Pecinta Buku, Kuliner dan Jalan-jalan Perjalanan dan pengalaman akan menjadi momen berharga saat disimpan melalui tulisan dan lensa.

Wednesday, January 31, 2018

Menulis Membuatmu Gendut

Coba deh baca sambil senyum, Menulis Membuatmu Gendut. Loh kok bisa? Entahlah dari mana saya bisa menyimpulkan begini. Sejak dulu impian saya bisa menaikkan berat badan, nyatanya berat badan selalu stabil malah merosot. Empat bulan yang lalu tepat pada acara bazar buku KPMS dan GSM juga beberapa komunitas lainnya diminta berpartisipasi dalam acara pameran agenda rutin tahunan, saya dan teman-teman bisa bertemu, yang biasanya hanya interaksi lewat media sosial.


Tuesday, January 30, 2018


Emosi Bukan Teman Baikmu ~ Baiq Cynthia

Seringkali ucapan seseorang yang paling dekat pada kita membuat kubangan luka yang sangat dalam, itu mengapa kita terpancing untuk mengeluarkan emosi. Emosi atau rasa marah selalu membawa dampak yang tidak baik kepada kesehatan, misalnya menimbulkan stress, depresi hingga pada ketidakstabilan antibodi berujung sakit.


Monday, January 29, 2018


Saturday, January 27, 2018


Sunday, January 21, 2018


Thursday, January 18, 2018


Friday, January 12, 2018


Thursday, January 11, 2018

Jika Hati bukan Jodoh

Permasalahan hati tiap insan tak sama. Ada yang memilih jatuh cinta tiap saat tapi tak sedikit yang memilih untuk tidak mendekati cinta.

Cinta itu rahmat Allah. Setiap hamba-Nya pasti diberikan keteguhan untuk saling menyayangi, naluri untuk membantu dan segalanya. Tapi, saat kita terlalu condong pada hati? Tanpa menyertakan akal dan pikiran. Manusia seakan menjelma makhluk lainnya.


Thursday, January 4, 2018

Menunda Tugas sama dengan Menumpuk Masalah

Picture from free picture
Terkadang tanpa sadar kita terlalu menyia-nyiakan kesempatan. Kesempatan untuk menyelesaikan sebuah tugas (red. masalah). Harapan dalam lubuk hati biasanya tentang ada lain waktu untuk menyelesaikan tugas. Satu hari membiarkan tugas terbengkalai hari esoknya akan bertambah satu lagi tugas yang belum selesai.

Pernahkah mencoba menyusun sebuah gelas plastik menjadi sebuah menara? Coba ambil satu saja gelas itu di paling dasar (katakanlah: ilustrasi sebuah awal masalah) maka akan berjatuhan semua gelas-gelas kecil. Yang terjadi di akhir hanya lah banyak masalah yang muncul.

Masalah muncul terkadang dari faktor pertama tadi, suka menimbun percikan masalah. Memang susah menjabarkan arti masalah. Masalah sebuah keadaan. Terkadang datang tanpa ada yang tahu, juga terjadinya masalah terkadang lebih sering dari sebab-akibat.

Kalau kamu makan cabai tanpa bersama makanan lain, maka sakit perut. Kalau sudah sakit perut muncul masalah. Masalahnya harus menyembuhkan rasa nyeri.

Misal masalah lainnya.
Kalau kita buang sampah di selokan, maka akan terjadi banjir. Prosesnya memang lama, hingga sampah-sampai itu menyumbang aliran air.

Masalah. Semua orang akan merasakan namanya masalah. Masalah ada dua, berupa cobaan dan ujian.

Kalau cobaan merupakan masalah yang kita sendiri yang menimbulkan. Seperti selokan yang meluap dan menjadi banjir.
Kalau yang namanya ujian, sebuah tes untuk kelulusan dari masalah-masalah yang disuguhkan.


Artinya untuk bisa naik tingkat harus melewati ujian-ujian yang memang sudah pasti kita bisa menyelesaikan sampai akhir.


Tidak ada sebuah masalah tanpa sebuah solusi, sudah ada pastinya. Tugas kita hanya sabar dan terus berdoa.


Sabar itu bukan hanya sekadar duduk diam, pasrah. Bukan! Itu tandanya malas.
Sabar itu;
1. Menerima dengan lapang masalah tersebut,
2. Berusaha semaksimal mungkin mencari solusi dari masalah itu,
3. Bertawakal (berserah diri) kepada Allah.

Kok tiba-tiba bahas tentang masalah? Karena gesekan kecil saja antara batang korek api dengan empunya bisa menimbulkan sebuah api. Bagaimana dengan masalah?

Masalah juga akan muncul setiap ada pergesekan arus. Itu mengapa Islam melarang adanya perdebatan walaupun benar. Perdebatan hanya bisa menyulut sebuah masalah baru.

Ngomongin tips hadapi masalah? Dapat banyak bisikan nih!
1. Berbicara yang baik atau diam
2. Menghindari perdebatan walaupun benar
3. Tidak membahas hal-hal yang sudah lalu dan mengorek luka
4. Berhenti merebutkan hal yang hakikatnya (bukan) milik kita.
5. Tidak bercanda berlebihan
6. Memfokuskan pada pekerjaan
7. Hindari kata berbohong.
8. DLL.


Point
ke-7. Penulis menyadari tips di atas akan sulit diterapkan apalagi era sekarang lebih pada milenium (virtual) yang menjadikan kita lebih mudah berinteraksi.

Setidaknya kita bisa berusaha mengurangi timbulnya masalah. Kalaupun masalah itu masih terjadi tanpa ada yang menghalang. Segera mencari akar masalahnya. Karena tanpa akar masalah, masalah itu akan tetap tumbuh.

Mirip dengan dahan pohon yang terus-terus dipotong, sepanjang waktu maka masalah terus akan tumbuh. Beda lagi jika kita sudah mencabut pohon sampai akarnya. Maka tidak ada lagi masalah yang berarti.

Terakhir, kita hanya bisa memetik pelajaran dari masalah yang terjadi dalam hidup kita. Berusaha memperbaiki kualitas kehidupan, membangun relasi yang baik dengan kawan maupun rekan. Karena masalah pada waktunya akan terpecahkan. Meski belum tentu akan segera terjawab dengan cepat.

Hidup adalah teka-teki, sama sepertinya mengusung judul “masalah”. Pasrah kepada yang Maha Memberikan Solusi seberapa pun asalah yang di terminal.
~Baiq Cynthia

Monday, January 1, 2018

Cerita Heboh TAT S4 (September Wish)-Part End

Lanjutan cerita TAT S4 (Part 2)

Proses pembuatan September Wish meski banyak kendala, tapi sangat mengagumkan. Dalam waktu sangat singkat sudah rampung 80 persen, yang harusnya selesai sehari sebelumnya. 

Namun, percayalah lappy ngambek itu meminta yang menulis istirahat. Akhirnya, saya meminta dua orang malaikat sebagai proof reader memberikan masukan.

Proof reader
yang pertama, tugasnya mencocokkan dengan ide dasar, durasi 15 menit saya berceloteh lewat voice note untuk menceritakan gambaran besar cerita "September Wish" versi pertama. Saya hanya cemas, mengingat sudah tanggal 30 November namun belum selesai.

Rencana awal yang katanya butuh mengedapkan naskah seminggu, gagal! Dengan sangat sedikit kecewa saya mengirim 80 persen naskah itu kepada proof reader yang pertama. Bisa dibilang jam tidur bergeser sampai dini hari dan pukul 3 dini hari harus sudah bangun. Kaget! Ternyata sukarelawan yang dimintai tolong untuk mengoreksi. Sudah menyelesaikan tugasnya. Banyak masukkan yang benar-benar membantu saya. Menurutnya juga ada point 15 yang harus direparasi.

Saya tidak berkomentar lebih, selain rasa syukur yang mendalam sudah ada yang bersedia ikut bergadang untuk membantu menghasilkan naskah yang ‘enak’ dibaca.
Saat itu saya masih harus menyelesaikan tambahan 20 lembar yang masih belum jelas, kembali melihat outline yang sempat ikut terhapus karena disimpan di data C. 
Lappy kan habis di-install ulang.
Saya meminta pemeriksa aksara yang kedua, teman dekat yang bersedia meluangkan waktu untuk membantu ambivert. Pengerjaan masih tersisa 17 lembar lagi. Benar-benar alot rasanya. Ini sudah sisa 3 hari. Ibu Kos sudah mention nama kami yang belum selesai di medsos.
 
Namun, saya mencoba tenang. Menulis kembali dengan kecepatan turbo. Teringat dengan kontes Basa-basi yang menulis cerpen minimal 20 lembar itu. Nah! Saya menulisnya hanya dengan sehari.
Itu keajaiban dari pengabdi Deadline

Maka saya semakin terinspirasi untuk segera merampungkan. Lembar demi lembar diselesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Selain sempat pergi untuk scanning surat perjanjian dengan AT. Saya merasa semakin berpacu untuk lebih tangguh. Apalagi ini jalan saya—menulis (sebuah pelarian dari mimpi-mimpi yang gagal diupayakan).

Sewaktu membeli materai, seorang penjual—wanita tua mengira saya seorang guru. Padahal saya menggunakan sandal jepit dan baju semi formal. Hiks ... hiks, karena tidak bisa mengelak apalagi menjelaskan panjang lebar hanya mengiyakan dengan anggukan kecil. 
Mencari scanner, muter-muter tempat fotokopi. Pas lihat grup, ternyata enggak masalah kalau difoto saja. Huaaaa.

Lupakan masalah file perjanjian. Kembali dengan tugas merampungkan deadline. Umi sudah ketar-ketir melihat saya yang serius, setiap melakukan aktivitas. Selalu memasang wajah serius. Ini dilakukan demi menyelamatkan 2 JT. Selain itu menyimpan alur cerita agar tidak ngalur-ngidul. Sudah duduk di lantai, nanti pindah duduk di kursi itu sambil mengetik. Bahkan tak jarang lappy dibawa ke dapur demi bisa melihat progres yang sudah ditulis.

Tidak ada tidur siang selama menulis proyek TAT S4. Kadang rasanya bokong sudah kempis, terlalu banyak duduk. Selama duduk sedia air satu timba (maksudnya air di botol besar). 



Siang berubah menjadi sore, sangat cepat rasanya. Saat itu menulis sudah di klimaks. Masih tinggal sekitar 15 lembar. Saya kembali meyakinkan diri, akan on time. Ditambah mata sudah sering terkantuk-kantuk. Saya menjadi ingat dengan kopi. Tak tangguh-tangguh segelas kopi besar. Ini sudah porsi tukang garap bangunan.

Banyak yang memberi support. Membuat semangat lebih banyak. Dihitung halaman yang harus dirampungkan. Masih tinggal beberapa lembar. Waktu makin sedikit. Kembali fokus dan fokus. Batas waktu hingga tanggal 3 Desember saat Ibu Kos terbangun. Tidak tahu jam berapa bangunnya. Antisipasi saya mengirimnya malam hari. Sebelum tengah malam.



Yah! Tepat pukul 10.48 WIB file saya kirimkan melalui laptop milik orang. Lappy saya tidak ada aplikasi mesin pencari, huhu. Laptop orang itu tidak bisa digunakan keyboard-nya. Hanya menggunakan keyboard internal. Itu mengapa saat mengumpulkan naskah kepada ibu kos lupa dengan kata pengantar. Hihi.

Punggung rasanya mau retak 2 Desember 2017 bertepatan dengan Sabtu malam, kelar deh hidup jomlo.

Siapa bilang setelah selesai naskah semuanya beres! Setelah ada pengumuman pemenang naskah TAT S4. Saya sudah pesimis, karena ada salah satu peserta yang mengumpulkan paling cepat, bahkan masih jauh dengan deadline. Tapi, tujuan saya kan hanya ingin bebas dari 2 JT. Meski banyak yang berkomentar mengenai TAT S4, bahkan ada yang mengatakan hati-hati itu bisa merujuk pada judi.

Kesal bercampur sedikit ingin lempar sandal, tapi kembali pada diam. Mengabaikan pesan itu, ambivert lebih memilih menjaga stabilitas moody
Daripada berantem lewat online dengan dasar tuduhan tanpa bukti yang jelas.
Setelah selesai saya kembali ajak ngobrol orang itu, saya beri pemahaman. Akhirnya dia mengerti, menurutnya. Dia hanya khawatir saya tidak mampu menyelesaikan deadline dan harus membayar 2 JT. 

Alhamdulillah seluruh peserta TAT S4 tidak ada yang kena denda 2 JT. Malah hanya semacam remidi dari Ibu Kos. Hihi ... keren dah AT!

Sepuluh hari setelah usai menyelesaikan tantangan dari AT, Ibu Kos memberikan kabar mengenai siapa the winner of AT! Tebak siapa coba?



Alhamdulillah, lompat-lompat kegirangan. Seperti mimpi saja, gimana gak kaget. Ibu Kos sangat wanti-wanti mengenai naskah yang dia suka. Apalagi selama mengirim sampel sering gagalnya daripada langsung ACC dan ikut tantangan. Tidak sia-sia proses yang selama ini saya telateni, keringat menjadi berkah. Tak sampai di sana. Sebagai The Winner langsung dibuatkan calon cover September Wish.



Saya suka-suka dengan bikinan mereka, karena saya sendiri tidak bisa buat cover. Ternyata teman saya tidak setuju. Dia bilang itu sangat biasa untuk novel the winner. Akhirnya dia meminta untuk membuatkan calon cover menggunakan jasa design cover. Ibu Kos menyetujui, tetapi waktu menyelesaikan hanya tiga hari.

Saya sudah mulai pesimis, ditambah 3 hari menurutnya ya besok lusa. Huhu! Maka hari kamis malam sebelum esok deadline pengumpulan cover. Saya meminta salah satu teman yang jago buat 3D katakanlah jago main photoshop. Tapi, dia awalnya ragu karena tidak bisa. Dibuatlah macam-macam sketsa gambar untuk September Wish.





Banyak komentar dari pengamat cover—salah satu peserta TAT S4. Ambivert hanya menelan ludah, ditambah dia juga membuat versi cover ala dia. Sayang sekali gambar vektor yang dia suguhkan pecah. Maka saya hanya mempunyai dua kandidat saja. Setelah menyisihkan banyak relawan yang siap membuatkan cover versi mereka.
Ibu kos bilang kalau gak ada cover sampai besok. Maka harus pake pilihan ibu kos. Aku mah hanya mengatakan iya. Banyak juga sih yang vote kover ini. Selain manis juga simpel dan terlihat sederhana.



Duh, buat cover aja udah mirip persiapan lahiran. RIBET. Beruntung saya hanya voting sekali di medsos dan voting selanjutnya dilakukan tertutup, demi menghindari banyak masukan (RED, Komentar).

Beginilah wajah-wajah calon cover September Wish.



Ini versi dari Manajer Annisa 



Ini juga. Banyak yang suka dengan warnanya. Juga terlihat elegan. 



Saya langsung jatuh cinta dengan cover buatan sahabat saya, setelah mengalami banyak metamorfosis. Bayangkan semalam suntuk dia menggambar dari pukul 21.00 sampai dini hari. 

Suara voting bisa dibillang seri. Tapi, saya sangat condong dengan warna biru. Kenapa? Karena lebih masuk dengan ide cerita. Sebuah payung yang terbang di udara kena rintik-rintik hujan. Dengan tag line.


Cinta hanya sebuah ilusi.

Menunggulah detik-detik revisi sambil terus memantau perkembangannya saya sibuk mengedit naskah garapan. Tapi, otak saya menjadi tidak tenang. Berkecamuk dan tidak bisa berpikir.

Muncul beragam versi style tulisan font. Hingga perubahan di bagian back cover yang lebih dari tiga kali.

TARAAAA ... SEPTEMBER WISH FIX PAKAI COVER INI!



Senang sekali, rasanya ribuan kali untuk berterima kasih belum cukup. Tapi, apa daya dia yang mendesign tidak mau dengan imbalan. Huhu ...



Thank you ... kawanku!

Baru senyam-senyum dengan kover baru. Rasanya Ibu kos masih belum puas. Dia ingin Maret mendatang para pemenang TAT dari S1 hingga S4 maupun pesertanya akan kembali diadu dalam ajang DUEL.
Huhuhu ... Semangat saja deh! :’)

Say no to Frustration!

Apa pun yang terjadi terus berusaha. Optimis, tidak ada kesulitan karena ada banyak bantuan-Nya melalui tangan-tangan baik hati dan dermawan. 
Salam literasi. 

—♡Baiq Cynthia♡—

Perjalanan Baiq Cynthia 2017 (Awas! Membacanya Membuat Kecanduan)

Sudah di penghujung tahun. Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk masih bisa menghirup udara dengan gratis. Padahal baru kemarin saya menulis resolusi 2017 dan Alhamdulillah banyak yang terealisasi.
Sebagai wujud syukur saya coba refleksikan dalam bentuk tulisan di blog Daily’s Baiq. Seperti judulnya, hampir semua tulisan yang diposting di sini mengambil opini, kata hati dan pikiran Baiq Cynthia, penulis ambivert.


Langsung saja kita intip bersama apa saja yang sudah berhasil dilakukan oleh sosok ambivert. 

Bulan Desember 2017
Resolusinya menulis novel 6-9 hari. Loh? Emang bisa? Itu terinspirasi dari novel Semua Ikan di Langit yang hanya ditulis dalam waktu seminggu oleh penulis kece yang memenangkan Sayembara DKJ 2016.
Ternyata bentuk pencapaiannya berupa projek menulis tantangan yang diselenggarakan oleh Arsha Teen. Wih ... 23 Hari! Sudah pernah baca kan? Gimana keseruan mengikuti tantangan AT. Tak hanya itu, bulan Desember bertemu dengan salah satu orang yang selama ini saya cari, bertemu dengan beliau saya semakin membuka mata untuk kembali bersyukur. Tentunya saya pernah posting di Blog ini tentang Still Find Dreams.

Saya juga berkesempatan belajar mengambil gambar dengan kamera DLSR yang baik dan benar, meski masih belajar rasa pegal saat memegang kamera tidak menganggu. Kemudian di bulan Desember berhasil memenangkan tugas TAT S4. Itu di luar resolusi, Alhamdulillah.

Mendapatkan rezeki dari buku yang dibagikan oleh Mbak Raisa. Keren dah, buku-bukunya. Menambah list bacaan 2018 :D Alamat enggak beli buku, deh!

Percaya dengan Maha Kuasa Allah, memberikan rezeki tanpa batas kepada makhluk-Nya. Tugas kita hanya berusaha, berusaha, berdoa, berdoa dan tawakkal.
Tugas Desember juga makin banyak, di antaranya menjadi proof reader untuk naskah kawan-kawan, juga mengeditnya. 
Ini yang dinamakan learning by doing, yang penting optimis.


November 2017

Targetnya hanya menulis dan entrepreuner. Bulan November ternyata disibukkan dengan kontes UNSA 2018, Alhamdulillah lolos TOP 10. Meskipun harus gagal di TOP 7, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Tentunya juga sudah saya bahas di blog maupun status medsos saya.  Bulan November saya juga diberikan kesempatan bertemu dengan keluarga di Bali. Sebuah anugerah yang bertahun-tahun saya harapkan. Selain itu, bertambah relasi dengan teman-teman penulis. Banyak hal baru yang didapatkan.

Belajar entrepreuner misalnya PASUKAN RESELLER buku DARAH yang masih proses Finishing. Mendapatkan banyak support dari teman-teman, itu hal yang luar biasa di bulan November ini. Intinya tetap harus low profile dan stay calm.



Beranjak ke bulan Oktober 2017

Mendapatkan panggilan untuk interview. Tapi, di bulan yang sama disuruh fokus persiapan ke Malang oleh kerabat. Aku mengalah deh, dan pada akhirnya rencana itu hanya menjadi wacana.

Harusnya bulan ini pindah ke Malang, tetapi Allah mungkin belum mengizinkan. Oh, Iya bulan ini dapat banyak hadiah berkat dunia literasi. Seperti hadiah dari I-Jakarta, setelah menang kontes mereview sebuah komik yang ditentukan oleh penyelenggara. Sekaligus hadiah dari Mpit Tivani, sebagai reward menjadi Proofreader naskah Kusindir Takdir.






Bulan ini juga banyak tawaran menulis review atas sebuah buku, meski belum maksimal. Ada sahabat pena yang memberikan masukan kepada saya, berkenaan review buku untuk lebih objektif. Itu mengapa akhir-akhir ini saya memilih mengurangi porsi mereview buku. Memang sebagai reviewer posisinya sulit. Selain diminta memberikan ulasan yang jujur, tugasnya menaikkan citra buku. Kesempatan selanjutnya saya akan mencoba belajar review buku yang benar-benar objektif.

Kembali lagi, tak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Bulan ini juga seleksi UNSA yang harus mengirimkan sebuah video profil diri dan alasan ikut UNSAM 2018.

Bulan September 2017

Tim Darah mengadakan Kelas Menulis Online, ini benar-benar sulit. Karena tugasnya seperti seorang tentor. Memahami materi lebih cepat, juga menyisihkan banyak waktu untuk peserta kelas yang hadir dalam kelas online secara terlambat. Bulan ini juga sebagai awal dari proses belajar entreprenur. Saya bersama si kembar yang membuat grup bernama Trilogi, belajar praktik marketing out door di lapangan.

Mencari peluang di awal bulan di Job Fair, meski waktu hanya sehari di akhir lagi. Malam sebelum hari terakhir membuat surat lamaran kerja begitu banyak. Saking banyaknya sampai mepet saat pengumpulan. Pada akhirnya hanya ada beberapa perusahaan yang masih sempat dikirimi lamaran.

Seru banget, selain membuat kita makin percaya diri bisa bertemu dengan orang-orang baru maupun tidak sengaja bertemu kerabat dan teman lama. Bulan ini benar-benar tak terduga, harus ke Surabaya! Ini gak ada di target tahunan maupun mingguan ambivert. Awalnya hanya pergi ke Probolinggo, menghadiri acara nikahan kerabat. Eh, moro-moro kami diajak ke Surabaya hanya tujuan refreshing. Uniknya, kami malah harus tinggal selama 15 hari di kota Pahlawan, untuk menunggu jemputan. Banyak pengalaman seru dan asyik selama di kota besar yang notabene ibu kota Jawa Timur.

Acara dari perpustakaan kota yang pengelolaannya diberikan kepada komunitas kami, KPMS dan GSM. Lumayan selama 3 hari diberikan kesempatan jualan buku, beberapa karya anak Situbondo maupun buku titipan dari penerbit.

Terkadang kita tidak tahu kejutan apa yang hadir dalam hidup kita, apa pun itu. Allah telah mengatur skenario yang indah kepada makhluknya. Tidak ada yang benar-benar terjadi kebetulan di dunia ini. Pasti ada sebab dan akibat.

Sudah lelah dengan jalan-jalan dan menggagalkan proses belajar marketing. Lanjut pada bulan Kemerdekaan RI.
Agustus 2017






Bulan yang penuh semarak bendera merah-putih di tiap tempat ternyata menyimpan banyak kenangan. Salah satunya juga touring gratis ke Tuban! Meski hanya sehari, tapi ambivert punya pengalaman seru nih.

Pas baru sampai di alun-alun Tuban, kami membeli pentol. Salah satu di antara kami kepo (penasaran, red). Lantas bertanya tentang bahasa Madura, wajah bapak kembali kaku. Eh, dia malah diam. Pas kita udah beranjak pergi, dia misuh-misuh pakai bahasa Madura. *Reng, Madhura Jereee.

Lupakan, selain rasanya yang kurang enak dengan pentok/cilok di kota sendiri. Udara di Tuban panas banget! Ngalah-ngalahi kota Santri—Situbondo. Kapok, dah pergi ke sana. Enggak cocok, perjalanannya jauh, jalan rusak dan bikin pusing karena sepanjang perjalanan jarang pohon rindang. Orangnya juga sedikit yang ramah menyambut pendatang.

Alhamdulilllah, dapat kabar dari penerbit Scrittobooks buku DARAH di-ACC. Selain itu diberikan kesempatan belajar Content Writer. Agak sulit menulis dan mencari ide, saat yang bersamaan sering keluar kota, Jember, Probolinggo dan kota-kota lainnya. Bulan ini juga selesai mengedit naskah garapan teman penulis di tim Darah. Juga bertemu dengan orang-orang MLM. Itu tidak sengaja, saya pikir hanya sebuah demo kosmetik. Eh, ternyata salah satu produk MLM—enggak ikut Alhamdulillah dapat konsumsi gratis. Hihi
Bulan ini juga dapat Give Away dari Laksana.

Sempat bulan ini mendapat teguran dari Allah melalui cacian seorang penulis yang katanya sangat produktif. Sebenarnya saya tidak ingin ikut-ikut masalah kedua belah pihak, hanya sedikit ikut komentar. Eh, imbasnya malah buat status bandingan sepanjang rel kereta api. Saya sama sekali tidak menanggapi. Meski saya tahu itu dibuat untuk saya. Kok bisa tahu? Karena memberikan ciri-ciri bahasa kata yang menunjuk ke arah saya. Lantas saya diam.
Benar saja, beberapa menit kemudian dia mengirimkan pesan ke inbox. Semacam permohonan maaf.

Ah, sudahlah terkadang kita hanya perlu diam, mendengarkan, kemudian melupakan.


Juli 2017


Bulan ini sengaja tidak menargetkan apa pun, berkenaan dengan bulan kelahiran saya. Tak disangka diberikan tawaran untuk mengedit novel keroyokan yang diusung oleh Mpit Tivani. Sekaligus menunggu paketan berupa novel GPU milik Rini Hidayat untuk diberikan ulasan. Alhamdulillah senang banget. Tugas mengerjakan dua cerpen bergenre psyco? Risetnya butuh berminggu-minggu hingga kepala ikut mumet.

Selain mendapatkan kiriman buku dari penulis yang tinggal di Canada. Berkesempatan menang give away dari Mazaya Publishing.

Bulan ini refresing ke kolam bersama sepupu tercinta, tapi kali ini saya memilih menulis. Mencari ide berkenaan cerpen Psyco-pat. Di saat yang sama disuruh resume tugas bulanan Indonesia Membaca.

Bahkan tak jarang saya melewatkan event-event menulis karena terlalu banyak deadline yang harus dikerjakan. Ditambah dengan kegiatan outdoor yang tiada henti. Seperti acara nikahan yang banyak bulan Syawal. Baik nikahan maupun lahiran. 

Huhu bikin baper kaum jomlo.
Kabar baiknya, setelah mengindamkan lappy. Alhamdulillah bisa beli juga, meski bekas dan jadul banget setidaknya membantu menulis. Tidak lagi menulis dua jari. Tapi dua belas jari, bahkan untuk memaksimalkan kinerja lappy. Aplikasi di lappy hanya ada dua, program office dan antivirus (saja). Berharap kelak bisa upgrade ke laptop yang lebih tahan banting untuk kerja semacam design grafis.

Bulan ini juga diminta menjadi reviewer oleh rekan Gerakan Situbondo Membaca di Rumah Baca. Sedikit gugup karena manusia berjenis kelamin perempuan hanya saya sendiri. Setidaknya saya ditemani oleh ayah. Ayah? Ikut acara itu? Iya!!!


JUNI 2017

Mendapatkan tugas dari kakak saya selaku Dokter hewan. Merekap hasil menyuntik hewan ternak berupa sapi. Sebanyak 5000 data sapi. Itu benar-benar pengalaman yang tak terlupakan apalagi di bulan Ramadhan. Bertumpuk-tumpuk file yang harus dicocokan, sampai tidak tidur. 
Duduk, menulis dan fokus hampir 23 jam. Pernah! Mata sudah kayak hantu. Hihihi. Ditambah dehidrasi kurang minum, terlalu banyak duduk bersimpuh. Bersyukur enggak kena penyakit lama duduk itu loh.
Setelah menyelesaikan, saya langsung berhenti dengan baik-baik. Tidak mampu rasanya, hingga mengabaikan banyak kontes menulis. Apalagi saat yang sama tidak punya lappy. Akan makin melelahkan menulis melalui ponsel.

Bulan Ramadhan hanya punya kesempatan bukber (buka bersama) sekali dengan teman SMP. Itu pun di akhir bulan. Juga diberikan kesempatan ke Probolinggo.

Bisa dibilang bulan ini lebih sedikit berkarya, karena bulan-bulan meraup banyak keuntungan bagi Muslim. Bulan ini mendapat cobaan hati juga, selain patah hati karena sudah salah menaruh harapan. Terkena masalah dengan hati. Pokoknya hanya dengan menyibukkan diri untuk bisa menyelesaikan masalah luka itu.

Hingga sakit di ujung Ramadhan hingga bulan Syawal. Sakit yang jarang kambuh selama setahun terakhir.

Tapi, bersyukur masih diberikan kesehatan setelahnya. Hanya satu yang wajib diperhatikan—mindset positif.

Mei 2017

Menghadiri salah satu gerakan literasi Nasional di GOR. Safari Gerakan Nasional benar-benar acara yang luar biasa yang didekasikan untuk pecinta literasi, pesertanya juga berasal dari beragam golongan. Setidaknya meski tidak lanjut sekolah, ada kegiatan bermanfaat yang disuguhkan oleh Pemerintah. 
Alhamdulillah punya mesin jahit. Itu keinginan usai belajar menjahit di BLK. Salah satu resolusi yang ditunggu-tunggu bisa ikut pelatihan tersebut.

Bulan ini juga, hampir seluruh waktu tercurah untuk belajar menjahit, berurusan dengan mesin, jarum dan gambar pola. Gimana gak hampir seluruh waktu. Berangkat ke BLK jam 6.00 pagi dan pulang sore, usai magrib masih belajar menjahit di rumah teman hingga pukul 22.00 bahkan sampai rumah berusaha mengecek tugas-tugas literasi. Tetapi, dengan mengikuti kegiatan ini setidaknya hidup lebih berwarna.

Lebih telaten lagi menjahit, salah ya harus mendedel. Tidak ada yang instan dalam hidup. Bahkan teh instan perlu air panas dan gula untuk menjadi secangkir teh yang nikmat.

Bulan ini mendapatkan banyak pengalaman dari teman-teman juga, tentang arti disiplin waktu, menghargai proses dan pantang menyerah. Karena setiap usaha akan membuahkan sebuah hasil yang luar biasa jika dikeluti dengan sungguh-sungguh.

Dalam sebulan yang diberikan tugas oleh BLK (Lembaga Pelatihan Kerja) untuk bisa menjahit, minimal busana sendiri. 
Alhamdulillah selesai membuat 5 busana.
Minggu pertama belajar mengendalikan mesin, menggambar pola, mengukur . Minggu berikutnya belajar memotong, dan membuat baju mini (1). Minggu ketiga membuat baju mini (2) dan diberikan tugas tambahan dari Disperindag (1) busana bawahan. Lantas minggu terakhir mengebut buat tugas baju atasan wanita, rok, dan baju anak. Masing-masing batas waktu hanya selang 2 hari. Greget kan?

Ditambah di rumah tidak ada mesin jahit, jadi kalau belum selesai lembur bisa sampai jam 8 malam. Hahaha. Jangan bayangkan wajah kucel belum mandi atau perut kelaparan.

Kesempatan yang sama juga bisa beli buku salah satu penulis favorit. Dengan uang hasil tabungan. Meski sibuk dengan rutinitas, ke perpustakaan wajib.

Juga pernah sehari izin pulang lebih cepat demi bisa jalan-jalan ke Jember bersama sepupu. Di saat yang sama berkesempatan bisa makan makanan khas Italy yang selama ini hanya bisa dibayangkan saja. Alhamdulillah.

Oh, iya dapat buku dari Diva Press saat yang sama juga dapat hadiah mini speaker dari TV channel India.

Juga diberikan kesempatan bisa membantu acara nikahan saudara, selain baper ya happy!

Oh iya, sukses jualan online inner rajut beauty. Memang awalnya gak percaya ada yang mau beli, pada akhirnya laku semua. Itu sesuatu.

Intinya di mana ada kemauan pasti ada jalan, jangan pernah berhenti bermimpi.

Bulan April 2017

Bulan yang masih sibuk dengan kegiatan di BLK karena awal pembukaannya di akhir bulan Maret. Beberapa deadline menulis seperti mencari naskah Budak Setan (2) juga tidak dilaksanakan.

Bulan April full dengan kegiatan BLK. Saya hampir tidak ada waktu untuk online maupun menulis, bekejaran dengan waktu. Tapi, kami senang karena peserta pelatihan sangat lucu dan saling membantu.

Bulan Maret 2017

Paling Produktif! Selain bekerja sebagai marketing Haha Parfume masih sibuk jalan-jalan ke Sumenep ke acara nikahan saudara. Itu hanya satu hari dua malam. Bayangkan punggung rasanya retak duduk di bus 8 jam dan paginya acara walimah, malam resepsi dan kami langsung pulang Situbondo. Sampai di Situbondo tepat matahari bersinar.
Karena ikut seleksi di Teacher Clinic saat ada informasi tersebut. Alhamdulillah tanggal 8 Maret 2017, diundang untuk tes kedua berupa tes tulis. Maka saya langsung berangkat esoknya. Meski orangtua menangis derai seperti akan ditinggal berangkat Haji. Saya yakin ini mimpi saya, ditambah selama ini belajar English bersama Mr. Budi Waluyo secara online di Facebook.


Test Teacher Clinic
nantinya akan diberikan asrama di Pare, lokasinya di Kediri. Maka saya berangkat siang itu menuju Malang. Sendiri! Hihi nekat gitu ya? Walau Situbondo-Probolinggo ditemani sama Babe. Dia itu Ayah luar biasa yang tidak tega sendiri, tetapi karena minimnya ongkos, maka kami berpisah di terminal Probolinggo.

Sebelumnya saya juga sudah menghubungi teman kos lama juga sebagai kakak. Ingin ke Pare, dia sangat membantu. Subhanaallah, rasanya begitu dimudahkan perjalanan ke Pare, Kediri. Saat yang sama Malang sedang ada masalah mogok angkot. Saya juga sempat kontak teman saya di Malang, banyak yang tidak bersedia menjemput dengan alasan tidak ada waktu maupun tidak ada sarana.
 Alhamdulillah, salah satu sahabat dari SMA bersedia membantu. Benar saja sampai di Malang banyak penumpang yang ditelantarkan di Arjosari tanpa ada angkot yang beroperasi.

Sudah pukul setengah lima sore, tapi kami seolah lost kontak. Kembali dihubungi teman belum juga diangkat. Hingga dia datang menjemput jam 17.15 setelah berdiri sekian lama. Alhamdulillah perjalanan lancar meski sedikit macet. 
Kakak yang juga teman kos bersama sudah menunggu dia bilang abis Magrib mau berangkat ke Kediri. Takutnya makin malam. Iya, kami langsung ke sana, perjalanan 45 menit.

Susah payah memberikan uang ganti bensin, hingga saya harus pura-pura beli pulsa di indomaret. Tapi ditujukan untuknya. :’) Emang enggak seberapa setidaknya bisa membalas meksi belum setimpal. Dia sahabat yang baik banget. Semoga sehat selalu ya, kawan. Meski kita sudah lama tak bersama-sama lagi.
Perjalanan menempuh Kediri dilanjutkan, meski bokong sudah lelah duduk. Demi impian! Dikejarlah rasa khawatir itu. Kakak perempuan tangguh (teman kos yang kuanggap kakak), dia baru pulang dari kegiatan magang di India. 
Jurusan Hubungan Internasional membawa dia harus bekerja di Kedutaan. Maka perjalanan kami tidak terasa, karena sambil mendengarkan ceritanya selama di India. Negeri yang selama ini aku impikan.
Maka kalau ini diteruskan akan menjadi novel. Intinya setelah tes tulis ada tes wawancara. 
Peserta sudah tersisih 350 dari pelosok Indonesia. Aku gagal di tahap interview yang menyisahkan 50 peserta saja. Padahal sudah belajar sampai begadang dan semangat di pagi hari untuk datang tidak terlambat. Setidaknya sudah berusaha, hasil akhir kan Allah yang menentukan. Maka, kami pulang ke Malang esoknya hari Sabtu. Aku memberikan kabar pada orangtua di rumah, gagal dan akan pulan hari Minggu.

Nah, bulan Maret ini spesial! Karena bisa bertemu salah satu penulis yang selama ini aku kagumi. Dia menulis buku Go Internasional. Malam Minggu kami keliling kota Malang. Hihi senang rasanya kembali bernostalgia, meski banyak bangunan baru. Terakhir ke Malang bulan September 2016.

Pulang dari Malang pun sendiri, aku berangkat pagi. Harapan tidak terjebak macet, karena Weekend. Ternyata harga bus lebih mahal saat hari libur. Yang penting sampai dengan selamat, itu saja.

Selain pulang dari Malang dengan rasa lelah, aku juga ikut kegiatan literasi KPMS dan GSM berupa PekanLiterasik. Molor waktunya, terpaksa harus datang terlambat ke tempat kerja. Tapi, setidaknya lebih membahagiakan bisa berkumpul dengan teman-teman literasi.
Saya memutuskan resign, selain tidak bisa bebas. Saya juga mengincar kegiatan di BLK, ya! Menjahit itu loh. Test tulis esoknya setelah pulang dari Malang, mata masih sembab. Alhamdulillah lolos sampai test wawancara.

Dapat banyak buku, Go Internasional, buku dari Diva Press hadiah menulis KF, Cinta di Langit Konstatinopel dari penulisnya langsung, Alhamdulillah.

Di balik kegagalan ada keceriaan.
Rasanya masih ada 2 bulan lagi. Tapi, mengingat jumlah tulisan sangat panjang maka saya tulis point-pointnya saja.


Bulan Februari


Dapat hadiah dari Diva Press, Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault, Tamasya Cikaracak. Menerima pesanan kado untuk pasangan milik sahabat. Selain itu beli buku UNSA gratis member card yang selama ini diidamkan. Buku dari Padang, juga. Bulan ini lebih produktif selain gencar promosi tempat kerja, juga gencar menulis seperti mengirim sampel TAT S2 meski ujung-ujungnya gagal.

Ikut cerpen Feminax yang ujung-ujungnya tidak jelas pemenangnya. Saat itu juga sering baca buku di SCOOP selain di Ijakarta.

Masa Penantian yang tak berujung. Aku bahkan tak tahu. Labirin kesuksesan itu muncul. Akankah bisa pudar nantinya?
Seberkas cahaya telah pudar. Aku bukan penjaga mesin waktu. Bukan penghitung bintang gemilang. Aku hanya menanti bersamamu.

Finally, Januari!

Lebih banyak tugas di bulan ini merampungkan tugas terbengkalai di tahun lalu. Apalagi hobinya mereview buku. Ikut gabung di Indonesia Membaca, grup yang mewajibkan anggota meresume satu buku tiap bulan juga memberikan apresiasi kepada anggota lainnya.

Apakah kesendirian membuatmu lemah? Tidak! Allah selalu bersamamu. Kelak akan datang jodohmu.

Secara keseluruhan. Resolusi 2017 sudah tercapai kecuali menikah.

Kenapa? Itu masalah hati, meski banyak yang melamar tapi hati belum siap. Tentu tak akan bisa tercapai.

Lantas apa resolusi 2018?

Justru tidak ada, hanya ingin menjadi pribadi lebih baik lagi, lebih produktif dan lebih banyak bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah. Karena usaha tidak akan pernah menghianati hasil.

Oh iya tentang jodoh?!

Kalau masih ada yang menyinggung masalah tersebut, maka aku tak segan tanya kembali. KAPAN MATI?!






Sudah dijabarkan bahwa, hidup, mati, rezeki dan jodoh sudah menjadi kekuasaan-Nya. Kita hanya bisa berikhtiar juga berdoa. Karena jodoh tidak akan tertukar.

Sebesar apa pun resolusimu kika tidak ada keinginan untuk mewujudkan maka tidak akan ada artinya.

Salam literasi.
-Baiq Cynthia-