aku tak akan berjanji akan menanti, jika memang ada kereta lain yang memiliki tujuan sama lebih cepat datang daripada kereta yang kutunggu. Maka, dengan kereta itu akau akan melanjutkan perjalanan. Tapi, dalam diam aku selalu berharap yang lebih cepat menjemputku itu kereta kamu. Maka, terlalu banyak do’a-do’a yang dilayangkan berharap rute perjalananmu lekas sampai di depan mataku.

Memang kita belum pernah dipertemukan sebelumnya, tapi aku yakin tiketku bisa untuk menumpangi yang kau-kemudikan. Perjuanganku dan dirimu belum berakhir, kita sama-sama menyelesaikan masalah yang kita hadapi sendiri, karena pada suatu saat kita akan menyelesaikan masalah bersama.
Mungkin saja kini engkau terlilit kesulitan saat mendapatkan masalah pada rel yang putus atau jalanan berpasir, badai. Tapi, kupastikan seberat apa pun perjalananmu jika masih mampu bertahan dan memperjuangkan, pasti datang dan melihatku sudah berdiri di peron.


Aku sangat yakin kereta tidak akan pernah tersesat, tapi mungkin mengubah rute saja yang akhirnya akan kembali kepada hati yang sudah ditakdirkan bersatu.

Suatu hari di saat senja sedikit meredup aku mendengar suara asap yang keluar dari cerobong, peluit gerbon yang menghentikan lajunya. Saat itu juga semua akan terasa, betapa perjuangan yang sukar bukan yang mempertahankan terlalu lama tanpa ikatan, bukan mereka yang masih berkirim surat dan masih setia dalam hubungan jarak jauh. Bukan!

Tapi mereka yang saling menjaga hati, tetapi berebut do’a dalam sepertiga malam memanggil-manggil pujaan hati dalam jeritan jiwanya kepada Ilahi. Berharap dan meminta-Nya menghadirkan tepat pada waktunya untuk bersama dan memiliki rute yang sama melanjutkan perjalanan menuju SURGA.

Situbondo, 15 Syawal 1439 H
Penulis : Baiq Cynthia

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.