Jawaban bagi Jawaban untuk Musafir

Tulisan ini menyebabkan kantuk dan segera hubungi saya jika mengalami gejala tersebut.


Dunia ini terlalu sempit, saat pergi ke suatu tempat selalu mendapatkan keluarga yang dahulu masih berhubungan dengan keluarga mayor. Bisa dilihat melalui hubungan kekerabatan—katakanlah marga. Setiap suku pasti memiliki nama keluarga atau marga tersendiri. Yang jelas, tidak sedang membahas bangsa tertentu.




Saya bertanya tentang sebuah pengakuan dari bibir manis yang yang selama ini memberikan jawaban-jawaban yang spektakuler. Tak hanya itu, rasanya decak kagum terus membayangi bagai pecahan titik hujan di atas lantai berminyak.




Jawaban dari jawaban yang saya dapatkan seperti serat pada jagung yang menggumpal, dan kemudian putus, lalu tersisih. Di satu sisi ada kepala yang mengaku sebagai yang terbaik, di lainnya tentu ada banyak kepala-kepala yang mengeluarkan informasi berbeda dengan penyampaian yang baru entah melalui vocal atau isyarat.




Cukup kaget, setelah bisa memasuki dunia-dunia baru, apa yang saya dapatkan sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan sebelum mendapatkan. Apa itu?




1. Semua apa yang kita usahakan pasti kita dapatkan.
Kenapa? Tak ada usaha yang sia-sia. Tentunya usaha akan berbanding lurus dengan hasil dan seberapa lama mengusahakannya. Rayap itu buta, tetapi ia mampu membuat terowongan dari butir-butir debu basah. Maka apa yang harus kita bingungkan, saat mendapati usaha gagal atau bangkrut, selain mencoba kembali hingga berhasil!

Mari melihat juga, lebah yang membuat sarang madu, mengumpulkan nektar dari puluhan bahkan ratusan bunga. Kalau kita masih belum percaya mampu melakukannya. Coba lihat semut yang sangat gagah membawa makanan yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Mereka mampu mengangkut tanpa rasa mengeluh dan lelah.
Kita sudah diberikan akal maupun daya pikir yang sempurna. Sayang sekali jika tidak difungsikan, melenyapkan dalam satu waktu saja. Maka yakinkan dalam diri, apa yang kita impikan, perjuangkan dulu! Berhasil atau gagal itu hanyalah bonus.

2. Hukum alam selalu mengatakan, saat kamu sukses maka semua mengaku temanmu. Tapi, saat kamu gagal, hanya segelintir yang mau menyokong maupun mengakui sebagai teman.




Di mana ada gula di situ ada semut, seseorang tentunya sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan warna ‘merah’ dan ‘kuning’. Merah sebagai kedudukan yang baik sedangkan kuning sebagai kemakmuran. Maka tak perlu heran orang yang pandai membaca situasi akan lebih mudah mendapatkan kesuksesan. Berhenti menunjukkan apa yang kamu dapatkan agar, kamu mudah mengenali siapa yang benar-benar berada di sampingmu. Dia atau mereka?

3. Jika semut bisa mengangkat gula atau butir gandum maupun remah roti, maka terkadang semut bisa tenggelam dalam apa yang ia ingin dapatkan dengan rasa rakusnya.




Pernahkan melihat semut yang terjebak dalam gumpalan madu? Atau tidak bisa berenang dalam coklat encer? Maka jika kita terlalu membuat harta bagaikan raja, bersiap-siap diperbudak oleh harta itu sendiri. Tubuh kita tidak akan mampu menghabiskan 5 piring sekaligus makanan atau air satu galon dalam satu waktu. Kita juga tidak akan menggunakan 10 kendaraan dalam satu waktu. Pakaian yang kita kenakan juga akan satu, kecuali kita merangkapnya karena cuaca dingin.



Jadi untuk apa pencapaian yang sudah kita peroleh kita habiskan sendiri. Jawaban yang hanya bisa dijawab oleh tiap-tiap hati.
Tidak ada gunanya menumpuk apa yang sudah diraih, selain membuat hati manusia yang lain menjadi iri maupun dengki. Berbagi—salah satu caranya.

4. Jika daun menghijau, menguning hingga kering. Maka manusia pun akan mengalami siklus yang setara. Bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, menua dan kemudian mati. Apa saja pencapaian yang dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain? Jika waktu yang diberikan tidak mengandung unsur kebermanfaatan. Waktu cepat melesat seperti roket yang meluncur ke udara kemudian menghilang. Akankah waktu bisa kembali, membuat kita menjadi lebih kecil atau lebih muda?

5. Alat-alat hanya sebagai sarana, alat-alat memudahkan aktivitas manusia, alat-alat hanya akan berguna jika pemanfaatan secara maksimal. Alat bukan seberapa elegan bentuknya, tapi seberapa penting dalam menangani hal yang kita perlukan.



Seperti cakar ayam sebagai pengganti cangkul, menggali tanah atau pasir—katakanlah mengais. Maka ayam tidak membutuhkan pendengar telinga maupun ponsel. Bagi ayam yang penting untuk kelangsungan hidup. Lantas hal-hal yang tidak mendukung perkembangan diri apakah bisa disebut alat?

6. Bahan, apa saja yang dibutuhkan dalam menata apa yang harus digapai bersama. Tanpa bahan yang memadai, apakah sebuah karya bisa dinikmati nantinya? Coba dari sekarang sebelum bertindak pikirkan kata ‘mengapa’ di dalam hati, lalu berikan tanggapan sendiri. Sehingga, sekecil apa pu bahan yang digunakan akan memberikan pemikiran yang lebih baru dan mengasah kepala untuk terus berpikir.

7. Rasa, manusia bukan robot—juga bukan spesies alien. Manusia juga butuh akan cinta, kepercayaan, rasa dihargai, rasa dilindungi, apresiasi, kemampuan untuk mengolah hal baru yang imajinatif. Rasa marah, rindu, tenggang rasa, sabar, kejujuran dan rasa-rasa lainnya. Dengan rasa kita bisa menambah pasokan ekspresi dari apa yang sudah kita ‘cicip’.

Keseluruhan itu wujud dari apa-apa yang memang dibutuhkan oleh manusia, ia terus mengembagkan jawaban bagi jawaban yang akan semakin bertambah. Ada kalanya menemukan jawababan dan kebahagiaan. Tetapi lebih akan sering menghantui saat tak ada jawaban yang sesuai.




Cara mendapatkan jawaban bagi jawaban, bersikap tenang, menepi, membiarkan diri untuk berpikir mempertimbangkan jawabanya. Bisa melalui ibadah, meditasi dan olah pikir untuk menemukan jawaban yang paling sesuai. Bila belum menemukan jawaban, kelilingi dunia. Dapatkan pengalaman baru dan pikiran-pikiran akan semakin terbuka.




Perdalam ilmu tetapi jangan sampai melewati batas yang harus didalami. Fokus itu boleh, tetapi terlalu banyak fokus akan menjadikan blur. Fokus pada satu lalu tekuni hingga mahir, tidak akan terasa--terlalu banyak yang sudah berhasil diraih.




Karena pada hakikatnya kebenaran akan terlihat blur saat mata tertutup sebelah. Kebenaran akan terlihat jelas saat tidak terjatuh pada lubang yang sama. Saat hanya mengambil satu sudut pandang, dan menghilangkan sudut pandang lainnya.




Goal yang harus dicapai, pada akhirnya hanya berupa;




Titik fokus, memusatkan perhatian pada satu sudut pandang yang harus dilihat dari banyak sisi dan tentunya berikan rasa tenang—sabar, berupa kata kunci tidak terlalu mendahulukan emosi.




Emosi hanya akan melahap apa yang ada di dekatnya, jika kita tidak mengedalikan emosi dan memupuk rasa sabar, yang tersisa hanyalah kerugian bagi diri sendiri.




Point penting berikutnya, melakukan secara kesinambungan, seimbang dan tidak terlalu berlebihan. Daya tampung selalu memiliki batas, jika terus-terusan memaksakan tentu akan meluap dan hangus, terbuang sia-sia.




Manusia sebagai penrhgembara akan terus berkelana mencari jawaban bagi jawaban, ia akan terus mencari potongan jawaban yang tersembunyi, memanfaatkan alat, bahan, keterampilan manusia dan terus terhubung dengan yang membuatnya ada untuk semakin giat mendapatkan jawaban.

Situbondo, 1 April 2018

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts