Belajar Ikhlas dari Story of Your Life~Baiq Cynthia

Kehidupan selalu berubah setiap detik.





Rasanya baru kemarin bukber di sini (Malang) bahkan ketemu kawan-kawan akademos di Rumah Inspirasi Malang.Ngabuburit bersama teman-teman Alumni Manda di Mie Jogging depan SPBU UMM.Menjadi anak kos yang setiap dini hari harus berebut dapur dengan penghuni kos lainnya yang akan santap sahur. Maka, kami siasati dengan memasak di waktu usai shalat terawih. Aku memiliki sahabat, dan teman kos yang baik hingga terasa seperti family sendiri. Setiap aktivitas seperti sholat dan terawih kami usahakan berjamaah. Bahkan sangat lekat dalam benak, kami berlima menggunakan dua motor saja ke masjid kampus kami untuk sholat Subuh berjamaah. Suasana yang menyenangkan dan tidak dapat terlupakan walau hanya sejengkal memori.




Rasanya baru kemarin bukber di sini (Malang) bahkan ketemu kawan-kawan akademos di Rumah Inspirasi Malang.Ngabuburit bersama teman-teman Alumni Manda di Mie Jogging depan SPBU UMM.Menjadi anak kos yang setiap dini hari harus berebut dapur dengan penghuni kos lainnya yang akan santap sahur. Maka, kami siasati dengan memasak di waktu usai shalat terawih. Aku memiliki sahabat, dan teman kos yang baik hingga terasa seperti family sendiri. Setiap aktivitas seperti sholat dan terawih kami usahakan berjamaah. Bahkan sangat lekat dalam benak, kami berlima menggunakan dua motor saja ke masjid kampus kami untuk sholat Subuh berjamaah. Suasana yang menyenangkan dan tidak dapat terlupakan walau hanya sejengkal memori.
Menjadi anak kos yang setiap dini hari harus berebut dapur dengan penghuni kos lainnya yang akan santap sahur. Maka, kami siasati dengan memasak di waktu usai shalat terawih. Aku memiliki sahabat, dan teman kos yang baik hingga terasa seperti family sendiri. Setiap aktivitas seperti sholat dan terawih kami usahakan berjamaah. Bahkan sangat lekat dalam benak, kami berlima menggunakan dua motor saja ke masjid kampus kami untuk sholat Subuh berjamaah. Suasana yang menyenangkan dan tidak dapat terlupakan walau hanya sejengkal memori.

Waktu begitu cepat melesat bagai panah yang menancap pada sasaran. Ia tidak bisa kembali ke tempat di mana dilepaskan. Seperti itulah peristiwa demi peristiwa yang terjadi tidak bisa terulang kembali pada kesempatan dan waktu yang sama. Kamu bisa mengulang kembali kegiatannya, tapi momen yang sama tidak akan kembali.


Hidup seperti gerakan angin yang tidak meminta izin meniup daun-daun pada ranting yang telah uzur. Ia hanya terus bergerak mencari tekanan yang lebih rendah. Bahkan meminjam kata-kata Tere Liye tentang sebuah daun yang jatuh tidak pernah membenci angin.


Segalanya yang engkau miliki memiliki batas waktu yang tidak pernah tahu kapan masa expired-nya. Sama seperti kesempatan yang engkau punya, pada akhirnya harus hilang atau bahkan sama sekali tidak pernah menyapa.


Ambil pelajaran dari masa-masa yang telah engkau lewati, seperti belajar sabar, ikhlas dan bersyukur.


~*~


Kalau saja saya bisa kembali pada masa lalu mungkin tidak mementingkan egoisme untuk terus memaksakan kehendak yang berbanding terbalik dengan kemampuan finansial.


Tetapi saya bersyukur, dengan batas rata-rata finansial yang saya miliki, bisa belajar betapa kerasnya kehidupan di luar sana tanpa siapa-siapa. Betapa indahnya keberadaan orang-orang baru yang turut mengisi kesepian yang selama ini dirasakan. Menjadi tahu arti rela berkorban untuk orang lain, menjadi lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan tentunya lebih mandiri lagi untuk ‘survive’.


Karena sebuah kegagalan saya belajar arti ikhlas. Melepaskan apa yang selama ini saya usahakan. Membiarkan semuanya terjadi, saya yakini ini sudah suratan dari Allah. Walau menggebu-gebu berusaha tetapi belum ada ridho dari Allah tidak akan terealisasi.


Ikhlas belajar untuk menerima kenyataan, mengupayakan kehidupan yang lebih baik lagi di depan sana. Karena kehidupan memang harus terus berjalan seperti aliran sungai, dan tidak akan disebut sungai jika airnya berhenti mengalir.


Saya belajar tentang arti syukur, ketika mendapatkan perlakuan baik dari mereka yang belum saya kenal baik sebelumnya--setelah tinggal jauh dari orang tua tentu akan terlepas segala monitoringnya. Tidak bisa menggelayut manja lagi. Tentunya ada banyak hal baru yang saya dapatkan di luar sana. Walaupun harus berhenti di tengah jalan.


“Ke mana pun kaki melangkah, kaki akan meminta kembali, mencari jalan pulang.”


Usaha dan do’a sudah dimaksimalkan, tetapi lagi-lagi harus mengelus dada. Saya harus meninggalkan studi saya yang selama ini diimpikan. Kadang sempat muncul rasa iri dalam sanubari, melihat mereka yang memiliki orangtua yang mampu finansial dan untuk biaya hidup maupun studi tidak perlu berpikir panjang. Namun, sayang sekali malah disia-siakan kesempatan mengenyam pendidikan dengan sering ‘nitip absen’, bolos kuliah dan tidur di kelas.


Saya sangat bersyukur kepada Allah, bahwa setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang bilang saya punya kemampuan daya pikir yang bagus katakanlah cerdas. Tetapi sayang sekali tidak bisa lanjutkan pada Perguruan Tinggi sampai khatam. Memang banyak suara-suara yang mengatakan demikian, tetapi tidak satu pun saya gubris.


Kini saya lebih suka menyelami dunia kata-kata. Ikhlas di sini tidak hanya melepaskan, rela dan lapang dada akan sebuah nasib yang dialami atau kehilangan kesempatan. Tetapi lebih pada berusaha sungguh-sungguh membuktikan ada jalan berbeda yang tidak harus dilewati bersamaan dengan mereka.


Karena bunga mekar tidak harus bersamaan, sama seperti proses yang tidak harus sama dilakukan, yang terpenting bisa selalu mengambil pelajaran di setiap detik kehidupan.


Saya bukan orang bijak, tetapi saya berusaha menyelami sejauh mana kemampuan saya dalam menghadapi masalah. Cara paling ampuh yang saya lakukan tidak harus berlari dari masalah, atau sebaliknya, larut dalam permasalahan. Tapi bagaimana mencari solusi dari setiap masalah. Sekarang yang ada dalam benak ialah menghentikan pengejaran yang tidak pernah berujung … kemudian berusaha membuat orang lain bahagia.


Karena kehidupan hanya tempat untuk singgah dan akan melanjutkan pada kehidupan yang lebih kekal lagi, yakni kampung akhirat.


Selagi ada kesempatan untuk memperbaiki mengapa tidak dimulai dari sekarang, dengan memulai dari ikhlas … semata-mata yang dilakukan murni kepada Allah. Karena saat kita tidak memiliki apa pun tetapi merasa memiliki Allah yang selalu menemani setiap pijakan kaki, hidup kita akan lebih berarti.


Tidak penting menggebu-gebu menangisi yang tertinggal di belakang sana. Tapi ... ikhlas, hadapi segala rintangan yang menghadang dan jangan pernah menyesal pada keadaan.



Because … Your life is precious. 💐💐


Penulis : Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts