Mengapa motivasi Tidak Pernah Padam? Kata Ini akan Menguatkan Hatimu yang Rapuh

Mengapa Motivasi Tidak Padam? Kata-Kata Ini Akan Menguatkan Hatimu yang Rapuh.
Satu pertanyaan dari seseorang yang datang ke rumah pada malam hari. Seseorang yang sedikit kehujanan karena langit terus menangis hari ini di waktu petang.


“Kenapa motivasi Baiq enggak padam?”

Sebuah kalimat yang membuatku terhenyak, sekaligus tertegun beberapa saat. Baiklah aku coba lagi untuk menguraikan.
Motivasi itu adalah lentera kehidupan, saat tidak memiliki cahaya lagi yang menerangi jalan hidup. Maka hilang sudah keinginan-keinginan impian yang ingin dicapai. Dia merasa seperti naik tangga satu, tapi malah merosot lagi.
Dulu aku sempat berpikir bahwa hidup tidak pernah memberikan rasa adil kepada kita. Tapi, nyatanya semua itu bisa dijalani dengan legowo dan semangat baru.

“Jika sekarang belum ada, mungkin esok.”

Kata-kata itu yang membuatku semakin kuat untuk menaklukkan pahitnya hidup, untuk menulis dan dan terus menginspirasi.
Wanita yang berusia kepala dua, berkaca-kaca saat apa yang diimpikan itu terjadi pada orang lain, kenapa bukan pada dirinya.
Aku pun ikut sedih, maka kembali aku tanya mengapa berhenti mengejar ilmu (literasi). Dia pun menjawab karena dalam kampus hidupnya, tak memiliki teman yang sama passionnya.
"Saat kita berusaha mencari sesuatu yang sempurna maka hakikatnya kekosongan yang kita dapatkan."

Dalam benaknya juga ia merasa pesimis, tidak yakin bisa. Ia terlalu percaya dengan kata-kata orang lain termasuk kata-kata dari seorang yang berpendidikan tinggi. Malam semakin sunyi, derik jangkrik menjadi alunan yang meredam gejolak emosi seseorang.
Ia terus bercerita impiannya yang selama ini ingin menjadi sosok yang bermanfaat itu ternyat a nyaris kandas.

“Tidak ada kata terlambat untuk memulai, selama bara semangat itu masih menyala.”



Ia terus mengoceh dan setiap ocehannya aku dengarkan, sesekali menimpali memberikan motivasi. Menumbuhkan semangat literasi lagi. Ia merasa hidupnya redup saat lentera ilmu sudah berhenti menghinggapi dirinya.

Di akhir pembicaraan yang mengambil waktu malamku, aku tutup dengan mengajak menulis seakan berbicara, berbicara kepada kertas menggunakan pena. Saat yang sama aku meninggalkan dia sendiri, merenung dan meminta menuliskan.
Begini tulisannya yang membuat hatiku ngilu.


“Ini aku, aku yang sempat kehilangan cahaya dan arah di jalan hidupku sendiri. Memaksa untuk menjadi orang lain dan harus menjadi orang lain. Aku yang kehilangan mimpiku atau lebih tepatnya aku yang meninggalkan mimpiku.
Merindukan cahaya yang menuntunku untuk kembali kepada siapa diriku sebenarnya. Awalnya aku mengira bahwa tidak punya kesempatan untuk kembali, tidak punya kesempatan untuk bisa menemukan arah hidupku yang sebenarnya.
Itu karena hanya aku yang merasa bahwa lingkungan sudah tidak berpihak, tapi ternyata aku yang kalah oleh lingkungan.
Lebih fokus pada keadaan yang menjerat.
Tapi kini, aku mulai sedikit demi sedikit menemukan cahaya itu, walaupun masih remang-remang.”
Situbondo, 4 Februari 2018


Aku menyodorkan air karena dia merasa canggung atas tulisannya. Binar mata yang sebelumnya redup kini sudah terang kembali. Saat berpamitan, ia terus berbicara tentang target bacaan satu buku untuk kembali memulihkan pikirannya. Dengan judul “September Wish”, karya bagus.
Ia mengambil motornya, kami saling melambaikan tangan. Di akhir ia katakan, kalau begitu setiap merasa galau dan pusing, lebih baik aku tuliskan, ya?

Daripada melampiasakan ke orang. Aku baru bisa bermain jempol untuknya.
Semagat liteasi, tidak ada yang terlambat dalam menulis.
Situbondo, 4 Feb 2018
Baiq Cynthia

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts