Kepadamu yang Kusebut dalam Senyap

[Tulisan ini sudah lama mengendap, hanya sebuah surat tanpa penerima]





Dear, Sosok bergamis putih.
Salam manis walau getir. Bagaimana kabarnya sehat? Semoga tak sampai kena vonis yang sama sepertiku. Patah hati. Ya, seperti yang kukatakan tadi. Ada bekas luka di dada. Luka yang mungkin akan lama tuk kembali sembuh. Ini bukan sepenuhnya karena kamu. Tetapi, mungkin karena aku yang terlalu berharap.




Oh, ya perkenalkan namaku Marsyah. Sering dipanggil Ica. Mungkin kamu lupa. Bahwa aku selalu memperhatikan meski dari rentangan jarak yang tak bisa didefinisikan dalam satuan ukur. Orang menyebutku si pemakai topeng. Entah apa engkau akan menyebutku seperti mereka. Aku lebih suka tertawa dalam sedih.




Bagaimana dengan hari barumu? Menyenangkan, bukan? Oh, ya kuharap kau membaca di tempat yang aman. Sebelum aku berceloteh lebih jauh.




Mister gamis ... Engkau pernah membuat waktuku seperti di Surga. Tak ada sebutan detik, menit atau abad. Hariku terlalu indah bersama kepingan emas dan perak. Aku sering melihatmu mengantarkan kurma ke rumah. Tak pernah berani menyentuh gagang pintu. Tentu, selayaknya sebagai wanita yang belum terikat dengan siapa pun menjaga diri.




Oh, di balik tirai sering kudengarkan suaramu yang berat terkesan gagah. Meski samar hanya gamis putih yang terlihat, aku tidak bisa melihat rupamu. Karena suaramu lebih dulu menyentuh kalbu.




Tetapi saat aku mendengar, engkau telah mengkhitbah seseorang. Palung hatiku retak, seumpama gunung es yang mendadak meluruh. Aku tahu, itu pilihanmu, tidak ada seorang pun bisa melarang untuk menentukan pilihan hidup terlebih menjadikan pendamping hingga tutup usia.



Sadar, bahwa aku tidak pantas berharap pada engkau yang memiliki segalanya, sedangkan aku tidak. Aku tidak pernah mencintai apa yang engkau miliki, tetapi sikap santunmu lebih cepat mengetuk hatiku.




Aku menangis, bertanya seorang diri. Aku ini siapa? Terlalu mendamba kemilau bintang yang berada pada jarak ratusan bahkan ribuan kilometer.




Cinta dalam diam itu sulit, ketika kita terlalu berharap tanpa berupaya menggapainya. Aku baru sadar, cinta yang bertepuk sebelah tangan artinya cinta itu tidak cocok untuk bersama. Biarkan aku sendiri lagi, menanti seseorang yang memang siap menerimaku hidupku alakadarnya.

Kuucapkan selamat menempuh hidup baru.

Salam, Marsyah.



Ramadhan 1347 Hijriah
Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts