Hubungan Perlu Namanya Menyatukan Kesamaan Frekuensi

Jika dalam sebuah hubungan kamu mengalami hal ini maka apa yang akan kamu putuskan?



Interaksi dua individu secara intensif akan memunculkan banyak kemungkinan, bisa jadi menjadi seorang sahabat, atau memang kerabat, juga bisa jadi sebuah hubungan yang disebut relationship. Ada keterikatan antar dua manusia yang saling menyukai (tentu yang saya bahas laki-laki dan perempuan) yang sering disebut kekasih.

Saat kamu bertemu dengan seseorang yang berasal dari latarbelakang yang berbeda namun memiliki prinsip dan nilai-nilai yang sama. Kemungkinan besar dua insan ini masih bisa terus terhubung dalam jaringan yang sama.

Bagaimana jika memiliki kesamaan?

Tentu, manusia akan selalu belajar untuk meniru. Sejak kecil kemampuan kita tentu meniru. Meniru cara bicara orangtua, sikap dan pola pikir. Itu mengapa sering dikaitkan buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.

Mereka yang sedang jatuh cinta normalnya akan selalu mencari hal-hal yang cocok bagi kriteria mereka, yang kita sering sebut chemistry. Kalau sudah satu pikiran, satu jalan dan memiliki tujuan yang sama mereka bisa dikatakan satu frekuensi (cocok).

Ingat kata-kata bijak yang entah saya sudah tiru dan muncul dalam otak, jika hubungan diibaratkan potongan-potongan puzzle. Maka, hal-hal kecil yang baru melengkapi pun harus cocok dan pantas guna menyusun menjadi sebuah puzzle yang utuh.

Begitu juga dalam hubungan yang sehat dan baik, perlu adanya pengertian dan saling memahami untuk melengkapi. Why? Kalau kembali pada analogi puzzle udah gak cocok dipaksa untuk menyatu. Maka puzzle akan semakin sulit menjadi potongan gambar yang utuh, waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Pun juga akan melewati lebih banyak kesukaran yang seharusnya tidak perlu dilewati jika dari awal sudah menyamakan tujuan.

Dilematis saat kamu disuguhi pilihan, mencintai seseorang yang tidak memiliki nilai dan tujuan yang sama bahkan beda jalan yang harus ditempuh. Ironisnya jika ada salah satu pihak yang bertahan masih berusaha menyesuaikan itu memaksakan dirinya terkikis dalam ketidakcocokan. Puzzle yang tidak cocok hanya akan membentuk sebuah ketidakteraturan.

Saat kamu merasa jalan yang ditempuh sudah berbeda dengan apa yang kamu yakini, apakah kamu sanggup?

Coba tanyakan pada hati nuranimu. Pasti banyak hal-hal kecil yang tidak sesuai jika dipaksakan akan mengalami pengikisan perasaan.

Mengurangi kadar suka maupun perasaan condong kepada orang yang kamu anggap kekasih akan menjadi awal keretakan hubungan.

Saat hatimu tidak bisa menyamakan frekuensi terhadap orang yang kamu anggap kekasih. Bersiaplah untuk berpisah. Hubungan tidak hanya dibangun dalam pondasi cinta, perlu komitmen yang sama dalam membentuk sususan puzzle yang akan dijadikan kesatuan yang utuh.

Egoisme dalam relasi diupayakan ditekan atau hilangkan saja, semakin merasa paling benar hakikatnya hubungan itu tidak ada—hampa.

Semakin banyak interaksi yang mengarah pada perbedaan dan tidak ada upaya mengalah salah satu, maka bersiaplah puzzle akan semakin lama dibentuk.

So .... Saat kamu mengalami perbedaan nilai-nilai dan tujuan, gimana cara menyusun puzzle bersama untuk menjadi kesatuan yang utuh?

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts