Perasaan Tak Akan Pernah layu.

Lima ratus lima belas hari yang lalu. Sebongkah hati masih tertanam di sana. Entah berapa hari lagi. Membiarkan terpendam. Hanyut dalam bisingnya hidup. Sebelas purnama lalu aku melihatmu.



Jauh-jauh jarak kutempuh hanya ingin melihatmu dalam 5 detik saja. Tentu engkau tak akan tahu, siapa yang melihat dari radius 15 meter. Di bawah rinai hujan. Berkas senyummu hadir.



Source : Google

Biarkan aku yang membawa separuh hati, yang sudah lama engkau biarkan dalam kebisuan. Mungkin lima ratus ribu detik lagi. Akan kugali hati yang terpendam di kota itu. Akan kubawa pulang.

Pergi dengan sepotong hati baru. Kurasa sudah cukup masa terombang-ambing pada langit-langit sepi.
Sudah tak terhitung ribuan surat menguar di udara tanpa alamat penerima.

Tenyata lima ratus ribu detik kemudian. Engkau pun tak kunjung bisa membaca kerinduanku.







Satu detik saja tanpa denyut nadi, duniaku sudah selesai.

Aku tahu, teknologi kirim surat tak perlu menunggu opas surat. Menari balasan berhari-hari. Sekarang hanya cukup ketik, kirim dan sampai dalam kedipan mata.

Tapi, aku punya harga diri. Bagiku hal paling berat adalah memulai sekaligus mengakhiri. Aku tahu kabarmu. Tapi, bukan berarti muda menyapamu.

Aku hafal senyummu, tapi engkau belum tentu mengerti rasa dukaku. Hingga suatu hari aku engkau hadir dalam dunia mimpiku.

Engkau marah kepadaku, seakan kehadiranku tak pernah diimpikan sejak dulu. Lantas untuk apa, motivasi yang engkau layangkan kepadaku?

Mungkin aku terlalu menaruh banyak harapan kepadamu. Menantikan jawaban-jawaban atas pertanyaanku yang tak pernah ada jawaban.

Tapi, belum terlambat untuk menyadari. Bahwa hadirmu hanya sekadar pengingat agar aku semakin lebih mensyukuri arti hidup.

Engkau pasti tak asing dengan bunga mulut naga, yang akan bermekaran pada musimnya. Tapi pada hari kesekian bunga yang indah bisa berubah mengerikan. Bunga yang terlihat manis akan menjadi menjijikkan.

Tapi, perasaanku tak akan berubah sesenti pun. Meski engkau tak pernah tahu hal itu. Biarlah aku tanam terus. Hingga suatu saat nanti seseorang yang mencintaiku menghapus namamu perlahan.

Terima kasih atas kesempatan untuk mengenalmu. Meski kutahu, setiap pertemuan akan ada perpisahan.

Wahai, musim hujan ... kotamu akan jauh lebih dingin dari kota mungilku. Kuharap engkau selalu baik-baik saja.

Seuntai surat dari seseorang yang diam-diam mengagumimu tiap detik selama pertemuan yang tak mengizinkan bertemu lagi.

Baiq Cynthia

#Situbondo

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts