Menulis Membuatmu Gendut

Coba deh baca sambil senyum, Menulis Membuatmu Gendut. Loh kok bisa? Entahlah dari mana saya bisa menyimpulkan begini. Sejak dulu impian saya bisa menaikkan berat badan, nyatanya berat badan selalu stabil malah merosot. Empat bulan yang lalu tepat pada acara bazar buku KPMS dan GSM juga beberapa komunitas lainnya diminta berpartisipasi dalam acara pameran agenda rutin tahunan, saya dan teman-teman bisa bertemu, yang biasanya hanya interaksi lewat media sosial.



Beberapa bulan berikutnya, saya tidak bisa mengikuti agenda-agenda lainnya, sibuk keluar kota dan acara krusial yang menjadi alasan tidak bertemu teman-teman literasi. Tapi, komunikasi kami tetap berjalan lancar seperti tol bebas hambatan. Hari gini masih merasa kesulitan interaksi, apa kata rumput yang bergoyang?

Sejak itu saya mengerjakan beberapa deadline seperti menulis, menulis dan menulis. Sebelum menulis memang wajib menyeruput buku apa pun itu yang penting masih relevan dengan tulisan yang akan dibuat. Sedikit tertekan saat mengikuti tantangan menulis novel yang diadakan oleh Arsha Teen. Emang ambivert itu suka dengan tantangan. Demi BUKU SOLO, badai hujan dan petir akan dilewati termasuk menulis naskah yang paling dihindari saat itu. Selama tahun 2017 saya ‘melahap’ buku-buku serius demi menulis proyek-proyek yang memang bergenre ‘sastra’.

Maka selain jenis sastra, biasanya saya akan mengantuk dan tertidur. Apa saja buku yang membuat saya tertidur? Buku non-fiksi tentang pernikahan misalnya, buku fiksi jenis teenlit/pop dan terakhir buku-buku yang tulisannya semberawut.
Kau pasti tahu alasan gagal di kompetisi UNSAM 2018 yang diadakan akhir 2017? Saya tidak bisa menulis cerpen berbau humor, tulisan saya sangat serius menurut juri. Akhirnya tereliminasi, meskipun di Top 10 berhasil dapat point tambahan, sebagai pengumpul paling cepat dan TOP 8 mendapat point tinggi tugas menulis essai film.

Oh, iya saya juga harus meresume satu buku di grup Indonesia Membaca. Kalau sampai 3 kali berturut-turut tidak mengumpulkan. Maka akan di-kick dari grup.


Korelasi menulis bisa membuat gendut yang mana?

Sebentar dulu ya, jangan kebiasaan memotong. Saat pikiran saya sudah gerah dengan kecamuk tugas maupun deadline. Biasanya hanya makanan yang mengerti.
Ambivert kalau sudah galau begitu biasanya ambil nasi dua cedok dan lauk yang banyak. Yup! Makan. Karena semakin banyak berpikir akan semakin lapar, demi menjaga stamina meski biasanya akan hilang nafsu makan—tetap usaha untuk makan.

Kalau sudah lapar, terus dibiarkan biasanya ada permasalahan dengan lambung ambivert. Tak ingin keteteran dengan tugas, tekad untuk makan meski gak lapar selalu muncul. Tak jarang pisang yang disediakan sebagai pengganti camilan akan ludes dalam waktu tak sampai tiga hari.

Apalagi kalau ada yang memasang masalah dengan ambivert, kalau sudah marah bikin kepala berasap akan membuat ambivert jadi cepat lapar.


MAKAN ... MAKAN dan MAKAN.


Tempo hari ketemu dengan teman penulis KPMS dia terlihat tercengang dengan penampilanku. Aku tanya, “Ada apa?”
“Baiq semakin gemuk!”
Teman lainnya menyahut, “Iya karena bahagia dia.”
Haha tak ada yang benar-benar bisa membuat bahagia, selain kita sendiri yang mengatur perasaan bahagia dan semangat. Karena rasa bahagia bisa gendut.

Maka, Menulis Membuat Gendut!
#baiqCynthia
Foot note :
KPMS = Komunitas Penulis Muda Situbondo
GSM = Gerakan Situbondo Membaca

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts