Baiq Cynthia

Penulis muda dengan impian menulis menebar inspirasi,hobi menulis dan fotografi.

Review Film TubeLight (2017) India

By April 20, 2018 , , , , ,



Film ini saya dapat rekomendasi dari BMCI Jatim salah satu komunitas pecinta Bollywood yang saya ikuti, tempo hari BMCI Jatim Goes to Semarang. Lagi-lagi masih belum kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Mereka memberikan rekomendasi film ini lewat grup BMCI Jatim.



Source picture: https://goo.gl/tYd3BY

Film yang diperankan oleh Salman Khan benar-benar totalitas dan berbeda dengan film-film yang dimainkan sebelumnya. Biasanya Salman Khan lebih sering menjadi sosok Hero yang kekar dan sixpack. Lalu di film ini beliau adu-akting dengan cara yang berbeda, seperti Ek Tha Tiger.

Ditemani oleh Sohail Khan, Salman Khan berperan sebagai seorang kakak. Hal-hal yang mereka rajut dalam persaudaraan yang saling berbagi dan menyayangi. Tetapi, keterbatasan mental seorang kakak membuat Laxman harus dibully dengan sebutan Tube-light. Bharat berusaha untuk menjadi kawan, saudara dan hidup Laxman lebih membahagiakan.

Kebahagiaan menjadi raib saat apa yang kamu sebut keluarga tidak komplit lagi, tetapi teman maupun keluarga haruskah berasal dari kekerabatan?

Kau akan tahu bagaimana rasanya indahnya memiliki keluarga dari latar belakang yang berbeda, keragaman ras setelah menonton film ini. Baik India maupun Indonesia memiliki jumlah suku ratusan. Cina, Arab, India, Belanda, suku pribumi maupun pedalaman turut mengisi corak budaya. Budaya yang muncul dari asimilasi maupun alkulturasi.

Konflik yant terjadi tahun 1962 diperbatasan India dan China membuat rentan dengan SARA.
Setting yang diambil tahun 1960 an, klasik tetapi pembawaannya fresh dan segar. Laxman tidak pernah jauh-jauh dengan pakaian rompi, khas zaman tersebut. Selain itu permainan anak kecil seperti menyebur ke dalam sungai yang dalam.

Suguhan alam yang mirip dalam setting Bajrangi Bhaijaan--saat si kecil kembali ke desanya. Benar-benar alami dan murni tak terjamah oleh polusi maupun pabrik.

Tube-light merupakan remake dari film Little Boy (2015), sebuah film drama yang bercerita tentang kehidupan anak kecil berumur 8 tahun yang ditinggal pergi oleh orang tuanya bertepatan pada perang dunia kedua. Film ini membawa hal kebaruan unsur persahabatan, kekeluargaan, filosopi Gandhi. Soundtrack lagu dalam film ini yang menjadi favourit saya, ‘Kuch Nahi’.

Anak kecil yang tidak memiliki kesempurnaan fisik ternyata bisa melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Termasuk mendatangkan ayahnya kembali, hanya karena sebuah keyakinan.

Laxman pun saat ditanyakan arti, apakah kamu percaya? Dia diberikan beberapa list yang harus dilakukan dengan ilmu Gandhi. Mulai dari menaklukan rasa takutnya sendiri, menjaga kejujuran dan tentunya selalu membantu sesama, meskipun itu musuh.

Film ini rekomendasi banget untuk semua kalangan, hanya saja rating F-13 harus ada pendamping untuk anak-anak untuk menjelaskan adegan perang/kekerasan yang terjadi.

Film berbau drama, sukses mengucurkan air mata berkali-kali. Bukan karena cengeng tapi terenyuh dengan kisahnya yang benar-benar memperjuangkan kebangsaan India, tidak hanya berupa ikrar “Hidup India!”

Akan ada banyak orang yang menertawakan pilihan yang kita ambil bahkan memberikan label orang tidak waras. Selama pilihan itu untuk kebaikan juga bermanfaat kepada sesama. Lanjutkan saja ... tidak ada istilah keterbelakangan mental. Semua orang diciptakan dengan penciptaan yang sebaik-baiknya.

Jika dikurangkan di satu sisi, tentu akan dilebihkan pada sisi lainnya. Tetap besyukur, meski pada akhirnya mereka tertawa bangga. Setidaknya kita banyak lebih tahu dengan mencoba daripada hanya duduk berpangku tangan.

Meskipun alur filmnya yang lambat, saya menikmatinya sampai akhir. Alur maju-mundur yang disuguhkan dalam durasi 136 menit, selalu memunculkan kejutan kecil. Kocak, sedih, tegang, kesel, penasaran, maupun melow.

Bangga dengan Salman Khan yang menjadi produser bersama Kabir Khan, ia memerankan sebagai ‘tubelight’ secara totalitas.



Source picture : wikipedia.con

Hidup itu menyuguhkan banyak pilihan, tetapi yakin adalah pilihan yang paling tepat.

Reviewer : Baiq Cynthia.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.