[Review] One Day in Jakarta (Thibault Gregoire)

Judul : One Day in Jakarta

Penulis : Thibault Gregoire


Penerjemah : Ken Nadya


Penerbit : KPG (Kepustakaam Populer Gramedia)


Tahun Terbit : 2010


Jumlah halaman : 150


Peresume : Baiq Cynthia





ONE DAY IN JAKARTA



Potret kehidupan di ibukota yang penuh dengan warna, tidak melulu soal kemacetan maupun banjir yang kerap terjadi. Kehidupan yang glamor dan tempat lahirnya seniman maupun artist banyak terdapat di sini.


Penulis bercerita dalam bingkai foto yang diambil dengan memperhatikan estetika-estetika visual. Menampilkan aktivitas masyarakat dalam nadi kehidupan di beberapa titik sentral. Buku ini bercerita begitu runtut dari bangun tidur hingga tidur lagi. Meski tema random yang diusung, foto-fotonya memiliki diri khas tersendiri--pengambilan objek gambar secara detail namun tetap fokus pada satu objek. Misalnya potret pejalan kaki di trotoar yang kehujanan. Hanya bagian kaki yang ditonjolkan ketika melipat celana kerja di atas betis.


Gambar disusun berdasarkan waktu--mulai dari para jemaah Muslim yang memulai aktivitas sholat Subuh berjamaah, aktivitas sopir kopaja mengangkut penumpang yang pergi ke pasar, hingga para pelari yang jogging yang menikmati sunrise. Pengambilan gambar yang candid tetapi detail gambar bercerita lebih banyak betapa eksotisnya ibukota Indonesia tercinta ini.


Buku ini tidak sekadar berupa gambar-gambar yang memotret ragam aktivitas warga pinggiran yang tinggal dalam lingkungan kumuh, tetapi binar kebahagiaan yang terselip pada setiap gurat wajah. Emosi gambar yang begitu kuat mewakili perasaan beberapa kelompok yang berasal dari latar belakang yang berbeda.


Jakarta dengan macet, polusi dan sampah yang dihasilkan 600 ton setiap hari tidak menjemukan orang-orang yang tinggal di sana. Malah saban tahun semakin bertambah penduduk yang berdatangan. Ironisnya semakin sempit lahan bermukim yang terganti gedung-gedung pencakar langit.


Buku ini menyuarakan jeritan warga ibukota yang kekurangan lahan hijau, terbatas pada pemakaman, lapangan golf dan stadion bila dilihat dari peta. Masyarakat tidak butuh mal-mal baru, yang mereka inginkan tempat untuk menghirup lebih banyak oksigen lagi.


Terlepas dari pengambilan gambar yang dalam setiap waktu, tidak memperdulikan tema, buku ini bisa menjadi refleksi agar pandangan Jakarta tentang macet tidak dominan. Setiap tempat pasti memiliki ciri khas yang berkesan bagi mereka yang menjadikan tempat mengais rezeki maupun sekadar tempat singgah. Kemana pun kaki berpijak, rumah akan selalu menjadi tempat paling nyaman untuk kembali.


Jakarta merupakan jantung Indonesia, wujud kontribusi paling sederhana untuk tanah air, ialah menjaga dan merawat kota dengan memunculkan benih-benih perdamaian.


#BaiqCynthia

#menulis_yuk


#Ijakarta

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts