Sukses Tidak Melulu Prestasi, Bisa Menaklukan Ketakutanmu Itu Salah Satu Sukses~Baiq Cynthia

Daily’s Baiq is come back, emang sulit banget sih untuk bisa konsisten nulis. Apalagi di tengah bejibunnya masalah, hingga tak segan saya nonaktifkan facebook.



Karena itu benar-benar memforsir pikiran bawah sadar saya. Di mana saya sendiri merasa sangat sulit untuk bisa membagi waktu, terlebih saat sendiri. Kalau saja saya tinggal bersama kerabat atau sepupu, biasanya saya lebih sering menghabiskan waktu bercengkrama, ngomong ngalur-ngidul, hingga benar-benar lupa dengan ponsel.



Beberapa hari ini saya habiskan waktu untuk intropeksi diri, selain itu melihat beberapa tayangan di channel youtube para pelancong yang keluar Negeri, resep masakan hingga motivasi diri dan spiritual.

Agaknya berlebihan jika terlalu sering mantengin gadget, hingga tak terasa lupa makan maupun istirahat.

Tapi, hanya itu yang bisa saya lakukan dalam kesendirian, mencari alternatif untuk membasmi kesulitan segalanya. Emang sih semuanya butuh belajar dan dipaksa sejak awal, karena kita sendiri tidak mampu berdiam diri (stagnan) di satu tempat.

Perlu pergerakan yang berkelanjutan, dari apa yang saya pelajari tentang suksesnya seseorang ada banyak faktor. Pertama disiplin, tanpa kedisiplinan mustahil bisa mengerjakan pekerjaan sesuai jadwal. Terlebih nih, manusia memiliki kebutuhan yang sangat kompleks.

Primer, sekunder dan tersier, kebutuhan jiwa dan raga, olah pikir dan spiritual. Semua harus dijalankan secara berkesinambungan. Saya terinspirasi dari para traveler yang sukses, mereka memang harus siap menghadapi tantangan. Tantangan cuaca, maupun tantangan kekebalan tubuh sendiri. Mengatur jadwal rutinitas tubuh, maupun interaksi dengan sekitar.

Tidak selamanya kita bisa mengerjakan sendiri, karena manusia merupakan makhluk sosial. Pun selama bersosial tentunya diatur sedemikian hingga dengan pedoman/falsafah kehidupan.

Selanjutnya untuk menjadi orang sukses, tentu hilangkan rasa malas. Malas terjadi karena diri kita tidak mendapatkan punisment maupun reward, kita pun merasa bebas melakukan apa pun. Tidak ada target dalam tubuh membuat rasa mengentengkan, hingga gak peduli lagi dengan tujuan hidup. Padahal jika dimanajenen dengan baik, segala impian yang dibutuhkan pasti bisa tercapai.
Saya tidak akan muluk-muluk bercerita soal sukses, karena saya sendiri hanyalah pekerja lepas dan tidak terikat kontrak dengan perusahanan mana pun.

Karena itu rentan terkena malas, merasa tidak punya tanggungan dan tuntuntan.
Sukses menurut definisi saya sendiri, terjadi ketika apa yang kita targetkan tercapai, dengan usaha-usaha yang panjang, secara praktis dan efisien. Jujur saya lebih suka membagikan apa yang telah saya upayakan untuk capai.

Seperti; Berenang tidak akan membuatmu tenggelam, malah jadi ikan. Sebagai phobia air kolam dan laut saya tidak akan lupa saat dulu pernah terjebur pada bak mandi yang cukup besar bagi anak balita, kejadian itu memang sudah berlalu tetapi membuat saya phobia pada air.
Ketika saya mendapatkan motivasi bahwa berenang bisa menyembuhkan penyakit asma, sejak itu saya mencoba untuk memberanikan diri dengan air. Berusaha bersahabat dengan air, tidak terlalu takut, meskipun masih selalu berpegangan dengan penyangga. Setahun kemudian saya bertemu dengan salah satu coach renang, ia sedang berenang dan mulai mengajari kami teknik dasar berenang. Saya sangat tertarik, kelihatannya sangat hebat dan tentu mengasyikkan. Maka detik itu juga saya beranikan diri untuk belajar secara langsung kepada ahlinya. Mendengarkan tips-tipsnya saat di dalam air, mengambil napas latihan bersahabat dengan air.
Menurutnya, saya saat itu tidak yakin 100 persen, dan lagi-lagi dia berujar, “Jika sudah ragu dan tidak berani tentu akan gagal untuk bisa berenang.”

Lintasan pikiran saya, soal ikan hiu yang bisa muncul di kolam, atau tenggelam dan ketakutan-ketakuan lainnya. Menghilangkan rasa takut dan trauma memang butuh adaptasi, terlebih usia udah kadung dewasa untuk belajar renang. 22 tahun! Coach mengolok aku, jika tidak bisa berenang kalah dengan muridnya yang masih SD atau TK.

Maka dalam benakku, berusaha untuk taklukan air, bersahabat dengan ketakutan dan berani mencoba. Saya langsung praktik saat itu juga, meskipun malam-malam di kolam renang. Berkali-kali harus menemui kegagalan, air yang masuk ke lubang hidung, atau telinga bahkan sempat tersedak. Tapi saya tidak menyerah begitu saja.

Saya coba yakinkan Coach ... bahwa saya bisa dan memang saya sudah siap melewati tantangan, saya coba mengikuti perintah pembimbing renang. Memutari kolam renang sambil menggerakkan tangan. Hati dan pikiran berkecamuk, ketakutan-ketakukan muncul seperti kilasan cahaya. Saya coba meresapi dan nikmati air, menjadikan masalah tidak hanya sebagai sahabat, melainkan sebuah kekuatan baru.

Menurut coach saya sudah mampu mengendalikan pernapasan di air, dan tidak takut lagi sama air itu perkembangan yang pesat, namun saya tidak lantas melanjutkan belajar renang, tenaga sudah terkuras dan sudah bertambah malam.

Esoknya saya tidak mencoba lagi, efek berenang malam tentu saja flue. Saya khawatir sakit, karena tubuh dipengaruhi oleh mindset maka tentu saya tidak berenang.
Dua minggu pasca berenang, saya mulai memperaktikan ulang apa yang sudah saya coba di pertemuan pertama, tentu saja saran-saran beliau saya lakukan. Termasuk pemanasan sebelum masuk ke kolam. Jeda lama tidak latihan membuat saya kembali kaku, tetapi tidak setakut seperti awal belajar.

Tantangan terbaru, kolam renang yang saya datangi, cukup dalam, bahkan jika berdiri tegap sanggup merendam hidung saya, maka saya kembali pada ukuran 1.5 meter terlebih dahulu, setidaknya tidak di bagian kolam renang khusus anak.

Terus memasang mindset BISA, BISA, BISA. Awalnya saya bisa meluncur meski sering kemasukkan air ke gendang telinga, saya mulai mengamati saudara saya yang berenang. Mirip ikan anggun di akuarium, kembali termotivasi untuk berenang dan mencoba.

Saya mencoba berenang dan bertahan di dalam air, entah mengapa otomatis saya mengapung. Itu benar-benar perasaan yang berbeda, terlebih saya mendengarkan motivasi dari sepupu untuk membuat tantangan dengan menikmati. Intinya apa pun yang kita pelajari, enjoy (menikmati) saja.
Memang beda rasanya, dengan enjoy seluruh tubuh merasa rileks tidak ada beban dan semakin mudah menguasai air.
Ketakutan tenggelam sudah benar-benar musnah, selanjutnya saya coba kombinasi keseluruhan, mulai dari tidak bernapas dan meluncur, berulang kali hingga di suatu kesempatan saya bisa menggerakkan kaki dan tangan. Entah bagaimana saya merasa tubuh sudah benar-benar berenang.

Tetapi saudara saya malah pura-pura tidak melihat, ia sengaja ingin tahu seberapa lama bisa bertahan di air. Kemudian ada tantangan baru, seperti membantu saudara yang pura-pura tenggelam. Sulit bagi saya untuk mengatur emosi, terlebih masih belajar berenang. Itu tantangan yang harus saya taklukan berikutnya.

Karena setelah usaha menyelamatkan saudara yang berpura-pura tenggelam tersebut, saya mulai berani menahan napas dan berenang! Saking semangatnya, kepala saya terbentur dengan besi di tepi kolam. Maklum saya belum berani membuka mata, selain mata perih oleh air kaporit yang terlihat hanya sebuah kaca buram.

Tentunya saya mencoba lagi dan lagi hingga saya menantang saudara untuk adu pacu berenang. OMG, saya bisa berenang melewati lebar kolam dengan mindset, ‘saya bisa’ tentu sebuah perjuangan yang membuahkan hasil.

Ingat kata pepatah, kegagalan ada kesuksesan tertunda. Pun juga usaha tidak akan pernah menghianati hasil.

Semangat untuk mencoba dan terus mencoba, tanpa peduli dengan kata gagal.

Intinya sukses berasal dari; Niat, Motivasi sukses, praktik, secara terus-menerus dan tidak takut gagal. Menikmati sebuah proses. Maka, apa pun kesulitan dan impiannya pasti tercapai.

Salam semangat,
Baiq Cynthia

Situbondo, 27 April 2018

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts