Jika Hati bukan Jodoh

Permasalahan hati tiap insan tak sama. Ada yang memilih jatuh cinta tiap saat tapi tak sedikit yang memilih untuk tidak mendekati cinta.

Cinta itu rahmat Allah. Setiap hamba-Nya pasti diberikan keteguhan untuk saling menyayangi, naluri untuk membantu dan segalanya. Tapi, saat kita terlalu condong pada hati? Tanpa menyertakan akal dan pikiran. Manusia seakan menjelma makhluk lainnya.



Ada sebuah riwayat hadis sahih, yang isinya tentang. Bagian tubuh manusia yang akan baik, maka baik semuanya. Jika bagian tubuh itu rusak, maka rusaklah perangai yang lainnya. Bagian tubuh itu bernama hati.

Memang sangat sulit mengendalikan hati, apalagi saat hati terpaut pada benih-benih cinta. Perasaan yang menggebu-gebu untuk selalu dekat dengan orang yang dicintainya. Itu lumrah, tapi juga ada batasan wajar pula. Tak semua yang ‘hati’ inginkan harus dituruti. Apalagi saat mengetahui, hati yang dituju sudah melayangkan perisai. Menolak hatinya untuk berinteraksi dengan lainnya.



source : Big foto

Memang mengucapkan lebih sulit daripada praktikkan. Tapi, apa salahnya dari sekarang mencoba mempelajari, tanpa terlalu sering bergantung kepada manusia lainnya.
Tidak membebani manusia lainnya ciri kita mandiri. Memang ada hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri, selagi masih memiliki kemampuan. Apa salahnya menjadi pribadi elegan dan mandiri.

Kemudian masalah hati erat kaitannya dengan jodoh. Loh kok bisa? Saya memang bukan ahli jodoh, apalagi pakar jodoh. Tetapi, saya akan coba mengulas hati dari sudut pandang ini.

Hati menyimpan banyak cabang rasa; rasa rindu, rasa cinta, rasa benci, rasa-rasa lainnya. Hati pula berhak memiliki rasa cinta kepada hati lainnya. Katakanlah itu cinta yang dimiliki sepasang insan. Hati yang condong pada hati lainnya akan cenderung mencoba ‘mengambil hati’ seseorang yang dituju. Entah dengan menunjukkan jati diri yang baik, memberikan barang-barang bernilai juga menarik simpati.

Ada hati yang memiliki kecondongan yang sama, maka hati itu akan menerima. Mencoba menyatukan perbedaan, entah beda prinsip maupun beda fisik, materi dan beda latar belakang. Mereka yang sudah menyatukan hati akan susah untuk berpisah, meski banyak kendala pun akan dicoba diselesaikan, hingga menyatukan kedua pihak keluarganya.

Ada pula hati yang memiliki condong sebelah, satu hati sangat menggebu untuk segera menyelesaikan separuh agamanya (baca: menikah). Tetapi, hati yang lain tidak ingin menjadikan seseorang itu pemimpin untuk hatinya. Pun pula keluarganya tidak ingin mengadakan sebuah tali ikatan untuk anaknya. Tapi hati yang tertolak ada dua macam. Ada yang mundur teratur, mencoba membuka hati baru. Ada pula yang masih enggan mundur, berusaha mempertahankan hati itu dengan segala cara.

Masih terlintas dalam benak, ilustrasi hati seperti sepasang kunci dan gembok. Kalau enggak cocok, dipaksa terus maka yang terjadi hanya patah. Seperti itu kira-kira, tapi hati itu kadang bisa menjadi liar. Saat tidak ada tameng untuk rela, menerima bahwa hati yang dituju sudah tidak mau. Lantas apa yang terjadi selanjutnya?
Perseteruan kedua belah pihak, kedua keluarga, bahkan teman-temannya ikut terlibat. Hanya disebabkan oleh hati yang patah, namun tetap memaksa untuk bersatu.

Terakhir, ada hati yang tidak kenal tapi bisa bersatu. Ini juga yang sering dilakukan oleh para pendahulu. Namun, pada kenyataannya mereka langgeng sampai akhir. Sampai masa senja dimakan oleh waktu. Lantas bagaimana caranya mereka bisa menyamakan hati? Mereka menyamakan prinsip, menyamakan pikiran dan berusaha mencocokkan hati.
Menerima kekurangan pasangan, lalu ditutupi. Memberi kelebihan pasangan untuk menyeimbangkan yang tidak dimiliki oleh pasangan sebelumnya.
Allah yang maha mencondongkan hati manusia, Dia yang maha mengetahui isi hati yang paling dalam. Saat engkau berusaha mendapatkan hati yang mencoba melengkapi hatimu. Cobalah membuka hati, mengetuk pintu Pemilik Hati. Akan ada hati yang tepat untukmu, buanglah semua masa lalu yang menyakitkan hati. Cobalah tegar dan bijaksana mengolah hati.

Hati sejatinya tidak bisa dibeli, tidak bisa digadaikan apalagi hati digantung. Letakkan perasaan pada hati, jika perasaanmu tidak kunjung dibalas. Maka kembalikan perasaan itu kepada Pemilik Hati, karena hati kita tak akan pernah tertukar.

Penulis : Baiq Cynthia
Situbondo, 11/01/18

Baiq Cynthia

Baiq Cynthia Menggeluti dunia literasi dan freelancer, sebagai editor lepas dan penulis content writer. Bukunya berjudul September Wish dan DARAH. Menantikan kehadiran buah hatinya.

Post a Comment

Popular Posts