Saat Terjatuh Wajib Bangkit!

Mengapa seseorang bisa down?

Saya bukan pakar psikologi. Tapi, saya punya pengalaman yang mungkin bisa dijadikan bahan kontemplasi bersama.



Saat kita berada dalam keadaan terjepit, bahan nyaris tidak ada peluang, yang sering dilakukan hanyalah pesimis, menatap masalah, seolah-olah dunia sudah mengubur separuh mata kakinya. Menemui jalan buntu, tidak ada jalan keluar.
Pikirannya dipenuhi dengan 'penyakit' untuk menyerah. Sudah berhenti pada titik kulminasi, berada di pucuk dan siap untuk terjatuh. Atau kalau seperti termometer sudah berada di angka 100 derajat, siap meledak vakumnya.

Saat genting seperti ini, yang mengaku teman pada kabur. Hanya segelintir yang benar-benar masih setia membantu atau setidaknya menjadi teman pelipur hati.

Apakah saat kita terjatuh dari pucuk itu akan terus tiada, berhenti nadi kehidupan? Belum tentu. Di sini 'Tangan Allah' bekerja, Dia yang akan manjadi sebaik-baiknya penolong.

Singkat cerita saat saya sudah tidak menemukan jalan untuk membayar biaya DPP saat itu, 2 tahun silam. Tepatnya Desember 2015. Sudah berusaha mencari pinjaman, meminta bantuan jajaran birokrasi, belum bisa karena menurut sistem harus punya nilai IP, sementara saya belum genap satu semester. Bahkan saya sudah mati-matian bekerja paruh waktu tapi belum cukup melunasi. Saat itu sendiri di kota orang, bingung. Tidak ada yang bisa membantu masalah finansial.

Maka, setelah keputusan matang-matang pertimbangkan saya memilih terminal, posisi terjepit--Maba tidak bisa cuti. Memang itu jalan paling simpel. Lantas plan berikutnya hanyalah mencari kesempatan yang berbeda.

Ada sekitar 5 staff yang saya temui, semua menyarankan saya begini-begitu, macam-macam.

KTM saya diblokir, atas permintaan saya sendiri. Air mata sekuat tenaga ditahan untuk tidak tumpah. Mengingat perjuangan menuju sana juga sangat tidak mudah.

Di bawah rinai hujan, air mata menyatu dengan rembesan langit. Sudah dicopot status yang bisa dibilang sakral.

Saat itu saya tersenyum kepada sahabat organisasi, mereka yang menjadi rumah kedua menjadikan saya lebih kuat. Mereka kecewa saat melihat kartu pengenal sudah bolong.

Salah satu penggiat mengatakan, "Jangan berpikiran nomina, buang pikiran baku itu. Pada kenyataan kehidupan tidak harus berjalan statis. Kehidupan itu dinamis, kamu bisa berkembang di mana saja, yang penting menjunjung solidaritas, tidak harus terminal."

Akhirnya rapat dadakan, untuk mengembalikan status itu tadi. Maka semua dokumentasi untuk menghapus status mahasiswa kembali diajukan. Padahal untuk proses terminal pun tetap rumit.

Setelah bergulat kurang lebih sepekan, keputusan itu disetujui. Dengan catatan biaya administrasi lunas. Saya hanya bingung, melihat ekspresi ketum yang menyanggupi.

Ternyata esoknya di siang menjelang sore, seseorang dermawan bercerita tentang Ayah beliau yang pernah berada di posisi saya. Bedanya, Ayah beliau belum sempat mengenakan almamater.

Beliau mencari alternatif untuk menjadi orang yang sukses, kelak dalam benaknya anaknya harus lebih hebat daripada dirinya.

~*~

Sosok jangkung yang berdiri di sampingku menatap danau buatan di kampus kami. "Apakah kamu serius untuk mempertahankan semangat juang kamu?"

Aku ikut menerawang, perjuangan melangkah ribuan kilometer demi masa depan yang lebih baik lagi. Meski banyak lontaran kebencian, bully-an atau jadi buronan kos garang, ditelan dengan sulit.

Seakan ada duri melintang di kerongkongan, untuk mengatakan 'iya' sangat sulit.

Saat itu Beliau menyodorkan amplop coklat begitu tebal. Aku tidak bisa menduga apa isinya, dia berkata lagi, "Simpan dalam tasmu!"

Mataku berkaca-kaca, apakah ini mimpi? Bahkan kami tidak kenal akrab, dia sudah memberikan lembaran-lembaran yang setara dengan tunggakkanku. Sepadan dengan delapan kali lipat gajiku.

Kaki rasanya tidak sanggup berdiri. “Bagaimana cara saya mengembalikan uang sebanyak ini?”

Klise seperti di sinema yang sering saya tonton, “Tidak perlu diganti jika tidak ada, tapi jika berniat mengembalikan pun tidak papa.”

Ribuan terima kasih mungkin tidak akan setara dengan kebaikannya. Pun beberapa orang yang selama ini membantu.

Allah Maha Baik, menghadirkan malaikat-malaikat, di saat kondisi di titik nol bahkan minus, sulit dipercaya dengan nalar.

Janji Allah itu pasti, akan mencukupi semua kebutuhan makhluk-Nya. Seringkali, kita melupakan-Nya padahal Rahmat-Nya sangat luas.

Saat itu yang ada dalam pikiranku, mengembalikan mindset positif, meski keadaan benar-benar negatif-defisit-kritis dan kawan-kawannya.

Sungguh indah, dengan petikan hikmah dibalik setiap masalah. Tapi, satu.

No Frustration!

Jika hujan dan petir ada, maka dihadirkan pula pelangi.

Intinya saat ada masalah pasti ada solusi, kita yang harus mencari jalan keluarnya. Bukan masalah berhasil atau tidak. Tapi usaha, proses, perjuangannya.

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membantasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibandingkan kehidupan akhirat.” (Ar-Rad : 26)
Penggalan ayat yang sangat menghibur jiwa, ke mana lagi jiwa akan kembali jika bukan kepada yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

~Salam Berproses

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

3 comments

  1. Berarti perjuanganku belum ada apa-apanya di banding kak Baiq. Jadi nangis deh bacanya. Segala hal memang berawal dari nol. Berawal dari sakit.
    Terima kasih, Kak! Tulisannya sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  2. Emm yang jelas terus berusaha menjadi yang terbaik. Iya sama-sama. Terima kasih sudah mampir ya. :)

    ReplyDelete
  3. Semangat terus, proses tidak akan menghianati hasil.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan sempatkan memberikan komentar. Saya akan memberikan umpan balik dan berkujung kembali pada blog Anda.

Popular Posts