Tantangan Menulis Akan Membuatmu Strong (Tips Menulis)

Habis TAT S4 Terbitlah TAT DUEL






Menulis itu memang tidak semudah membuat kalimat, “Saya Bisa Menulis atau Aku Penulis.”




Saya tidak akan mengatakan menulis itu susah, karena setiap permasalahan paling rumit di muka bumi ini, pasti ada jalan keluarnya. Tentu saja menulis pun ada caranya agar lebih mudah, seperti makan Biskuit yang diputar, dijilat dan dicelupin.


Menulis juga ada caranya, membaca, membaca, membaca dan menulis, menulis, menulis.
Saya jabarkan lagi arti 3 Membaca dan 3 Menulis.




Membaca yang pertama; tujuannya kita mendapatkan ide. Menulis yang pertama; menuliskan ide apa saja yang sudah tertangkap.
Menulis kedua; membaca tulisan yang sudah kita tulis. Menulis yang kedua; mengedit apa yang kita tulis.




Kemudian tulisan diendapkan untuk waktu yang cukup entah 3 hari atau seminggu. Selama diedapkan lupakan tulisan yang sudah ditulis, bawa refreshing anggap tidak ada pikiran. Tidak terlalu lama juga mengendapkan, lalu baca yang terakhir.




Membaca yang ke-3; posisikan kita sebagai pembaca awam, jadi harus netral jika merasa ada ketidakcocokan dalam aturan kepenulisan, maupun berkenaan dengan kisah yang disuguhkan.
Menulis yang terakhir; ialah benar-benar menulis semacam perbaikan total juga revisi. Jadi, sebagai penulis juga harus cakap menjadi editor sendiri sebelum mengirim naskahnya.




Hei itu salah satu tips mudah yang tentunya hanya dengan mencoba bisa mengetahui sejauh mana kemampuan menulisnya.
Beranjak dari hal yang sedemikian sederhana, kita uji nyali menantang diri. Gimana perasaanmu saat menulis dikasih sedikit tantangan?




Misalnya tenggat waktu, atau deadline. Ini sudah hal yang wajar ya, tapi bagaimana jika tenggat waktunya sangat kepepet. Menulis novel dalam waktu kurang dari 23 hari? Sudah pernah?
Mendapatkan genre yang paling dibenci?




Teror berupa denda, hingga status-status pertanyaan kapan selesai? Seperti jomlo ditanya kapan nikah? Untung gak sampai pilih jalan pintas semacam bunuh diri, “Ih serem!” Lebih serem lagi kalau pergi ke kondangan mantan.


NEXT ...




Tantangan berikutnya ialah membuat versi remake dari novel penulis yang mengadakan tantangan ini. Semacam meng-cover lagu, agar lebih menarik atau memiliki hal yang baru tanpa mengurangi nilai dan isi dari cerita yang versi lawas.




Keseluruhan itu masuk dalam ajang TAT S4. Ada sedikit tips nih, dari saya yang kebetulan dinobatkan menjadi The Winner sama Ibu Kos. Cie, tidak sia-sia begadang, dan duduk dan tidur bareng Lappy (baca: Laptop), sampai ia harus masuk ruang servis. Mungkin karena sudah tidak mampu menahan beban hidup dan kenyataan yang pahit.




Tips pertama yang saya lakukan saat menghadapi tantangan TAT S4.
Menerima kenyataan, bahwa hidup memang harus dinikmati, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil selama tetap konsisten dalam belajar.




Selanjutnya, mulai cintai proses dan apa yang akan ditulis. Semua yang berasal dari hati, tentu akan menjadi lebih spesial. Dengan cinta, kita akan merasa lupa dan tidak peduli pada kegagalan yang akan dihadapi. Cinta menumbuhkan optimis, dan cinta selalu menemukan jalan keluar dalam sebuah permasalahan.




Saya awalnya merasa kesulitan menulis naskah Teenlit yang menjadi tantangan, karena bacaan terakhir saya sudah mulai masuk pada tipe bacaan yang ‘berat’. Seperti Rafiluss karya Budi Darma.




Maka hal pertama yang saya lakukan adalah membaca, mulai mengamati keadaan zaman putih abu-abu yang dulu itu. Sedikit sulit untuk bisa mengembalikan memori saya yang sudah tereset pada hari ini. Banyak hal-hal buruk yang saya alami semasa di SMA. Itu mengapa saya tidak menyimpan kenangan remaja.




Tak cukup dengan ‘memanggil’ kenangan yang lama saya mulai dengan hal yang lebih mudah yaitu berperan sebagai tokoh dalam cerita, seolah-olah itu saya yang mengalami.




Gimana caranya bisa menyelesaikan 120 lembar dalam waktu 3 mingguan?
Kita atur misalnya satu hari 10 lembar maka dalam 10 hari sudah selesai, bulan? Tapi pada kenyataannya, seringkali realita tidak sama dengan ekspektasi. Sehari saya hanya mampu satu-dua lembar. Itu sungguh menyedihkan.






Menulis tidak bisa mengandalkan mood, kalau menunggu mood bagus, sama saja menunggu hujan di tengah kemarau. Saya mulai berjuang saat itu, meski nyaris tidak tidur dan tulang ekor terasa akan copot saja. Saya abaikan segala hal yang mengganggu, sebisa mungkin saya tidak mengerjakan multitasking. Karena efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan otak.







Ini sudah nyaris pukul 1.00 saya belum bisa tertidur, padahal rutinitas hari ini bisa dibilang sangat padat. Tapi penulis tidak akan mudah menyerah, ia rela berdarah-darah demi bisa menulis walaupun mata suah terkantuk-kantuk.




The power of kepepet selalu menjadi paling ampuh, saya mengerjakan non stop itu saat waktu sudah tersisa hitungan hari.




Maka tantangan TAT DUEL kali ini yang akan saya hadapi, setelah mendapatkan tantangan menulis yang jauh dari genre, kini premis pun ditentunkan dari penerbit.




Bisa dikatakan jauh dari pengalaman menulis saya, ini bukan soal menulis perjalanan hidup. Tapi, menulis memiliki tujuan, manfaat dan dampak. Itu yang harus dipegang teguh oleh penulis.




Saya pun dibuat bingung dengan inti premis, hingga membuyarkan pikiran saya berkenaan dengan pengertian premis itu sendiri. Bersyukur, teman-teman TAT DUEL meski dalam hal berkompetisi kami saling mensupport satu sama lain, melalui semangat dan motivasi.




Meski ada beberapa peserta yang mendapatkan DL lebih cepat, kami pun terus berusaha untuk menyelesaikan naskah dengan baik.




Premis saya ternyata teka-teki yang harus dipecahkan oleh saya sendiri. Ini mah buka premis!
Selamat istirahat, punggung rasanya butuh sandaran—kasur.
Situbondo, 11/4/2018

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts