Nyebur ke Kolam tak Akan Membuatmu Tenggelam, Malahan Jadi Ikan

Nyebur ke Kolam tak Akan Membuatmu Tenggelam, Malahan Jadi Ikan.

Sebuah pengalaman baru hari ini, selain mendapatkan kesempatan jalan-jalan gratis. Bisa juga menikmati home stay yang sangat elegan di sebuah daerah Sumbersari di Jember. Awalnya, berniat mengerjakan tugas saja alias mendekam di kamar penginapan. Sekaligus menikmati fasilitas tersebut, ada televisi, dan AC. Pura-pura jadi orang elit sehari dulu, ya! Bersyukur ada yang ngajakkin ke sini. Siapa lagi yang mau ngajak aku jalan-jalan ke luar kota, menginap dan makan-makan enak. Alhamdulillah, nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?



Setiap detik selalu disuguhi nikmat yang tanpa kita sadari selalu disia-siakan. Kita hanya merasa itu sebuah nikmat saat kita kehilangan nikmat, misalnya diberikan rasa sakit, ujian, kegagalan dan keterpurukan. Di saat kondisi tersebut kita baru menyadari, nikmat yang diberikan oleh Allah telah diambil lagi.

Rumus untuk bahagia banyakin bersyukur dan kurangi mengeluh, cara bersyukur dengan banyak-banyak berbagi atas apa yang kita punyai. Toh rezeki sudah ada yang mengatur, bahkan rezeki seekor kucing liar, Allah tidak akan membiarkan makhluknya kekurangan. Selama dua hal yang kita pegang tadi, usaha dan berdoa.
Kembali ke topik utama, ‘berenang’.

Saya paling takut sama air yang jumlahnya banyak. Entah di kolam, di sungai, laut atau danau. Karena saat saya kecil, saya pernah nyaris tenggelam di bak mandi berukuran 3x2x1 meter, saat itu saya masih TK dan mandi berdua dengan sepupu saya. Saya begitu bandel, membiarkan gayung tenggelam. Saya pun berusaha menggapainya, hingga tak sadar bisa tercebur dalam bak mandi, sementara saya tidak bisa berenang saat usia 5 tahun itu. Itu awal trauma saya, ditambah dengan kejadian di tepi pantai saat duduk di pantai ada ombak besar yang menyapu diri saya.

Tapi, malam ini saya sangat tertarik untuk memahami tentang hal tentang renang. Hal yang paling saya takuti, karena rasa takut tak bisa berenang. Rasanya setiap masuk ke dalam air seakan ada sirip ikan hiu. Beruntung tadi juga ada salah satu pak De dari istri sepupu aku, ternyata beliau adalah guru olahraga yang memang membidani renang. Selama ini saya juga ingin bisa berenang selain untuk menyembuhkan penyakit asma yang saya punya.

Setelah mendengarkan penuturan Beliau tanpa kami minta, rasanya saya ingin sekali langsung praktek. Ada rasa gemetar saat menyentuh air, tak mudah untuk memberanikan diri tak bernapas dengan air. Meski Pak De bilang harus bersahabat dengan air, tetap saja saya tak bisa tenang menahan gelembung-gelembung air muncul.

Berkali-kali meminum air kolam, bahkan tidak hanya sekali air masuk ke dalam telinga. Aku semakin takut dengan air, hal ini yang membuatku untuk segera menantang diri, tapi malah yang keluar hanyalah emosi dan ketakutan yang semakin bertambah. Maka, Saya merasa saat mendengarkan petuahnya, ada rasa ketenangan.

Ia mengatakan, setiap orang yang hidup itu pasti mendapatkan sebuah masalah, mustahil kalau tidak mengalami kesulitan. Jadi hal pertama saat mendapatkan masalah ialah tidak terlalu terbebani oleh masalah krusial. Tetap saja hal yang membuat kita tidak bisa fokus hanya sebuah masalah dan ketakutan diri.

Beliau juga berpesan, jangan takut tenggelam di kolam ini, karena sekalinya tenggelam akan menjadi ikan. Kamu tidak akan bisa berenang hingga bersahabat dengan air.
Ada makna yang terselubung tentang filosopi berenang, ringankan beban dan lupakan rasa takut yang terus membayangi. Jika sudah bisa bersahabat dengan air, maka air bisa ditaklukkan pula. Ia mengajari teknik dasar berenang, yaitu latihan bernapas. Memasukkan kepala dengan tegak ke dalam air sembari menahan napas, atau mengeluarkan sedikit demi sedikit dari hidung. Aku sendiri masih kesulitan bertahan lama dengan air, semua memori kecil tentang tenggelam selalu hadir dalam pikiran.

Suara seorang guru yang sangat baik hati itu terus memotivasi tentang kolam yang tidak akan bertambah dalam. Maka ia mengajari untuk memegang tembok kolam dan mulai belajar menggayungkan kaki. Agak sulit karena aku takut dengan air. Berkali-kali air masuk lewat telinga dan mulut. Bahkan berkali-kali pula tersedak. Lalu guruku menyuruh untuk berjalan mengitari kolam. Dalam temaram dan hawa yang sejuk, aku mengelilingi kolam. Sesekali kilas bayangan ikan hiu itu muncul, mungkin karena memory bawah sadar sudah menyimpan tentang rasa takut pada hewan predator yang kemunculannya tak hanya di kolom.

Aku menghadap langit, mendengarkan suara hati yang terdalam. Sesaat aku mulai berani berjalan dengan agak cepat, dengan tangan yang mendayung ke kanan dan ke kiri. Sedikit hilang rasa khawatir ini,Tidak ada ketakutan yang lebih berat dari meminta untuk berengang gaya batu, alias siap-siap untuk gagal selamanya.

Aku merenungi dalam-dalam apa yang aku alami selama ini, terlalu banyak mendengarkan dan memasukkan ke hati bahkan kurang aksi. Seperti filosofi dalam berenang. Kalau tidak berani untuk memulai berenang, maka selamanya tidak akan pernah bisa berenang. Maka aku hilangkan keraguan dan ketakutan, kucoba untuk berjalan dengan anggun dan santai. Seolah tidak ada beban yang menggantung.

Malam makin dingin, tapi aku tetap berusaha untuk bisa berjalan, sesekali menenggelamkan kepala dengan napas tertahan. Aku sudah mulai berani tenggelam dalam air. Bahkan tidak merasa tenggelam dan aku tidak apa-apa, tidak ada ikan hiu atau hantu penjaga kolam. Aku aman-aman saja.

Latihan terakhir adalah melompat dalam air, aku sama sekali tidak memilik tenaga dan kaki tidak mendayung sama sekali, membuat terbatuk-batuk. Napasku tersengal, semangatku tak padam. Aku tidak berhenti mencoba, dan kini air sudah menjadi sahabat. Aku tidak akut lagi dengan air tenang maupun air yang bergerak deras. Bagiku air filosofi masalahku, saat kita bersahabt dengan air dalam artian kita tidak terlalu fokus dalam masalah. Maka kita akan bahagia dengan apa yang kita alami, seberat apa pun itu masalahnya.

Hari yang menyenangkan bisa menikmati hangatnya air pancuran kamar mandi, dan aku mulai berpikir untuk esok tidak terlalu takut dengan tantangan maupun masalah yang akan menghadang suatu saat. Karena apa yang kita lakukan pada akhirnya akan mendapatkan apa yang kita lalukan. Reward kebahagiaan hakiki yang akan membuat kita selalu sehat sampai tua.

Sesekali aku mengingat wajah Nenekku yang sehat meski usianya nyaris 80 tahun, aku kini banyak belajar dari kehidupan dan rasa sabar dalam menghadapi apa pun. Kuncinya ialah mengendalikan emosi diri, tidak terlalu mencari hal-hal yang bukan menjadi prioritas.

Pun dalam berenang kita dituntut untuk cepat waktu mengambil napas dengan gerakan tangan yang selaras dengan gerakan kaki agar terus meluncur. Waktu saat mengambang di air maupun mengambil napas di udara. Maka jika kita menghadapi masalah, tetap memberikan deadline dan jika masih belum bisa selesai dengan masalah yang dihadapi maka hentikan dan lupakan saja. Berlarut-larut dalam masalah hanya akan membebani diri.

Jadi intinya, jadilah katak yang pandai berenang, jangan menggunakan gaya batu yang statis, maka akan tenggelam. Tak masalah engkau tenggelam, asal bisa menjadi ikan pada suatu hari.

Cukup dengarkan tapi jangan sampai larut yang membuat kita semakin takut untuk melangkah. Beranilah, engkau tidak akan tenggelam yang ada akan menjadi ikan.

Jember, 27 Maret 2018

Good night
Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts